NovelToon NovelToon
TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

TELEKINESIS ASCENDANT: THE EDITOR'S GATE ODYSSEY

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Fantasi Timur / Fantasi Isekai
Popularitas:100
Nilai: 5
Nama Author: Karma Danum

Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.

Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: TES BAKAT

Hari ujian tiba. Arena ujian terletak di gedung pusat pelatihan akademi, sebuah ruangan luas dengan lantai matras dan dinding yang diperkuat untuk menahan energi. Di sekeliling arena, terdapat balkon pengamatan tempat beberapa guru dan instruktur duduk.

Min-jae berdiri di tengah arena, mengenakan seragam latihan yang nyaman. Dadanya berdebar, tapi napasnya teratur berkat latihan meditasi. Di seberangnya, berdiri tiga penguji: Guru Choi, Guru Han, dan seorang wanita yang belum ia kenal—Instruktur Kang, seorang Hunter aktif berperingkat B yang bertugas sebagai instruktur tamu.

"Kang Min-jae," mulai Guru Choi dengan suara resmi. "Ujian ini akan terdiri dari tiga bagian: tes pengetahuan teori, demonstrasi kemampuan, dan simulasi pertarungan. Hasil akan menentukan apakah kamu layak naik ke peringkat D atau tetap di E. Siap?"

"Siap," jawab Min-jae dengan tegas.

**Bagian Pertama: Tes Teori.**

Instruktur Kang mengajukan pertanyaan langsung, mencakup monster kelas F dan E, prinsip dasar energi dimensi, dan taktik bertahan hidup di dalam Gerbang. Pertanyaan tidak hanya hafalan, tetapi membutuhkan analisis.

"Dalam situasi di mana kamu terjebak di dalam Gerbang F-rank dengan kelompok Goblin yang jumlahnya lebih dari sepuluh, sementara anggota timmu terluka, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Instruktur Kang.

Min-jae berpikir sejenak. "Pertama, pastikan anggota tim aman di posisi bertahan. Goblin meski banyak, kecerdasannya terbatas. Saya akan gunakan lingkungan—menjatuhkan batu atau membuat kebisingan di arah lain untuk mengalihkan perhatian. Jika memungkinkan, ciptakan jalan mundur, bukan konfrontasi langsung. Prioritas adalah evakuasi, bukan pembasmian."

"Bagaimana jika lingkungan tidak memungkinkan untuk taktik seperti itu?"

"Kemampuan saya adalah psikis sensing dan telekinesis dasar. Saya bisa menggunakannya untuk memetakan jalur tersembunyi atau merasakan kelemahan struktural gua untuk membuat jalan darurat."

Instruktur Kang menganggak, mencatat sesuatu di tabletnya. "Lanjut."

Pertanyaan berlanjut, dan Min-jae menjawab dengan percaya diri. Pengetahuan luasnya dari membaca dan naluri analitisnya sebagai mantan editor sangat membantu.

**Bagian Kedua: Demonstrasi Kemampuan.**

Min-jae diminta menunjukkan kemampuan psikisnya. Ia memilih tiga demonstrasi:

**Sensing Jarak Jauh:** Dengan mata tertutup, ia mendeskripsikan letak dan kondisi lima benda yang diletakkan acak di sekitar arena—sebuah helm di bangku, pedang kayu di sudut, botol air di lantai, bahkan retakan kecil di dinding belakang.

**Presisi Telekinesis:** Ia menggerakkan sepuluh kelereng secara terpisah, menyusunnya menjadi pola tertentu di udara sebelum menurunkannya dengan hati-hati.

**Psionic Condensation:** Ia menunjukkan bola energi psikis kecil di telapak tangannya, lalu menggunakannya untuk mendorong sebuah bantalan latihan sejauh satu meter. Dorongannya halus tapi terarah.

Guru Han yang mengamati dengan seksama memberikan komentar, "Kontrolmu meningkat pesat. Tapi energi masih tersebar. Fokus pada efisiensi, bukan kekuatan mentah."

