NovelToon NovelToon
Penguasa Yang Sesungguhnya

Penguasa Yang Sesungguhnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:28.5k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

"Cepat cari cucuku, bagaimanapun caranya ,cucu perempuan ku harus berada disini ...." teriak kakek Suhadi pada pengawalnya...setelah mengetahui kebenarannya dan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya.... kemungkinan besar,ia memiliki seorang cucu perempuan yang tersembunyi.
Najwa...., sepupu Rukayyah, gadis belia yang baru lulus SMA dan lulusan terbaik seorang Hafizah ternyata seorang Cucu konglomerat... almarhumah ibunya, tidak mengatakan siapa ayah Najwa. Najwa di titipkan pada kyai Rahman dan istrinya saat Najwa baru di lahirkan, setelah ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.bahkan, Ibu Najwa sendiri tidak mengatakan siapa ayah dari Najwa...namun satu yang perlu Najwa ketahui, ia bukan anak haram, ibunya sempat menikah sirih dan kabur setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata menjadikannya istri kedua....





yuk...ikuti cerita nya Saat Najwa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, serta kehidupan Najwa setelah hidup bersama keluarga ayahnya, sedangkan di sana ada ibu tirinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ke-dua puluh empat

Malam itu, heningnya kamar Najwa terasa begitu berat, seolah dinding-dinding marmer itu ikut meratapi luka yang baru saja terbuka. Najwa bersimpuh di atas sajadah, tubuhnya yang mungil tampak bergetar hebat. Ia menangkupkan wajahnya dengan kedua telapak tangan, membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan di depan semua orang, tumpah membasahi kain sucinya.

"Ya Allah..." suaranya serak, nyaris hilang tertelan isak. "Hamba tidak pernah meminta harta ini jika harganya harus dibayar dengan kehancuran hati orang lain. Hamba tidak ingin menjadi sebab perpecahan keluarga ini..."

Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga dadanya yang terasa sesak. Wajah ibunya, Maryam, terbayang di pelupuk mata, wajah lembut yang selalu mengajarkannya tentang keikhlasan di dalam mimpinya.

"Namun, jika ini adalah amanah untuk menjaga kehormatan Ibu dan memenuhi janji kepada Kakek, maka kuatkanlah hamba... Jangan biarkan kesombongan menyusup ke hati hamba, Ya Allah."

Setelah doa itu terucap, sebuah ketenangan yang hakiki perlahan merambat, meredakan badai di dadanya. Di balik pintu yang tertutup rapat, ia tak menyadari ada dua pasang mata yang mengawasi dengan rasa bersalah yang mendalam. Alendra dan Adriansyah berdiri di koridor gelap, mendengarkan rintihan adik mereka yang ternyata memiliki hati seluas samudera.

***

Pagi yang Berbeda di Kediaman Suhadi

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui jendela besar di ruang makan, namun suasananya terasa sangat asing. Kursi yang biasanya diduduki Monica dengan keangkuhannya kini kosong. Kursi Raisa pun tak berpenghuni. Hanya ada Kakek Suhadi yang tampak lebih pucat, namun tatapannya tetap setajam elang.

Najwa turun dengan langkah anggun namun rendah hati. Saat ia hendak menarik kursi, sebuah tangan kekar mendahuluinya. Alendra menarikkan kursi untuk Najwa dengan gerakan yang sangat lembut.

"Duduklah, Najwa," ucap Alendra. Suaranya yang biasanya dingin kini terdengar berat dan hangat.

Di meja makan, Alendra tidak banyak bicara, namun tangannya terus bergerak. Ia mengambilkan sepotong roti, mengoleskan selai, lalu memindahkannya ke piring Najwa. Tak lama kemudian, ia menambahkan potongan buah segar.

"Makan yang banyak. Hari ini akan menjadi hari yang panjang untukmu," gumam Alendra tanpa berani menatap langsung mata jernih Najwa.

Adriansyah pun tak mau kalah. Ia menyodorkan segelas susu hangat ke arah Najwa. "Ini... minumlah. Aku dengar susu ini bagus untuk konsentrasi. Maafkan aku soal kemarin-kemarin, Najwa. Aku benar-benar bodoh."

Najwa tersenyum, senyum tulus yang membuat kedua kakaknya itu merasa semakin kecil. "Terima kasih, Kak Alen, Kak Adrian. Najwa sudah memaafkan semuanya."

