NovelToon NovelToon
Pembalap Hati Sang Ustadz

Pembalap Hati Sang Ustadz

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rani, seorang pembalap motor berjiwa bebas, menentang keras perjodohan yang diatur ayahnya dengan seorang ustadz tampan bernama Yudiz. Meskipun penolakan itu tak digubris, pernikahan pun terjadi. Dalam rumah tangga, Rani sengaja bersikap membangkang dan sering membuat Yudiz kewalahan. Diam-diam, Rani tetap melakoni hobinya balapan motor tanpa sepengetahuan suaminya. Merasa usahanya sia-sia, Yudiz akhirnya mulai mencari cara cerdik untuk melunakkan hati istrinya dan membimbing Rani ke jalan yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Suasana kamar rumah sakit pagi itu sunyi dan matahari menyusup malu-malu dari celah jendela, menyinari wajah Abi Husein yang tampak lemah di ranjang pasien.

Selang infus masih tergantung dan alat pemantau detak jantung terus berbunyi pelan-pelan.

Rani duduk di kursi sambil menundukkan kepalanya dan sesekali melirik Abi yang belum juga membuka mata pagi ini.

“Abi…” bisiknya pelan.

Tak lama kemudian Abi Husein membuka matanya dan pandangannya redup seolah menahan rasa sakit yang berat.

“Rani, kemarilah nak."

Rani mendekat ke arah Abi nya sambil menggenggam tangannya yang dingin.

“Abi jangan banyak bicara dulu." ucap Rani sambil menggenggam tangan Abi nya.

“Abi tahu waktu Abi di dunia ini nggak lama lagi.”

“Abi, jangan bilang seperti itu. Dokter bilang Abi baik-baik saja.”

“Dokter hanya melihat tubuh tapi hati Abi, sudah lelah, Rani. Abi cuma punya satu keinginan sebelum pergi melihat kamu menikah, Nak.”

Rani terdiam sejenak dan mencoba untuk bicara, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.

“Kamu anak Abi satu-satunya, kalau Abi meninggal tanpa melihat kamu punya suami yang bisa bimbing kamu, lindungi kamu Abi khawatir, Rani. Abi nggak tenang."

Rani menundukkan kepalanya dan dadanya terasa sesak.

“Kamu nggak harus berubah sekarang. Tapi biarkan Yudiz membantu kamu, bimbing kamu. Dia laki-laki baik, Nak. Dan dia sungguh ingin memuliakanmu.”

“Kalau kamu mau terima lamarannya, Abi bisa pergi dengan tenang," ucap Abi Husein dengan suara lemah.

Rani terdiam sejenak dengan pikirannya yang berputar- putar tentang balapan, tentang hidupnya yang keras kepala, tentang suara motor dan malam-malam panjang yang ia habiskan jauh dari rumah dan tentang Abi nya yang mungkin benar-benar akan pergi.

“Iya, Bi. Rani akan menerima perjodohan itu.” ucap Rani dengan suara lirih.

Abi tersenyum bahagia saat mendengar perkataan dari putrinya.

"Umi! Umi!!"

Abi Husein langsung bangkit begitu saja, suaranya kembali lantang dan penuh semangat.

Ia duduk di ranjang dengan wajah sumringah. Rani terpaku dengan wajah bingung, marah, dan tidak percaya.

“UMI! ANAK, KITA MAU MENIKAH!”

Umi Siti yang baru masuk sambil membawa termos air panas, hampir menjatuhkannya.

“Astaghfirullah, Husein! Katanya sakaratul maut?!”

Abi tertawa lepas sambil mencopot selang infusnya sendiri.

“Alhamdulillah, berhasil!”

Rani menatap ayahnya sambil menggelengkan kepalanya.

“Jadi Abi pura-pura sekarat?!”

“Ya nggak pura-pura banget, sih. Cuma sedikit dramatisasi demi masa depan anak gadis Abi.”

“Gila. Keluarga macam apa ini.” ucap Rani sambil menggelengkan kepalanya.

Umi Siti menahan tawa sambil memegangi perutnya saat mendengar perkataan putrinya.

“Rani, anak Umi. Jangan marah, Abi itu terlalu sayang sama kamu, sampai-sampai rela akting masuk rumah sakit.”

Rani menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.

Andaikan saja ini bukan tentang pernikahan, mungkin ia sudah kabur naik motor ke sirkuit dan tak pulang tiga hari.

Abi Husein memanggil dokter dan memintanya untuk mengijinkannya pulang.

Dokter menganggukkan kepalanya dan memberikannya ijin.

Pagi itu juga mereka langsung menuju ke rumah Kyai Abdullah.

Di sepanjang perjalanan Rani hanya bisa mengerucutkan bibirnya.

Mobil keluarga Abi Husein berhenti di depan sebuah rumah besar nan sederhana, bercat putih dengan pagar besi hitam yang terawat.

Di depan pintu berdiri beberapa santriwati mengenakan hijab.

Rumah Kyai Abdullah memang tak pernah sepi dari orang-orang yang menuntut ilmu.

Suara burung dari pepohonan di halaman depan bersahut-sahutan dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dari dalam.

Haji Husein turun terlebih dahulu, mengenakan batik coklat tua dan kopiah hitam.

Di belakangnya, Umi Siti dengan kerudung hijau zaitun menuntun langkah Rani yang datang tanpa hijab, mengenakan jaket jeans dan celana panjang yang robek di lututnya.

