NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Balik

Beberapa nama lain mulai muncul satu per satu dalam laporan itu.

Bukan orang kecil.

Bukan staf biasa.

Nama kepala keuangan.

Nama kepala procurement.

Nama salah satu komisaris minoritas yang selama ini tampak netral.

Udara berubah berat.

Mereka tidak saling melihat, namun seluruh ruangan tahu: lingkaran itu bukan kebetulan. Ini jaringan. Rapi. Tertutup.

Dan selama ini… hidup nyaman di balik sistem.

Pria audit menutup mapnya perlahan. “Semuanya terhubung melalui persetujuan anggaran,” jelasnya singkat.

“Sebagian dana mengalir ke perusahaan boneka. Polanya sudah berlangsung lama. Intensitasnya meningkat dalam satu tahun terakhir.”

Satu tahun terakhir.

Tepat satu tahun sebelum Dara naik.

Bram melipat kedua tangan di dada. Ia tidak membela diri. Tidak memohon. Tidak menyangkal.

Ia hanya menatap Dara.

“Sekarang kamu paham,” katanya rendah. “Kamu tidak sedang melawan satu orang. Kamu sedang melawan ekosistem.”

Direktur senior yang tadi bersuara kembali menatap barisan nama-nama itu dengan wajah mengeras. “Semua yang namanya tercantum… mulai hari ini dinonaktifkan sementara dari jabatan sampai proses hukum internal selesai.”

Seseorang langsung berdiri, kursinya bergeser kasar.

“Ini jebakan!” serunya gemetar. “Dia CEO baru, dia bahkan belum mengerti alur perusahaan—”

“Duduk,” suara Rama pelan, tapi tegas.

Orang itu terdiam.

Dara menatap seluruh ruangan, bukan lagi hanya Bram.

“Kalau saya dibilang baru,” ucapnya tenang, “itu benar.”

Ia berhenti sejenak. “Tapi justru karena saya baru… saya tidak punya keterikatan pada permainan lama kalian.” Sekilas, matanya bertemu dengan mata Bram.

Bram tersenyum pelan, mengakui dalam diam.

Beberapa direksi lain saling berbisik dan untuk pertama kalinya, bukan pertanyaan tentang kemampuan Dara, melainkan tentang berapa jauh permainan kotor ini berjalan tanpa mereka sadari… atau pura-pura tidak mereka sadari.

Dara melanjutkan, “Siapa pun yang merasa namanya tidak seharusnya ada di situ,” katanya datar, “silakan hadapi prosesnya. Saya tidak akan menutup kasus ini. Tidak untuk siapa pun.”

Seseorang mulai menangis tertahan.

Seseorang yang lain menyandarkan tubuhnya lemas.

Audit berlanjut. Prosedur berjalan. Orang-orang keluar satu-satu dengan wajah berbeda-beda: lega, hancur, marah, bingung.

Dara tetap duduk di tempatnya.

Rama tidak menyentuh bahunya.

Mereka hanya berdiri sedikit di belakang, cara orang tua menghormati anak yang baru saja berdiri dengan kakinya sendiri.

Dan jauh di lubuk hati Dara, ia sadar, Menang bukan berarti aman. Membuka kebenaran bukan berarti semuanya selesai.

Justru inilah awalnya.

Bram tidak tumbang.

Ia baru menarik diri ke tempat yang lebih gelap. Dan di luar sana… ada seseorang lagi.

Seseorang yang dulu menyebutnya “istri”.

Seseorang yang akan segera tahu bahwa Dara Valencia bukan hantu masa lalu,

melainkan badai yang sedang menuju hidupnya.

Arman.

.

.

 Wajah-wajah pucat. Kursi berderit. Nafas tercekat di berbagai sudut ruangan.

Untuk sesaat, Dara berpikir semuanya selesai. Sampai Bram pelan-pelan mulai tertawa.

Bukan tawa keras.

Hanya rendah… tetapi memecah udara.

“Jadi ini kartu yang kamu simpan, ya?” katanya lembut. “Audit internal. Bukti transfer. Rekaman.”

Tatapannya beralih pada pria audit.

“Dan kamu yakin… semua ini murni kesalahan kami?”

Pria audit menegang. “Data ini hasil penelusuran langsung sistem.”

Bram mengangguk pelan.

“Sistem yang dikendalikan siapa?”

Ruangan kembali senyap.

Semua orang menoleh hampir bersamaan.

Ke arah Dara.

Bram menyatukan jemarinya di depan dada, seperti seseorang yang sedang memberi pelajaran di kelas.

“Enam bulan terakhir, akses superadmin berubah,” ucapnya datar. “Semua alur pelaporan keuangan, semua otorisasi perubahan data… atas persetujuan siapa?”

Nama Dara tertera jelas di layar ketika Bram menggeser laptopnya.

