NovelToon NovelToon
Darah Pocong Perawan

Darah Pocong Perawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Horor / Hantu / Mata Batin / Iblis
Popularitas:505
Nilai: 5
Nama Author: Celoteh Pena

Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejadian

Sore hari..

"Abis Maghrib nanti jangan lupa tahlilan tempatnya lek Tarman, Yit." Ucap ibunya

"Iya Mak"

Yitno segera menimba air dan mengisi bak mandi, ia pun segera mandi karna hari sudah mulai beranjak petang. Ba'da Maghrib ia berjalan menuju kediaman rumah lek Tarman guna mengirim do'a karena Lastri anak gadisnya telah berpulang.

Pembacaan Yasin dan tahlil berlangsung seperti biasanya, tanpa ada pembahasan tentang almarhumah Lastri. Mungkin para warga dan jamaah tidak enak hati melihat mata Tarman yang masih sembab, ia begitu merasa kehilangan atas kematian putri satu-satunya itu.

Acara selesai, Yitno berjalan pulang sambil menenteng plastik berisi nasi berkat. Sesampainya di rumah ia segera memakan nasi berkat tersebut bersama ibunya sambil menonton TV ditemani aroma bau obat nyamuk bakar yang menyala tenang di atas tutup kaleng Kong Guan.

"Rame Yit yang yasinan tadi?"

"Rame Mak, hmm..kasian ngeliat lek Tarman."

"Ya mau gimana, udah ajalnya. Mamak capek banget hari ini, ya layat ya rewang masak sampe sore, mamak tidur dulu, Yit. Nanti di tutup semua pintunya."

"Iya Mak.."

Tengah Malam..

Tepat jam satu malam, terlihat Yitno mengendap-endap keluar rumah membawa cangkul yang sudah ia lepas dari gagangnya. Mata cangkul itu ia selipkan di pinggangnya. Sedangkan gagang cangkul ia pegang, agar jika ada yang melihatnya ia di sangka sedang ronda malam.

Malam itu begitu sunyi, tak ada satu pun warga yang terlihat. Biasanya di pos ronda banyak anak-anak muda atau bapak-bapak yang bermain gaple. Tapi malam ini entah mengapa tak satu pun warga terlihat. Seolah alam mendukung niat buruknya malam itu.

Yitno pun segera bergegas menuju area pemakaman dengan memilih rute memutar melalui kebun kebun warga, ia tak lewat jalan utama kampung. Ia begitu waspada berjaga-jaga jika ia lewat jalanan bisa saja ada warga yang melihatnya. Ia takut nanti ia akan di curigai.

Sekitar 30 menit ia berjalan, sampailah ia di area TPU kampungnya itu. ia menuju pusara tempat jasad Lastri di kebumikan. Tak sulit baginya mencarinya karna ia ikut ke pemakaman saat menguburkan jasad itu. Perlahan ia duduk di bawah pohon Kamboja dan pelan pelan memasang mata cangkul ke gagangnya.

Semilir dingin angin malam mulai terasa, dibawah langit malam dengan suasana area kuburan yang gelap gulita itu Yitno menatap ke atas. Di lihatnya kilatan kilatan cahaya tanpa guntur diatas langit gelap.

"Apa mau ujan?" Batin Yitno

Ia segera cepat beraksi, ia sengaja tak membawa penerangan seperti senter, ia takut cahaya akan mudah di lihat orang. Dan benar saja, tak lama gerimis datang. Yitno tersenyum lega, ia berfikir jika gerimis atau hujan tak akan ada satu pun orang yang akan keluar rumah.

Tepat di atas makam itu, Yitno berdiri dan mulai mencangkul. Ia yang sudah terbiasa bekerja menggali sumur dengan mudah menggali kuburan itu, apalagi hanya tanah yang di uruk dan baru pagi tadi. Tanah itu pun sangat mudah di gali olehnya.

Dakk...!!!

Terdengar bunyi Mata cangkul membentur papan, Yitno segera membuka papan itu satu persatu. Di dalam liang lahat itu begitu gelap dan sempit tanpa penerangan ia berusaha tak melihat wajah mayat, ia takut terbayang-bayang. Ia menimpah wajah jasad Lastri dengan tumpukan papan.

