Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.
Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Langkah kaki Arkan di koridor setelah jam pelajaran pertama langsung terhenti saat segerombolan siswi yang dikenal sebagai "fans club" tidak resmi Arkan menghadang jalannya. Mereka membawa berbagai macam hal, mulai dari kotak bekal hingga surat-surat kecil berwarna merah muda.
"Arkan! Luka di wajah kamu kenapa? Kamu berantem ya semalam?" tanya salah satu siswi dengan nada sangat khawatir, mencoba menyentuh plester di pelipis Arkan.
"Kita bawain kompres instan dan salep terbaik buat kamu, Arkan. Dipakai ya!" timpal yang lain sambil menyodorkan bungkusan plastik.
Arkan hanya menatap mereka dengan tatapan datar yang biasanya sanggup membuat nyali orang menciut. Namun, para fans ini seolah sudah kebal. Di tengah kepungan itu, mata Arkan menangkap sosok Naura yang baru saja keluar dari kelas bersama Nadira. Naura sedang tertawa kecil, mengayun-ayunkan botol minumnya, tampak benar-benar seperti remaja tanpa beban.
Melihat Naura yang hendak menjauh, Arkan merasa ini adalah momen yang tepat untuk melakukan serangan balik atas "lambaian tangan" konyol tadi pagi.
"Sori, gue buru-buru," ucap Arkan singkat kepada kerumunan siswi tersebut.
Tanpa mempedulikan seruan kecewa mereka, Arkan menerobos kerumunan dan berjalan cepat menuju Naura. Tindakan ini tentu saja membuat seluruh koridor mendadak hening. Bimo dan Rio yang memperhatikan dari jauh sampai tersedak minuman mereka.
"Naura!" panggil Arkan cukup keras.
Naura menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia mengerjapkan matanya, kembali ke mode "siswi polos" yang bingung. "Eh, Arkan? Ada apa?"
Arkan berdiri tepat di depan Naura, jaraknya cukup dekat hingga para fans di belakang sana mulai berbisik panas. Arkan sengaja sedikit menunduk agar sejajar dengan wajah Naura, membuat suasana terasa sangat intens.
"Tugas yang kita kerjain kemarin ada yang kurang di bagian Ethical Clearance," bohong Arkan dengan suara yang sengaja dibuat rendah dan berat. "Ikut gue ke perpustakaan sekarang. Ada buku referensi yang cuma bisa gue dapet di sana."
Nadira menyenggol lengan Naura sambil menahan pekikan girang, sementara Naura hanya bisa tertegun sejenak. Ia tahu Arkan sedang melakukan provokasi di depan umum untuk menariknya keluar dari zona nyaman.
"Tapi Arkan, sekarang kan jam istirahat..." Naura mencoba menghindar dengan nada lembut.
"Gue nggak suka menunda pekerjaan, apalagi ini menyangkut 'kejujuran' dan 'identitas' karya kita, kan?" balas Arkan dengan penekanan pada kata-kata tersebut.
Arkan kemudian melakukan sesuatu yang sama sekali tidak terduga: ia mengambil tas yang tersampir di bahu Naura dan membawakannya. "Ayo. Jangan bikin gue nunggu."
Sambil berjalan mendahului, Arkan melirik ke belakang lewat sudut matanya.
Naura melirik ke arah belakang yang membuatnya memiliki ide agar terlepas dari arkan
Naura melihat kerumunan siswi yang tadi sempat ditinggalkan Arkan kini mulai menatapnya dengan pandangan campur adukantara iri, cemburu, dan bingung. Arkan mungkin merasa sudah menang karena berhasil menariknya ke dalam sorotan, tapi bagi Naura, sorotan adalah tempat yang paling mudah untuk dimanipulasi.
Naura tiba-tiba memegang dahinya, lalu sedikit limbung seolah ia merasa sangat tertekan oleh perhatian mendadak itu.
"Arkan... m-maaf," ucap Naura dengan suara yang sengaja dibuat sedikit gemetar. "Gue tiba-tiba pusing. Sepertinya aku butuh ke UKS atau sekadar udara segar di kantin. Tolong... bawa saja tas Gue ke perpustakaan kalau lo memang mau mengerjakan itu sekarang. gue nggak mau ganggu konsentrasi lo."
Sebelum Arkan sempat menjawab, Naura memberikan tatapan penuh permohonan yang tampak sangat tulus kepada gerombolan fans Arkan di belakang pria itu.