Kakek Suhadi berdeham, memecah suasana haru tersebut. Ia meletakkan cangkir tehnya perlahan, lalu menatap Najwa dengan pandangan penuh harap.

"Najwa," panggil Kakek dengan wibawa yang tak tertandingi. "Kakek sudah meminta Pak Damar untuk menjemputmu tepat setelah jam kuliah terakhir. Kau tidak akan pulang ke rumah ini sore nanti."

Najwa sedikit mengernyitkan dahi. "Lalu kita ke mana, Kek?"

"Langsung ke kantor pusat," jawab Kakek tegas. "Ada beberapa dokumen rahasia yang harus kau pelajari. Dan yang paling penting... Kakek akan mengadakan rapat darurat. Kakek ingin memperkenalkanmu pada dewan direksi sebagai pemegang saham utama yang baru."

Najwa tertegun. Garpu di tangannya hampir terlepas. "Saham utama, Kek? Tapi Najwa masih semester awal, Najwa belum mengerti bisnis..."

"Ilmu bisa dipelajari, tapi integritas adalah bawaan lahir," Kakek Suhadi meraih tangan Najwa, menggenggamnya kuat. "Kau adalah darah dagingku yang sah. Kau memiliki kecerdasan Maryam dan ketegasan keluarga Suhadi. Jangan biarkan mereka yang tidak berhak menguasai jerih payah kakekmu. Kau siap?"

Najwa menatap Kakek, lalu beralih ke Alendra dan Adrian yang mengangguk mantap seolah berkata, 'Kami akan menjagamu'.

"Baik, Kek. Jika ini adalah amanah, Najwa akan usahakan yang terbaik. Najwa tidak akan membiarkan nama baik Kakek dan Ibu tercoreng."

___

___

Lantai koridor kampus yang biasanya terasa seperti panggung penghakiman bagi Najwa, kini berubah menjadi jalur penghormatan yang hening. Najwa berjalan dengan langkah ringan, jilbabnya yang rapi berkibar pelan tertiup angin pagi.

Orang-orang yang kemarin melontarkan kata-kata pedas dan tatapan sinis, kini mendadak terserang "amnesia". Mereka menunduk saat berpapasan dengan Najwa, atau berpura-pura sibuk dengan ponsel mereka. Tidak ada lagi tawa meremehkan. Yang ada hanyalah rasa segan yang dalam, sebuah pengakuan tak tertulis bahwa gadis di depan mereka adalah pemegang takhta sesungguhnya di dinasti Suhadi.

Najwa mencari sosok Raisa di antara kerumunan mahasiswa Hubungan Internasional, namun kursi di baris depan itu kosong. Raisa tidak masuk. Kabar tentang identitas aslinya yang terbongkar telah menyebar seperti api di atas jerami kering, membuatnya terlalu malu untuk sekadar menunjukkan batang hidungnya.

***

Berjarak beberapa kilometer dari kemegahan mansion Suhadi, sebuah drama yang jauh lebih gelap sedang berlangsung. Di sebuah rumah kecil yang hanya memiliki dua kamar, rumah yang disiapkan Kakek Suhadi sebagai "tempat belajar rendah hati"suara teriakan Raisa memecah kesunyian lingkungan yang tenang.

Raisa melempar tas branded satu-satunya yang tersisa ke lantai dengan kasar. "Apa-apaan rumah ini?! Sempit, pengap, dan bau! Mama bilang Mama bisa atur semuanya! Mana janji Mama?!" tanya Raisa dengan ketus.

Monica duduk di sofa tua yang busa-nya sudah mulai menipis. Wajahnya yang biasa dipoles riasan mahal kini tampak kusam, matanya sembab. Ia mencoba menyentuh tangan Raisa, namun Raisa menepisnya seolah-olah Monica adalah wabah penyakit.

"Sabar, sayang... ini hanya sementara. Mama sedang membujuk Papamu untuk bicara lagi dengan Kakek. Kartu-kartu kita semua dibekukan, kita tidak punya uang tunai..."

Raisa tertawa sinis, matanya melotot penuh kebencian "Sabar?! Mama yang membuatku jadi seperti ini! Mama yang memberiku harapan palsu kalau aku adalah putri mahkota Suhadi! Dan sekarang, setelah tahu aku hanya anak yang dipungut dari kotak kardus di depan gerbang, Mama masih mengharapkanku untuk bersikap manis?!" bentak Raisa yang tidak terima.