Satu persatu tali pocong ia raba dari bagian bawah hingga dada, hanya tali pengikat kepala yang tak ia lepas. Ia pun mulai berusaha meny*tub*hi jasad Lastri yang sudah terasa dingin bercampur tanah itu. Yitno yang notabene tak pernah sekalipun tidur dengan wanita begitu bernafsu menggarap jasad Lastri.

10 menit kemudian ia sudah mencapai puncaknya, Yitno lalu membasuh kem*lua*nya dengan kain kafan itu. Setelah membenahi celananya ia segera menarik paksa seluruh kain kafan tersebut. Yitno lalu memasang kembali papan demi papan seperti semula, dan menguruk kembali kuburan itu seperti sediakala tak lupa ia menancapkan patoknya kembali.

Ia segera bergegas pulang, cangkul yang ia gunakan untuk menggali ia ceburkan ke dalam sebuah sumur di area pemakaman itu. Untuk menghilangkan barang bukti. Yitno lalu pulang dengan penuh kewaspadaan dan rasa takut yang luar biasa.

Akhirnya ia bisa bernafas lega setelah ia sampai di bagian halaman belakang rumahnya, ia membuka pintu belakang rumahnya yang memang tidak ia kunci, hanya ia ganjal dengan kain. Ia segera masuk kamarnya duduk termenung menatap kain kafan dengan noda darah perawan itu yang tergeletak di lantai kamarnya.

Badannya begitu kotor oleh tanah ia belum membersihkan diri. Malam itu ia tidak dapat tidur sama sekali. Mungkin karna rasa takut yang teramat sangat, hingga setelah adzan subuh berkumandang ia baru berani keluar kamar membawa pakaian kotornya yang terkena tanah dan lumpur sehabis menggali makam. Ia segera mencucinya sebelum ibunya bangun.

Misi Yitno pun berhasil, ibunya sama sekali tak tau bahwa semalam ia keluar rumah dan melakukan perbuatan itu. Yitno pun berencana siang ini dia akan menemui kakek dukun yang berada di rawa angker tersebut.

Sementara itu di lain tempat, tepatnya di area pemakaman. Dinginnya Pagi itu terasa sangat sejuk dengan aroma pohon Kamboja yang menyerebak di area sekitar pemakaman. Seorang lelaki tua tetapi masih tampak sehat, tanpa alas kaki berjalan di dalam area pemakaman sembari membawa sebilah parang.

Dia adalah kuncen atau juru kunci pemakaman tersebut. Namanya adalah Surip, ia sering di sapa Mbah Surip oleh warga sekitar. Pagi itu Mbah Surip berjalan di tanah yang sedikit lembab karena semalam sempat gerimis tetapi tak hujan lebat. Ia menebang dan merapikan dahan-dahan pohon kenanga dan kamboja yang makin lebat dengan bentuk rindang.

Itu memang tugasnya, ia sengaja merapikan ranting dedaunan pohon itu agar area pemakaman tersebut tampak lebih rapih terurus tidak gelap menyeramkan. Kebetulan ia merapikan salah satu pohon dekat pusara yang baru saja kemarin jasad Lastri di makamkan.

Mbah Surip sedikit tertegun sembari memicingkan kedua alisnya yang sudah tampak memutih dengan kedua mata cekungnya memperhatikan pusara tersebut.

"Kok patoknya agak miring? Taburan kembang kembang itu kemaren kan banyak di atas kuburnya, lah kok sekarang gak ada...?" Batinnya, curiga

Ia berusaha menepis kejanggalan tersebut,,

"Semalemkan angin kenceng banget, hmm..mungkin bunga-bunga di atas kubur tersebut terbang tersapu angin.." batinnya berfikir positif

Mbah Surip lalu melanjutkan pekerjaannya dan tak menghiraukan kejanggalan tersebut. Setelah selesai menebang dahan-dahan itu ia kemudian menyemprot rumput di halaman depan dekat pagar pemakaman hingga siang hari.

___

Yitno masih berdiam diri di dalam kamarnya, ia mengingat sesuatu jika ia harus membawa tujuh lembar daun pisang raja dan bunga tujuh rupa yang di petik menjelang Maghrib. Soal bunga ia tak begitu khawatir, di halaman belakang yang bersandar di dinding papan rumahnya ibunya menanam banyak bunga, karena ibunya pun suka tanaman bunga bahkan jumlahnya lebih dari tujuh jenis.

"Dimana ya aku ngeliat ada yang punya pohon pisang raja?" Batin Yitno berusaha berfikir, sembari mencoba mengingat-ingat..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!