Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.
Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.
Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.
Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.
Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
S
Arka membuat akun di forum itu jam dua pagi—forum yang terlihat seperti dibangun bertahun-tahun lalu dan tidak pernah diperbarui sejak itu, dengan desain yang kaku dan logo yang sudah pecah resolusinya.
Dia menatap kolom pesan kosong selama lebih dari satu jam, mengetik dan menghapus kalimat berulang kali. Bagaimana caranya menyapa seseorang yang mungkin sudah lama meninggalkan forum ini? Bagaimana caranya menjelaskan sesuatu yang bahkan dia sendiri belum sepenuhnya pahami?
Akhirnya, dia mengetik sesuatu yang sederhana—terlalu sederhana, mungkin, tapi yang paling jujur yang bisa dia tulis:
"Aku baca postingan kamu. Aku ngalamin hal yang sama. Seseorang menghilang dari duniaku—orang yang aku ingat dengan jelas, tapi nggak pernah ada menurut siapa pun yang lain. Aku nggak tau harus gimana. Tolong, kalau kamu masih baca ini—balas."
Dia mengirim pesan itu, lalu menutup laptopnya dengan perasaan campur aduk antara malu dan lega—seperti orang yang baru saja berteriak ke dalam sumur, tidak yakin apakah ada dasar di bawahnya atau tidak.
Tiga hari berlalu tanpa balasan. Arka mulai kembali ke rutinitasnya—kembali bekerja, mengambil beberapa pekerjaan foto yang sempat tertunda, mencoba berpura-pura bahwa hidupnya normal.
Dia membalas pesan Nadia dengan permintaan maaf yang lebih tulus kali ini, dan mereka makan malam bersama—percakapan yang hangat tapi hati-hati, seperti dua orang yang berjalan di atas lantai yang baru dipernis, takut meninggalkan jejak yang tidak bisa dihapus.
Tapi di balik semua itu, satu bagian dari pikiran Arka selalu kembali ke forum itu. Ke nama "S." Ke kemungkinan bahwa di luar sana, ada orang lain yang memahami apa yang dia alami—bukan dari teori atau film, tapi dari pengalaman nyata.
Pada hari keempat, saat Arka sedang mengedit foto di laptopnya, sebuah notifikasi muncul.
Pesan baru dari pengguna "S."
Jantung Arka berdebar. Dia membuka pesan itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Aku masih baca forum ini. Jarang, tapi masih. Maaf balasnya lama—aku perlu mikir dulu, mau jawab atau nggak. Bisa cerita lebih detail? Siapa yang menghilang? Dan—ini penting—apa yang kamu ubah sebelum dia menghilang?"
Arka menatap pesan itu lama. Akhirnya, dia mulai mengetik—lebih panjang kali ini, menjelaskan semuanya: tentang ibunya, tentang 14 Maret, tentang perjalanan waktu yang dia alami, tentang Damar yang hilang seperti tidak pernah ada.
Dia menekan kirim, lalu menunggu—kali ini hanya beberapa menit.
"Oke. Aku percaya kamu. Karena apa yang kamu alami... itu persis kayak yang aku alami, beberapa kali. Tapi aku udah ngalamin ini lebih lama dari kamu—dan jauh lebih banyak. Aku rasa kita harus ngomong langsung. Bukan lewat chat. Ini terlalu... berat untuk diketik."
"Kamu di Jakarta?" tanya Arka.
"Iya. Kebetulan, atau mungkin nggak kebetulan—entahlah, aku udah berhenti percaya sama 'kebetulan.' Ada kafe kecil di daerah Menteng, namanya Kopi Senja. Besok jam 4 sore? Aku akan pakai jaket abu-abu, duduk di pojok dekat jendela."
"Gimana aku tau itu kamu?"
Jeda sebentar sebelum balasan berikutnya muncul.
"Karena aku akan jadi satu-satunya orang di sana yang kelihatan seperti udah kehilangan terlalu banyak hal untuk umurnya."
Kopi Senja adalah kafe kecil dengan dinding bata ekspos dan lampu-lampu gantung berwarna kuning hangat, jenis tempat yang selalu setengah penuh tapi tidak pernah benar-benar ramai. Arka tiba lebih awal—jam tiga lewat empat puluh—dan memilih duduk di meja yang bisa melihat seluruh ruangan.
Dia memesan kopi yang tidak benar-benar dia inginkan, hanya untuk punya alasan duduk di sana, dan menghabiskan dua puluh menit berikutnya menatap pintu setiap kali terbuka.
Jam empat tepat, pintu terbuka, dan seorang perempuan masuk—jaket abu-abu, rambut sebahu yang sedikit berantakan karena angin, membawa tas kanvas yang terlihat sudah dipakai bertahun-tahun.
Dia menatap sekeliling ruangan sebentar, lalu matanya berhenti di Arka—seperti mengenali sesuatu, meski mereka belum pernah bertemu.
Perempuan itu berjalan ke meja Arka, menarik kursi, dan duduk tanpa basa-basi.
"Kamu yang nulis di forum itu," katanya—bukan pertanyaan, lebih seperti memastikan.
"Iya," kata Arka. "Kamu... S?"
"Sera," katanya, mengulurkan tangan. "Nama lengkapnya nggak penting. Cuma Sera aja."
Arka menjabat tangannya—tangan yang dingin, dengan beberapa luka kecil lama di buku-buku jari, seperti bekas luka yang sudah ada sejak lama dan tidak pernah benar-benar hilang.
Sera memesan kopi hitam tanpa gula kepada pelayan yang lewat, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi, menatap Arka dengan ekspresi yang sulit dibaca—campuran antara simpati dan sesuatu yang lebih berat, sesuatu yang terlihat seperti kelelahan yang sudah mengakar terlalu dalam untuk hilang dengan tidur.
"Oke," kata Sera akhirnya. "Sebelum kita mulai, aku mau kasih tau satu hal. Dan aku mau kamu dengerin baik-baik, karena ini bakal jadi hal paling penting yang pernah ada yang bilang ke kamu."
Arka mengangguk, jantungnya berdebar.
"Kekuatan yang kamu punya itu," kata Sera, suaranya tenang tapi ada sesuatu di baliknya—sesuatu seperti peringatan yang sudah diucapkan terlalu sering, ke terlalu banyak orang yang tidak mendengarkan. "Itu nggak akan berhenti, kecuali kamu yang menghentikannya. Dan setiap kali kamu pakai—setiap kali—itu akan minta sesuatu sebagai balasan. Selalu. Nggak ada pengecualian."
Dia berhenti sebentar, menatap ke luar jendela, ke jalanan yang mulai basah karena gerimis sore.
"Aku udah pakai kekuatan ini," lanjutnya, suaranya semakin pelan, "tujuh belas kali."
Arka menahan napas.
"Dan sekarang," kata Sera, menatap balik ke Arka, matanya basah tapi suaranya tetap datar, seperti orang yang sudah terlalu lama berhenti menangis untuk hal yang sama, "aku hampir nggak punya siapa-siapa lagi yang inget aku. Orang tuaku nggak pernah punya anak bernama Sera. Sahabatku—semua sahabatku—hidup bahagia, di dunia yang nggak pernah menyertakan aku di dalamnya."
Dia tersenyum—senyum yang paling menyedihkan yang pernah Arka lihat, karena di dalamnya tidak ada amarah, tidak ada penyesalan yang mencolok. Hanya kelelahan yang sudah berdamai dengan dirinya sendiri.
"Aku cuma ada," kata Sera, "buat orang-orang yang aku selamatkan. Tapi nggak ada satupun dari mereka yang tahu aku pernah ada."