**Bagian Ketiga: Simulasi Pertarungan.**

Lawan Min-jae adalah sebuah drone latihan yang diprogram menyerupai monster kelas E—"Ironclaw Wolf", serigala besi dengan cakar tajam dan kecepatan tinggi. Drone itu tidak berniat membunuh, tapi serangannya akan terasa sakit jika mengenai.

"Tujuan: bertahan selama lima menit, atau netralkan ancaman," instruksi Instruktur Kang.

Bel berbunyi. Drone meluncur.

Min-jae langsung mengaktifkan sensing-nya. Ia merasakan pola gerakan drone: cepat, agresif, tapi dengan jeda singkat setelah setiap serangan. Ia tidak mencoba menghadang. Ia menghindar.

Cakar drone mencakar udara di dekat bahunya. Min-jae berguling, bangkit, dan mundur. Ia mencoba telekinesis untuk mendorong kaki drone, tapi drone itu terlalu stabil.

*Harus lebih pintar,* pikirnya. Ia ingat pelajaran dari Ji-woo: gunakan momentum lawan.

Saat drone menerjang lagi, Min-jae tidak mundur lurus. Ia melangkah ke samping, dan dengan dorongan psikis yang terfokus, ia mendorong bagian belakang drone tepat saat ia berbelok. Drone kehilangan keseimbangan, tergelincir.

Min-jae tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia mengumpulkan energi psikis—tidak di tangannya, tapi di depan drone—dan menciptakan 'dinding' psikis tak terlihat yang padat. Drone yang sedang berusaha bangkit menabrak dinding itu dan terjatuh lagi.

*Empat menit.*

Drone berdiri, dan sekarang lebih berhati-hati. Ia mulai bergerak memutar, mencari celah. Min-jae terus memindai, merasakan setiap perubahan arah.

Tiba-tiba, drone melonjak, bukan dari depan, tapi dari atas—serangan kejutan.

Min-jae hampir terlambat bereaksi. Tapi sensing-nya memberi peringatan milidetik lebih awal. Ia menjatuhkan diri, dan sambil berbaring, ia memusatkan seluruh konsentrasi pada lantai di bawah drone. Bukan mendorong drone, tapi menarik lantai di bawahnya—membuat ilusi gravitasi lokal meningkat untuk sesaat.

Drone itu seolah dipukul ke bawah, menghantam matras dengan keras.

*BZZZT!* Drone mengeluarkan suara error, lalu berhenti bergerak.

Waktu: empat menit tiga puluh detik.

Arena sunyi sejenak.

Instruktur Kang mendekati drone, memeriksanya. "Drone dinonaktifkan karena simulasi kerusakan struktural." Ia menoleh ke Min-jae. "Kamu menggunakan ilusi gravitasi?"

"Semacam itu," jawab Min-jae, masih terengah. "Saya memanipulasi persepsi drone tentang gravitasi dengan tekanan psikis terfokus pada sensor bawahnya. Itu hanya bekerja sesaat dan karena drone bergantung pada sensor untuk keseimbangan."

"Inovatif," komentar Instruktur Kang. "Tidak banyak psikis pemula yang berpikir untuk menyerang persepsi lawan, bukan fisiknya."

Setelah semua bagian selesai, ketiga penguji berkonsultasi sebentar. Min-jae menunggu dengan napas tertahan.

Akhirnya, Guru Choi maju. "Kang Min-jae, berdasarkan penilaian kami, kamu menunjukkan pemahaman teori yang kuat, kontrol kemampuan yang berkembang pesat, dan kecerdikan taktis di atas rata-rata untuk peringkatmu. Namun, kekuatan mentahmu masih terbatas, dan daya tahammu dalam pertarungan panjang perlu ditingkatkan."

Min-jae mengangguk, menerima kritik.

"Keputusan kami," lanjut Guru Choi, "kami menaikkan peringkat potensialmu dari E menjadi **D**. Selamat."

Rasa lega dan sukacita membanjiri dada Min-jae. Ia berhasil! D-rank! Itu lompatan signifikan.

