Kang Ji-hoon, seorang editor webnovel yang hidupnya biasa-biasa saja, tewas dalam sebuah kecelakaan. Namun, alih-alih mati, ia terbangun di tubuh Kang Min-jae, seorang pemuda di dunia paralel di mana "Gerbang" ke dimensi lain telah muncul, dan "Hunter" dengan kekuatan khusus bertugas menghadapi monster di dalamnya.
Terjebak dalam identitas baru dengan misteri ayah yang hilang dan tekanan untuk menjadi Hunter, Ji-hoon harus beradaptasi dengan dunia yang berbahaya. Dibantu oleh "sistem" misterius di dalam benaknya dan kekuatan telekinesis yang mulai terbangun, ia memasuki Hunter Academy sebagai underdog. Dengan pengetahuan editornya yang memahami alur cerita dan karakter, Ji-hoon harus menguasai kekuatannya, mengungkap konspirasi di balik transmigrasinya, dan bertahan di dunia di mana setiap Gerbang menyimpan ancaman—dan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karma Danum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Pertemuan dengan Seo-yeon
Hujan rintik-rintik menyelimuti Akademi Hunter, mengubah lapangan latihan menjadi kubangan lumpur dan memaksa semua kegiatan praktis ke dalam ruangan. Ji-hoon, yang seharusnya melatih “sensing”-nya di Taman Batu, terpaksa mencari tempat lain. Akhirnya, dia memutuskan untuk mengunjungi Perpustakaan Akademi—sebuah bangunan silinder setinggi sepuluh lantai yang penuh dengan gulungan kuno, buku tebal, dan terminal holografik.
Dia mencari bagian tentang “Psionic Sensing & Environmental Awareness”, topik yang jarang diminati kebanyakan siswa yang lebih tertarik pada literatur tentang ledakan api atau pedang berenergi. Saat sedang memilah-milah rak di lantai empat, suara terisak kecil menarik perhatiannya.
Dari balik rak buku besar tentang anatomi monster, seorang gadis dengan seragam putih laboratorium—tanda siswa jurusan Pemulihan—sedang duduk bersila di lantai, kepalanya tertunduk di antara lutut. Bahunya bergetar halus.
Ji-hoon ragu. Dia bukan tipe orang yang mudah menyapa orang asing, apalagi yang sedang menangis. Tapi naluri kemanusiaan (dan mungkin rasa penasaran editornya yang selalu mencari “cerita”) mendorongnya mendekat.
“Hey,” ucapnya, suaranya sedikit serak karena lama tidak digunakan untuk memulai percakapan. “Kamu baik-baik saja?”
Gadis itu mengangkat kepala dengan cepat, menyeka matanya yang merah dengan punggung tangan. Dia memiliki wajah bulat yang ramah, mata besar yang sekarang bengkak, dan rambut hitam pendek diikat dengan ikat kepala putih. Nametag di seragamnya bertuliskan: **Seo-yeon – Healing Arts, Tahun 1**.
“A-aku baik,” jawabnya, berusaha tersenyum tapi gagal. “Hanya… sedikit frustrasi.”
Ji-hoon melihat buku yang terbuka di pangkuannya: *Prinsip Penyembuhan Luka Dimensi Lanjutan – Edisi ke-5*. Buku setebal batu bata dengan diagram energi yang rumit.
“Itu terlihat… berat,” komentar Ji-hoon, duduk di lantai di seberangnya dengan jarak yang sopan.
Seo-yeon mengangguk, menghapus air mata terakhir. “Ini adalah bahan ujian untuk kelas Penyembuhan Tingkat Lanjut. Tapi aku tidak bisa mengerti bab tentang ‘Rekonstruksi Jaringan di Lingkungan Energi Dimensi Tidak Stabil’. Setiap kali aku mencoba mempraktikkannya di lab, energiku buyar. Aku bahkan tidak bisa menyembuhkan luka goresan sederhana di bawah kondisi simulasi Gate.”
Suaranya penuh dengan kekecewaan yang dalam. Ji-hoon bisa merasakannya—bukan sekadar frustrasi akademis biasa, tapi sesuatu yang lebih personal.
“Kamu jurusan Pemulihan, ya? Itu keren,” kata Ji-hoon, mencoba menghibur.
“Keren?” Seo-yeon terkekeh pahit. “Semua orang bilang itu ‘jurusan cadangan’. Untuk mereka yang tidak punya kekuatan tempur yang cukup kuat. Teman-teman sekelasku yang lain, mereka bisa menghasilkan barrier cahaya, memulihkan patah tulang dalam hitungan detik. Aku? Aku masih berjuang dengan luka dangkal.” Dia menatap tangannya, yang bersih dan halus. “Keluargaku… mereka semua hunter. Kakak laki-lakiku adalah A-rank tank di guild besar. Mereka berharap aku bisa jadi healer besar, bergabung dengan guild yang sama, jadi tim dengannya. Tapi jika aku terus seperti ini…”
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi Ji-hoon mengerti. Tekanan keluarga. Ekspektasi yang jauh melampaui kemampuan saat ini. Itu adalah cerita yang bisa dia pahami, meski dengan konteks yang berbeda.
“Aku pikir menjadi healer itu lebih dari sekadar kekuatan besar,” ucap Ji-hoon setelah jeda. “Kamu bilang teman-temanmu bisa menyembuhkan patah tulang dengan cepat. Tapi apakah mereka mengerti *bagaimana* tulang itu sembuh? Atau mereka hanya menuangkan energi ke dalamnya?”