Afkar, yang baru saja masuk dari dapur setelah mencoba menghidupkan kompor gas yang macet, membentak dengan sisa-sisa otoritasnya.

"Raisa! Jaga bicaramu! Bagaimanapun juga, kami yang membesarkanmu dengan kemewahan selama sembilan belas tahun ini!" tegas Afkar dengan suara meninggi.

Raisa melangkah maju, menatap Afkar dengan tatapan menantang yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Membesarkanku? Kalian membesarkanku sebagai tameng untuk menutupi kegagalan Mama punya anak lagi! Kalian menggunakan aku agar tetap bisa menikmati harta Kakek! Sekarang setelah aku tidak berguna lagi sebagai ahli waris, jangan harap aku mau menghormati kalian. Kalian bukan orang tuaku! Kalian hanya pasangan yang menipu takdir!" teriak Raisa menggema di ruangan kecil itu.

PLAK!

Afkar menampar Raisa. Namun, tidak seperti biasanya di mana Raisa akan menangis memohon ampun, kali ini ia justru tersenyum miring sambil menyeka darah di sudut bibirnya.

"Tamparan itu... adalah akhir dari rasa hormatku pada kalian. Mulai sekarang, aku tidak butuh orang tua pecundang seperti kalian. Aku akan mencari cara sendiri untuk kembali ke mansion itu, meski aku harus menghancurkan kalian berdua bersama Najwa." ancam Raisa tidak main-main.

Raisa masuk ke kamar dan membanting pintu hingga debu-debu dari langit-langit rumah tua itu berjatuhan. Monica hanya bisa merosot ke lantai, menangisi kehancuran "keluarga" yang ia bangun di atas pondasi kebohongan....

" Raisa...,aku tidak menyangka,anak yang ku besarkan dengan kasih sayang,tega mmembentakku dan mengancam ku" gumam Monica menggelengkan kepalanya tidak percaya,

1
juwita
pengabdian apa? yg ada malah ngehabisin harta mrk🤣🤣
@Mita🥰
wah yang nolong si Raisa cari mati
isnaini naini
kbenaran itu ibarat air sesulit apapun psti mbemukan jln...smngt njwa....
Dewi kunti
ILu ap thor
Dewi kunti: weeeeehhh 🤭
total 2 replies
Sri Supriatin
didikan harta n kebencian sdh me darah daging di badan Raisa 🤭 tks upnya Thor 🙏🙏
suti markonah
lanjut thorr💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
suti markonah
hal yg menegangkan akan terjadi lg..kini raisa merasa di atas krna ada ke kayaan ibu kandungnya..tp aku yakin najwa tidak akan pernah terkalahkan..sekali jari najwa menari di atas keyboad perusahan santi gulung tikar😂
irma hidayat
dikasih kesempatan selamat makin kotor hati dan niatmu raisa dasar udah tabiat setan
vivinika ivanayanti
Heemmmm bearti memang Hati Raisa itu yg sakit 🤭🤭
Mundri Astuti
pretlah afkar ..
kan..kan ..belom tau aja emak kandungnya Raisa, anaknya nggigit klo ditolong
Dewi kunti
lha pengabdian,ap yang dihasilkan 🤔🤔🤔🤔🤔
Mundri Astuti
jangan" org tuanya Raisa
Yuli Budi
waduh malah kecolongan 🤦
Yuyun Srie Herawati
apa ini yg di definisi mafia syariah thor
suti markonah
skrg dah bisa komen lg thorrr🤭..kmrn lg layat..maaf curhat
suti markonah
alendra dan adriansyah dapat kejutan bertubi tubi melihat sisi lain dr adiknya najwa yg seharusnya mereka lindungi..tp malah terbalek..malah adiknya yg pegang kendali keluarga suhadi..😂😂😂
suti markonah
mungkinkah raisa sengaja di persiapkan di buang di depan pagar rumah agar bisa masuk di keluarga suhadi oleh musuh ?hmmm penasaran
Sri Supriatin
tkd upnya 👍👍
irma hidayat
lah si iblis raisa ada yg menyelamatkan harusnya membusuk dipenjara
irma hidayat
yg sebenarnya perempuan iblis tu kamu raisa, karna iblis sombong seperti kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!