NovelToon NovelToon
Jaka Srenggi

Jaka Srenggi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Iblis
Popularitas:607
Nilai: 5
Nama Author: MartimbulSiregar

kematian membuat dia hancur, namun kematian orang yang disayang juga yang membuat dirinya bangkit.

Berjuang dan bertarung menjadi jalan hidupnya yang baru, jalan hidup menuju keabadian. Anak polos yang menjadi harapan bagi semua manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartimbulSiregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Desa Kantil sunyi mencekam, mayat-mayat berserakan tercabik senjata, genangan cairan berwarna merah membasahi jalanan di desa itu.

Puluhan serigala yang mencium bau anyir dari cairan merah itu mendekat dan mulai melahap mayat-mayat tanpa ada yang menghalangi.

Seorang bocah berjalan keluar seperti mencari sesuatu, tapi matanya terbelalak melihat pemandangan yang begitu membuat buluk kuduknya berdiri, ketakutan terpancar jelas dari mata bocah itu.

Grrrrrrrr!!

Erangan serigala menyeringai tertuju pada bocah itu, kawanan serigala itu seperti terganggu akan kehadiran bocah mungil itu.

Bocah itu mundur perlahan lahan, tapi seekor serigala berjalan pelan mendekati bocah malang itu.

Ggrrrrrr!!

Kembali serigala itu mengerang memperlihatkan gigi nya yang tajam.Serigala itu melompat dan memberikan cakaran ke tubuh bocah itu.

Akhhhhh....!!!!!" Jerit bocah dengan jeritan menyayat hati menahan sakit di punggung nya. Bocah itu terlempar jauh, luka bekas cakaran memanjang di punggung nya.

"Kakit...!!!" jerit bocah itu mulai menangis.

Saat bocah itu berbalik, serigala itu sudah bersiap untuk menerkamnya.

Jledaaaaarrr!!

Suara dentuman keras dari langit mengagetkan bocah dan serigala itu. Dentuman itu membuat langkah serigala terhenti, naluri dari binatang buas itu merasa jika bocah itu tak boleh untuk di bunuh.

"Byuurrrr!!!"

Hujan mulai jatuh dan membasahi bumi, bocah itu mencoba untuk berdiri, tapi luka di punggungnya memaksa nya untuk tetap berbaring.

"Ayah! Ibu.!! Bocah itu berteriak sekeras-kerasnya.

Bocah itu kembali mencoba berdiri, dia menatap ke arah serigala yang mulai menjauh karena deras nya hujan. Bocah itu pergi ke kumpulan mayat yang sebagian sudah tak dikenali lagi.

Bocah itu memeriksa satu persatu, mencari apa salah satu dari mayat itu adalah mayat ayahnya, tapi bocah itu tak menemukan mayat ayahnya.

"Dimana ayah?! Apa ayah selamat atau sudah habis di makan oleh serigala itu??" bocah itu bertanya pada diri nya sendiri.

"Sekarang aku harus kemana? Sial, aku tak mungkin terus di sini"

"Aku akan pergi mencari ayah!!"

Bocah itu berjalan tanpa alas menelusuri desa, tapi tetap tak menemukan ayahnya, Bocah itu melihat tapak kaki yang mulai terhapus oleh air hujan.

"Ini mungkin tapak kaki dari para penduduk yang melarikan diri, Aku akan mengikutinya,"

Bocah itu mengikuti bekas tapak kaki itu, tanpa dia sadari jika tapak kaki itu bekas tapak kaki dari kelompok cadar hitam.

"Kemana bekas langkah ini akan berakhir??"

Bocah itu melongo dan termenung, karena terus mengikuti langkah itu tanpa sadar bocah itu terpeleset.

"Arrggggghhhh!!!"

Bocah itu menjerit dan jatuh tak tertahan ke dalam sebuah jurang yang dalam. bocah itu terus jatuh tak ada satu pun yang menahan tubuhnya untuk jatuh.

Byurrrr!

Tubuh bocah itu kembali selamat karena dia jatuh ke sungai yang ada di dalam jurang itu.

Akkhhhhhhhhhhh!!

Bocah itu masih sempat menjerit, tapi itu tak lama, tubuh bocah itu perlahan lahan kalah oleh deras nya air sungai, dan hanya sebentar bocah itu hanyut di permainkan derasnya air sungai.

***

Sungai Barakaliatus, Sungai besar di kota Bangau. Sungai itu salah satu sumber mata pencaharian penduduk selain menjadi kuli panggul di pelabuhan.

Hohohoho!!

