NovelToon NovelToon
THE SILENT SECTOR

THE SILENT SECTOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:14k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .



_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Pukul 08.15 pagi, suasana di lantai teratas gedung pusat Apex Core sudah berjalan dengan ritme profesional yang ketat. Pintu lift terbuka, dan Eliza melangkah keluar dengan senyum kecil yang menghiasi wajahnya. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai Sekretaris Utama Tuan Malik Ibrahim.

Eliza tampil sangat anggun. Ia mengenakan setelan kerja formal berupa tunik panjang berwarna pastel yang longgar namun berpotongan rapi, dipadukan dengan celana kain hitam dan jilbab senada yang menjuntai menutup dada. Penampilannya yang sangat sopan dan bersahaja justru memancarkan kecantikan alami yang bersih, membuat beberapa staf yang berpapasan dengannya diam-diam menaruh kagum.

Sebagai asisten senior, Diki dengan sigap menyambut Eliza untuk memberikan orientasi lapangan.

"Ini meja kerja Anda, Eliza. Semua berkas jadwal Tuan Malik sudah saya sinkronisasikan ke komputer ini," ujar Diki ramah sembari berdiri cukup dekat di samping Eliza untuk menunjukkan sistem kerja di layar monitor.

"Ah, baik, Pak Diki. Terima kasih banyak. Tolong bimbingannya ya, karena saya masih baru," jawab Eliza tulus. Saat berbicara, Eliza mencondongkan sedikit badannya ke arah monitor, membuat jarak antara dirinya dan Diki mengikis.

Dari balik dinding kaca transparan yang tidak bisa di tembus dari luar, namun terlihat jelas dari ruang kerja utama , Tuan Maliknalias Faas berdiri diam dengan melipat tangan di dada. Penyamaran rambut ikal beruban dan kumis tebalnya masih terpasang sempurna. Namun, sepasang mata di balik kacamata kotak tebal itu saat ini sedang menatap tajam ke arah luar, tepat ke posisi Diki dan Eliza.

Melihat kedekatan fisik yang tidak sengaja antara asistennya dan sekretaris barunya itu, dada Faas mendadak bergemuruh hebat. Ada rasa panas yang asing merayap di hatinya, sebuah rasa kesal yang luar biasa yang belum pernah ia rasakan, bahkan saat menghadapi musuh di Sektor 7 sekalipun. Jemari Faas yang bertumpu di lengannya mengetuk dengan ritme cepat, menahan cemburu yang bergejolak.

"Diki, menjauhlah dua senti dari dia jika kamu masih sayang dengan posisimu", batin Faas dengan rahang yang mengeras di balik kumis palsunya. Tentu saja Diki tidak tahu, ia tetap fokus mengajari Eliza sampai bisa.

sebagai mantan agen rahasia, Faas harus menelan bulat-bulat kekesalannya. Ia harus tetap mempertahankan kepura-puraannya sebagai pria paruh baya bernama Tuan Malik yang dingin dan berwibawa. Dengan helaan napas berat untuk meredakan gemuruh di dadanya, Faas kembali duduk di meja kerjanya dan memulai hari dengan tumpukan dokumen, sesekali matanya tetap mencuri pandang ke luar.

___

Sore harinya, setelah jam kantor resmi berakhir, Eliza sedang merapikan tasnya di meja kerja. Tiba-tiba, ponsel pribadinya bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang semalam membuatnya tidak bisa tidur nyenyak..., karena hampir semalam ia dan Faas saling berbalas chat dan sudah mulai akrab.

Faas: "Sudah pulang? Kalau tidak sibuk, ada kafe sederhana di dekat kantormu. Mau singgah sebentar? Saya tunggu di sana."

Jantung Eliza seketika melompat kegirangan. Wajahnya merona merah. Tanpa berpikir dua kali, jemarinya dengan cepat mengetik balasan: "Mau, Kak! Eliza kebetulan baru selesai. Kirim lokasinya ya."

Dua puluh menit kemudian, Eliza melangkah masuk ke dalam sebuah kafe bernuansa kayu yang hangat dan sepi di kawasan bisnis Sudirman. Di sudut ruangan dekat jendela, sosok Faas sudah duduk menunggunya. Kali ini, Faas sudah menanggalkan seluruh atribut penyamarannya, ia kembali menjadi Faas yang asli, laki-laki berusia 28 tahun yang tampan luar biasa dengan garis wajah blasteran Arab Saudi yang tegas.

"Sore, Kak Faas!" sapa Eliza riang sembari mendudukkan diri di kursi seberang Faas.

"Sore, Eliza. Silakan pesan dulu," jawab Faas lembut. Sorot matanya yang tadi siang sedingin es di kantor, kini tampak teduh menatap gadis di depannya.

Di sinilah keunikan hubungan mereka dimulai. Meskipun Eliza kini sudah berhijrah menjadi gadis yang rendah hati dan berpakaian tertutup, sifat aslinya yang dulu manja, centil, dan suka mencari perhatian tidak bisa hilang seratus persen begitu saja. Apalagi di depan laki-laki setampan Faas yang sudah mencuri hatinya sejak aksi penyelamatan kemarin, sifat pro Eliza dalam mendekati lawan jenis mendadak keluar tanpa bisa ia bendung , .

"Kak Faas sudah lama nungguin aku ya? Duh, maaf ya bikin kakak nunggu," ucap Eliza dengan sangat lembut , namun sedetik kemudian ia langsung membekap mulutnya sendiri dengan wajah memerah karena keceplosan dengan nada bicaranya.

