Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman dari Bintang
Tiga bulan telah berlalu sejak insiden di Antartika. Dunia perlahan pulih, namun bagi Unit Phoenix, tidak ada waktu untuk merayakan kemenangan. Di markas rahasia mereka yang kini terletak di sebuah pulau terpencil di Samudra Hindia, suasana tampak lebih sibuk dari biasanya. Fasilitas tersebut telah ditingkatkan menjadi pusat komando antariksa, berkat teknologi yang berhasil diselamatkan dari pangkalan-pangkalan Council.
Elara Vanya berdiri di balkon observasi, menatap langit malam yang bertabur bintang. Rambutnya yang kini memiliki helai perak berkilau di bawah cahaya bulan. Di bahunya, simbol sayap emas itu sesekali berdenyut pelan, memberikan sensasi hangat yang mengingatkannya bahwa dia bukan lagi manusia biasa.
"Masih memikirkan sinyal itu?" sebuah suara berat menginterupsi lamunannya.
Zian Arkana berjalan mendekat, membawa dua cangkir kopi panas. Dia mengenakan seragam instruktur baru, namun tatapan matanya tetap setajam saat mereka berada di medan tempur.
"Aegis mengatakan sinyal itu telah mencapai sistem bintang terdekat," jawab Elara, menerima cangkir kopi dari Zian. "Sesuatu sedang merespons, Zian. Aku bisa merasakannya di dalam darahku. Seperti ada getaran yang terus-menerus memanggilku."
"Kael dan Aegis sedang memantau satelit pemantau dalam jarak jauh," kata Zian, mencoba menenangkan. "Sejauh ini, belum ada tanda-tanda objek asing masuk ke orbit kita. Mungkin mereka butuh waktu."
"Atau mungkin mereka sudah di sini, tapi kita belum bisa melihatnya," gumam Elara.
Tiba-tiba, sirene darurat meraung di seluruh pangkalan. Cahaya merah berputar-putar, memecah keheningan malam. Elara dan Zian segera berlari menuju ruang komando pusat.
Di sana, Kael sedang panik di depan konsol utamanya. Layar holografik raksasa menampilkan peta tata surya yang dipenuhi dengan titik-titik merah yang muncul entah dari mana.
"Mereka melompati gerbang kuantum!" teriak Kael. "Aegis benar! Sinyal itu memicu aktivasi gerbang di dekat sabuk asteroid!"
"Aegis, visualisasikan!" perintah Elara.
Sebuah gambar buram muncul di layar. Puluhan kapal raksasa berbentuk cakram dengan material yang menyerupai obsidian—persis seperti teknologi di Palung Mariana—keluar dari lubang cacing di dekat Mars. Armada itu tidak hanya besar; mereka memancarkan energi yang mengganggu sistem komunikasi seluruh dunia.
"Identifikasi armada tersebut: The Vanguard of Seraphim," suara Aegis bergema di ruangan. "Mereka adalah faksi militer dari peradaban yang menciptakan 'The First'. Mereka menganggap Bumi sebagai laboratorium yang gagal dan datang untuk melakukan 'Sterilisasi Total'."
"Sterilisasi Total? Apa maksudnya?" Zian bertanya dengan wajah mengeras.
"Mereka akan membakar atmosfer Bumi untuk menghapus semua jejak genetik yang 'cacat', lalu menanam ulang planet ini dengan benih murni mereka," jelas Aegis. "Waktu kedatangan di orbit Bumi: 12 jam."
Seluruh ruangan terdiam. Selama ini mereka bertempur melawan organisasi rahasia dan mutan, namun sekarang mereka berhadapan dengan armada penghancur planet.
"Kael, hubungkan aku dengan semua pemimpin militer dunia," perintah Elara. Suaranya kini memiliki otoritas yang berbeda, sesuatu yang megah namun dingin. "Beritahu mereka, ini bukan lagi tentang kedaulatan negara. Ini tentang kelangsungan hidup spesies."
"Sudah dilakukan, Mayor," jawab Kael. "Tapi mereka bingung. Sebagian menganggap ini hoax, sebagian lagi panik dan bersiap meluncurkan nuklir ke arah asteroid."
"Nuklir tidak akan berguna melawan perisai kuantum mereka," sela Aegis. "Satu-satunya cara adalah menggunakan 'The Herald'. Elara, kau harus menggunakan kapal tempur kuno yang kita ambil dari Mariana. Kapal itu memiliki sistem sinkronisasi yang hanya bisa diaktifkan oleh energimu."
