Mengkisahkan seorang wanita yang bernama Aulia Az-Zahra yang hidup dalam dunia penuh intrik, pengkhianatan, dan tipu daya orang-orang terdekatnya, dari suami yang berkhianat hingga keluarga yang ikut campur, ia belajar bahwa kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa diberikan begitu saja.
Dengan keberanian dan prinsip, Zahra memutuskan untuk membalas dengan bismillah, bukan dengan dendam, tapi dengan strategi, keteguhan, dan kejujuran...
Akan kah Zahra bisa membalaskan sakit hati nya? dan apakah Zahra juga bisa menemukan kebahagiaannya setelah ini?
Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar juga ya besty!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Hari Pertama Sidang Perceraian Zahra
Hari pertama sidang perceraian Zahra dimulai pukul sembilan pagi di Pengadilan Agama..
Ruang sidang kecil itu tertutup untuk umum, tidak ada keramaian, tidak ada sorotan, hanya kursi kayu, meja hakim, dan suasana formal yang menekan.
Zahra datang tepat waktu, ia mengenakan pakaian sederhana berwarna gelap, wajahnya tenang...
Di sisi kanannya duduk Mira, pengacaranya, di sisi kirinya, ibunya, Bu Wati, menggenggam tas kecil dengan tangan yang sedikit gemetar.
Zahra menarik napas panjang sebelum masuk, ia tidak menoleh ke belakang. Ia tidak ingin ragu.
Tak lama kemudian, Genta masuk dari pintu lain, ia didampingi pamannya, Pak Hasan, wajah Genta terlihat lelah, matanya cekung, ia tidak menatap Zahra lama, hanya anggukan singkat.
Hakim membuka sidang dengan formalitas standar..
Nama Zahra disebut sebagai penggugat dan nama Genta sebagai tergugat.
Mira berdiri lebih dulu, menyampaikan permohonan cerai secara ringkas dan jelas, tidak bertele-tele, dan tidak emosional.
Kemudian hakim mempersilakan Zahra menyampaikan alasan.
Zahra berdiri, punggungnya tegak, suaranya terdengar jelas di ruangan yang sunyi...
"Saya mengajukan cerai bukan karena emosi, saya tidak marah, saya tidak membenci.” ucapnya
Ia menatap ke depan, bukan ke arah Genta.
“Saya mengajukan cerai karena rumah tangga kami tidak lagi aman secara psikologis dan struktural, ada tekanan berulang dari pihak keluarga suami yang tidak pernah dihentikan, hak saya sebagai seorang istri di abaikan, dan suami saya berada dalam posisi yang tidak mampu melindungi atau berdiri bersama saya dan saya pernah diselingkuhi dan selingkuhan nya masih tetap bersama ibu mertua saya" ucap Zahra tegas
Ruang sidang tetap hening.
“Saya tidak menyalahkan suami saya sepenuhnya, tapi saya juga tidak bisa terus hidup dalam kondisi seperti ini.” lanjut Zahra
Hakim mengangguk perlahan.
"Apakah tergugat membenarkan pernyataan penggugat?” tanya hakim.
Genta berdiri, suaranya berat.
“Saya membenarkan, apa yang Zahra sampaikan benar.” ucapnya
Ia menelan ludah.
“Saya gagal melindunginya, saya terjebak antara ibu saya dan istri saya, dan akibatnya, Zahra yang tersakiti"
Zahra tetap berdiri tanpa reaksi berlebihan, hakim mencatat, sidang berjalan singkat dan mediasi dijadwalkan, sesuai prosedur.
Saat sidang selesai, Zahra duduk kembali, ia tidak menangis, ia tidak gemetar, ia hanya merasa lelah.
Di luar ruang sidang, Bu Ratna berdiri dengan wajah tegang, ia datang tanpa undangan, ia mencoba masuk.
“Maaf Bu, sidang tertutup,” kata petugas dengan tegas.
"Saya ibu dari tergugat,” jawab Bu Ratna dingin.
"Tidak ada izin,” ulang petugas.
Bu Ratna menahan amarah, ia tidak berteriak, ia berbalik dan berjalan cepat menuju mobilnya.
Ia menunggu di dalam mobil, tangannya mencengkeram ponsel, rahangnya mengeras.
Ia tidak mendengar apa pun dari dalam sidang, dan itu membuatnya tidak berdaya.
