NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17_RASA YANG TIDAK PUNYA NAMA

Nayla kembali ke sekolah dua hari kemudian.

Tubuhnya masih belum sepenuhnya fit, tapi ia memaksa diri. Ia tidak ingin menambah masalah. Terlalu banyak mata yang sudah memperhatikannya, terlalu banyak bisik-bisik yang belum juga berhenti.

Begitu ia melangkah masuk ke gerbang sekolah, suasana terasa… berbeda.

Beberapa siswa menoleh lebih lama dari biasanya. Ada yang berbisik, ada yang pura-pura sibuk tapi jelas mencuri pandang. Nayla menurunkan bahu tasnya sedikit, menarik napas dalam.

"Biasanya juga begini". Batinnya. Nggak ada yang baru.

Ia berjalan menuju kelas dengan langkah cepat, berniat menghindari perhatian. Tapi di lorong, seseorang memanggil namanya.

“Nayla.”

Ia menoleh. Seorang siswa kelas sebelah berdiri sambil melambai kecil. Namanya Arvin—anak OSIS yang terkenal ramah dan terlalu baik untuk ukuran sekolah ini.

“Kamu udah mendingan?” tanya Arvin sambil mendekat.

Nayla mengangguk. “Udah, makasih.”

“Kemarin kamu nggak masuk, aku denger katanya kamu sakit,” lanjut Arvin. “Kalau masih lemes, jangan dipaksa.”

Nada bicaranya tulus. Tidak menghakimi. Tidak merendahkan. Dan itu… jarang.

“Tenang aja,” kata Nayla sambil tersenyum tipis. “Aku nggak gampang tumbang.”

Arvin terkekeh. “Kelihatan sih.”

Percakapan itu singkat. Biasa. Tidak ada yang istimewa. Kecuali satu hal, semua itu terlihat jelas dari ujung lorong.

Azka berdiri dengan Devan dan Dion di dekat kelasnya. Jas sekolahnya rapi, ekspresinya datar seperti biasa. Tapi begitu matanya menangkap pemandangan Nayla yang tertawa kecil, meski hanya sepersekian detik, rahangnya langsung mengeras.

“Siapa cowok itu?” tanya Dion santai.

Azka tidak menjawab. Tatapannya tajam. Terlalu fokus.

Devan menyipitkan mata. “Az, lo kenapa?”

“Kenapa apa?” balas Azka dingin.

“Tatapan lo,” kata Devan pelan. “Itu bukan tatapan biasa.”

Azka mengalihkan pandangan. “Lo kebanyakan mikir.”

Tapi kakinya sudah melangkah lebih cepat dari biasanya.

***

Di kelas, Nayla duduk di bangkunya. Ia mengeluarkan buku, mencoba fokus. Tapi baru lima menit pelajaran berjalan, ia merasakan sesuatu.

Aura dingin.

Ia menoleh kesamping sedikit.

Azka duduk di bangku sebelahnya, bersandar santai di kursinya. Wajahnya datar, tapi matanya... melirik kearahnya. Tatapan itu, dingin.

Nayla menelan ludah.

"Kenapa lagi dia?"

Ia mencoba mengabaikan. Pelajaran berlangsung, tapi Nayla sulit berkonsentrasi. Setiap kali ia bergerak, ia merasa tatapan itu masih ada.

Saat bel istirahat berbunyi, Nayla langsung berdiri dan keluar kelas. Ia butuh udara.

Di lorong, ia kembali bertemu Arvin.

“Nayla,” sapa Arvin. “Tugas kemarin udah kamu kumpulin belum?”

“Belum,” jawab Nayla jujur. “Aku baru masuk hari ini.”

“Nanti aku bantuin,” kata Arvin ringan. “Kalau mau, kita bisa kerjain di perpustakaan.”

Nayla ragu sejenak. Tapi ia benar-benar butuh bantuan.

“Boleh,” katanya akhirnya.

Dan di saat itulah...

“Nayla.”

Suara itu memotong udara. Datar. Rendah. Tapi penuh tekanan.

Nayla menoleh.

Azka berdiri beberapa langkah dari mereka. Tangannya di saku, wajahnya tanpa ekspresi. Tapi sorot matanya menusuk.

“Ada apa?” tanya Nayla.

“Kepala sekolah nyari kamu,” kata Azka singkat.

Nayla mengernyit. “Sekarang?”

“Sekarang.”

Arvin melirik Nayla, lalu Azka. “Kalau gitu, nanti aja diperpus.”

Nayla mengangguk. “Iya, maaf.”

Begitu Arvin pergi, Azka langsung berjalan lebih dulu. Nayla mengikutinya, bingung.

Begitu mereka sampai di sudut lorong yang sepi, Nayla menghentikan langkah.

“Kepala sekolah nggak nyari aku,” katanya pelan tapi tegas.

Azka berhenti.

Ia berbalik perlahan. “Kamu yakin?”

“Aku dari pagi belum dipanggil,” jawab Nayla. “Kamu bohong.”

