Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.
Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.
Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARAPAN YANG MENUJU MASA DEPAN DUNIA DAN WARISAN YANG TETAP HIDUP
Mentari pagi menyinari kota Zurich di Swiss, yang dipenuhi salju putih karena musim dingin. Qinara, yang sekarang berusia tujuh belas tahun, berdiri di depan gedung konferensi PBB yang megah. Dia mengenakan baju batik merah-putih yang elegan, yang dibuat oleh Laras—yang sekarang telah bekerja sebagai guru di Sekolah Hadian selama lebih dari setahun dan telah menemukan damai di hatinya. Di tangannya, dia memegang tongkat kayu yang diberikan Pak Santoso di Papua dan kotak pemberian ayahnya yang selalu ada di sisinya.
Di sebelahnya duduk Pak Rio, Siti, dan Rudi—yang sekarang telah menyelesaikan setengah dari studi kedokterannya. "Qinara, hari ini kamu akan berbicara tentang perjalanan kita selama ini dan harapan untuk masa depan dunia. Semua orang di sini menunggu untuk mendengarmu," ucap Pak Rio dengan suara penuh kepercayaan.
Qinara mengangguk, melihat ke arah langit yang biru. Dia merasa kehadiran ayahnya semakin dekat, seolah ayahnya telah menyertai dia melintasi lautan untuk menghadapi momen ini. "Aku tahu, Pak. Aku akan memberitahu mereka semua tentang impian ayahmu dan bagaimana kita telah mewujudkannya bersama-sama."
Beberapa menit kemudian, mereka memasuki aula konferensi yang penuh dengan ribuan orang dari lebih dari 100 negara. Di sana, ada pejabat PBB, menteri pendidikan, tokoh masyarakat, dan anak-anak dari negara berkembang yang telah mendapatkan manfaat dari pendidikan. Suasana aula terasa penuh harapan—semua orang menunggu untuk mendengar cerita tentang bagaimana seorang gadis muda dari Indonesia telah mengubah hidup ribuan anak.
Sekretaris Jenderal PBB memasuki aula dan memberikan pidato tentang pentingnya pendidikan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dunia. Ketika selesai, dia melihat ke arah Qinara dan menyebut namanya dengan senyum. "Selanjutnya, kita akan mendengar dari seseorang yang telah menunjukkan bahwa harapan bisa mengatasi segala rintangan—Qinara, duta khusus PBB untuk pendidikan anak-anak dan pendiri jaringan Sekolah Hadian!"
Suara tepuk tangan yang meledak berdiri di seluruh aula, berlangsung selama lebih dari sepuluh menit. Qinara mengambil napas dalam-dalam, berdiri, dan menuju panggung. Ketika dia berdiri di depan mikrofon, dia melihat ribuan mata yang tertuju padanya—mata yang penuh harapan dan penghormatan.
"Selamat pagi, semuanya. Saya Qinara dari Indonesia, dan saya berusia tujuh belas tahun," ucap Qinara dengan suara yang jelas dan penuh emosi. "Hari ini, saya ingin berbicara tentang harapan—harapan yang ayahku berikan padaku ketika saya masih kecil, dan harapan yang kita semua miliki untuk masa depan dunia yang lebih baik."
Dia mulai menceritakan perjalanan panjangnya—dari kehilangan ayah karena pembunuhan, dikhianati oleh ibunya, sampai menemukan keluarga baru di orang-orang yang mencintainya. Dia menceritakan tentang bagaimana keberanian Pak Slamet dan tekadnya sendiri telah membawa keadilan untuk ayahnya, dan bagaimana impian ayahnya untuk membangun sekolah telah berkembang menjadi jaringan yang membantu ribuan anak.
"Ayahku selalu mengatakan bahwa setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan, tidak peduli siapa mereka atau di mana mereka tinggal. Lima tahun yang lalu, saya hanya ingin membangun satu sekolah di Jakarta. Sekarang, kita memiliki 15 sekolah di seluruh Indonesia, dan model Sekolah Hadian telah diadopsi di 12 negara lain—dari Afrika Selatan hingga India, dari Brasil hingga Meksiko. Lebih dari 5.000 anak telah bersekolah di Sekolah Hadian, dan banyak dari mereka telah mencapai impian mereka—beberapa menjadi guru, dokter, pengacara, dan bahkan pemimpin komunitas," kata Qinara, menampilkan slide foto anak-anak yang telah sukses.
Dia melihat ke arah pejabat PBB dan delegasi dari berbagai negara. "Di dunia ini, masih ada lebih dari 250 juta anak yang tidak bisa sekolah. Mereka hidup di daerah terpencil, menderita kemiskinan, atau terkena dampak perang dan bencana alam. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk membantu mereka. Karena setiap anak yang tidak bisa sekolah adalah hilangnya potensi untuk membangun dunia yang lebih baik."
Qinara melanjutkan pidatonya dengan cerita tentang Sari—anak perempuan kecil dari Papua yang dia temukan di pinggiran hutan dan sekarang menjadi siswa terbaik di kelasnya, ingin menjadi guru untuk membantu anak-anak di daerahnya. Dia menceritakan tentang Johan—anak laki-laki dari Medan yang sekarang sedang menempuh studi sains dan ingin menemukan solusi untuk perubahan iklim. Dia menceritakan tentang Laras—ibunya yang telah memaafkan dirinya sendiri dan sekarang bekerja sebagai guru di sekolah, memberinya kasih sayang kepada anak-anak yang membutuhkan.
