Semua berawal dari malam ia melarikan diri dari kejaran prajurit kerajaan. Dia dan ibunya berlari terpisah di tengah kekacauan kota. Karena terburu-buru, sang ibu tak menyadari bahwa ia tertinggal.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia tersesat, berlari tanpa arah di lorong-lorong gelap yang asing. Dan sialnya, di setiap ujung jalan, bayang-bayang prajurit mulai mengepungnya.
Tepat sebelum tangan kasar seorang prajurit menyentuh kerah bajunya, tiba-tiba mereka berjatuhan. Satu per satu, tanpa suara. Sany berdiri di depannya, dengan ujung jari telunjuk masih teracung ke depan.
Setelah mengantarnya ke tempat yang aman, Sany memberinya beberapa emas dan pergi begitu saja. Tanpa nama. Tanpa alasan. Tanpa janji.
Tapi dia, tak akan pernah melupakan siapa yang menyelamatkannya malam itu.
Dan suatu saat nanti... ia yakin akan menemukan bertemu lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misi rahasia part 2
Setelah beberapa menit.
Resepsionis itu kembali.
Ia membawa sebuah gulungan kertas, peta, dan sebuah amplop kecil berwarna cokelat.
"Ini misi yang harus kalian kerjakan. Setelah itu, kalian bisa ke lokasi ini,"
Ia menunjuk ke titik di peta, sebuah pelabuhan kecil di timur kota.
"Di sana ada seseorang yang akan mengantar kalian ke Provinsi Estburg,"
Will memeriksa peta itu. Matanya menyusuri garis pantai, lalu berhenti di titik yang ditunjuk.
"Kenapa harus melewati laut?" tanya Will. Suaranya datar, tapi ada rasa curiga di baliknya.
Resepsionis itu menghela napas.
"Karena Provinsi Estburg ada di wilayah negara Eldoria,"
Will dan Clara saling berpandangan.
"Eldoria?" ulang Clara.
"Itu negara lain?"
"Iya. Di seberang laut,"
Clara mengerutkan kening. "Kita tidak punya paspor,"
Resepsionis itu tersenyum tipis.
"Karena itu aku memberimu surat ini,"
Ia menyerahkan amplop cokelat itu pada Will.
"Ini surat izin khusus dari Guild. Jangan sampai hilang,"
Will menerima amplop itu.
Ada stempel lilin merah di sudutnya.
"Dan misi yang harus kami kerjakan?" tanya Clara.
Resepsionis itu membuka gulungan kertas kedua, sebuah gambar sederhana.
Kotak kayu.
Ada tulisan di sampingnya: "Antarkan ke pelabuhan timur,"
"Hanya mengantar barang. Tidak berbahaya,"
"Barang apa?" tanya Will.
"Kau tidak perlu tahu. Yang penting antarkan saja,"
Will menatap resepsionis itu lama.
"Baik. Kami kerjakan,"
"Bagus. Barangnya sudah ada di gudang belakang. Ambil sekarang,"
Will dan Clara berbalik menuju pintu belakang.
Resepsionis itu memperhatikan mereka sampai menghilang.
"Hati-hati, Will," bisiknya pelan.
Setelah mengambil barang di gudang.
Kotak kayu itu tidak terlalu besar seukuran kotak sepatu, tapi lebih berat dari yang dibayangkan.
Permukaannya halus, tanpa tulisan, tanpa stempel. Tidak ada petunjuk apa pun tentang isinya.
Will membawanya. Clara berjalan di sampingnya, sesekali menatap kotak itu dengan curiga.
"Kau tidak penasaran?" bisik Clara.
"Penasaran. Tapi lebih baik tidak tahu," jawab Will.
Mereka keluar dari Guild dan berjalan menuju timur.
Jalanan semakin sepi setelah melewati pasar. Bangunan-bangunan mulai berganti dengan gudang-gudang tua dan dermaga kayu yang terlihat lapuk.
Bau laut mulai tercium.
"Di sana," kata Clara menunjuk ke sebuah bangunan kecil di ujung pelabuhan.
Sebuah kapal kecil tertambat di dermaga. Tidak terlalu besar, cukup untuk beberapa orang dan beberapa kotak barang.
Seorang perempuan berdiri di samping kapal, memakai topi jerami dan jaket tebal.
Will dan Clara mendekat.
"Kalian yang dari Guild?" tanya perempuan itu. Suaranya serak, seperti orang yang sudah terlalu sering meneriakkan perintah di tengah laut.
"Iya," jawab Will.
"Kalian membawa barangnya?"
Will mengangkat kotak kayu itu.
Perempuan itu mengangguk. "Naik. Kita berangkat sekarang,"
"Sebentar," potong Clara.
"Kita tidak tahu nama kapal ini, tidak tahu tujuan pastinya, dan tidak tahu siapa kau,"
Perempuan itu tersenyum.
"Namaku Mira. Kapal ini Penyusup. Tujuan: Provinsi Estburg. Ada lagi yang ingin ditanyakan?"