Elara menatap Zian. "Kita harus terbang ke orbit."
"Kita?" Zian tersenyum tipis. "Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi ke luar angkasa sendirian dengan kapal pari purba itu? Aku sudah menyiapkan skuadron Phoenix-X. Kita akan menjadi pengalih perhatian sementara kau menyusup ke kapal induk mereka."
Enam jam kemudian, di dek peluncuran bawah tanah, Elara berdiri di depan kapal tempur kuno yang kini telah dimodifikasi dengan teknologi Phoenix. Kapal itu bercahaya emas, merespons kehadiran Elara.
"Zian, kau yakin tentang ini?" tanya Elara saat mereka bersiap memakai baju ruang angkasa taktis.
"Aku lebih yakin tentang ini daripada saat kita melompat ke sungai Amazon," jawab Zian sambil mengunci helmnya. "Unit Phoenix tidak pernah mundur, Elara. Apalagi saat taruhannya adalah rumah kita."
Kapal-kapal tempur melesat dari pangkalan, menembus atmosfer dengan kecepatan hipersonik. Saat mereka melewati lapisan eksosfer, pemandangan di depan mereka sangatlah menakjubkan sekaligus mengerikan. Armada Seraphim telah memenuhi cakrawala, kapal-kapal induk mereka menutupi cahaya matahari, menciptakan gerhana buatan di atas Samudra Hindia.
"Inisiatif penyerangan dimulai!" teriak Zian melalui radio.
Puluhan jet Phoenix-X melepaskan rudal plasma ke arah kapal-kapal cakram tersebut. Pertempuran di ruang hampa pecah. Cahaya laser warna-warni menyilang di kegelapan ruang angkasa, menciptakan pemandangan yang indah namun mematikan.
Elara memacu kapal parinya, meliuk-liuk di antara tembakan musuh. Dia bisa merasakan kapal induk musuh—sebuah struktur raksasa berbentuk salib yang memancarkan energi ungu yang pekat.
"Herald... kembalilah ke asalmu..." suara kolektif bergema di kepala Elara.
"Aku tidak punya asal selain Bumi!" Elara berteriak, matanya berubah menjadi emas murni.
Dia melepaskan gelombang energi dari kapal parinya, menghancurkan perisai kapal induk musuh dalam satu hantaman besar. Kapal parinya meluncur masuk ke dalam hanggar kapal induk tersebut, menembus pintu pelindung yang sedang terbuka.
Di dalam, Elara melompat keluar dari kapalnya. Dia tidak membutuhkan tabung oksigen; energi emas di sekelilingnya menciptakan biosfer mikronya sendiri. Di tangannya, sebuah pedang cahaya yang terbuat dari energi murni tercipta secara instan.
"Aegis, temukan pusat kendali sterilisasi," perintah Elara.
"Lurus ke depan, Elara. Namun berhati-hatilah. Pemimpin armada ini, 'High Inquisitor Azrael', sedang menunggumu di sana. Dia memiliki tanda genetik yang sama denganku, namun versi yang jauh lebih agresif."
Elara berlari menembus koridor kapal induk yang megah, membasmi setiap penjaga mekanis yang mencoba menghalanginya dengan satu tebasan pedang energinya. Dia bukan lagi Mayor Vanya yang hanya mengandalkan senjata api. Dia adalah dewi perang yang sedang memperjuangkan dunia yang dicintainya.
Di ujung koridor, sebuah pintu besar terbuka, memperlihatkan sebuah ruangan yang menghadap langsung ke Bumi. Di tengah ruangan, seorang pria dengan zirah putih yang sangat indah berdiri, memegang tombak yang bergetar dengan energi kehancuran.
"Selamat datang, Pengkhianat," kata Inquisitor Azrael. "Kau telah memberikan penawar kepada mereka yang seharusnya musnah. Sekarang, kau akan menyaksikan mereka terbakar bersama harapanmu."
Azrael mengarahkan tombaknya ke arah Bumi. Sebuah bola energi raksasa mulai terkumpul di ujung tombak tersebut, siap dilepaskan untuk menghanguskan benua di bawah mereka.
"Bukan hari ini," desis Elara, mengangkat pedang emasnya.
Pertarungan yang akan menentukan masa depan Bumi baru saja dimulai di ambang atmosfer.