Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 : Belati di Balik Dansa
Alicia Valero tidak lagi menangis. Matanya kini sedingin es kutub, mencerminkan kekosongan yang ia rasakan setiap kali Rafael menyentuhnya. Di bawah kemegahan kantor barunya, ia tidak sedang menyusun anggaran proyek Cielo Alto. Layar monitornya menampilkan deretan arsip digital yang ia curi dari brankas pribadi keluarga Montenegro.
"Kebenaran tidak akan terkubur selamanya, Rafael," bisik Alicia pada keheningan ruangan.
Ia menemukan sebuah folder bertajuk Proyek Helios — 2010. Itu adalah tahun kematian ibunya. Di dalamnya terdapat daftar pembayaran kepada sebuah firma hukum yang kini sudah tidak aktif, serta koordinat lokasi sebuah gudang di pelabuhan Valencia.
Pintu kantor terbuka. Rafael masuk tanpa mengetuk, wajahnya tampak lebih segar namun ada gurat kelelahan yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Kau sedang mencari apa, Alicia?" tanya Rafael, suaranya tenang namun mengandung selidik. Ia berjalan mendekat, aroma parfumnya yang maskulin kini terasa seperti ancaman bagi Alicia.
Alicia menutup layar monitornya dengan tenang. "Hanya memeriksa laporan audit. Aku tidak ingin ada satu sen pun dari dana Cielo Alto yang menguap ke rekening gelap ayahmu."
Rafael menghela napas, ia duduk di kursi depan meja Alicia. "Ayahku, Don Hector, sudah mulai curiga. Dia tahu aku memberikanmu akses ke akun Valencia. Dia menyebutku pengkhianat darah, Alicia. Dia bilang aku sedang menyerahkan leher keluarga Montenegro ke tangan seorang wanita yang haus dendam."
"Dan bukankah itu benar?" Alicia mencondongkan tubuhnya, menatap Rafael dengan senyum miring yang menyakitkan. "Kau menyerahkan lehermu padaku untuk menebus nyawa ibuku. Jangan berlagak seperti korban sekarang, Rafael."
Rafael meraih tangan Alicia, namun Alicia menariknya kembali dengan kasar. "Jangan sentuh aku dengan tangan yang berasal dari garis keturunan pembunuh."
"Aku sedang berjuang untukmu!" geram Rafael, suaranya naik satu oktav. "Aku sedang mempertaruhkan posisiku di dewan direksi keluarga! Hector adalah pria yang kejam, Alicia. Jika dia tahu kau sedang menggali masa lalunya, dia tidak akan ragu untuk melenyapkanmu, terlepas dari fakta bahwa kau adalah tunanganku!"
"Maka biarkan dia mencoba," tantang Alicia. "Setidaknya aku akan mati sambil menggenggam bukti kejahatannya, bukan sebagai pengantin bodoh yang tersenyum di samping putranya."
...****************...
Malam harinya, sebuah jamuan makan malam privat diadakan di kediaman besar keluarga Montenegro. Ruangan itu dipenuhi dengan aroma cerutu mahal dan kemunafikan. Don Hector Montenegro, seorang pria tua dengan rambut perak dan mata yang memancarkan kekejaman murni, duduk di ujung meja.
"Rafael," suara Hector berat dan berwibawa, membuat seluruh anggota keluarga terdiam. "Aku mendengar kau membatalkan gugatan terhadap yayasan Isabel Valero setelah Alicia memberikan sumbangan besar. Kau menggunakan uang keluarga untuk membiayai musuh kita?"
"Itu adalah langkah strategis untuk menenangkan publik, Ayah," jawab Rafael, ia memotong daging steaknya dengan gerakan presisi. "Proyek Cielo Alto adalah prioritas kita."
"Prioritasmu adalah kesetiaan pada darahmu sendiri!" Hector menggebrak meja hingga gelas-gelas kristal berdenting. "Wanita Valero itu... dia sedang menggali lubang untuk kita. Kau pikir aku buta? Aku tahu dia mencari arsip lama. Jika kau tidak bisa mengendalikannya, Rafael, maka aku sendiri yang akan mengakhiri kontrak pertunangan ini—dengan cara yang tidak akan kau sukai."
Rafael menatap ayahnya, sebuah ketegangan yang mematikan tercipta di antara mereka. "Jika Ayah menyentuh satu helai rambut Alicia, Ayah akan tahu betapa banyak rahasia Montenegro yang sudah aku salin ke server luar negeri yang bisa aktif secara otomatis jika aku menghilang."
Hector tertawa dingin. "Kau mengancam ayahmu sendiri demi seorang wanita yang bahkan tidak mencintaimu lagi? Kau sungguh malang, Rafael. Kau bukan lagi singa, kau hanyalah anjing peliharaan di bawah kaki Alicia."
Rafael mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Ia harus membuktikan kesetiaannya kepada Alicia dengan menghancurkan ayahnya, namun di saat yang sama, ia harus menjaga Alicia dari jangkauan taring Hector yang berbisa.
...****************...
Dua hari kemudian, sebuah acara pameran seni amal diadakan di Teatro Real. Seluruh elite Madrid hadir. Alicia tampil memukau dengan gaun merah darah yang kontras dengan kulit pucatnya. Rafael berdiri di sampingnya, mengenakan tuksedo hitam, tampak seperti pasangan penguasa yang sempurna—setidaknya di depan kamera.
