Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama di kediaman Haji Sulaiman, menyinari lantai kayu jati yang berkilau. Zara baru saja selesai merapikan penampilannya di depan cermin, mengenakan jilbab senada dengan gamisnya yang rapi, saat ponsel di atas meja nakas mendadak bergetar hebat.
Di layarnya, nama "Ayah" berkedip-kedip.
Zara menelan ludah. Jantungnya mendadak berdegup kencang. Ia melirik ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup—Fahri sedang bersiap-siap di dalam. Dengan tangan agak gemetar, Zara menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Assalamu'alaikum, Ayah—"
"Zara! Kamu di mana sekarang, hah?!" suara Pak Rahmad menggelegar dari seberang telepon, memotong kalimat Zara tanpa ampun. Nadanya dipenuhi kepanikan yang teramat sangat, bercampur amarah yang meledak-ledak.
"Kamu harus pulang ke rumah sekarang juga! Kamu lihat kelakuan mantan suamimu itu!"
Zara mengernyitkan dahi, memegang ponselnya lebih erat. "Ayah, tenang dulu. Ada apa dengan Reza?"
"Tenang kamu bilang?! Rumah Ayah baru saja didatangi pengacara utusan keluarga Reza!" raung Pak Rahmad, terdengar suara kertas-kertas yang dionggokkan dengan kasar di latar belakang panggilan.
"Mereka membawa surat somasi resmi! Reza menuntut Ayah untuk mengembalikan seluruh biaya pernikahan yang batal kemarin. Seluruhnya, Zara! Mulai dari sewa gedung hotel bintang lima, katering, dekorasi, sampai gaun pengantin yang kamu pakai! Nilainya dua miliar rupiah!"
Darah Zara seketika berdesir sedingin es. "Dua Miliar? Tapi Ayah..,kan yang membatalkan pernikahan itu pihak Reza sendiri di depan umum! Kenapa jadi Ayah yang dituntut?"
"Mereka tidak peduli! Pengacaranya bilang, pernikahan itu batal karena pihak kita yang melakukan penipuan dan pencemaran nama baik terkait video kotor itu!" suara Pak Rahmad mulai serak, terdengar frustrasi. "Keluarga Reza merasa dirugikan secara materi dan imaterial. Mereka kasih waktu tiga hari! Kalau uang itu tidak balik, Ayah bakal diseret ke jalur hukum dan rumah kita bakal disita! Kamu harus tanggung jawab, Zara! Sampaikan ke suami santrimu itu, jangan cuma bisa bawa kabur kamu, tapi bantu selesaikan masalah ini!"
Klik.
Sambungan telepon diputus sepihak oleh Pak Rahmad, meninggalkan Zara yang berdiri mematung dengan wajah pucat pasi. Tubuhnya mendadak lemas, hampir saja ia jatuh terduduk di tepi ranjang jika sebuah tangan kekar tidak menahan pundaknya dari belakang.
"Ada apa, Zar? Pagi-pagi mukanya udah kayak ketemu hantu di dalam lemari," celetuk Fahri yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Fahri sudah rapi, namun penampilannya pagi ini benar-benar membuat Zara pangling. Tidak ada lagi kemeja flanel kusut atau celana jin usang. Fahri mengenakan setelan jas formal berwarna hitam potongannya sangat necis, dipadukan dengan kemeja putih bersih di dalamnya. Hanya satu yang tidak berubah: peci hitam di kepalanya sengaja ia pasang agak miring ke kanan.
"Fahri..." Zara mendongak, matanya berkaca-kaca menatap suaminya.
"Reza... Reza melayangkan surat somasi ke Ayah. Dia menuntut ganti rugi seluruh biaya pernikahan kemarin yang nilainya dua milyar. kalau gak dibayar dalam tiga hari, Ayah mau dipenjara dan rumahnya disita..."
Fahri diam mendengarkan, matanya sedikit menyipit. Namun, bukannya panik, ia justru membetulkan letak jam tangan mewahnya dengan sangat santai. Sebuah senyuman tipis, penuh arti, terukir di sudut bibirnya.
"Dua Milyar, ya? Wah, Mas Kopi Mahal ternyata kalau nagih utang galak juga," sindir Fahri, nada suaranya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Ia meraih tas kerja kulit di atas meja, lalu menatap Zara lekat-lekat.
"Udah, gak usah dipikirin sampai bikin kerutan di jidat kamu tambah banyak, Zar. Kan tadi malam saya udah bilang, tugas kamu hari ini cuma ikut saya."
"Tapi Fahri, ini somasi hukum! Bukan masalah sepele!" protes Zara cemas.
Fahri maju satu langkah, menepuk puncak kepala Zara lembut dengan sisa jiwa usilnya. "Neng Jakarta, somasi itu cuma selembar kertas. Sekarang, mending kita berangkat ke kantor pusat. Pengacara keluarga Reza mungkin bisa menggertak ayahmu, tapi mereka belum tahu siapa yang bakal mereka hadapi di lantai bursa jam sembilan pagi ini. Ayo."
Langkah kaki Zara terhenti tepat di samping mobil sedan hitam mewah yang sudah menunggu di lobi depan rumah Kebayoran Baru. Pintu belakang mobil didekatkan oleh seorang sopir pribadi berbaju rapi. Zara melirik suaminya yang berjalan di sampingnya dengan setelan jas hitam yang sangat necis, membuat aura ketampanan Fahri naik berlipat-lipat pagi ini.
