Chen Mo terlahir kembali di dunia kultivasi dengan sebuah sistem yang awalnya dianggap rusak dan tak berguna. Namun, seiring perjalanannya, ia menemukan bahwa sistem itu sebenarnya adalah Sistem Pemurnian Langit—warisan kuno yang bertujuan menjaga keseimbangan energi dunia.
Dengan fondasi yang disempurnakan secara unik, Chen Mo melewati berbagai tantangan: memenangkan kompetisi, masuk sekte terkuat, mengungkap rencana jahat organisasi kegelapan, hingga akhirnya memahami misi sejatinya. Ia tidak hanya berjuang untuk menjadi kuat, tapi juga mempelajari bahwa kekuatan sejati terletak pada keseimbangan, bukan penaklukan.
Cerita ini mengikuti perjalanannya dari pendatang tak dikenal hingga menjadi penjaga keseimbangan yang dihormati, melintasi alam yang lebih luas dan memegang tanggung jawab menjaga harmoni seluruh alam semesta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DARK SISTEM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: PERTEMUAN DENGAN MUSUH LAMA
BAB 24: PERTEMUAN DENGAN MUSUH LAMA
Malam pertama di perkemahan Pegunungan Tengah berlangsung cukup ramai.
Ratusan murid dari berbagai sekte berkumpul di area yang sama.
Ada yang berlatih.
Ada yang bertukar informasi.
Ada pula yang sengaja berjalan-jalan untuk mengukur kekuatan calon lawan.
Chen Mo termasuk kelompok terakhir.
Tentu saja bukan karena ingin mencari lawan.
Ia hanya bosan berada di dalam tenda.
"Aku mulai merindukan tempat latihan sekte."
gumamnya sambil berjalan santai.
Di bahunya, Rubah Awan Kecil menguap malas.
Jelas binatang roh itu juga tidak terlalu tertarik dengan keramaian.
Lin Qingyue yang berjalan di sampingnya hanya menggelengkan kepala.
"Kita baru tiba beberapa jam."
"Sudah cukup lama."
"Itu bukan waktu yang lama."
"Bagiku iya."
Lin Qingyue memilih diam.
Membantah Chen Mo sering kali hanya membuang tenaga.
Mereka terus berjalan melewati berbagai area perkemahan.
Sampai akhirnya...
Sebuah suara yang cukup familiar terdengar.
"Oh?"
"Kau bukannya murid aneh Sekte Awan Hijau."
Chen Mo berhenti.
Kemudian menoleh.
Di depan mereka berdiri tiga murid berjubah biru.
Pada dada mereka terdapat lambang pedang perak.
Sekte Pedang Langit.
Chen Mo langsung mengenali salah satu wajah di sana.
Pemuda yang pernah mencoba memeras rombongan Sekte Awan Hijau dalam perjalanan ke Kota Qinghe beberapa waktu lalu.
"Oh."
kata Chen Mo.
"Kalian."
Wajah pemuda itu langsung berubah gelap.
Ia masih ingat kejadian memalukan tersebut.
Saat itu ia terpeleset akibat petunjuk sistem Chen Mo dan menjadi bahan tertawaan teman-temannya.
Memikirkan hal itu saja sudah membuat darahnya mendidih.
"Kau terlihat semakin sombong."
ucapnya dingin.
Chen Mo mengangkat bahu.
"Aku hanya berdiri."
"Itu sudah terlihat sombong."
Chen Mo menoleh pada Lin Qingyue.
"Apa wajahku memang menyebalkan?"
"Kadang."
"Pengkhianatan."
Lin Qingyue memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyum.
Sementara itu, murid Sekte Pedang Langit semakin kesal.
"Kau berani bertanding denganku?"
Suasana di sekitar mereka langsung menjadi lebih tenang.
Beberapa murid yang lewat mulai memperhatikan.
Meskipun ujian resmi belum dimulai, adu kemampuan kecil seperti ini bukan hal aneh.
Selama tidak melukai secara serius, para penatua biasanya tidak akan ikut campur.
Chen Mo menghela napas.
"Kenapa semua orang suka menantangku?"
"Karena aku ingin melihat apakah keberuntunganmu masih ada."
"Aku juga ingin tahu."
Murid Sekte Pedang Langit hampir tersedak.
Ia mulai merasa berbicara dengan Chen Mo adalah kesalahan.
Akhirnya, sebuah lingkaran kecil terbentuk.
Para murid di sekitar memberi ruang.
Pertarungan ini bukan duel resmi.
Hanya adu kemampuan sederhana.
Namun tetap cukup menarik perhatian.
Pemuda Sekte Pedang Langit mencabut pedangnya.
