NovelToon NovelToon
REINKARNASI DARI MASALALU

REINKARNASI DARI MASALALU

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Reinkarnasi / Kutukan
Popularitas:46
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Menuju Pembalasan

Puri menutup buku harian itu dengan keras. Ia merasa pusing dan mual. Informasi yang baru saja ia baca terlalu berat untuk ia terima. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Apakah ia harus memberitahu teman-temannya tentang apa yang ia baca? Apakah ia harus menjauhi Rendra? Atau apakah ia harus mencoba untuk membantu Rendra melawan takdirnya?

Puri merasa bingung dan putus asa. Ia tidak tahu jalan mana yang harus ia pilih.

Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki mendekat ke kamarnya. Ia menoleh dan melihat Rio berdiri di ambang pintu.

"Puri, ada apa?" tanya Rio dengan nada khawatir. "Aku mendengar suara gaduh dari kamarmu. Apa kau baik-baik saja?"

Puri menatap Rio dengan tatapan kosong. Ia tidak tahu apakah ia bisa mempercayai Rio. Apakah Rio akan percaya dengan apa yang akan ia ceritakan?

Namun, ia tidak punya pilihan lain. Ia harus menceritakan semuanya kepada Rio. Ia membutuhkan bantuannya.

"Rio, aku harus menceritakan sesuatu padamu," kata Puri dengan nada lirih. "Sesuatu yang sangat penting dan menakutkan."

Rio mengerutkan kening. "Ada apa, Puri? Katakan padaku. Kau membuatku khawatir."

Puri menarik napas dalam-dalam dan mulai menceritakan semuanya kepada Rio. Ia menceritakan tentang buku harian yang ia temukan, tentang kejahatan keluarga Handoko, dan tentang kutukan yang menimpa Rendra.

Rio mendengarkan cerita Puri dengan seksama. Awalnya, ia tampak tidak percaya dan meragukan kebenaran cerita tersebut. Namun, semakin lama Puri bercerita, semakin jelas baginya bahwa Puri tidak berbohong. Ia melihat ketakutan dan keputusasaan di mata Puri.

Setelah Puri selesai bercerita, Rio terdiam sejenak. Ia tampak sedang berpikir keras.

"Aku percaya padamu, Puri," kata Rio akhirnya. "Aku percaya bahwa ada sesuatu yang buruk sedang terjadi. Tapi aku tidak tahu apa yang harus kita lakukan."

"Aku juga tidak tahu, Rio," jawab Puri dengan nada putus asa. "Aku merasa seperti terjebak dalam labirin yang gelap dan menakutkan."

Rio mendekati Puri dan memeluknya dengan erat. "Kita akan mencari jalan keluar bersama-sama, Puri," kata Rio dengan nada menenangkan. "Kita akan menghadapi semua ini bersama-sama. Aku tidak akan meninggalkanmu."

Puri membalas pelukan Rio dengan erat. Ia merasa sedikit lega karena ia tidak sendirian dalam menghadapi semua ini. Ia memiliki Rio, dan ia tahu bahwa bersama-sama mereka akan mampu mengatasi semua rintangan.

"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Rio setelah melepaskan pelukannya.

Puri berpikir sejenak. "Kita harus mencari tahu lebih banyak tentang kutukan yang menimpa Rendra," jawab Puri. "Kita harus mencari cara untuk mematahkan kutukan itu dan menyelamatkan Rendra."

"Bagaimana caranya?" tanya Rio.

"Aku tidak tahu," jawab Puri. "Tapi aku yakin, Mbah Sastro tahu sesuatu. Kita harus kembali menemuinya dan meminta bantuannya."

Rio mengangguk setuju. "Baiklah. Besok pagi kita akan menemui Mbah Sastro," kata Rio. "Tapi untuk sekarang, kita harus istirahat. Kita membutuhkan energi untuk menghadapi hari esok."

Puri mengangguk setuju. Ia merasa lelah dan stres. Ia membutuhkan istirahat yang cukup untuk memulihkan tenaganya.

Rio menggandeng tangan Puri dan membawanya ke tempat tidur. Mereka berbaring bersama, saling berpelukan dengan erat.

Malam itu, mereka tidur dengan perasaan yang campur aduk. Takut, cemas, namun juga

 berharap. Mereka berharap bahwa esok hari akan membawa jawaban dan jalan keluar dari semua masalah yang mereka hadapi. Mereka berharap bahwa mereka akan mampu menyelamatkan Rendra dan mengungkap kebenaran tentang Srikanti.

Namun, mereka tidak tahu bahwa malam itu adalah awal dari mimpi buruk yang lebih besar. Mereka tidak tahu bahwa bahaya yang lebih besar sedang mengintai di depan mereka. Mereka tidak tahu bahwa mereka akan segera menghadapi ujian yang paling berat dalam hidup mereka.

Di tengah malam yang sunyi, di bale pasanggrahan yang angker, kekuatan jahat mulai bangkit. Kekuatan itu telah lama tertidur, namun kini ia terbangun dan haus akan darah. Kekuatan itu akan melakukan segala cara untuk melindungi rahasianya dan menghancurkan siapa pun yang berani menghalangi jalannya.

Dan Puri dan Rio, bersama dengan teman-teman mereka, tanpa sadar telah memasuki wilayah kekuasaan kekuatan jahat itu. Mereka telah membangunkan amarahnya dan kini mereka harus bersiap untuk menghadapi konsekuensinya.

