NovelToon NovelToon
Darah Pocong Perawan

Darah Pocong Perawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Hantu / Mata Batin / Iblis
Popularitas:560
Nilai: 5
Nama Author: Celoteh Pena

Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menikah

Weni tertegun, terdiam membisu. Menatap sejenak lelaki di depannya itu, lalu ia menunduk melanjutkan makan tanpa menjawab ucapan Yitno.

Yitno pun malu, ia merasa bersalah sudah terlanjur berkata seperti itu kepada Weni. Jelas itu terdengar tidak sopan dan terdengar tidak pantas karena mereka baru saja saling mengenal. Alhasil mereka berdua sama-sama canggung, keduanya diam membisu tanpa obrolan.

Yitno lalu beranjak berdiri, ia berjalan menuju pemilik warung memesan 3 bakso yang di bungkus. Sekalian ia membayar dan kembali ke tempat duduknya.

"Mas pesen bakso? Buat siapa mas?"

"Buat anak mbak, bude Sri sama mamakku juga."

"Ya ampun mas repot-repot lho, aku jadi gak enak."

"Gak papa mbak, cuma bakso."

"Emm soal omongan mas tadi, maaf ya mas aku gak bisa. Keadaan ku lagi gak baik-baik aja. Aku gak kepikiran dan gak mau mikirin ke arah sana dulu. Masalah hidupku masih rumit."

"Iya mbak, saya yang harusnya yang minta maaf. Gak pantes harusnya saya ngomong kayak tadi ke mbak, soalnya kita baru aja kenal. Saya cuma gak mau buang-buang waktu dan kesempatan, mbak di sini gak lama. Mungkin bentar lagi udah pulang. Dan usia saya juga nuntut saya harus buru-buru. Makannya saya beraniin diri ngomong kayak gitu, walupun sebenernya gak pantes." Ucap Yitno apa adanya

Weni terdiam mendengar ucapan Yitno. Tergambar jelas di wajah Yitno jika yang ia katakan itu adalah sebuah kejujuran. Weni menyukai sifat Yitno yang jujur blak-blakan tapi terkesan tetap pantas dan sopan.

"Aku janda mas, anakku udah gede mas. Aku gak punya apa-apa. Rumah yang tak tempatin itu kontrakan. Mas terima itu?"

"Aku berani ngomong kayak gitu karena Aku udah tau masalah itu.. bude Sri udah banyak cerita soal mbak.."

"A..aku mau mas, ja..jadi istrimu. Bo..boleh gak aku minta sesuatu dari mas?" Ucap Weni ragu

"Minta apa mbak?"

"Emm..aku gak minta mahar apapun dari mas, tapi tolong biayain sekolah anakku mas, dan aku juga pengen punya tempat usaha. Kecil gak papa mas."

"Iya, aku ngurusin mamak. Jadi, mau gak mau kalau kita jadi ya tinggal di rumahku itu. Nanti aku bangunin salon buat kamu di depan di sebelah warungku."

"Iya mas gak papa yang penting aku ada usaha. Satu lagi mas, kalau bisa akad aja.. aku malu mas sama statusku. Gak usah di besar besarin gitu."

"Aku ngomong mamak dulu masalah itu."

"Emm gitu ya mas, ya udah mas gak papa kalau mamak pengennya di acarain."

"Ya aku usahain gak di acarain takutnya kamunya beban."

"Ya udah bulan depan kita akad, ini udah tanggal 10 kan. Masih ada waktu buat ngurus berkas. Soalnya anakku akhir bulan udah pembagian ijazah."

"Iya..terus mau pake lamaran gak?"

"A..aku ngomong dulu sama mbak Sri..gimana bagusnya. Nanti ku rembuk dulu."

"Oh ya udah kalau gitu, kabarin aja."

"Iya mas, oiya besok aku udah pulang. Mungkin aku langsung ngurus berkas."

"Iya."

Yitno begitu bahagia, akhirnya ia akan mempunyai pasangan hidup, walaupun Weni seorang janda tapi ia adalah wanita yang baik.

Sesampainya di rumah Yitno langsung memeluk ibunya, ia menceritakan semuanya kepada ibunya.

