NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Situasi di SMA Pelita Bangsa mendadak memanas, bukan karena ujian dadakan, melainkan karena persaingan "terselubung" antara dua siswa kelas 11: Gavin dan Dafa.

Dafa adalah anak dari Pak Surya, seorang duda keren yang juga pemilik yayasan besar, pria yang minggu lalu lamarannya ditolak oleh Raisa. Dafa yang sangat menyayangi ayahnya tidak terima jika Raisa, guru favoritnya, lepas begitu saja. Sementara Gavin, kini punya misi baru: menjadikan Om-nya, Dokter Fatih,

sebagai pemenang hati "The Ice Queen".

Siang itu, Gavin dan Dafa duduk berhadapan di pojok kantin. Suasananya lebih tegang daripada rapat pleno OSIS.

"Gue denger bokap lo ditolak lagi ya, Daf?" Gavin memulai serangan sambil menyeruput es tehnya dengan gaya santai.

Dafa mendengus, meletakkan ponselnya kasar. "Cuma masalah waktu, Vin. Bokap gue itu mapan, punya yayasan ini, dan yang paling penting: dia udah kenal lama sama keluarga Bu Raisa. Bu Raisa itu cuma butuh 'pelan-pelan' aja."

Gavin tertawa kecil, tipe tawa yang memancing emosi. "Pelan-pelan sampai keburu diambil orang maksud lo? Lo tahu nggak siapa yang ambil rapor gue kemarin? Om gue. Dokter spesialis bedah saraf, muda, pinter, dan yang paling penting... logikanya sama kaku-nya sama Bu Raisa. Mereka itu match made in heaven."

Dafa memutar bola mata. "Dokter? Sibuknya minta ampun. Mana ada waktu buat Bu Raisa. Bokap gue bisa kasih waktu, fasilitas, bahkan sekolah ini kalau Bu Raisa mau. Bu Raisa itu butuh kepastian, bukan orang yang dikit-dikit dipanggil emergency."

"Justru itu!" balas Gavin semangat. "Bu Raisa itu mandiri. Dia nggak butuh disuapin fasilitas. Dia butuh partner yang punya prinsip kuat, yang dunianya nggak cuma muter di sekolah ini doang. Dan pas mereka ketemu kemarin... beuh, ada aura-aura beda di udara!"

Persaingan itu berlanjut ke aksi nyata. Dafa mulai sering meminta ayahnya menjemput tepat di depan ruang guru saat jam pulang, berharap ada momen papasan yang manis.

"Ayah, tadi Bu Raisa kayaknya agak pusing. Coba deh Ayah bawain kopi kesukaannya ke ruang guru," hasut Dafa pada Pak Surya.

Sementara itu, Gavin tidak mau kalah. Ia memanfaatkan kepulangan Tante Lina dari rumah sakit sebagai umpan. Ia sengaja menelepon Fatih saat sedang berada di dekat Raisa.

"Halo, Om Fatih? Iya, ini Gavin lagi sama Bu Raisa. Tante Lina nanyain Om terus, katanya mau pamit pulang tapi Om belum kelihatan. Bu Raisa juga mau ke sana sekarang, mungkin Om bisa barengan?" ujar Gavin dengan suara yang sengaja dikeraskan, membuat Raisa yang sedang membereskan buku menoleh dengan tatapan bingung.

di gerbang sekolah. Mobil SUV mewah Pak Surya sudah terparkir, dan Pak Surya berdiri di sampingnya dengan senyum ramah saat Raisa berjalan keluar.

"Bu Raisa, kebetulan saya mau lewat arah rumah sakit. Mari saya antar," tawar Pak Surya sopan.

Dafa yang berdiri di samping ayahnya memberikan tatapan "kemenangan" pada Gavin yang baru saja keluar dari kelas.

Namun, belum sempat Raisa menjawab, sebuah mobil sedan hitam yang elegan berhenti tepat di belakang mobil Pak Surya. Fatih turun dari mobil, masih mengenakan kemeja kerjanya namun tanpa jas putih. Wajahnya datar, tapi tatapannya terkunci pada Raisa.

"Gavin bilang Anda akan ke rumah sakit untuk menjemput Tante Lina?" tanya Fatih langsung, mengabaikan kehadiran Pak Surya sejenak.

"Saya kebetulan sudah mengurus semua administrasi kepulangannya. Kita bisa jalan sekarang supaya tidak terlalu malam."

Suasana mendadak hening. Dafa menatap Gavin, Gavin menatap Dafa. Pak Surya menatap Fatih, dan Fatih menatap Raisa.

Raisa menghela napas panjang. Ia menatap kedua pria dewasa itu bergantian, lalu beralih pada Gavin dan Dafa yang sedang memasang wajah penuh harap.

"Terima kasih tawaran bantuannya, Pak Surya, Dokter Fatih," ucap Raisa tenang, suaranya tidak goyah sedikit pun. "Tapi saya sudah pesan ojek daring. Dan untuk Gavin serta Dafa... tugas esai kalian saya tunggu besok pagi jam tujuh di meja saya. Jangan terlambat karena sibuk mengurusi jadwal saya."

Raisa berlalu begitu saja menuju gerbang depan, meninggalkan dua pria dewasa yang terpaku dan dua remaja yang seketika lemas.

Gavin menyenggol bahu Dafa. "Kayaknya kita berdua bakal dapet nilai C kalau terus begini, Daf."