"Mulai besok," kata Instruktur Kang, "kamu akan dipindahkan ke Kelas Reguler D-5. Kamu akan memiliki akses ke fasilitas latihan yang lebih baik, misi dengan tingkat kesulitan yang sesuai, dan prioritas untuk pelatihan khusus jika ada."

"Terima kasih, Instruktur! Terima kasih, Guru Choi, Guru Han!"

Guru Han mendekat, wajahnya biasanya keras kini terlihat puas. "Kerja bagus. Tapi jangan puas. D-rank masih rendah di dunia Hunter. Teruslah berlatih."

"Saya akan, Guru."

Kabar kenaikan rank Min-jae menyebar cepat. Ji-woo dan Seo-yeon langsung datang memberi selamat.

"Wah, D-rank! Cepat sekali!" seru Ji-woo, menepuk punggungnya. "Aku harus segera nyusul nih."

Seo-yeon tersenyum bangga. "Aku tahu kamu bisa, Min-jae."

Na-rae juga mengirim pesan ucapan selamat, ditambah janji untuk traktir makan jika ada waktu.

Namun, di balik kegembiraan, ada satu hal yang mengganjal. Saat Min-jae keluar dari arena, ia melihat sosok familiar di ujung koridor: Song Min-hyuk. Ekspresi Min-hyuk tidak seperti biasa—tidak ada senyum sinis, hanya tatapan dingin dan terukur. Lalu ia berbalik pergi tanpa kata.

*Rivalitas semakin nyata,* pikir Min-jae. Tapi ia tidak punya waktu untuk memikirkannya.

Hari berikutnya, Min-jae memasuki kelas barunya: D-5. Kelas ini lebih besar, dengan sekitar tiga puluh siswa. Beberapa wajah asing, beberapa ia kenali dari lorong akademi. Suasana kelas lebih serius, fokus.

Guru kelasnya adalah Instruktur Kang sendiri. Pelajaran pertama adalah taktik kelompok melawan monster kelas E. Min-jae duduk di baris tengah, mendengarkan dengan saksama.

Di sela-sela pelajaran, seorang siswa perempuan dengan rambir pendek merah mendekatinya. "Hei, kamu Kang Min-jae yang baru naik rank dari Remedial, kan?"

Min-jae menganggak.

"Sangar. Namaku Lee Hana. Aku juga D-rank, spesialisasi penyembuhan ringan. Kalau butuh partner latihan atau diskusi teori, bisa cari aku." Ia tersenyum ramah.

"Terima kasih. Senang berkenalan."

Perlahan-lahan, Min-jae mulai berintegrasi dengan kelas barunya. Ia tidak lagi dianggap sebagai siswa Remedial yang lemah. Ia sekarang adalah siswa D-rank yang punya potensi.

Sorenya, ia mendapat jadwal baru untuk latihan. Sebagai siswa D-rank, ia berhak mengikuti "Kelas Khusus Psionik" yang diajar oleh seorang instruktur dari departemen psikis akademi. Itu kesempatan emas.

Kelas khusus itu hanya diikuti oleh enam siswa, semuanya memiliki kemampuan psikis dasar sampai menengah. Instrukturnya adalah seorang wanita tua bernama Master Yoon, yang kabarnya adalah mantan Hunter A-rank dengan spesialisasi telepati.

"Psikis bukan hanya tentang menggerakkan benda," kata Master Yoon di awal pelajaran. "Psikis adalah tentang memahami dan memanipulasi realitas melalui pikiran. Sensing, telekinesis, telepati, ilusi—semuanya cabang dari pohon yang sama."

Min-jae merasa seperti menemukan jalur yang tepat. Di sini, ia bisa belajar secara sistematis.

Setelah kelas, Master Yoon menahannya. "Min-jae, kontrolmu sudah baik untuk levelmu. Tapi aku merasakan sesuatu yang lain di dalam dirimu—sebuah resonansi ganda. Seperti ada dua kesadaran yang berdetak bersamaan."

Min-jae kaget. Master Yoon bisa merasakan itu?