Azka mendekat satu langkah. Jarak mereka terlalu dekat.

“Jangan dekat-dekat sama cowok lain,” ucap Azka dingin.

Nayla membeku. “Apa?”

“Lo denger,” lanjut Azka. “Jangan.”

Nayla tertawa kecil, tapi tidak ada humor di sana. “Kamu siapa ngatur-ngatur?”

Mata Azka menyipit. “Aku—”

Ia terdiam. Kata itu hampir keluar. Tapi ia menelannya kembali.

“Aku nggak suka,” katanya akhirnya.

“Itu bukan alasan,” balas Nayla cepat. “Aku cuma ngobrol.”

“Obrolan nggak perlu pakai senyum,” sentak Azka.

Nayla terdiam beberapa detik. Lalu wajahnya mengeras.

“Kamu keterlaluan,” katanya. “Kamu bisa hina aku, kamu bisa bikin aku malu di depan orang banyak, tapi giliran aku ngobrol sama orang lain, kamu marah?”

Azka mengepalkan tangan. “Itu beda.”

“Beda di mana?” tanya Nayla tajam.

Azka tidak menjawab. Karena bahkan ia sendiri tidak tahu jawabannya.

***

Di kantin, suasana makin aneh.

Nayla duduk bersama Dani dan Sena. Mereka tertawa kecil, membahas hal-hal sepele. Tapi di seberang ruangan, Azka duduk dengan Devan dan Dion, dan tatapannya tidak pernah benar-benar lepas.

“Azka kenapa sih hari ini?” bisik Sena. “Tatapannya serem.”

Dani melirik. “Dia kayak mau nelen orang.”

Nayla menunduk, menusuk nasi di piringnya. “Biasalah.”

Padahal tidak biasa.

Saat Nayla berdiri untuk mengambil minum, Arvin kembali menghampiri. Ia menyerahkan satu botol air.

“Minum dulu,” katanya. “Biar nggak kambuh.”

“Thanks,” jawab Nayla.

Dan detik berikutnya—

Kursi di samping Nayla ditarik kasar. Azka duduk di sana tanpa permisi.

“Udah,” katanya dingin ke arah Arvin. “Pergi.”

Arvin terkejut. “Maaf?”

“Dia lagi sama gue,” lanjut Azka, nada suaranya tidak memberi ruang bantahan.

Nayla berdiri. “Azka!”

Semua mata tertuju ke mereka.

Arvin melirik Nayla, lalu Azka. “Kalau Nayla nggak keberatan—”

“Gue yang keberatan,” potong Azka.

Suasana tegang.

Nayla menatap Azka dengan mata berkilat marah. “Kamu nggak punya hak.”

Azka berdiri juga. “Ikut gue.”

“Nggak.”

Azka mendekat, suaranya diturunkan. “Jangan bikin aku ulang dua kali.”

Nayla menggigit bibir, dadanya naik turun. Akhirnya ia menoleh ke Arvin. “Maaf.”

Ia melangkah pergi lebih dulu. Azka mengikutinya, meninggalkan kantin yang penuh bisik-bisik.

***

Di tangga ujung gedung, tempat yang jarang dilewati siswa lain, Nayla berhenti.

“Kamu kenapa sih?” bentaknya pelan. “Hari ini kamu aneh.”

Azka berdiri di depannya. “Aku nggak suka orang lain dekat-dekat sama kamu.”

“Kenapa?” tanya Nayla. “Karena gengsi? Karena kamu takut reputasimu rusak?”

Azka menggeleng. “Bukan itu.”

“Terus apa?” desak Nayla.

Azka terdiam lama. Dadanya terasa sempit. Pikirannya kacau. Ia tidak tahu kenapa disaat melihat Nayla tersenyum pada orang lain, ada sesuatu di dadanya yang terbakar. Dan itu membuatnya marah.

“Pokoknya jangan,” katanya akhirnya. “Gue nggak mau lihat.”

Nayla menatapnya lama. “Kamu cemburu?”

Azka refleks membantah. “Nggak.”

Terlalu cepat.

Nayla tersenyum kecil, pahit. “Kamu bohong.”

Azka mendengus. “Jangan gedein kepala.”

“Tapi kamu peduli,” lanjut Nayla pelan. “Dan itu bikin kamu bingung.”

Azka membalikkan badan. “Masuk kelas.”

Nayla tidak bergerak. “Azka.”

“Apa?”

“Kamu nggak bisa terus kayak gini,” katanya. “Nyakitin aku, tapi nggak mau aku dekat sama siapa pun.”

Azka berhenti. Untuk sesaat, ia ingin mengatakan yang sebenarnya. Bahwa ia takut. Bahwa ia tidak siap kehilangan. Bahwa perasaan itu tumbuh tanpa izin.

Tapi yang keluar hanya satu kalimat dingin...

“Gue suami lo. Ingat itu!”

Nayla membeku.

Azka melangkah pergi, meninggalkannya sendirian di tangga ujung gedung.

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!