Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.
Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.
Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.
Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.
Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.
"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Ballroom masih sunyi senyap. Tidak ada satu orang pun yang berani bersuara setelah Alexander Kingsley secara terang-terangan membela Aurora di depan semua orang.
Aurora sendiri masih sulit mempercayai apa yang baru saja terjadi. Namun, kehangatan dari genggaman tangan Alexander yang begitu kuat seolah meyakinkannya bahwa ia tidak lagi sendirian menghadapi dunia.
---
Di dekat panggung, Sophia berdiri mematung dengan wajah pucat pasi. Rasa malu, marah, dan terluka bercampur menjadi satu. Namun, yang paling menyayat hatinya bukanlah tatapan menghakimi dari para pelayat, melainkan sorot mata Alexander yang tertuju padanya.
Sorot mata yang teramat dingin.
"Sander..." panggil Sophia lirih, suaranya bergetar menahan tangis.
Alexander tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Sophia selama beberapa detik dengan tatapan datar, sebelum akhirnya membuka suara.
"Aku kecewa padamu, Sophia," ucap Alexander dengan nada suara yang berat.
Deg. Kalimat pendek itu menghantam dada Sophia jauh lebih keras daripada apa pun. Selama bertahun-tahun mereka saling mengenal, Alexander tidak pernah sekali pun melontarkan kata-kata sekejam itu kepadanya.
Sophia menggigit bibir bawahnya, berusaha membela diri. "Aku... aku hanya bercanda, Sander."
Alexander tertawa kecil, namun tidak ada sedikit pun kehangatan dalam tawa sarkas tersebut.
"Menurutmu mempermalukan seseorang di depan banyak orang seperti ini adalah hal yang lucu?" tuntut Alexander menatapnya tajam.
Sophia langsung terbungkam seribu bahasa.
Semua orang di dalam ruangan memperhatikan ketegangan itu dengan napas tertahan. Bahkan Ryan yang biasanya selalu bersikap santai kini memilih untuk diam, karena ia tahu betul kalau sahabatnya itu sudah benar-benar berada di puncak amarah.
"Aku tidak bermaksud seperti itu..." cicit Sophia lagi, suaranya makin melemah.
Alexander menggelengkan kepalanya pelan, tampak enggan mendengar kelanjutan alasan itu.
"Kalau begitu, kamu harus belajar lagi bagaimana cara memperlakukan orang lain dengan lebih baik," pungkas Alexander dingin.
Kalimat itu terdengar sederhana, namun bagi Sophia, itu seperti tamparan keras yang mendarat tepat di wajahnya. Pria yang selama ini ia cintai mati-matian, kini sedang memojokkannya demi membela gadis miskin seperti Aurora.
Tanpa membuang waktu lebih lama, Alexander langsung menarik lembut tangan Aurora dan membawanya berjalan keluar dari ballroom, meninggalkan kerumunan orang yang mulai riuh membicarakan kejadian barusan.
---
Mereka berjalan membelah malam menuju ke area taman kampus yang jauh lebih tenang. Setelah beberapa saat melangkah, Aurora akhirnya menghentikan pergerakannya.
"Alexander, tunggu," panggil Aurora pelan.
Alexander menghentikan langkahnya lalu membalikkan badan. "Hm? Ada apa, Aurora?"
Aurora menggigit bibir bawahnya ragu, menatap tautan tangan mereka yang belum terlepas. "Kamu... kamu sebenarnya nggak perlu melakukan hal sejauh itu tadi."
Alexander mengernyitkan dahinya bingung. "Melakukan apa maksudmu?"
"Membelaku di depan semua orang," jawab Aurora dengan nada bersalah.
Mendengar itu, Alexander malah terkekeh pelan. Sikapnya yang mendadak santai membuat Aurora makin mengernyit heran.
"Apa yang lucu? Aku serius, Alexander," tegur Aurora.
Alexander menatap wajah Aurora lekat-lekat selama beberapa saat, lalu mengulas senyum tipis.
"Kalau bukan aku yang membelamu, lalu siapa lagi?" tanya Alexander lembut.
Aurora langsung kehilangan kata-kata, terpaku menatap sepasang netra tegas di hadapannya.
"Aku pacarmu, Aurora," lanjut Alexander meyakinkan sembari menggenggam kedua tangan gadis itu. "Sudah menjadi tugasku untuk selalu berdiri di pihakmu."
Aurora refleks menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasakan pipinya yang mendadak memanas sempurna. Pria di depannya ini benar-benar berbahaya bagi kesehatan jantungnya setiap kali mulai berbicara serius.
---
Untuk beberapa saat, mereka hanya duduk diam berdampingan di atas bangku taman kayu, menikmati keheningan malam yang menenangkan. Sampai akhirnya, Aurora kembali membuka suara dengan nada lirih.
"Aku nggak suka kalau kamu harus bertengkar dengan Sophia hanya karena aku."
Alexander mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku. "Aku juga nggak suka, Aurora."
Aurora menoleh cepat ke arah samping. "Lalu kenapa tadi kamu senekat itu?"
Alexander membalas tatapan itu, lalu tersenyum tipis penuh arti. "Tapi aku jauh lebih nggak suka dan nggak rela melihatmu disakiti oleh orang lain."
Aurora terdiam seribu bahasa. Jantungnya kembali berdegup kencang secara tidak beraturan.
---
Di tempat lain, Sophia sedang duduk sendirian di dalam mobil mewahnya yang terparkir. Kedua tangannya masih mengepal kuat di atas setir, dan air mata perlahan mulai luruh membasahi pipinya.
Tangisan itu pecah bukan hanya karena rasa malu yang mendalam, melainkan karena rasa patah hati yang teramat hebat. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Sophia menyadari satu kenyataan pahit.
Alexander benar-benar telah jatuh cinta kepada Aurora. Dan kesadaran itu seketika membuatnya dilingkupi ketakutan luar biasa akan kehilangan pria itu selamanya.
---
Sementara itu, di dalam ruang kerja kediaman mewah milik keluarga Kingsley...
Victoria Kingsley baru saja memutuskan sambungan telepon dari salah satu kolega pentingnya yang ikut menghadiri acara amal di kampus tadi. Begitu mendengar kabar tentang keributan yang terjadi, raut wajah wanita paruh baya itu langsung berubah mengeras.
"Alexander mempermalukan Sophia di depan umum?" tanya Victoria memastikan, suaranya terdengar dingin dan tajam.
Suara di seberang telepon kembali memberikan pembenaran sebelum akhirnya Victoria menutup sambungan tersebut perlahan. Ia bangkit berdiri dan melangkah menuju jendela besar, menatap tajam ke arah luar yang gelap.
Ekspresi wajahnya tampak begitu dingin penuh kalkulasi. Sebab ia sadar, makin hari hubungan antara Alexander dan Aurora justru makin kuat mengakar. Dan bagi rencana besar keluarga Kingsley, hal itu sama sekali bukan kabar yang baik.