Begitu mereka berdua duduk di dalam kabin mobil yang kedap suara dan beraroma harum terapi kayu cendana, Zara masih saja memegangi ponselnya dengan gelisah. Pikirannya masih melayang pada ancaman somasi miliaran rupiah dari Reza yang baru saja disampaikan ayahnya.
"Fahri... kamu beneran gak panik soal somasi Reza?" tanya Zara, menoleh ke samping. "Maksud aku, nominalnya itu besar banget, Fahri. Kalau Ayah sampai—"
Fahri yang sedang merapikan lengan jasnya mendadak menghentikan gerakannya. Ia memutar tubuhnya menghadap Zara, lalu menatap istrinya itu dengan dahi yang berkerut pura-pura serius.
"Zar, ada satu hal penting yang harus kita perbaiki sebelum kita sampai ke kantor pusat," ucap Fahri dengan nada bicara yang dibuat formal.
Zara langsung menegakkan duduknya, ikut panik. "Apa? Dokumen nikah kita ketinggalan? Atau ada masalah sama saham ayah kamu?"
"Bukan," Fahri menggeleng lambat, peci hitamnya yang miring ikut bergoyang. "Masalahnya ada di mulut kamu."
"Hah? Mulut aku kenapa?" Zara refleks memegangi bibirnya, bingung.
"Kamu dari tadi manggil saya apa? Fahri... Fahri... terus," protes Fahri sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Teteh-teteh Jakarta, kita ini sudah sah jadi suami istri. Di depan hukum oke, di depan agama apalagi. Masa manggil suaminya yang gantengnya mirip eksekutif muda begini cuma sebut nama aja? Kurang estetik didengarnya."
Pipi Zara mendadak merona merah di balik kerudungnya. Ia memalingkan wajah ke arah jendela, mencoba menyembunyikan rasa salah tingkahnya.
"Y-ya terus... aku harus panggil apa? Mas? Aa? Atau... Ustadz?"
"Aduh, kalau panggilan 'Mas' atau 'Aa' udah terlalu pasaran, Zar. Kalau 'Ustadz' nanti malah berasa lagi mau setoran hafalan ayat di kelas," kekeh Fahri, senyum usil andalannya kembali merekah di sudut bibir.
Fahri memajukan sedikit tubuhnya, menatap lekat-lekat mata bulat Zara yang sedang berkedip-kedip gugup. "Gimana kalau panggil... Love? Boleh, kan?"
"Hah?! Love?!" Zara seketika menoleh cepat, matanya membelalak sempurna mendengar kata bahasa Inggris itu keluar dari mulut seorang santri yang biasanya akrab dengan bahasa Arab kitab kuning.
"Fahri Ahmad! Kamu kerasukan jin tomang mana pagi-pagi begini? Sejak kapan santri Tasikmalaya panggilannya kebarat-baratan begitu?!"
"Lho, gak apa-apa dong. Kosakata bahasa Inggris saya kan juga luas, gak cuma yes sama no doang," sahut Fahri tanpa dosa, mengedipkan sebelah matanya jenaka. "Lagian artinya bagus, kan? Tanda kalau hati saya sudah tertambat di kamu. Gimana? Mau coba panggil sekarang? Saya dengerin nih."
Zara menggigit bibir bawahnya. Jantungnya mendadak berdisko liar di dalam dada akibat tatapan mata Fahri yang begitu hangat sekaligus menjebak. Rasa cemas akibat somasi Reza tadi seolah menguap begitu saja, digantikan oleh rasa salting tingkat dewa.
"Gak mau ah, geli!" cetus Zara, membuang muka lagi sambil mengerucutkan bibirnya sebal.
"Oh, gak mau? Ya udah, kalau gitu mobilnya saya suruh putar balik ke Tasik sekarang juga, biar gak usah diurusin itu somasi mantan kamu," gertak Fahri pura-pura meraih ponselnya.
"Eh! Jangan!" Zara refleks menahan lengan jas Fahri dengan kedua tangannya. Melihat wajah Fahri yang menahan tawa karena berhasil mengerjainya, Zara mengembaskan napas pasrah. Ia menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah tomat.
"I-iya... oke, Love..." bisik Zara sangat pelan, nyaris seperti desisan angin.
Fahri mendekatkan telinganya ke arah Zara. "Hah? Apa? Suaranya kekecilan, Zar. Kalah sama suara AC mobil."
Zara menarik napas dalam-dalam, lalu mendongak dan menatap tepat di manik mata hitam suaminya dengan ekspresi cemberut yang dibuat ketus namun penuh kepasrahan. "Oke, Love! Puas?!"
Fahri seketika tertawa lepas, suara tawa renyah yang membuat ruang kabin mobil mewah itu terasa begitu hidup. Tanpa bisa ditahan, jiwa gemas Fahri kembali kumat. Ia menjulurkan tangannya, lalu mencubit lembut dagu Zara hingga wajah istrinya itu mendongak.
"Nah, gitu dong. Pintar banget Istriku," puji Fahri dengan nada lembut yang mendadak membuat bulu kuduk Zara meremang indah. Fahri mengusap kepala Zara pelan sebelum kembali memperbaiki posisi duduknya. "Sekarang, karena panggilannya udah resmi, kamu duduk yang tenang ya, Love. Biar suamimu ini yang maju beresin tikus-tikus Jakarta itu."
Zara tertegun, tangannya memegangi dadanya yang masih berdegup kencang. Panggilan konyol yang tadinya dianggap menggelikan itu, entah mengapa, kini justru terasa sangat manis dan membuat hatinya merasa begitu penuh.
Aahh...love ya...