Tak pernah mendapatkan cinta dari siapapun termasuk ibu kandungnya, Cinderella Anesya seorang gadis yang biasa di sapa Ella itu berharap ada setitik cinta dari tunangannya.
Sayangnya pria yang menjadi tunangannya itu tak pernah menganggapnya ada dan lebih cenderung pada adik tirinya yang selama ini selalu di sayang oleh keluarganya.
Merasa ketulusannya di khianati, Ella akhirnya menerima pinangan pria yang selama ini diam-diam mencintainya..
Akankah hidupnya berubah setelah bersama pria itu? Atau justru sebaliknya??
•••••
"Berjanjilah untuk selalu mencintaiku.." Cinderella Anesya
"Aku akan selalu mencintaimu, Baik sekarang, Nanti dan selamanya.." Davin Anggara Sanjaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Calon Mertua
Sementara itu, Di dalam sebuah mobil mewah. Ella berulang kali menarik nafas panjang. Hari ini Davin datang menjemput Ella untuk di pertemukan dengan kedua orangtuanya.
Jujur saja dari dalam lubuk hati Ella dia merasa gugup dan gelisah. Bagaimana tidak gugup dan gelisah, Dia akan bertemu orang tua Davin dan kemungkinan juga akan bertemu dengan seluruh keluarga besarnya.
Davin adalah seorang pewaris kaya raya. Lebih kaya dari Araka tunangannya malah, Araka dan ibunya saja punya sikap yang tidak baik padanya ini apalagi keluarga Davin yang super duper di kelilingi harta itu.
"Kira-kira kata hinaan seperti apa ya, Yang mereka siapkan untukku setelah ini.." Batin Ella dengan keadaan yang resah. Sepertinya dia harus menyiapkan mentalnya kuat-kuat setelah ini.
Davin menoleh, Keringat di pelipis Ella mulai merembes di permukaan kulitnya yang putih. Pria itu tahu apa yang di rasakan oleh Wanita yang akan menjadi istrinya sebentar lagi itu.
"Tolong ambilkan tisu.." Pinta Davin pada supirnya.
"Baik Tuan.." Sang supir pun segera memberikan tisu pada sang Tuan muda nya. Davin meraih tisu tersebut, Tapi siapa yang di sangka kalau Davin akan menghapus keringat itu.
"Eeh.. Tuan..
"Apa yang membuatmu berkeringat seperti ini, Padahal AC nya nyala loh. " Ucap Davin dengan nada sedikit menggoda, Senyumnya pun terlihat manis. Ella memalingkan wajah merasa salah tingkah.
"Dan satu lagi. Mulai sekarang, Jangan panggil aku Tuan ya.. Aku bukan Tuanmu dan kamu bukan budakku. " Bisik Davin di telinga wanita cantik itu. Sebelah tangan pria itu terangkat mengapit dagu Ella, Mengarahkan wajah cantiknya di hadapan Davin.
"Kamu dengar apa kataku?"
Deg
Deg
Deg
Jantung Ella berdetak tak karuan saat kedua pasang mata itu bertemu. Tatapan tulus Davin yang tak pernah dia dapatkan dari Araka ia temukan di mata Davin.
"Aku mendengar sesuatu.. Tapi apa ya.." Ella segera tersadar. Dia mendorong pelan dada Davin dan segera menunduk malu.
"Tuan, Jangan..
"Tuan lagi?
"Ah, Maksudku, Mas..
"Nah, Itu lebih enak di dengar.. " Davin kembali duduk menghadap ke depan.
Ella dapat bernafas lega, Apakah Davin mendengar detak jantungnya yang sangat cepat itu? Kalau iya, Astagaaa.. Sangat malu sekali dia.
Ddrrttt... Ddrrttt..
Ella menoleh, Benda Pipih milik pria itu bergetar. Davin tersenyum setelah tahu siapa yang menelfonnya.
"Halo Mommy sayang..
"Kamu ini kemana sih? Disini kita semua udah nungguin kamu loh.. Kita ini udah gak sabar mau ketemu sama calon mantu..." Omel Mommy Ayra di seberang sana.