"Sepertinya jalaku mendapat ikan besar," gumam seorang nelayan.

Nelayan itu merasakan jalanya sangat berat, tapi wajah nya berubah pucat saat menarik jalanya naik ke atas.Bukan ikan yang di dapatkannya, tapi mayat bocah kecil yang sangat memilukan.

"Mayat? Mayat siapa ini??" gumam nelayan itu ketakutan dan tubuh yang gemetaran.

Nelayan itu mengangkat mayat itu dan membaringkannya disampan kecilnya.

"Eh ... dia masih hidup??" seru nelayan itu saat melihat napas yang tersisa meskipun tak jelas.

"Aku harus membawanya kembali ke rumah,"

Nelayan itu mengambil dayung dan mendayung sampan nya dengan cepat, sampai di tepi sungai nelayan itu langsung membawa bocah itu dalam gendongannya.

"Aku harus cepat."

Langkah nelayan itu semakin cepat, gerimis hujan tak di pedulikannya, dia melangkah untuk sampai dengan cepat dirumahnya.

"Bu ... Bu! buka pintu!!" teriak nelayan itu dari luar.

"Bapak? kenapa sudah kembali? Padahal baru saja berangkat!"

Dengan malas istrinya membuka pintu.

"Siapa dia pak??" tanya istrinya saat melihat suaminya membawa sesosok tubuh mungil.

"Jangan banyak tanya dulu, cepat ganti pakaian nya agar tubuhnya hangat, Dan jangan lupa obati luka di punggungnya,"

"Baik, pak!"

Perempuan yang sudah agak berumur yang juga istri dari nelayan itu tak melawan perintah suami nya, dia dengan telaten mengganti pakaian bocah yang di temukan oleh suami nya.

"Bapak menemukan anak ini dimana??" Tanya istrinya.

"Bapak menemukannya tenggelam di sungai, bocah ini tersangkut dijala bapak, bapak kira tadi dia sudah jadi mayat. Tapi saat bapak melihat napasnya masih ada bapak dengan cepat membawanya kemari."

"Ganteng ya pak? Seandainya anak kita masih hidup mungkin sudah seumuran anak ini." tunjuk istrinya pada bocah yang di temukan oleh suaminya.

"Iya, Bu! sudah pasti itu Bu!"

Pak Darmo dan Bu Sarmi, suami istri yang tinggal di kota Bangau, kehidupan mereka sangatlah pas-pasan, pekerjaan pak Darmo selain nelayan dia juga kuli panggul di pelabuhan.

Istrinya, Bu Sarmi juga bekerja sebagai pembantu buruh cuci bagi orang kaya di kota Bangau.

Rumah yang mereka miliki tak pantas di sebut rumah, hanya tempat tinggal yang terbuat dari bambu dan atap dari ijuk aren, sungguh rumah yang tak pantas disebut rumah.

Tanah sepetak yang mereka miliki, itu pun dulu peninggalan dari orang tua Bu Sarmi, di belakang ada pondok kecil yang tak terurus, yang biasa digunakan pak Darmo untuk istirahat siang.

"Namanya siapa ya pak??" tanya Bu Sarmi pada suaminya.

"Bapak mana tahu bu, asalnya saja bapak tak tahu, kita tunggu saja sampai dia sadar"

Bu Sarmi memilih diam, karena memang pertanyaannya sangat bodoh, mana mungkin suaminya tahu siapa dan dari mana bocah itu berasal.

Akhhhh!!!

Suara erangan dari bocah itu mengagetkan Bu Sarmi yang menjaga tidur bocah itu.

"Kenapa nak? Apa punggungmu perih??" tanya Bu Sarmi.

Bocah itu tak menjawab, bocah itu hanya mengerang dan belum membuka matanya.

"Sepertinya bocah ini belum sadar, dia pasti sangat kesakitan. Sungguh kasihan bocah ini."

"Pak, sebaiknya belikan obat untuk bocah ini, obat yang aku berikan tak mempan,"

"Uang dari mana Bu?? Untuk makan saja sulit,"

"Simpanan kita saja pakai pak, nyawa bocah ini lebih penting."

"Ibu yakin??" tanya pak Darmo.

"Iya pak, ibu yakin, ibu sangat kasihan pada bocah ini, Cepatlah pak." suruh Bu Sarmi.

Pak Darmo yang juga kasihan pada bocah itu pergi membeli obat untuk bocah yang tak di kenal nya itu.

"Bersabarlah sebentar ya, nak." bisik Bu Sarmi dan mengelus rambut bocah itu dengan kasih sayang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!