"Jangan khawatir, aku tidak akan menanyainya. Setiap orang punya rahasia. Tapi jika kamu mengalami kesulitan karena itu, atau jika itu terkait dengan mimpi buruk atau ingatan yang bertabrakan, kamu bisa bicara padaku. Aku pernah menangani kasus psikis yang mengalami trauma dimensi."

Tawaran itu tulus. Min-jae mengangguk, berterima kasih. Mungkin suatu hari nanti ia akan membutuhkan bantuannya.

Minggu-minggu berikutnya, kehidupan Min-jae berjalan dengan ritme baru yang padat namun teratur. Akademi di pagi hari, kelas khusus psikik dua kali seminggu, latihan fisik dengan Ji-woo, dan sesekali latihan privat dengan Guru Han. Ia juga mulai menerima misi akademi tingkat D-rank—biasanya misi pengintaian atau pengumpulan sumber daya di Gerbang E-rank dengan pengawasan minimal.

Dalam satu misi pengintaian di "Gerbang Sungai Beracun" (E-rank), timnya yang terdiri dari tiga orang D-rank termasuk dirinya berhasil menghindari pertempuran langsung dengan kelompok Slime besar dengan menggunakan rute alternatif yang ia deteksi melalui sensing. Laporan mereka mendapat pujian karena efisiensi.

Prestasi demi prestasi kecil menambah poin dan reputasinya. Ia juga mulai mendapatkan sedikit penghasilan dari misi—tidak banyak, tapi cukup untuk membeli perlengkapan pribadi yang lebih baik.

Suatu malam, saat ia sedang menyusun laporan misi di kamarnya, ponselnya berdering. Nomor pribadi Paman Dae-hyun.

"Min-jae, aku baru kembali. Ada perkembangan. Bisa kita bertemu besok?"

"Tentu, Paman."

Pertemuan di rumah sore berikutnya. Paman Dae-hyun terlihat lebih lelah dari biasanya, tapi matanya bersinar.

"Aku telah melakukan penyelidikan diam-diam melalui koneksiku di guild," mulainya, suara rendah. "Tentang Ouroboros dan proyek ayahmu. Yang kudapat masih terbatas, tapi ada satu nama: **Dr. Seo Ji-hyun**. Dia adalah asisten utama ayahmu di Proyek Hermes. Dan dia adalah satu-satunya yang selamat dari insiden lab yang tidak masuk dalam daftar resmi."

Min-jae menahan napas. "Di mana dia sekarang?"

"Menghilang. Tapi ada jejak terakhir: dia terlihat di daerah kumuh dekat pelabuhan, sekitar enam bulan lalu. Dia mungkin masih bersembunyi, takut ditemukan Ouroboros atau pihak lain." Dae-hyun mengeluarkan selembar foto buram dari dompetnya. Foto seorang wanita kurus dengan kacamata, wajahnya cerdas tapi penuh kelelahan. "Ini fotonya dari beberapa tahun lalu. Jika kamu ingin mencari kebenaran, dia mungkin satu-satunya orang yang bisa menjawab."

Min-jae menerima foto itu. Dr. Seo Ji-hyun. Kunci berikutnya.

"Tapi hati-hati," ingat Dae-hyun. "Jika Ouroboros tahu kamu mencarinya, mereka akan bergerak. Dan mereka tidak akan segan."

"Ia mengerti, Paman. Terima kasih."

Malam itu, Min-jae memandangi foto Dr. Seo. Perburuan kebenaran memasuki babak baru. Ia kini punya nama, wajah, dan petunjuk lokasi. Tapi ia juga tahu, ini akan lebih berbahaya dari sekadar memasuki Gerbang.

Dengan status D-rank-nya yang masih baru, ia harus lebih berhati-hati. Tapi tekadnya tidak goyah. Ia akan mencari Dr. Seo. Dan dari sana, mungkin akhirnya ia akan mengungkap rahasia di balik transmigrasinya, proyek ayah Min-jae, dan organisasi Ouroboros yang penuh teka-teki.

Langkah selanjutnya sudah jelas: persiapkan diri lebih matang, lalu mulai pencarian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!