Dafa mengangguk lesu. "Tapi Om lo tadi keren juga sih, berani motong pembicaraan bokap gue."

Fatih yang masih berdiri di sana, hanya bisa memasukkan tangan ke saku celana, memandangi punggung Raisa yang menjauh sambil membatin, Perempuan ini benar-benar tidak bisa diprediksi.

......................

Pertarungan memperebutkan perhatian sang "Ice Queen" ternyata belum berakhir di gerbang sekolah. Keesokan harinya, saat jam istirahat, suasana di ruang guru terasa sedikit berbeda dengan kehadiran Pak Fajar, guru olahraga muda yang populer karena sifatnya yang supel, hobi bermain basket, dan selalu punya stok lelucon untuk mencairkan suasana.

Berbeda dengan Fatih yang kaku atau Pak Surya yang formal, Pak Fajar menyerang dengan strategi "akrab dan ceria".

Serangan Tak Terduga di Ruang Guru

"Bu Raisa, serius amat sama tumpukan kertas itu. Es kopi susu gula aren kesukaan Bu Raisa sudah mendarat di meja, nih," ujar Fajar sambil meletakkan segelas minuman dingin dengan senyum lebarnya.

Raisa mendongak sekilas, lalu kembali pada coretan merah di esai siswanya. "Terima kasih, Pak Fajar. Tapi saya sedang tidak ingin minum yang manis-manis."

Fajar tidak menyerah. Ia menarik kursi kosong ke dekat meja Raisa. "Jangan terlalu kaku lah, Bu. Nanti cepat tua kayak Pak Kepsek. Gimana kalau akhir pekan ini kita ikut komunitas lari pagi? Biar pikirannya segar, tidak cuma isinya struktur kalimat terus."

Raisa meletakkan pulpennya. Ia menatap Fajar dengan tatapan yang sama saat ia menatap Fatih kemarin, tenang namun berjarak. "Terima kasih tawarannya, Pak. Tapi akhir pekan saya sudah penuh dengan jadwal mengunjungi Tante saya yang baru keluar dari rumah sakit."

Di balik jendela kaca ruang guru, dua pasang mata mengintip dengan cemas. Gavin dan Dafa mendadak melakukan "gencatan senjata" demi menghadapi musuh bersama: Pak Fajar.

"Gawat, Vin. Pak Fajar itu tipenya social butterfly. Cewek-cewek biasanya luluh sama yang modelan ceria begitu," bisik Dafa sambil memantau pergerakan di dalam.

Gavin mendecah. "Nggak akan mempan buat Bu Raisa. Tapi kalau dibiarin terus, lama-lama risih juga dia. Om gue harus bertindak. Dia nggak bisa cuma diem nunggu getaran logikanya nyambung."

Gavin segera merogoh ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Fatih.

Gavin

Om, musuh baru muncul. Pak Fajar, guru olahraga, baru aja kasih sogokan kopi ke Bu Raisa. Strategi Om yang dingin-dingin itu bakal kalah kalau nggak sat-set sekarang!

Sore harinya, Raisa baru saja sampai di rumah Bu Lina. Ia terkejut melihat sebuah mobil yang sangat familiar terparkir di sana. Di ruang tamu, Fatih sedang duduk sambil memeriksa tekanan darah Bu Lina dengan saksama.

"Nah, ini Raisa datang," ujar Bu Lina sumringah.

Fatih menoleh. Kali ini, ia tidak hanya memberikan anggukan formal. Ia berdiri dan menyapa lebih dulu. "Selamat sore, Bu Raisa. Kebetulan saya sedang melakukan kontrol rutin untuk Tante Anda."

Namun, suasana menjadi canggung ketika sebuah motor sport berhenti di depan pagar. Fajar turun dengan membawa buah-buahan besar, wajahnya cerah seolah tidak punya beban.

"Lho, Pak Fajar? Kok tahu saya di sini?" tanya Raisa heran saat Fajar masuk ke teras.

"Tadi tanya satpam sekolah katanya Bu Raisa mau ke rumah tantenya. Kebetulan lewat, sekalian mau kasih semangat buat Tante Lina supaya cepat sembuh," jawab Fajar tanpa dosa, lalu matanya tertuju pada Fatih. "Eh, ada Dokter Fatih juga ya?"

Kini, di ruang tamu kecil itu, terjadi tabrakan tiga energi antara dokter Fatih yang Dingin, cerdas, dan penuh perhitungan medis.

Fajar yang Hangat, santai, dan penuh energi spontan. dan Raisa yang Diam, mengamati, dan tampak mulai merasa kepalanya berdenyut karena dikepung.

Fatih merapikan stetoskopnya dengan tenang. "Pak Fajar, sepertinya Anda salah waktu. Pasien butuh ketenangan, bukan suara yang terlalu... bersemangat."

Fajar terkekeh, tidak merasa tersinggung. "Justru pasien butuh hiburan, Dok. Biar hormon endorfinnya naik. Ya kan, Bu Raisa?"

Raisa menghela napas panjang, menatap kedua pria itu bergantian. "Tante Lina sudah stabil. Dan saya rasa, akan jauh lebih stabil jika kalian berdua tidak berdebat di depan pasien."

Gavin yang mengintip dari balik tirai dapur bersama sepupunya berbisik pelan, "Adu mekanik dimulai, Daf. Dokter bedah vs Guru olahraga. Siapa yang bakal kena kartu merah duluan?"

1
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!