Keesokan paginya, Puri dan Rio bangun dengan perasaan yang tidak enak. Mereka merasa seolah-olah ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Mereka mencoba untuk mengabaikan perasaan itu dan fokus pada rencana mereka untuk menemui Mbah Sastro.

Setelah bersiap-siap, mereka pergi ke rumah Mbah Sastro. Namun, saat mereka tiba di sana, mereka menemukan bahwa rumah Mbah Sastro kosong. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.

Puri dan Rio merasa bingung dan khawatir. Ke mana Mbah Sastro pergi? Apakah ia dalam bahaya?

Tiba-tiba, mereka mendengar suara teriakan dari arah bale pasanggrahan. Mereka saling bertukar pandang dan segera berlari menuju bale pasanggrahan.

Saat mereka tiba di sana, mereka melihat pemandangan yang mengerikan. Ayu dan Dina tergeletak di tanah, tidak sadarkan diri. Di dekat mereka, berdiri sesosok pria yang mengenakan pakaian serba hitam. Pria itu memegang sebuah pisau berlumuran darah.

Puri dan Rio terkejut dan marah. Mereka tahu, pria itu adalah orang suruhan keluarga Handoko. Ia telah menyerang teman-teman mereka.

"Kau!" teriak Puri dengan nada marah. "Apa yang kau lakukan pada teman-temanku?"

Pria itu menyeringai sinis. "Aku hanya memberikan pelajaran kepada mereka yang berani ikut campur urusan keluarga Handoko," jawab pria itu dengan nada mengejek.

"Kau akan membayar atas perbuatanmu!" teriak Rio dengan nada marah.

Rio berlari menuju pria itu dan mencoba untuk memukulnya. Namun, pria itu dengan mudah menghindari serangan Rio dan membalasnya dengan tendangan yang keras. Rio terhuyung mundur dan jatuh ke tanah.

Puri merasa marah dan putus asa. Ia tidak bisa membiarkan pria itu menyakiti teman-temannya lagi.

Puri mengambil sebuah batu besar dan melemparkannya ke arah pria itu. Batu itu mengenai kepala pria itu dan membuatnya terjatuh ke tanah.

Puri segera menghampiri Ayu dan Dina. Ia memeriksa kondisi mereka dan memastikan bahwa mereka masih bernapas.

"Kita harus membawa mereka ke rumah sakit," kata Puri dengan nada panik.

Rio bangkit dari tanah dan membantu Puri mengangkat Ayu dan Dina. Mereka membawa teman-teman mereka ke rumah sakit terdekat.

Setelah tiba di rumah sakit, Ayu dan Dina segera mendapatkan perawatan medis. Dokter mengatakan bahwa mereka mengalami luka yang cukup serius, tetapi untungnya nyawa mereka masih bisa diselamatkan.

Puri dan Rio merasa lega mendengar kabar itu. Mereka bersyukur bahwa teman-teman mereka selamat.

Namun, mereka juga merasa marah dan dendam. Mereka tahu, keluarga Handoko telah melampaui batas. Mereka tidak bisa lagi tinggal diam. Mereka harus melakukan sesuatu untuk menghentikan mereka.

"Kita harus membalas dendam," kata Rio dengan nada marah. "Kita tidak bisa membiarkan mereka lolos begitu saja."

"Aku setuju," jawab Puri dengan nada tegas. "Kita akan membuat mereka membayar atas semua yang telah mereka lakukan."

Puri dan Rio memutuskan untuk menyusun rencana untuk melawan keluarga Handoko. Mereka tahu, mereka tidak bisa melakukannya sendirian. Mereka membutuhkan bantuan dari orang lain.

Mereka teringat pada Mbah Sastro. Mereka percaya bahwa Mbah Sastro memiliki kekuatan dan pengetahuan yang bisa membantu mereka mengalahkan keluarga Handoko.

Namun, mereka tidak tahu ke mana Mbah Sastro pergi. Mereka telah mencari di seluruh desa, tetapi tidak ada yang tahu keberadaannya.

Tiba-tiba, Puri teringat pada sesuatu. Ia teringat pada sebuah tempat yang tersembunyi di dalam hutan, tempat Mbah Sastro sering pergi untuk bermeditasi.

"Aku tahu ke mana Mbah Sastro pergi," kata Puri dengan nada bersemangat. "Ia pasti berada di tempat meditasinya di dalam hutan."

Puri dan Rio segera pergi ke hutan untuk mencari Mbah Sastro. Setelah berjalan cukup jauh, mereka akhirnya menemukan tempat meditasi Mbah Sastro.

Di sana, mereka melihat Mbah Sastro sedang duduk bersila di atas sebuah batu besar. Matanya tertutup dan bibirnya bergerak-gerak seperti sedang membaca mantra.

Puri dan Rio mendekati Mbah Sastro dengan hati-hati. Mereka tidak ingin mengganggu meditasinya.

Setelah beberapa saat, Mbah Sastro membuka matanya dan menatap Puri dan Rio dengan tatapan yang tajam.

"Aku tahu mengapa kalian datang ke sini," kata Mbah Sastro dengan nada tenang. "Kalian ingin meminta bantuanku untuk melawan keluarga Handoko."

Puri dan Rio mengangguk dengan cepat. "Benar, Mbah," kata Puri dengan nada memohon. "Kami membutuhkan bantuanmu. Keluarga Handoko telah menyerang teman-teman kami. Mereka telah melampaui batas.

\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!