"Sekolah Hadian tidak hanya memberikan buku dan meja—kita memberikan kasih sayang, dukungan, dan harapan. Kita mengajarkan anak-anak bahwa mereka berharga, bahwa mereka bisa membuat perbedaan, dan bahwa mereka tidak sendirian. Ini adalah rahasia keberhasilan kita—membangun sekolah dari hati, bukan hanya dari batu dan semen," ucap Qinara dengan suara penuh makna.
Dia mengambil surat ayahnya dari kotak dan membacanya dengan suara yang lembut tapi tegas: "Warisan terbesar yang kurasa adalah keberanian untuk mencari kebenaran dan kasih sayang untuk membantu orang lain. Jangan biarkan warisan ini hilang—bagikan ke seluruh dunia, agar setiap anak bisa memiliki masa depan yang cerah."
"Ini adalah pesan yang saya ingin bagikan kepada semua orang di sini. Mari kita bekerja bersama-sama untuk membangun lebih banyak sekolah, memberikan lebih banyak kesempatan, dan menyebarkan kasih sayang ke setiap sudut dunia. Karena hari ini, kita membangun masa depan dunia melalui anak-anak kita. Hari ini, kita menciptakan harapan yang akan bertahan selama bertahun-tahun," kata Qinara, menutup surat ayahnya.
Suara tepuk tangan yang meledak berdiri di seluruh aula, dengan banyak orang berdiri dan memberikan standing ovation yang berlangsung selama lebih dari lima belas menit. Beberapa orang menangis, terinspirasi oleh kata-katanya dan perjuangannya. Sekretaris Jenderal PBB berdiri dan menuju panggung, memberikan medali penghargaan PBB "Pahlawan Pendidikan Dunia" kepada Qinara.
"Qinara, kamu adalah cahaya di kegelapan. Kamu telah menunjukkan bahwa seorang individu—bahkan seorang anak—bisa mengubah dunia. PBB akan bekerja sama denganmu untuk membangun 100 sekolah baru di negara berkembang dalam lima tahun ke depan. Ini adalah komitmen kita untuk mewujudkan impianmu dan ayahmu," ucap Sekretaris Jenderal dengan suara penuh emosi.
Setelah konferensi selesai, Qinara dikelilingi oleh delegasi dari berbagai negara, wartawan, dan anak-anak yang telah mendapatkan manfaat dari pendidikan. Mereka memberikan dukungan, mengucapkan terima kasih, dan menawarkan untuk bekerja sama dalam membangun lebih banyak sekolah. Seorang menteri pendidikan dari Brasil berkata, "Qinara, kamu telah mengubah pandanganku tentang apa yang bisa dilakukan. Kita akan membangun 20 sekolah di Brasil dengan model Sekolah Hadian."
Qinara tersenyum. Ini adalah hasil yang dia inginkan—perubahan global yang sesungguhnya untuk anak-anak di seluruh dunia.
Sore hari, mereka berjalan ke taman di sekitar konferensi, menikmati suasana musim dingin. Anak-anak dari negara lain yang hadir di konferensi bermain bersama di salju, sementara Pak Rio, Siti, dan Rudi berbincang dengan delegasi yang ingin bekerja sama. Qinara berdiri sendirian sebentar, memandang gunung-gunung Swiss yang indah.
"Ayah, hari ini aku berbicara di depan dunia yang lebih luas. Mereka mendengar cerita kita, dan mereka ingin membantu. Kita akan membangun lebih banyak sekolah, membantu lebih banyak anak, dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Kamu pasti bangga padaku, kan? Aku telah melaksanakan janjiku—warisanmu telah menyebar ke seluruh dunia dan akan tetap hidup selamanya," bisik dia dengan suara lirih.
Dia merasa kehadiran ayahnya di sana, melindunginya dan merayakan kesuksesannya. Dia memegang kotak pemberian ayahnya dengan erat, menyadari bahwa semua yang dia miliki sekarang adalah karena cinta dan dukungan ayahnya dan keluarga yang dia bangun dari hati.
Malam itu, ada pesta perayaan di gedung konferensi. Qinara dan delegasi Indonesia menyanyi lagu nasional Indonesia, dan dia berbagi makanan tradisional dengan delegasi dari berbagai negara. Semua orang senang, dan suasana penuh kebahagiaan dan persatuan—bukti bahwa manusia bisa bekerja bersama-sama untuk tujuan yang lebih baik.
Ketika malam hari tiba, mereka kembali ke hotel. Qinara merasa lelah tapi senang. Dia tahu bahwa hari ini adalah titik balik dalam hidupnya—hari di mana harapan ayahnya menjadi harapan dunia, dan hari di mana warisan ayahnya menjadi abadi.
Mentari esok akan muncul, dan dengan itu, lebih banyak impian untuk dicapai dan lebih banyak anak untuk dibantu. Qinara siap untuk menghadapinya—dengan keberanian dari ayahnya, dukungan dari keluarga yang dibangun dari hati, dan tekad yang kuat untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.
Ayahnya selalu menyertainya, dan warisan ayahnya akan hidup selamanya di hatinya, di jaringan Sekolah Hadian, dan di setiap anak yang dia bantu di seluruh dunia. Masa depan yang cerah menunggumu, dan dia siap untuk melangkah ke depannya dengan senyum di wajah dan cinta di hati.