Rambut panjangnya dibiarkan tergerai bebas dan sepatu sneakersnya berbunyi saat menginjak ubin halaman.

Rani tidak menunjukkan ekspresi bersalah dan ia bahkan tampak malas-malasan.

Hanya satu yang ia tahu bahwa Abi nya sudah terlalu bahagia untuk ia tolak lagi.

Saat keluarga mereka masuk ke ruang tamu, suasana langsung terasa tegang.

Kyai Abdullah duduk tenang dengan jubah putih dan peci melingkar rapi.

Di sampingnya ada istri beliau Nyai Salmah yang menatap Rani dari atas hingga bawah, sebelum buru-buru menunduk dan beristighfar pelan.

“Astaghfirullah, Ya Allah, ini calon mantunya, Kyai?”

Beberapa anak Kyai yang duduk di sisi ruangan saling melirik, ada yang terbatuk dan ada pula yang langsung menunduk sambil berzikir

Rani jelas bukan gambaran menantu seorang ulama besar.

Abi Husein merasa keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Umi Siti menggenggam tangannya dan berusaha tersenyum meski hatinya tegang.

Rani sendiri hanya duduk sambil menatap bingung ke sekeliling rumah.

Dinding rumah penuh rak buku, kaligrafi dan jam dinding besar yang bertuliskan Waktu Adalah Amanah

Kyai Abdullah membuka percakapan dengan lembut, tapi tatapannya tajam.

“Insya Allah, pagi ini kita ingin menyatukan dua keluarga. Tapi sebelum itu, saya ingin bertanya satu hal pada Rani.”

“Apa, Kyai?” tanya Rani.

“Apakah kamu siap menjadi istri dari seorang laki-laki yang hidupnya terikat pada ilmu, agama, dan tanggung jawab dunia akhirat?”

Rani terdiam sejenak, lalu mengangguk meski agak enggan.

“Saya belum tahu bisa cocok atau nggak. Tapi saya nggak akan lari.”

Kyai Abdullah tersenyum kecil dan menatap istrinya sejenak kemudian beralih ke Haji Husein.

“Kalau begitu, kita jangan menunda. Daripada fitnah berlama-lama, biarlah pagi ini juga, saya nikahkan Rani dengan Yudiz.”

“Pagi ini?!” Umi Siti terlonjak.

“Iya, pagi ini,” tegas Kyai Abdullah.

“Jangan beri waktu setan untuk membisikkan ragu. Mumpung langit sedang bersih, dan niat sedang lurus.”

Setelah selesai mengobrol Nyai Salamah mengajak Umi Siti dan Rani ke kamar tamu.

Nyai Salamah meminjamkan gaun putih milik Lilis adik Abimanyu.

Umi Siti lekas meminta putrinya untuk mengganti pakaiannya dengan gaun pengantin.

Tak berselang lama Rani berdiri di kamar tamu,mengenakan gaun putih sederhana yang dipinjamkan oleh Nyai Salmah.

Meski masih tanpa hijab dengan rambutnya disanggul rapi dan wajahnya tak lagi memberontak seperti tadi siang.

Sementara itu di ruang utama, Yudiz duduk bersila.

Lelaki tampan berjas koko putih itu tampak tenang, tapi matanya mencari-cari.

Ia baru saja kembali dari luar kota dan bahkan belum sempat benar-benar bicara dengan calon istrinya.

“Aku akan menikah dengan perempuan yang aku bahkan belum sempat sapa,” gumamnya dalam hati.

Pak penghulu sudah datang ke rumah Kyai Abdullah dan segera ia meminta Yudiz untuk menjabat tangannya.

“Aku terima nikahnya Rani Devayanti binti Husein, dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan uang tunai sebesar seratus juta rupiah dibayar tunai.”

Tangannya mantap dengan suaranya yang lantang dan para saksi mengangguk.

"SAH!"

Dari balik kamar Rani menutup mata dan nafasnya berat dan hatinya belum siap.

Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa seperti tidak sedang melawan. 

Setelah selesai Ijab Kabul, Nyai Salamah dan Umi Siti mengajak Rani untuk keluar dari kamar.

Abi Husein mengantarkan putrinya ke Yudiz yang sekarang sudah menjadi suami Rani.

“Kamu istri orang sekarang, Nak. Tapi kamu tetap anak Abi selamanya.”

“Abi harusnya jadi aktor, bukan guru ngaji." ucap Rani masih sedikit jengkel dengan Abi nya.

Abi Husein tersenyum kecil dan ia meminta Yudiz untuk menjaga Rani yang sekarang sudah menjadi istrinya.

Yudiz mencium tangan Abi Husein dan ia berjanji akan menjaga Rani.

1
lin sya
nyai salmah kpn dpt krma atau prlu diceraiin suaminya, klo rani menderita ya akibat kebodohannya yg trllu naif, sbnrnya rmh tangga yudiz bkn urusan uminya knp ikut campur msukin pelakor jdi istri Kedua lgi/Sob/
lin sya
drama ikan terbang, kecewa thor knp pemeran cewe nya bodoh dan munafik mertua aj gk mikirin perasaan nya, dia malah bikin rmh tangga nya mkin berantakan, yudiz jg knp hrs nurut sm istri, angkat tangan aku mah🤭
lin sya: greget kk, sm pemeran wanita nya
total 2 replies
lin sya
klo trbukti msukin penjara aj plus cerain biar kapok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!