NovelToon NovelToon
Second Half: Velix The Next Legend

Second Half: Velix The Next Legend

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Wawan wan

Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.

"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix

bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

BAB 16: Panggung untuk Sang Protagonis

Hari pertandingan semifinal pun tiba. Atmosfer di Stadion Mini Jakarta Timur kini terasa jauh lebih pekat dan bising. Penonton yang memadati tribune semen tidak lagi hanya berisi rombongan anak sekolah yang membolos, melainkan sudah mulai dihadiri oleh warga sekitar, perwakilan pencari bakat lokal, hingga beberapa pelatih klub amatir.

Lawan Tim Merah Marun kali ini adalah SMP 2, tim yang menyandang status sebagai juara bertahan tahun lalu. Mereka dihuni oleh kombinasi pemain fisik yang kuat dan sayap-sayap cepat yang memiliki kemampuan penetrasi tinggi.

Di pinggir lapangan, saat melakukan pemanasan, Velix bisa merasakan intensitas yang berbeda. Tim lawan tidak lagi menatap mereka sebelah mata. Di bawah asuhan pelatih berlisensi nasional, pemain-pemain SMP 2 tampak melakukan latihan taktis yang sangat terstruktur.

"Vel, lu liat nomor 10 mereka?" Danu berbisik sembari melakukan peregangan statis di sebelah Velix. "Namanya Gibran. Dia kapten mereka, kabarnya musim depan udah ditarik masuk ke akademi klub Liga 1. Dia motor serangan mereka."

Velix mengalihkan pandangannya ke seberang lapangan. Sosok Gibran bertubuh tegap, memiliki tinggi sekitar 170cm cukup jangkung untuk ukuran anak SMP dan bergerak dengan kepercayaan diri yang tinggi.

Ting!

Layar hologram Sistem mendadak muncul di depan mata Velix, berpendar dengan warna merah peringatan yang jarang terjadi.

[Misi Khusus Semifinal Terdeteksi: Dominasi Lini Tengah]

[Deskripsi: Lawan memiliki pemain dengan potensi bakat tingkat nasional (Gibran). Matikan pergerakannya dan dominasi penguasaan bola di lini tengah.]

[Syarat Kelulusan: Gibran tidak boleh mencetak gol atau memberikan assist selama Anda berada di lapangan, DAN Tim Merah Marun harus menang.]

[Hadiah Utama: 15 System Points (SP), +2.0 Kontrol Bola, dan membuka Kotak Hadiah Acak Peringkat B.]

[Penalti Gagal: Penguncian Skill "Sentuhan Pertama Sutra" selama 1 minggu.]

Velix menaikkan sebelah alisnya. Mata seriusnya langsung mengunci sosok Gibran. 'Kotak Hadiah Acak Peringkat B? Menarik. Sistem mulai memberikan tantangan yang sepadan dengan hadiah yang menggiurkan.'

Sifat hangat Velix menguap seketika begitu dia memakai ban kapten yang diserahkan oleh Pak Joko. Aura kepemimpinannya sebagai pria dewasa langsung mengintimidasi sekitar. Dengan tinggi yang kini menyentuh 162.7 cm dan struktur otot yang mulai memadat, Velix tampak jauh lebih kokoh berdiri di lapangan daripada sebulan yang lalu.

Prreeettt!

Peluit babak pertama berbunyi. SMP 2 langsung melancarkan tekanan tinggi sejak detik pertama. Mereka tidak memberikan waktu bagi Velix atau Danu untuk menahan bola lama-lama. Gaya bermain mereka sangat agresif, mengandalkan benturan fisik dan kecepatan.

Menit ke-10, Gibran menunjukkan kelasnya. Menerima umpan pendek di sepertiga lapangan, dia melakukan nutmeg (melewatinya di antara dua kaki) terhadap gelandang bertahan Merah Marun, lalu melepaskan umpan terobosan terukur ke sayap kiri. Beruntung, kiper Merah Marun sigap keluar dari sarangnya untuk memotong bola.

"Heh, lu yang namanya Velix?" Gibran berjalan melewati Velix saat kembali ke posisinya, senyum meremehkan tersungging di bibirnya. "Gua denger dari anak-anak SMP 14 lu jago ngatur tempo. Tapi di depan gua, permainan lambat lu itu nggak bakal mempan."

Velix tidak membalas dengan kata-kata. Berkat Cold-Blooded Mentor milik Lampard, provokasi murahan seperti itu tidak sanggup menggetarkan fokusnya bahkan untuk satu milidetik pun. Detak jantungnya tetap tenang, mengamati struktur pergerakan SMP 2 yang sangat bergantung pada sirkulasi bola melalui kaki Gibran.

'Dia terlalu percaya diri dengan kemampuan fisiknya,' analisis Velix dalam hati. 'Tiap kali dia menerima bola, dia selalu mengambil satu sentuhan ekstra untuk pamer kemampuan. Itu kelemahannya.'

Menit ke-22, kesempatan itu datang. Gibran kembali menerima bola di area tengah. Dia mencoba melakukan gerakan memutar untuk mengecoh Danu.

Tepat saat Gibran memindahkan tumpuan badannya dan kehilangan pandangan terhadap bola selama sekilas, Velix yang sudah membaca arah gerakan tersebut bergerak dengan presisi tinggi.

Sret!

Bukan tekel kasar, melainkan sebuah serobotan bersih yang sangat elegan. Velix menjulurkan kaki kanannya, mencuri bola tepat dari kolong kaki Gibran sebelum anak itu sempat menyelesaikan putarannya.

"Apa?!" Gibran terkejut setengah mati mendapati bolanya sudah hilang.

Velix yang kini menguasai bola langsung dihadapkan pada dua bek tengah SMP 2 yang merangsek maju untuk menutup ruangnya. Dalam situasi normal, pemain remaja akan panik dan langsung menembak atau membuang bola.

Namun, inilah panggung bagi sang protagonis sesungguhnya.

Velix menggunakan Sentuhan Pertama Sutra untuk menggulirkan bola sedikit ke kanan, mengubah sudut tembaknya, sementara matanya melirik ke arah gawang. Kiper SMP 2 sudah agak maju, mengantisipasi umpan terobosan.

Bum!

Bukan umpan. Velix melepaskan sebuah tembakan melengkung (finesse shot) dari luar kotak penalti menggunakan kaki kanannya. Bola melambung indah, membentuk kurva tajam yang melewati jangkauan tangan kiper yang melompat frustrasi, sebelum akhirnya menukik keras dan merobek jala pojok atas gawang SMP 2!

Stadion Mini Jakarta Timur seketika hening selama satu detik, sebelum akhirnya meledak dalam gemuruh sorakan yang memekakkan telinga.

1-0 untuk keunggulan Tim Merah Marun lewat gol spektakuler Velix Purnama!

Velix tidak merayakan gol itu dengan berlebihan. Dia hanya berbalik, menatap Gibran yang masih terduduk lemas di tanah dengan pandangan datar, lalu memberikan tepukan tangan penyemangat kepada timnya. Dominasi lini tengah baru saja dimulai.

1
Riyanganz
semangat thor💪
Riyanganz
bagus 👍
Riyanganz
ringan ceritanya mengalir, semoga aja kedepannya ga boring ceritanya
Alia Chans
lanjut🌹✍️🤭
Wawan
Salam kenal buat Velix✍️
aldo
seru sekali 🙏🙏🙏🙏
aldo
ayo lanjut author 🙏🙏🙏🙏
aldo
lanjut author 🙏🙏🙏
NoxVeil
Ayok like dan komen guys biar tambah smngt up nya💪😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!