"Teman-teman," panggil Naura lembut pada para siswi itu. "Tolong temani Arkan ya? Sepertinya dia lagi stres banget sama tugas kelompok kami sampai marah-marah begini. Kasihan lukanya kalau dia terlalu emosi."
Setelah menjatuhkan "bom" tersebut, Naura langsung menarik tangan Nadira. "Nad, ayo lari! gue malu banget!" bisiknya yang cukup keras untuk memicu simpati.
Keduanya langsung berlari menjauh ke arah tangga, meninggalkan Arkan yang kini berdiri mematung di tengah koridor sambil memegang tas ransel pastel milik Naura.
Arkan belum sempat mengejar ketika "pasukan" penggemarnya kembali mengepungnya dengan lebih agresif dari sebelumnya.
"Arkan! Kamu jahat banget sih bikin Naura pusing begitu!"
"Iya, kan dia bilang lagi nggak enak badan, masa dipaksa ngerjain tugas!"
"Sini, biar aku aja yang bawain tasnya Naura kalau kamu keberatan! Tapi kamu minum vitamin ini dulu ya!"
Arkan terjepit. Ia melihat ke arah tangga, namun sosok Naura sudah hilang di tikungan.
Ia menyadari satu hal Naura tidak hanya pandai berakting, tapi dia sangat ahli dalam memanfaatkan "kekuatan massa". Kini, Arkan justru terjebak membawa tas perempuan yang sangat feminin itu di hadapan para pengagumnya yang histeris.
Bimo dan Rio tertawa terpingkal-pingkal dari jauh. "Rekor baru, Kan! Dapet tas cewek tanpa dapet orangnya!" teriak Rio.
Arkan menggeram rendah.
......................
Naura duduk di kantin bersama Nadira, namun matanya sama sekali tidak fokus pada menu makanan. Di tengah hiruk-pikuk siswa, ia melihat seseorang yang mencurigakan, seorang pria mengenakan jaket hoodie gelap yang menutupi seragamnya, berjalan terburu-buru menuju area belakang sekolah yang jarang dilalui.
Saat pria itu merogoh saku, sebuah benda kecil jatuh ke lantai semen. Kilatan logamnya tertangkap mata tajam Naura. Silet. Namun, bukan silet biasa, ada noda residu kecokelatan yang menempel di matanya, tampak seperti zat kimia atau narkotika jenis tertentu yang sedang ia selidiki.
"Nad," Naura tiba-tiba memegang perutnya dan meringis pelan.
"Eh, Ra? Kenapa? Muka lo pucat banget!" Nadira langsung panik, meletakkan sendoknya.
"Duh, kayaknya sambal tadi pagi bikin perut gue melilit banget. Gue ke toilet dulu ya? Lo lanjutin aja makannya, nggak usah nungguin," ucap Naura dengan nada lemas yang sangat meyakinkan.
"Mau gue anter?"
"Nggak usah, Nad. Gue butuh waktu agak lama kayaknya. See you di kelas ya!" Naura langsung beranjak, berjalan cepat namun dengan gestur membungkuk kecil seolah menahan sakit.
Begitu ia menghilang dari pandangan Nadira di balik pilar, postur tubuh Naura langsung tegak. Ia bergerak dengan langkah yang sangat ringan dan efisien, ciri khas seseorang yang terlatih dalam pengintaian. Ia memungut silet itu dengan tisu dari sakunya, menyimpannya dengan hati-hati, lalu mengikuti sosok ber-hoodie tadi.
Pria itu masuk ke sebuah ruangan tua di dekat gudang olahraga, sebuah area yang seharusnya terkunci. Naura merapat ke dinding, mengatur napasnya agar tidak terdengar. Dari celah jendela yang kusam, ia melihat pria itu sedang melakukan sesuatu dengan beberapa botol kecil di atas meja kayu.
"Jadi ini pusat distribusinya?" gumam Naura sangat pelan.
Baru saja ia hendak mengambil ponselnya untuk memotret bukti, ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Refleks Naura bangkit, tangannya sudah siap untuk melakukan serangan pelumpuhan saraf leher, namun ia segera menahan gerakannya saat melihat siapa yang berdiri di sana.
Arkan.
Pria itu masih memegang tas pastel milik Naura di satu tangan, sementara tangan lainnya bersedekap. Ia menatap Naura dengan tatapan yang seolah mengatakan, 'Ketahuan lo.'
"Sakit perutnya sampai ke gudang belakang, Ra?" bisik Arkan dengan nada sarkastik yang sangat tajam.