Sebuah pedang besi berkualitas baik.
Aura energi spiritual langsung menyelimuti tubuhnya.
Ia berada di Tingkat Pemula Tinggi.
Lebih kuat dibanding saat terakhir bertemu.
"Jangan menyesal nanti."
katanya.
Chen Mo melangkah maju.
Tangannya kosong.
Ia bahkan tidak mencabut senjata apa pun.
Hal itu membuat lawannya semakin marah.
"Meremehkanku?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Aku memang tidak membawa pedang."
Kerumunan tertawa kecil.
Wajah lawannya semakin hitam.
"Mulai!"
teriaknya.
Wush!
Tubuhnya langsung melesat maju.
Pedang besi menebas ke arah bahu Chen Mo.
Cepat.
Tepat.
Dan cukup kuat.
Namun tepat saat itu, layar sistem muncul di depan mata Chen Mo.
【Analisis Lawan】
【Titik Lemah Terdeteksi】
【Pusat Keseimbangan Bergeser 4% Ke Kanan】
【Serangan Ketiga Akan Membuka Celah】
Chen Mo tersenyum tipis.
Ia sudah sangat terbiasa dengan bantuan sistem.
Langkahnya bergeser.
Tebasan pertama meleset.
Tebasan kedua juga gagal mengenai sasaran.
Murid Sekte Pedang Langit mulai mengerutkan kening.
Gerakan Chen Mo terasa aneh.
Tidak cepat.
Tidak kuat.
Namun selalu berada di posisi yang tepat.
Seolah bisa menebak serangannya.
Lalu datang serangan ketiga.
Persis seperti prediksi sistem.
Saat pedang bergerak turun...
Chen Mo maju setengah langkah.
Tangannya mendorong ringan pergelangan lawan.
Semuanya terjadi sangat cepat.
Namun hasilnya langsung terlihat.
Keseimbangan lawan hancur.
"Kau—"
Bruk!
Pemuda itu tersandung kakinya sendiri dan jatuh tepat di depan Chen Mo.
Sunyi.
Beberapa detik kemudian...
Terdengar tawa dari berbagai arah.
Bahkan beberapa murid sekte lain ikut tertawa.
Murid Sekte Pedang Langit langsung bangkit dengan wajah merah.
"Tidak mungkin!"
Ia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.
Begitu pula sebagian besar penonton.
Yang mereka lihat hanyalah Chen Mo bergerak sekali.
Lalu lawannya jatuh.
Sangat sederhana.
Terlalu sederhana.
Chen Mo sendiri tampak bingung.
"Aneh."
"Apa yang aneh?!"
"Aku kira kau akan bertahan lebih lama."
Wajah lawannya langsung berubah warna.
Kali ini bukan karena malu.
Tapi karena marah.
Namun sebelum ia sempat menyerang lagi, sebuah tekanan kuat turun dari kejauhan.
Seorang penatua Sekte Pedang Langit muncul.
"Cukup."
Suasana langsung tenang.
Tak ada murid yang berani melawan penatua.
Pemuda itu menggertakkan gigi, namun akhirnya mundur.
Sebelum pergi, ia menatap Chen Mo dengan dingin.
"Ini belum selesai."
Chen Mo mengangguk sopan.
"Baik."
Jawaban itu justru membuat lawannya semakin kesal.
Tak lama kemudian mereka pergi.
Namun beberapa murid dari sekte lain masih terus memandang Chen Mo.
Tatapan mereka berbeda dibanding sebelumnya.
Kini ada rasa waspada.
Ada rasa penasaran.
Dan ada sedikit kekhawatiran.
Karena murid yang awalnya dianggap biasa ternyata mampu mengalahkan lawan dengan mudah.
Lin Qingyue melangkah mendekat.
"Kau sengaja?"
"Sengaja apa?"
"Membuatnya jatuh seperti itu."
Chen Mo tersenyum kecil.
"Sedikit."
Lin Qingyue menggelengkan kepala.
Sementara di bahunya, Rubah Awan Kecil terlihat sangat bangga.
Seolah kemenangan itu miliknya sendiri.
Malam semakin larut.
Namun berita mengenai pertarungan kecil tersebut mulai menyebar ke berbagai perkemahan.
Nama Chen Mo yang sebelumnya hampir tidak dikenal kini mulai diperhatikan oleh lebih banyak orang.
Dan di antara mereka...
Ada beberapa murid jenius yang mulai menganggapnya sebagai calon lawan berbahaya.
Tanpa disadari Chen Mo, kemenangan sederhana malam itu telah membuat namanya masuk ke daftar perhatian banyak sekte.