Clara terdiam.
"Kalau tidak, naik. Atau kau mau berenang?"
Will naik lebih dulu. Clara mengikutinya.
Kapal itu bergoyang pelan di atas air.
"Pergi ke kabin. Jangan keluar sampai aku bilang," perintah Mira.
Will dan Clara masuk ke kabin kecil, sempit, gelap, hanya ada dua kursi kayu dan meja kecil.
Will meletakkan kotak itu di sudut.
"Kita benar-benar melakukan ini," gumam Clara.
Will tidak menjawab. Matanya menatap ke luar jendela kecil, melihat pemandangan laut dan pelabuhan.
"Kita tidak punya pilihan," katanya.
Kapal mulai bergerak.
Dari dalam kabin, mereka bisa melihat berbagai hal.
Monster laut melompat-lompat dari permukaan air. Tubuh besar, sirip menjulang, lalu jatuh kembali dengan percikan air yang besar.
"Apa itu?" tanya Will.
"Leviathan kecil," jawab Mira dari luar, suaranya terdengar sedikit teredam.
"Tidak berbahaya. Mereka hanya bermain,"
Will menatap ke arah monster itu. Tubuh sebesar perahu nelayan, gigi setajam pisau, tidak dianggap berbahaya oleh Mira.
"Lihat itu," bisik Clara.
Clara menunjuk ke luar jendela.
Di kejauhan, di atas permukaan laut, ada dua sosok berdiri di atas air. Jarak antara mereka sekitar beberapa puluh meter, terlihat sedikit cahaya.
Lalu, terjadi ledakan.
Cahaya biru dan merah bertabrakan di tengah. Gelombang panas menyapu permukaan laut, terasa hingga ke dalam kabin.
"Siapa yang bertarung itu?" tanya Clara.
Mira tidak menjawab dari luar.
"Mereka bukan manusia biasa," kata Will.
Cahaya menyilaukan masuk melalui jendela.
Will dan Clara mengangkat tangan untuk melindungi matanya.
Saat ia menurunkannya, kedua sosok itu sudah tidak terlihat.
Hanya gelombang besar yang bergerak ke segala arah, menuju kapal mereka.
Kapal terhantam. Sempat oleng. Will jatuh dari kursinya, Clara ikut terjatuh ke samping.
"Kau baik-baik saja?" tanya Clara.
"Iya," balas Will.
Dari luar, Mira berteriak, "Kalian jangan keluar, tetap di dalam!"
Air laut kembali tenang.
Will dan Clara duduk di lantai kabin, saling memandang.
"Apa yang baru saja kita lihat?" bisik Clara.
Will menggeleng.
"Aku tidak tahu,"
Beberapa jam kemudian.
Kapal terus bergerak. Ombak mulai mengecil. Di kejauhan, daratan mulai terlihat.
Will menatap ke luar jendela kabin.
Pelabuhan kecil dengan dermaga kayu. Beberapa bangunan sederhana di sekitarnya. Tidak seramai pelabuhan di kota asalnya.
"Kita hampir sampai," kata Clara.
Will mengangguk.
Kapal merapat pelan. Suara kayu bergesekan dengan dermaga. Tali dilempar, diikatkan ke tiang.
Mereka akhirnya sampai di pelabuhan.
Will dan Clara turun dari kapal. Kaki mereka menginjak dermaga kayu yang sedikit basah. Udara di sini berbeda, lebih asin, lebih dingin.
Mira masih berdiri di samping kapalnya, tangan di pinggang, topi jerami menutupi setengah wajahnya.
"Jalan lurus ke utara sekitar satu jam. Nanti kalian lihat pos pemeriksaan. Jangan coba-coba masuk tanpa izin," katanya.
"Terima kasih, Mira," ucap Will.
Mira mengangguk. Lalu naik kembali ke kapalnya.
Will dan Clara berjalan menyusuri dermaga.
Di depan mereka, negara Eldoria.
Clara mulai mengeluarkan kompas dari sakunya, kompas yang sama dengan yang ia temukan di hutan.
Benda logam tua berwarna keperakan itu masih utuh, jarumnya bergerak pelan sebelum akhirnya menunjuk ke satu arah.
"Menurut kompas, kita harus ke arah sana," kata Clara.
Will menatap arah yang ditunjuk, bukan ke pos pemeriksaan, bukan ke jalan utama. Tapi ke pinggir pantai, ke arah bebatuan besar yang berserakan.
"Sepertinya, Reno berada di sana," lanjut Clara.
Will mengerutkan kening. "Kompas itu menunjuk ke orang?"
"Sepertinya begitu. Aku tidak tahu cara kerjanya. Tapi dari dulu, kompas ini tidak pernah salah."
Will tidak bertanya lebih jauh. "Kalau begitu, ayo,"
Mereka berjalan menyusuri pinggir pantai. Pasir putih berganti dengan kerikil kecil, lalu bebatuan yang semakin besar. Suara ombak terdengar di kejauhan.
Bersambung...