Seo-yeon mengerutkan kening. “Apa maksudmu?”
“Aku… punya sedikit pengalaman dengan memanipulasi hal-hal dengan pikiran,” kata Ji-hoon, berhati-hati untuk tidak menyebut telekinesis secara spesifik. “Awalnya, aku mencoba memaksa semuanya. Tapi kemudian guruku mengajariku: bukan tentang kekuatan, tapi tentang pemahaman. Jika kamu mengerti bagaimana sesuatu bekerja, kamu bisa mempengaruhinya dengan usaha yang lebih sedikit.”
Dia menunjuk buku itu. “Mungkin masalahnya bukan pada jumlah energimu. Mungkin kamu mencoba ‘memaksa’ penyembuhan itu terjadi, alih-alih memahami bagaimana tubuh sebenarnya menyembuhkan dirinya sendiri, terutama di lingkungan dimensi yang aneh.”
Mata Seo-yeon berbinar sedikit, penuh dengan pemikiran baru. “Jadi… kamu bilang aku harus mempelajari proses biologisnya lebih dulu, baru kemudian menerapkan energiku untuk mempercepat atau membimbing proses itu?”
“Mungkin,” kata Ji-hoon, mengangkat bahu. “Aku bukan healer. Tapi dalam pengalamanku, setiap kali aku berhenti mencoba mengendalikan dan mulai mencoba memahami, hasilnya selalu lebih baik.”
Seo-yeon terdiam sejenak, membolak-balik halaman buku tebal itu. “Semua orang selalu bilang, ‘Lebih banyak energi! Lebih kuat konsentrasi!’. Tidak ada yang pernah bilang ‘pahami dulu’.” Dia melihat Ji-hoon. “Kamu siswa tahun pertama juga? Jurusan apa?”
“Ah… pertempuran. Tapi aku masuk terlambat. Masih banyak yang harus aku kejar.”
“Namamu?”
“Ji-hoon. Kang Ji-hoon.”
“Aku Seo-yeon,” ucapnya, kali ini tersenyum lebih tulus. “Terima kasih, Ji-hoon. Mungkin… mungkin kamu benar. Aku selalu terpaku pada betapa tidak cukupnya energiku dibandingkan yang lain. Mungkin aku harus fokus pada apa yang bisa aku lakukan dengan energi yang aku punya.”
Dia berdiri, menyikat debu dari seragamnya. “Aku akan mencoba pendekatanmu. Membaca bab ini lagi, tapi kali ini coba benar-benar mengerti mekanismenya, bukan hanya menghafal prosedurnya.”
Ji-hoon ikut berdiri. “Semoga berhasil.”
“Hei,” kata Seo-yeon tiba-tiba, wajahnya cerah. “Kamu butuh partner latihan? Untuk… apa pun yang kamu latih? Sebagai balasan atas sarannya.”
Ji-hoon terkejut. Partner latihan? Selama ini dia hanya berlatih sendiri atau dengan Guru Choi. Tapi ide itu tidak buruk. Terutama untuk melatih sensing-nya—mencoba merasakan energi orang lain, reaksi mereka.
“Aku… mungkin butuh seseorang untuk menguji ‘sensing’-ku,” akunya. “Aku mencoba mengembangkan kemampuan untuk merasakan lingkungan tanpa melihat. Tapi butuh objek hidup untuk berlatih.”
Seo-yeon mengangguk antusias. “Aku bisa membantu! Sebagai healer, aku juga diajari untuk merasakan aliran energi dalam tubuh. Mungkin kita bisa saling membantu. Kamu belajar sensing, aku belajar… pemahaman.”
Mereka bertukar nomor kontak di perangkat akademi. Seo-yeon bergegas pergi, buku tebalnya dipeluk erat, dengan langkah yang sekarang lebih ringan dan penuh tujuan.
Ji-hoon tetap di perpustakaan, merasa aneh. Dia baru saja berteman—atau setidaknya, mendapatkan kenalan—dengan seorang healer yang sedang berjuang. Itu bukan sesuatu yang dia rencanakan. Tapi entah mengapa, rasanya… bagus.
Dia kembali ke bukunya tentang sensing, tapi pikirannya terganggu. Seo-yeon mengingatkannya pada dirinya sendiri—seseorang yang berjuang di bawah bayang-bayang ekspektasi, mencoba menemukan caranya sendiri dalam sistem yang tampaknya sudah memiliki cetakan untuk semua orang.
*Mungkin,* pikirnya sambil menutup buku, *di akademi penuh dengan orang-orang yang ingin membuktikan diri ini, aku tidak sendirian.*
Dan untuk pertama kalinya, Ji-hoon merasa bahwa dia mungkin tidak hanya memiliki seorang mentor di Guru Choi. Dia mungkin juga menemukan teman seperjuangan.
Hujan di luar mulai reda, meninggalkan udara segar dan bersih. Ji-hoon memutuskan untuk berlatih sensing di koridor, mencoba merasakan keberadaan setiap orang yang lewat tanpa melihat mereka. Dan di suatu tempat di lab penyembuhan lantai dua, Seo-yeon membuka buku tebalnya lagi, namun kali ini dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu, bukan keputusasaan.
Dua orang yang berjuang dari ujung spektrum yang berbeda—satu dengan kekuatan yang tidak diakui, satu dengan kekuatan yang belum terkendali—telah mengambil langkah kecil pertama menuju sesuatu yang mungkin, suatu hari nanti, menjadi persahabatan.
Atau setidaknya, sekutu yang saling memahami.
---