NovelToon NovelToon
Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Suami Rahasiaku Cowok Tengil

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / BTS / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Senja Hamil

Setahun berlalu sejak perpisahan di bandara itu, namun sebuah anugerah tak terduga hadir di tengah kerinduan yang membara.

Senja, yang kini duduk di kelas sebelas, mendapati dirinya sedang mengandung buah cinta mereka selepas liburan romantis di Malang dan Banyuwangi waktu itu.

******

Pagi itu, Senja duduk di tepi tempat tidur di kamarnya di kediaman Ndalem. Tangannya mengelus lembut perutnya yang kini sudah mulai membuncit, masuk ke usia kandungan enam bulan.

Perasaannya bercampur aduk antara kebahagiaan luar biasa dan ketakutan yang mencekam. Di satu sisi, ia merasa sangat bahagia karena ada detak jantung kecil, benih dari Langit, yang tumbuh di dalam rahimnya.

Namun di sisi lain, ia merasa rapuh karena harus menghadapi kehamilan ini tanpa pelukan fisik dari suaminya yang masih berjuang menyelesaikan tesisnya di Melbourne.

"Mas Langit... anak kita sudah mulai menendang," bisiknya lirih dengan mata berkaca-kaca saat menatap layar ponsel yang menampilkan foto pernikahan mereka.

Ketakutan terbesar Senja adalah sekolahnya. Sebagai anak seorang Kyai dan santriwati, mengandung saat masih bersekolah adalah hal yang sangat berat secara mental. Ia takut akan pandangan orang lain, meskipun statusnya adalah istri sah. Namun, di sinilah kasih sayang Abah Danardi menjadi pelindung utamanya.

Abah, dengan kebijaksanaannya, tidak membiarkan putri tunggalnya itu menanggung beban sendirian. Beliau memberikan dispensasi khusus. Senja tidak perlu lagi pergi ke kelas atau asrama putri dengan perut yang semakin besar. Segala keperluan sekolah dan ujian akhir kelas sebelas diatur agar dilakukan di rumah.

Hari itu adalah hari pertama ujian akhir semester. Seorang guru perempuan diutus oleh sekolah untuk mengantarkan naskah ujian ke Ndalem. Senja duduk di meja belajarnya, mengenakan daster longgar dan kerudung rumah yang nyaman. Di hadapannya, setumpuk kertas ujian menanti.

TOK TOK.

Pintu terbuka, dan Abah masuk membawa segelas susu hamil yang masih hangat. Beliau mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.

"Jangan terlalu lelah, Senja. Kerjakan pelan-pelan saja. Anakmu di dalam juga ikut belajar bersamamu," ujar Abah dengan senyum menenangkan.

"Terima kasih, Abah. Maaf kalau Senja jadi merepotkan sekolah," jawab Senja tulus.

"Tidak ada yang repot. Kamu sedang menjalankan amanah Allah, sekaligus amanah ilmu. Fokuslah. Setelah ujian ini, Abah sudah bicara dengan Langit. Dia akan segera pulang sebelum bayimu lahir," kata Abah lagi.

Mendengar nama Langit disebut, semangat Senja bangkit kembali. Ia menarik napas panjang, menguatkan hati, dan mulai menggoreskan pena di atas kertas ujian. Meskipun setiap beberapa menit ia harus berhenti karena sang bayi di dalam perutnya bergerak aktif, seolah memberi semangat, Senja merasa jauh lebih tenang.

Ketakutannya perlahan sirna, digantikan oleh tekad kuat untuk lulus dengan hasil terbaik, demi membuktikan pada dunia dan pada suaminya bahwa ia adalah ibu dan istri yang tangguh.

Di kamar yang tenang itu, Senja berjuang demi masa depannya, ditemani doa Abah di luar pintu dan cinta Langit yang mengalir lewat doa dari benua seberang.

Malam di pesantren terasa begitu hening, hanya suara jangkrik yang menemani kesunyian di kediaman Ndalem. Setelah melewati hari-hari ujian akhir kelas sebelas yang menguras energi, Senja kini menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal di tempat tidur. Ia mengenakan daster berbahan katun yang nyaman, memperlihatkan perutnya yang kini sudah menonjol dengan jelas.