"Iya Mom.. Ini Davin lagi di jalan, Bentar lagi pasti nyampe kok.. Mommy sabar dong, Jangan buru-buru gitu.. Mommy gak tahu ya, Kalo calon menantu Mommy ini gugupnya setengah mati.." Mata Ella melotot, Bisa-bisanya Davin mengadu pada Mommy nya. Dasaaarrr..
"Ya udah kalo gitu.. Mommy tutup ya....
"Okey Mommy ku yang cantik..." Panggilan berakhir, Davin kembali meletakkan benda pipihnya ke dalam saku jasnya.
...****************...
Kendaraan roda empat mewah yang membawa Davin dan Ella telah berhenti di halaman rumah mewah nan megah. Mata Ella mengerjab, Dalam hati dia berkata, Apakah ini rumah Davin? Kalau memang benar, Ella pun tak mampu berkata apa-apa.
"Silahkan Tuan dan Nona.." Sang supir membukakan pintu mobil untuk majikannya serta calon istri majikannya. Davin turun lebih dulu sebelum pria itu mengulurkan tangannya mengajak Ella untuk turun juga.
Tanpa ada penolakan, Ella menyambut uluran tangan tersebut. Kini keduanya pun sama-sama berdiri disana.
Ella terdiam, Ini rumah atau istana kerajaan? Batinnya. Sungguh mewah sekali.
Rumah Araka sudah besar dan mewah dan ini ada yang lebih mewah lagi. Mata Ella juga melihat sekeliling, Halamannya sangat luas, Ada taman serta air mancur di tengah-tengah.
Disana juga ada beberapa mobil mewah yang kemewahannya tak kalah dengan mobil yang ia naiki barusan.
"Ayo.." Dengan hangat Davin genggam tangan Ella mengajak calon istrinya itu untuk masuk ke dalam rumahnya bertemu dengan seluruh keluarganya terutama Daddy dan Mommy nya.
"Assalamualaikum....
"Waalaikum salam..
Deg!
Jantung Ella langsung berdetak tak karuan. Disana, Bukan hanya ada kedua orangtua Davin, Bukan pula ada dua atau tiga orang tapi ada banyak orang. Mungkin sepuluh orang lebih.
Kaki Ella mundur satu langkah. Tidak, Dia tidak sanggup untuk bertemu dengan mereka. Menghadapi hinaan dua orang saja dia sudah tidak kuat ini apalagi. Satu keluarga besar yang semuanya kaya..
"Ella? Kenapa?
"E.. Tu, Eh Mas aku...
"Kenapa masih berdiri di situ? Ayo masuk.." Mommy Ayra mendekat, Dengan senyumnya yang manis wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan anggun itu meraih tangan Ella.
"Kenapa masih disini? Ayo, Gabung sama yang lain. Dari tadi kita udan nungguin calon anggota baru keluarga ini loh.. " Ella melihat Davin, Pria itu mengangguk tersenyum. Dan saat itulah Ella terpaksa ikut Wanita yang merupakan ibu dari pria yang akan menikahinya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apa yang ada dalam otak Ella sejak tadi nyatanya Tidak terbukti sama sekali. Di keluarga ini dia di sambut dengan sangat baik.
Tak ada yang memasang wajah judes atau keterpaksaan. Kata dan ucapan pedas atau julid yang sempat bersarang di otaknya tadi semua tak ada. Mereka bicara dengan hati-hati seolah takut Ella merasa tidak nyaman atau terbawa perasaan.
"Jangan sungkan ya.. Anggap aja di rumah sendiri. Sebentar lagi juga kamu akan menjadi bagian dari keluarga kita.." Ucap Daddy Nalendra, Ella mengangguk dengan senyum tipisnya. Jujur dia masih merasa sangat canggung dan malu sekali berada di tengah-tengah keluarga besar ini.