Zahra keluar dari gedung pengadilan bersama Mira dan ibunya..
“Sidang pertama berjalan baik, kamu bersikap tenang, itu penting” kata Mira singkat.
Zahra mengangguk.
“Terima kasih sudah mendampingi.”
Bu Wati memegang lengan anaknya.
“Kita pulang?”
Zahra menatap ibunya.
“Ibu ingin ke mana?”
Bu Wati ragu sejenak.
“Ibu ingin lihat rumah kita.”
Zahra terdiam.
“Sekarang?”
"Iya Ra, ibu belum pernah benar-benar melihat rumah kita, sejak kejadian itu.” jawab Bu Wati pelan
Zahra mengangguk.
“Baik.”
***
Sesampainya mereka disana, rumah itu masih berdiri tapi tidak lagi layak disebut rumah.
Dinding menghitam, atap sebagian runtuh, bau hangus masih terasa meski waktu sudah berlalu..
Bu Wati berdiri lama di depan puing-puing itu, matanya basah, tangannya gemetar.
Zahra berdiri di sampingnya, ia tidak berkata apa-apa.
Tiba-tiba, Bu Wati terdiam, matanya menatap ke arah ujung jalan..
Seorang wanita berjalan cepat, mengenakan pakaian sederhana, wajahnya tertutup masker,..!
Bu Wati memicingkan mata.
“Itu…,” gumamnya.
Lalu Bu Wati dengan sigap mengambil ponselnya dan memotret wanita tersebut
Dan kemudian Bu Wati berteriak.
“Hei, tunggu Bu!”
Wanita itu menoleh sekilas, langkahnya justru dipercepat.
Bu Wati berlari mengejarnya.
Zahra kaget.
“Ibu!”
Ia pun ikut berlari.
Wanita itu masuk ke gang sempit dan menghilang..
Bu Wati berhenti dan napas nya terengah-engah.
Zahra memegang bahunya.
“Ada apa Bu?”
Bu Wati menatap Zahra dengan wajah pucat.
“Ibu lihat ibu-ibu yang waktu itu datang ke rumah kita, sebelum rumah kita terbakar.” ucapnya cepat lalu Zahra hanya terdiam.
“Dia bilang dari kelurahan, mau mendata warga untuk bantuan.” lanjut Bu Wati
Zahra menatap ibunya tajam.
“Apa? Sebelum rumah kita terbakar, ada wanita datang ke rumah kita?” tanya Zahra
Bu Wati mengangguk pelan.
“Ibu lupa nak, ibu baru ingat sekarang, waktu itu ibu pikir biasa.”
Zahra menutup mata sebentar, otaknya bekerja cepat.
“Bu, sepertinya ada yang sengaja ingin membakar rumah kita.” ucapnya kemudian
Bu Wati terdiam.
“Maksud kamu…?”
“Kebakaran itu tidak kebetulan, ada orang yang dengan sengaja ingin membuat rumah kita terbakar” jawab Zahra
Bu Wati menutup mulutnya.
“Ya Allah…”
Zahra menarik napas dalam.
“Kita harus lapor. polisi Bu! Ibu tadi mengambil gambar wanita itu kan?" Tanya Zahra
Sore itu juga, Zahra dan Bu Wati datang ke kantor polisi.
Mereka diterima oleh seorang penyidik, Zahra menyampaikan laporan dengan tenang. Ia menjelaskan kronologi kebakaran. Kematian ayahnya dan kemunculan wanita yang mengaku petugas kelurahan..
Bu Wati menambahkan detail sebisanya dan penyidik mencatat semuanya..
"Apakah anda mempunyai photo nya?" Ucap penyidik
"Ada pak, tadi saya baru memotretnya tapi menggunakan masker" jawab Bu Wati sambil menunjukkan gambar yang ia ambil
"Bisa kirim ke kami photo nya untuk mempermudah penyidikan" ucap penyidik
"Baik pak" Bu Wati langsung mengiriminya
"Terima kasih Bu, akan kami tindak lanjuti, kami butuh waktu" ucapnya
Zahra mengangguk.
“Kami siap bekerja sama.”
Saat keluar dari kantor polisi, Zahra berdiri lama di tangga depan, ia merasa lelah, tapi juga yakin.!
.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia tidak hanya bertahan, ia melangkah.
Dan ia tahu, mulai hari ini, kebenaran tidak lagi hanya ada di doanya tapi juga di jalur hukum..!