Layar ponsel di hadapannya menyala. Wajah Langit muncul di sana, tampak sedikit lelah dengan lingkaran hitam di bawah mata karena harus mengejar tenggat waktu tesis sekaligus bekerja paruh waktu, namun matanya langsung berbinar begitu melihat Senja.

"Hai, Jendelaku... gimana ujian terakhir hari ini? Bisa?" tanya Langit, suaranya terdengar sangat lembut lewat speaker ponsel.

Senja tersenyum manis, tangannya mengelus perutnya. "Alhamdulillah bisa, Mas. Tapi tadi si Kecil aktif banget, kayaknya dia juga pengen ikutan jawab soal Matematika."

Langit tertawa kecil, namun sedetik kemudian tatapannya berubah menjadi sangat dalam dan penuh rasa haru. "Coba arahkan kameranya ke bawah, Sayang. Saya mau bicara sama dia."

Senja menurunkan posisi ponselnya hingga menyorot perut buncitnya. Di Melbourne, Langit mendekatkan wajahnya ke layar, seolah-olah ia bisa berbisik langsung ke rahim istrinya.

"Halo, Nak... ini Ayah," bisik Langit, suaranya mendadak serak.

"Maafin Ayah ya, Nak. Sampai kamu sebesar itu di dalam sana, Ayah belum bisa usap kamu langsung. Ayah belum bisa jagain Bunda kamu saat dia mual, saat dia pegal, atau saat dia kesulitan tidur karena kamu makin berat."

Senja yang mendengarkan itu mulai berkaca-kaca. Ia bisa merasakan ketulusan dan rasa bersalah yang besar dari nada bicara suaminya.

"Ja..." Langit kembali menatap wajah istrinya. "Maafin saya ya? Kehamilan pertama kamu, momen paling berharga kita, saya justru nggak ada di samping kamu. Saya merasa gagal jadi suami karena biarkan kamu berjuang sendirian di sana."

"Mas, jangan bicara begitu," potong Senja sambil menghapus air mata di sudut matanya.

"Kamu di sana berjuang buat masa depan kita, buat si Kecil juga. Abah sama Ummi jagain aku dengan baik di sini. Kamu fokus saja selesaikan semuanya."

Langit mengangguk, ia menempelkan telapak tangannya ke layar ponsel, seolah ingin menyentuh tangan Senja dari jauh.

"Terima kasih sudah jadi istri yang sangat kuat, Ja. Sedikit lagi. Saya janji, begitu urusan administrasi lulus ini selesai, saya nggak akan pernah biarkan kamu sendirian lagi. Saya mau ada di sana saat kamu berjuang melahirkan nanti. Saya mau jadi orang pertama yang dengar tangis dia."

Malam itu, meski raga mereka terpisah samudera, ikatan batin mereka terasa begitu nyata.

Langit terus mengajak bicara sang bayi di kandungan Senja, menceritakan tentang indahnya taman-taman di Melbourne yang nanti ingin ia tunjukkan pada mereka.

Senja pun tertidur dengan ponsel yang masih menyala, ditemani suara Langit yang membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an sebagai pengantar tidur bagi istri dan calon buah hatinya.

Pagi itu, sinar matahari masuk melalui celah jendela Ndalem, menyinari Senja yang sedang duduk di atas karpet tebal, dengan telaten melipat satu per satu baju bayi mungil pemberian keluarga Langit.

Meskipun hatinya bahagia melihat perlengkapan yang begitu lengkap, ada sedikit rasa hampa karena Langit masih memiliki sisa tiga tahun lagi untuk menyelesaikan kuliahnya di Australia.

Setahun pertama ini terasa begitu panjang bagi Senja. Ia sering melamun, menghitung hari kapan kiranya sang suami bisa pulang meskipun hanya untuk sebentar.

Tiba-tiba, suasana rumah yang tadinya tenang berubah sedikit riuh di bagian depan. Senja tidak terlalu memperhatikan, ia pikir itu hanya para santri yang sedang memindahkan boks perlengkapan bayi yang tersisa.

Namun, aroma parfum yang sangat ia kenali, campuran antara aroma maskulin dan kesegaran udara musim dingin—mulai tercium di indra penciumannya.