Ibunya menangis terharu begitu bahagia akhirnya anak lelakinya itu menemukan pasangan hidupnya..

"Nanti mamak cari pinjaman duit Yit, untuk mbangun salon buat Weni istrimu."

"Gak usah Mak, kalau dua warung ketutupan nanti rumah ini, mungkin ku lebarin 2 meteran aja abis itu di skat. Nanti aku ngomong sama Weni, dia mau gak gitu kalau gak mau ya terpaksa bangun warung satu lagi."

"Iya juga. Ya udah nanti di omongin lagi"

***

Satu bulan kemudian Yitno akhirnya menikah dengan Weni, prosesi ijab qobul di langsungkan di rumah bude Sri.

Warung Yitno pun telah rampung di pugar dan di renovasi, warung yang awalnya hanya berukuran lebar 3 meter itu, sekarang diperluas menjadi 5 meter dan di skat menjadi dua ruangan, masing-masing 2,5 meter untuk salon dan warung.

Anak Weni pun di daftarkan ke SMP dan akan bersekolah di situ. Anak satu satunya itu bernama Dira, gadis manis berkulit putih dan pendiam. Seluruh warga kampung bangga kepada Yitno, mereka tak menyangka jika ia menikahi wanita yang sangat cantik.

Jujur Yitno tak begitu menghiraukan kecantikan atau body goal istrinya, karena ia memang hanya menyukai sifat Weni dan ia sedikit merasa iba dengan keadaan Weni. Jika masalah tubuh, ia pun pernah merasakan gadis perawan dan kapan pun ia mau di bisa melakukanya ia mempunyai uang dan kekuatan kain kafan itu..

Malam itu di rumah Yitno begitu ramai, walaupun tak ada acara, tetapi para warga dan teman-teman sekampungnya berkumpul sekedar melek melek'an memberi selamat kepada Yitno..mereka berkumpul di halaman depan rumahnya.

"Jangan biarkan Yitno menikmati malam pertamanya. Kita Sandra dia di sini sampe di tinggal istrinya tidur..Yo nggak lek? hahaha.." ujar iwan

"Hahaha...pokoknya kamu harus di sini Yit, nemenin ngobrol kita-kita hahaha." Ucap lek nanang ayah dari Ratih. Gadis yang pernah Yitno perkaos.

Adik perempuan Yitno keluar dari dalam rumah, membawa kacang rebus, gorengan dan satu teko kopi.." kopinya lek..

"Weh kamu to put, mana suamimu?" Ujar iwan

"Tidur mas, kecapean dia."

Ya adik Yitno datang, ia dari kota bersama suami dan anaknya. Adiknya Yitno bernama Putri.

"Ssst...mas, kok gak nemenin istrimu?" Bisik Putri kepada Yitno kakaknya sembari mencubit pinggang samping Yitno

"Iya nanti.."

"Heh..kamu ini mas, gak boleh gitu..temuin dulu bentar. Ngomong kalau lagi banyak temen yang dateng, alasan apa gitu. Nanti mikirnya kemana-mana lho mbak Weni" Ucap Putri mengingatkan kakaknya itu

"Iya..iya cerewet kamu ini."

Yitno pun beranjak berdiri masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya yang sudah rapi di jadikan kamar pengantin. Tampak Weni istrinya duduk di sebuah kursi rias di dalam kamar itu, ia sudah memakai baju tidur berwarna ungu muda yang sangat tipis menerawang tanpa Bra..

Ia sibuk membersihkan bekas make up di wajahnya dengan tissue basah. Yitno berdiri terpaku menatap istrinya yang begitu seksi dan cantik, kakinya bersih mulus sampai ke paha tanpa noda sedikit pun.

Weni tersenyum malu di pandang seperti itu oleh suaminya..

"Heh.. ditutup mas pintunya..aku pake baju tidur kayak gini.." ucap istrinya lirih

Yitno tersenyum menghampiri istrinya memeluknya sesaat lalu mengecup keningnya..

"Asem lah pas manteb-mantebnya malah temenku dateng dik..makin banyak mereka."

"Hahaha..ya udah lho mas, besok lagi kan bisa..apa mau bentar aja kalau udah pengen. Abis itu temenin, temen mas lagi?"