"Davin sudah banyak cerita tentang kamu.. Semuanya. Dan apa yang di lakukan Davin itu menurut Uncle udah bener kok.. " Ucap Uncle Brian, Tiga pria paruh baya yang berada di sana hanya bisa memutar bola matanya malas.
"Jangan dengar kan.. Uncle mu yang ini adalah pebinor dulunya.." Sambung Uncle Joe. Brian yang tak terima pun langsung melempar kacang bawang ke arah suami Tissa itu.
"Heh sadar! Kau juga nikah sama Tissa hasil rebut milik orang.." Kata Uncle Brian tak mau kalah..
"Yeee, Waktu itu istriku udah putus ya.. Rebut darimana nya?
"Hallaah! Basi.." Lagi, Uncle Brian melempar kacang bawang itu ke arah Uncle Joe. Uncle Devano yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala saja.
"Jangan di buang-buang.. Aku belinya pakai uang ya.." Kata Daddy Nalendra. Uncle Brian berdecak kesal.
"Cuma kacang bawang Enda.."
"Meski hanya kacang bawang ini mahal Bi.. Kau kira kacang bawang ini yang seharga sepuluh ribuan yang biasa di jual di pasaran..." Kata Nalendra, Kalau di makan iya iya saja ini malah di lempar-lempar.
"Hallaaah.. Hilang satu tidak akan membuat hartamu ludes Enda.. Orang di makan di dalamnya tetap isi kacang kol bukan isi emas..
Mulai! Para istri itu menggelengkan kepalanya menonton pertengkaran para pria itu yang dari muda sampai sekarang belum juga berubah.
"Jangan dengarkan sayang.. Mereka itu tidak waras semua..." Celetuk Tissa, Para pria paruh baya itu langsung diam. Orang gila mana yang di katakan gila hanya diam saja?
Ya, mereka adalah para bapak-bapak ganteng ini contohnya. Di bilang gila oleh para istri mana mungkin bisa marah. Definisi takut istri selamanya..
"Kak Davin cepat nikah, Aku udah gak sabar pingin punya kakak ipar yang cantik seperti dia.." Davina menggeser tempat duduknya di sebelah Ella. Ella terdiam, Katanya Davin punya adik kembaran, Wajah mereka mirip tapi juga tidak terlalu mirip.
"Kakak ipar jangan malu lah.. Aku ini adalah adik iparmu yang cantik dan cetar membahana.." Kata Davina lagi dengan gaya khasnya itu.
"Terima kasih karena telah menerima saya dengan baik di keluarga ini.." Ucap Ella dengan bergetar. Di keluarga Araka, Hanya Nenek Cahya dan Om Riski saja yang menerimanya bahkan di keluarganya sendiri dia seolah tak di anggap. Tapi di keluarga ini? Mereka menghargai Ella dengan baik.
"Jangan gitu.. Dalam keluarga ini, Kita tidak pernah memilih status dan kasta kak.." Davina peluk Ella dengan tulus agar Ella merasa lebih nyaman dan tidak rendah diri berada di tengah-tengah keluarga besarnya ini.
Dan benar saja, Perlahan Ella merasa nyaman hingga..
Ddrrttt... Ddrrttt..
Ella meraih benda pipihnya dan melihat siapa yang menghubungi nya..
"Mama...
"Angkat saja.." Kata Davin yang tak akan melarang Ella. Ella pun menggeser icon hijau itu dan langsung menyalakan mode loudspeaker. Ella tidak ingin keluarga Davin curiga atau salah paham nanti.
"Halo Ma..
"Nanti pulang.. Araka mengajak mu untuk fitting baju pengantin besok..
"Ya Ma...
Hanya itu saja, Tak ada pertanyaan 'sekarang ada dimana? Semalam menginap dimana? Sungguh ibu yang baik sekali.
"Bawa pria itu besok ke butik Mommy ya sayang.. Mommy akan kasih kejutan buat kamu." Ucap Mommy Ayra dengan seringai yang tak tahu itu apa.
•
•
•
TBC
..... Othor up lebih awal ya, Karena sore ada acara..🍁