Senja hendak berdiri untuk mengambil air minum, namun gerakannya terhenti saat sepasang tangan kekar dan hangat tiba-tiba melingkar dengan lembut dari arah belakang, memeluk perut buncitnya dengan penuh kasih sayang.

"Assalamu’alaikum, Ibu dari anak-anak saya..."

Suara bariton yang berat dan sangat dirindukan itu berbisik tepat di telinganya. Tubuh Senja menegang seketika, jantungnya seolah berhenti berdetak sebelum kemudian berpacu sangat kencang. Ia mengenali suara itu.

Ia mengenali sentuhan itu.

"Mas... Langit?" bisik Senja nyaris tak terdengar.

Langit memutar tubuh Senja perlahan agar menghadapnya. Pria itu tampak lebih dewasa dengan jaket hitam dan rambut yang sedikit lebih rapi.

Tanpa menunggu lama, Langit langsung berlutut di depan Senja, sejajar dengan perut istrinya. Ia menempelkan pipinya ke perut Senja yang besar, memejamkan mata dengan penuh takzim.

"Halo, Nak... Ayah pulang. Ayah ambil libur semester paling panjang cuma buat nemenin kamu lahir ke dunia," ucap Langit dengan suara yang bergetar karena haru.

Senja menutup mulutnya dengan tangan, air mata bahagianya tumpah tak terbendung. Ia mengusap rambut Langit yang kini berada dalam dekapannya.

"Mas, kok bisa? Katanya kamu masih sibuk sama tugas semester satu?"

Langit bangkit berdiri dan langsung menarik Senja ke dalam pelukan paling erat yang pernah mereka rasakan. Ia menciumi puncak kepala Senja berkali-kali.

"Saya belajar siang malam, Ja. Saya ambil kelas tambahan supaya ujian saya selesai lebih cepat dari yang lain. Semua demi ini... demi bisa lihat kamu dan si Kecil lahir."

Langit melepaskan pelukannya sebentar, menangkup wajah Senja dan menghapus air matanya dengan ibu jari.

"Empat tahun memang lama, tapi saya janji setiap ada libur semester, saya akan selalu pulang ke sini. Saya nggak akan biarkan kamu berjuang sendirian di saat-saat penting seperti ini."

Momen itu penuh dengan keintiman dan rasa syukur. Langit kemudian membawa Senja duduk di tempat tidur, ia mengeluarkan sebuah kalung mungil dari sakunya.

"Ini buat kamu, hadiah karena sudah jadi istri yang sabar nunggu saya selama setahun ini."

Di kamar itu, di tengah tumpukan perlengkapan bayi, Langit dan Senja kembali merajut kemesraan. Jarak Australia memang masih menanti di depan, tapi untuk saat ini, bagi Langit, dunia hanya sebatas Senja dan buah hati yang sebentar lagi akan hadir di antara mereka.

1
kalea rizuky
senja np di buat bloon bgt sih heran
kalea rizuky
senja aja goblok
Siti Amyati
lanjut kak
Siti Amyati
kasihan ujian nya kok senja di lecehin gitu smoga langit ngga lansung ambil keputusan yg bikin berpisah tpi bisa buktiin siapa dalang semuanya
Kurman
👍👍👍
Julidarwati
BHSnya baku x dan g eris sebut nm thor
yuningsih titin: makasih koreksinya dan komentar nya
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
yuningsih titin: siap👍
total 1 replies
yuningsih titin
makasih masukannya kak
ndah_rmdhani0510
Senja yng di gombalin, kok aku yang meleleh🤭
Bulan Benderang
bahasanya masih sedikit kaku kak,🙏🙏
Ai Nurlaela Jm
Karyamu luar biasa kereen Thor, lanjutkan💪
rinn
semangat thor
yuningsih titin: makasih kak
total 1 replies
Dri Andri
lanjut kan berkarya tetap semangat
Dri Andri
lanjutkan thour
Dri Andri
awwsshh ceritanya bikin.... 😁😁😁😁
yuningsih titin
ngga kuat deh langit sama senja romantis banget
ndah_rmdhani0510
Benci apa benci Langit? Ntar kamu bucin lho ama Senja🤭
yuningsih titin
cie.. malam pertama senja dan langit😍
yuningsih titin
duh bahagianya yang mau bulan madu..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!