Persetujuan.

Tanda tangan digital.

Log aktivitas.

Semua mengarah… kepadanya.

Jantung Dara berdegup keras—bukan karena bersalah, tetapi karena ia baru memahami sesuatu:

Sebagian datanya… telah dipelintir balik.

Bram melihat keterkejutan itu.

“Tahu kenapa aku tersenyum tadi?” tanyanya pelan. “Karena kamu cerdas. Dan orang cerdas… biasanya lupa satu hal penting.”

Ia condong sedikit ke depan.

“Bahwa mereka bukan satu-satunya yang bisa merencanakan.”

Sebagian direksi yang tadi memihak Dara mulai saling berbisik lagi. Bimbang. Bergeser. Kembali ragu.

Bram berdiri perlahan.

“Silakan teruskan audit,” katanya datar. “Kalau memang aku bersalah, aku siap bertanggung jawab.”

Ia berhenti sejenak, menatap Dara lurus.

“Tapi ketika jejak digital menunjukkan manipulasi persetujuan lewat akun CEO… kita pastikan juga, siapa yang sebenarnya menggerakkan semuanya dari atas.”

Beberapa pasang mata kini menatap Dara dengan tatapan berbeda.

Bukan lagi iba.

Bukan hanya kagum.

Ada rasa ngeri.

Tidak karena Dara bersalah, melainkan karena mereka baru sadar, ini bukan sekadar pertarungan pemimpin lama dan pemimpin baru.

Ini perebutan kendali sistem.

Dan Bram belum kalah.

Ia baru membalik papan catur.

Pria audit menelan ludah. “Akan… kami telusuri ulang, Bu Dara.”

Dara tidak menghindar.

“Telusuri,” ucapnya mantap. “Sampai akar paling dalam.”

Namun dalam hati, ia tahu satu hal:

Seseorang di lingkarannya…atau seseorang yang pernah sangat dekat…masih memegang kunci akses yang bahkan ia pikir sudah ditutup.

Dan permainan ini belum selesai.

Bram lewat di sisinya ketika rapat dibubarkan sementara.

Kali ini ia tidak menyeringai.

Tidak mengejek.

Hanya berbisik singkat.

“Kamu melangkah terlalu benar, Dara. Di dunia ini… orang terlalu benar selalu tampak paling mudah disalahkan.”

Lalu ia pergi.

Meninggalkan Dara dengan satu kesadaran dingin:

Bukan semua orang yang melawannya musuh.

Dan bukan semua yang tersenyum padanya… berada di pihaknya.

Ruangan rapat mulai sepi beberapa menit kemudian.

Tok. Tok.

Pintu tidak diketuk keras. Danu masuk sambil membawa dua cup kopi panas.

“Minum dulu,” katanya santai. “Sebelum kamu mulai menyelamatkan dunia lagi.”

Dara menghela napas pendek, setengah tawa. “Aku tidak selemah itu.”

“Aku tahu,” jawab Danu.

“Makanya mereka panik.”

Ia duduk di seberang meja, tidak memberi motivasi panjang, tidak menggurui. Hanya menjadi diam yang enak diduduki.

“Bram tidak akan berhenti,” kata Dara pelan.

“Memang,” sahut Danu. “Karena dia bukan takut kehilangan jabatan.”

Dara menoleh. “Lalu?”

“Dia takut kehilangan seseorang yang dulu selalu tunduk padanya.”

Hening.

Kalimat itu mengenai sasaran.

Dara tidak langsung menjawab. Ada sesuatu di dadanya yang seperti diremas—bukan karena takut pada Bram… melainkan karena ia akhirnya mengerti.

“Dia takut kehilangan reputasi,” lanjut Danu pelan. “Bukan sebagai bawahan. Tapi sebagai cermin. Selama ini, dia merasa hebat karena ada orang selalu nurut. Begitu kamu berdiri, keberadaannya terasa… kecil.”

Dara memalingkan wajah. “Jadi ini soal ego,” ucapnya lirih.

“Selalu soal ego.” Danu tersenyum tipis. “Orang seperti Bram tidak tahan melihat orang yang dulu berada di bawahnya sekarang berdiri sejajar. Apalagi lebih tinggi.”

Dara menghela napas panjang. “Dia akan menyerang lagi.”

“Ya,” jawab Danu jujur. “Tapi kali ini bukan untuk menjatuhkan perusahaan. Bukan bahkan untuk jabatan.” Ia menatap Dara. “Dia hanya ingin membuktikan satu hal… bahwa tanpa dia, kamu tetap akan runtuh.”

Dara terdiam lama.

“Apa kamu percaya aku runtuh?” tanyanya, suaranya nyaris berbisik.

Danu menggeleng. “Tidak,” jawabnya tegas. “Justru itu yang membuatnya semakin gila.”

Hening jatuh kembali.

1
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!