"Bentar? Apa itu bentar? Hahaha...gak mau aku..harus lama..hmm besok aja ya dik..gak papa kan? Ya walaupun gak ada temenku juga banyak sodara yang nginep di sini. Malu Kedengeran nanti.." bisik Yitno

"Iya mas gak papa kok. Aku juga capek sebenernya.. ya udah mas begadang sama temen-temen mas aja. Besok kita gass hehehe.."

"Hehe iya, ya udah di kunci kamarnya ya dik, paling aku gak tidur sampe subuh ngeladenin mereka."

"Iya mas.."

Malam itu Yitno tidak menemani istrinya, ia menunda malam pertamanya karena rumahnya terlalu ramai. Dan teman-temannya pun berdatangan.

"Yit, tukeran bojo yok..aku tombok lah.." ucap iwan..

"Cangkemmu tak jepret nanti wan!"

"Hahah guyon lho yit... Itu pasir buat apa lagi yit?"

"Nyetak batako."

"Weh..mau mbangun rumah kamu?"

"Nggak, paling benerin kamar mandi dulu lah, kamar mandi dari geribik gitu! Gak ada atapnya, mana anakku udah gadis, istriku cantik.. yang ada lek Parman tiap sore ngarit rumput di belakang rumahku lagi..waduh bahaya itu." Ucap Yitno menggoda lek Parman salah satu tetangga sebelah rumahnya.

"Haha aduh kok udah ketauan ya niat burukku..? Hahaha.." jawab lek Parman guyon, Mereka saling berbincang hingga larut malam.

"Sstt... Udah pada denger belum? Yang mencuri kain kafan nya almarhumah Lastri anaknya lek Tarman itu katanya warga kampung ini lho,,.." ucap iwan

"Halah bojone Tarman kalau ngomong plin plan, dulu dia bilang udah mati di luar kota. Itu yang di bilang sama Mbah suro sebelum ia tewas. Kan malemnya mereka minta tolong sama dukun itu. Sekarang bilang masih disini..Halah mana yang bener ya gak tau."

"Iya lek..dia itu di kasih tau informasi dari polisi yang nyelidiki kasus ini. Kata polisi kematian Mbah suro itu masih ada sangkut pautnya sama kasus hilangnya kain kafan si Lastri."

Yitno hanya menghisap rokoknya sembari minum kopi menyimak cerita mereka..

"Polisi tau dari mana wan? Halah! asal aja mereka kalo ngomong, biar keliatan kerja. Buktinya ya gak ketemu juga pelakunya! Sok berkredibilitas..cuma gimick itu nyenengin hati masyarakat dan keluarga korban.." timpal lek Nanang

"Polisi tau dari Hendro lek, anaknya mbah suro! Dia saksi kunci. Di tambah syarat dari Mbah suro yang di minta sama istrinya lek Tarman berupa photo sama celana dalam Lastri yang gak di temuin di rumah Mbah suro. Mungkin polisi mikirnya yang bunuh Mbah suro itulah pelaku sesungguhnya yang mencuri kafannya Lastri. Pelaku sengaja menghilangkan barang bukti dan kemungkinan takut kalau ketauan! makanya Mbah suro di bunuhnya."

Yitno memicingkan kedua matanya...

"Eeehh..? Kok malah jadi kayak detektif kamu wan? Dari pada mikirin itu mending mikirin usaha lah wan. Capek kita ngurusin hal kayak gitu, biar itu urusan polisi." Sahut Yitno

"Bener kamu Yit... Ngapain ngurusin masalah orang, wong kita sendiri masih susah." sahut lek Parman membenarkan ucapan Yitno

"Nggak lek, aku gak susah, bojoku lho ayu tenan lek..udah aku pelintir- pelintir dikit lah tadi ujungnya..mulus lek kayak cangkang melinjo wkwkwk.." ujar Yitno

"Luwing kowe Yo Yit..!!! asem tenan cangkang melinjo!! Hahahha..licin banget berarti Yit? Hahaha..."

Mereka berbincang hingga larut, sampai terdengar suara pujian dari sebuah musholla. Pertanda subuh akan datang. Dan acara melek-melek'an itu pun bubar. Mereka pulang ke rumahnya masing masing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!