Faas yang sedang memegang cangkir kopi sempat tertegun sejenak, lalu terdengar kekehan rendah yang sangat seksi dari tenggorokannya. "Tidak apa-apa. Saya juga baru sampai."

Eliza mencoba mengalihkan kegugupannya dengan membolak-balik buku menu. "Kak Faas kerjanya di daerah sini juga? Kok bisa tahu ada kafe sepi sekeren ini? Pasti sering bawa cewek ke sini ya? Ngaku deh!" goda Eliza lagi, menyenggol pelan udara dengan sikunya, mencoba menarik perhatian Faas... Dari semalam pagi sampai saat istirahat ia dan Faas selalu bertukar pesan, maka dari itu, kali ini Eliza terlihat lebih akrab. Sifat manjanya yang dulu sering ia gunakan untuk bermanja-manja pada Papa Doni kini menular pada Faas.

"Saya jarang ke sini. dan Saya juga belum mulai bekerja," jawab Faas bohong , matanya tak lepas memandangi ekspresi Eliza yang berubah-ubah dengan sangat menggemaskan. Kontras sekali dengan Eliza yang siang tadi ia lihat bekerja dengan sangat formal dan kaku di depan mejanya sebagai Tuan Malik.

"Oh, syukur deh kalau bukan bekas tempat pacaran," celetuk Eliza blak-blakan, lalu lagi-lagi ia menepuk jidatnya sendiri. Aduh Eliza, jaga omonganmu! Sejak kapan kamu jadi se-agresif ini di depan cowok?! batin Eliza menjerit malu, wajahnya sudah semerah tomat.

Faas tersenyum tipis, merasa sangat terhibur. Baginya yang setiap hari disuguhi kepalsuan dan kepahitan di rumah keluarga Husen Abrari, kehadiran Eliza sore ini seperti oasis yang sangat menyegarkan. Sifat Eliza yang ekspresif, sedikit manja, namun tetap menjaga kehormatannya dengan pakaian tertutup membuat dinding es di hati Faas perlahan runtuh.

"gimana hari pertamamu bekerja, Eliza? Menyenangkan?" tanya Faas pancing, sengaja ingin mendengar cerita tentang dirinya sendiri di kantor.

Eliza langsung menegakkan punggungnya, matanya berbinar antusias. "Ih, Kak Faas mau tahu aja atau mau tahu banget? Jadi ya kak, bos aku itu... namanya Tuan Malik Ibrahim. Orangnya sih jenius banget, tapi auranya... hiii, serem, Kak! Kaku banget kayak kanebo kering, udah gitu usianya kayaknya udah om-om umur empat puluhan. Terus kumisnya tebel banget tahu, Kak!" cerita Eliza bergebu-gebu dengan gerakan tangan yang heboh, sama sekali tidak sadar bahwa "om-om kumis tebel" yang sedang ia bicarakan sedang duduk di depannya, menahan senyum misterius.

"Oh ya? Berarti bosmu menyebalkan?" tanya Faas dengan nada datar yang dibuat-buat.

"Nggak menyebalkan sih, cuma bikin deg-degan karena karismanya kuat banget. Kak..." Eliza mencondongkan badannya di atas meja, menatap mata Faas dengan lekat dan penuh perhatian, " Tuan Malik itu, auranya benar-benar mematikan, jangankan untuk menatap, bertanya pun aku takut,dan hanya seperlunya saja, pokoknya aku harus benar-benar bekerja secara professional agar masa depan ku cerah di Apex core".

1
suti markonah
lanjut thorr🙏🙏🙏
Sri Supriatin
tks upnya Thor 💪💪💪
Sri Supriatin
semakin seruuuu belum kejutan bos Faas🤭🤭🤭
Susi C
ceritanya saya suka👍👍 semngat terus buat up ya thor💪
Xin
Tidak terbayangkan apa saja yang akan terjadi nantinya, Semngat Eliza💪👍.
Sri Supriatin
Jaa di gantung 🤭 penasaran 😄😄
Sukarti Wijaya
ayyooo semangat eliza...💪💪💪
Sri Supriatin
wah palang.merah, tiwas ikut degdrgan 🤣🤣🤣
suti markonah
sabar faas mlm pertamanya tertunda~nanti ketika sudah prg tamu tinggal gempur siang dan malam🤭🤭jangan lupa nanti ketika sudah di rumah abrari jangan jadi wanita lemah ya~
Yasmin Natasya
lanjut thor,🙏 semangat up💪😍
Sri Supriatin
Selamat menempuh hidup baru, bu Diana taulah isi hati anak laki2 nya💪💪💪kejutan demi kejutan menyusul, gimana sama ibu mertua Thor 🙏🙏🙏🙏
suti markonah
lebih terkejut lagi klo hussen tahu bahwa APEX CORE perusahaan milik faas
suti markonah
selamat faas, eliza semoga samawa
Xin
Alhamdulillah , selamat buat Faaz dan Eliza.
Sukarti Wijaya
alhamdulillah ssahhh...👍
Sri Supriatin
Tks upnya thor, wah sy jadi deg deg an kaya Husein🤭🤭
Xin
Terkejut kan pak Husen?🤭
suti markonah
piye pak hussen?.mati kutu kowe..keluarga daneswara saja nerima faas dengan tangan terbuka dan nerima apa ada nya lha kowe seorang ayah yg tidak tahu menahu anak kandungnya
Sukarti Wijaya
hampir mendekati malah digantung thor🤭😄🤣
Lovita BM
bab itu ditunggu² readers faas 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!