"Tersenyumlah, Alicia. Semua orang menonton," bisik Rafael saat mereka berjalan di karpet merah.
"Aku tersenyum untuk merayakan kehancuran yang sebentar lagi datang," jawab Alicia tanpa mengubah ekspresi cantiknya.
Tiba-tiba, suasana yang tenang itu pecah oleh sebuah teriakan histeris dari arah pintu masuk.
"PEMBOHONG! KALIAN SEMUA PEMBOHONG!"
Santiago Valero muncul dengan pakaian yang kotor dan compang-camping. Ia telah melarikan diri dari bangsal jiwa dua jam yang lalu. Matanya liar, rambutnya acak-acakan, dan ia membawa sebuah botol anggur yang sudah pecah di tangannya.
"Santiago?" gumam Alicia, rasa takut sejenak muncul di matanya.
Santiago berlari menuju tengah aula, menunjuk-nunjuk ke arah Alicia dan Rafael. "Lihat mereka! Mereka adalah monster! Mereka membakar rumah mereka sendiri demi asuransi! Mereka menjebak Isabel! Alicia, kau pela*ur Montenegro! Kau menjual jiwamu pada pria yang membunuh ibumu!"
Para tamu mulai berbisik-bisik, beberapa mundur karena ketakutan. Para jurnalis dengan cepat mengarahkan kamera mereka ke arah drama yang sedang berlangsung.
"Keamanan! Amankan pria ini!" teriak manajer acara.
Namun Santiago lebih cepat. Ia mengayunkan botol pecahnya ke arah seorang pelayan, lalu menatap Alicia dengan penuh kebencian. "Kau pikir kau menang, Alicia?! Kau pikir kau hebat karena duduk di sampingnya?! Dia akan menghancurkanmu seperti dia menghancurkunku!"
Rafael melangkah maju, menghalangi pandangan Santiago dari Alicia. "Santiago, kau butuh bantuan medis. Hentikan kegilaan ini sebelum kau terluka."
"Bantuan?! Aku butuh keadilan!" Santiago tertawa histeris, air liur menetes dari sudut bibirnya. "Kau merebut segalanya dariku! Istriku, hartaku, namaku! Kau adalah iblis, Montenegro!"
Santiago menyerang Rafael dengan pecahan botol itu. Namun, Rafael dengan sigap menangkap lengan Santiago dan membantingnya ke lantai dengan kekuatan yang brutal. Santiago mengerang kesakitan, wajahnya menekan lantai marmer yang dingin.
"Lihat pria ini," ujar Rafael dengan suara yang cukup keras untuk didengar seluruh aula, sambil menekan punggung Santiago dengan lututnya. "Inilah gambaran dari kebencian yang buta. Santiago Valero adalah pria yang sudah kehilangan kewarasannya karena kegagalannya sendiri. Dia adalah contoh nyata mengapa kita butuh ketertiban dan kekuatan untuk menjaga kota ini."
Alicia berjalan mendekat, menatap Santiago yang kini terisak di bawah kaki Rafael. Tidak ada rasa kasihan di matanya, hanya rasa jijik yang murni.
"Kau menyedihkan, Santiago," bisik Alicia. "Kau selalu menyalahkan orang lain atas kelemahanmu sendiri. Bawa dia pergi."
Polisi masuk dan menyeret Santiago keluar. Citra Santiago yang gila dan beringas di depan umum justru semakin memperkuat citra Alicia dan Rafael sebagai pasangan yang stabil, berwibawa, dan menjadi korban dari orang-orang yang tidak stabil.
Setelah keributan mereda, Alicia dan Rafael kembali ke hotel. Adrenalin dari insiden tadi membuat suasana di antara mereka menjadi tegang dan panas.
PLAK!
Begitu masuk ke dalam kamar, Alicia langsung berbalik dan menampar wajah Rafael dengan keras.
Rafael terdiam, kepalanya tertoleh ke samping. Ia tidak marah, ia hanya menatap Alicia dengan pandangan yang kosong.
"Kenapa kau menyebut namaku saat kau menghajarnya?!" teriak Alicia. "Lihatlah betapa hebatnya dirimu! Kau menggunakan momen itu untuk membuat kita terlihat seperti pasangan pahlawan lagi! Kau selalu memanipulasi keadaan, Rafael!"
"Aku menyelamatkan nyawamu!" balas Rafael, ia mencengkeram bahu Alicia. "Dia bisa saja melukaimu dengan botol itu! Apakah kau begitu membenciku sehingga kau lebih suka melihatku mati di tangan orang gila itu?"
"Aku membencimu karena kau adalah bagian dari rencana ini!" Alicia mulai menangis, sebuah ledakan emosi yang sudah ia tahan sejak dari penjara. "Aku mencari bukti itu, Rafael. Aku menemukan dokumen Helios. Ayahmu membayar orang untuk merusak rem mobil ibuku. Dan kau... kau mengetahuinya selama ini, bukan? Kau mendekatiku awalnya hanya untuk memastikan aku tidak pernah menemukan folder itu!"
Rafael melepaskan cengkeramannya, ia tampak hancur. "Awalnya... iya. Awalnya ayahku memintaku untuk memantaumu. Tapi aku jatuh cinta padamu, Alicia! Aku tidak bisa mengendalikan perasaan itu! Aku mulai menyembunyikan bukti-bukti itu bukan untuk menghancurkanmu, tapi untuk melindungimu dari ayahku!"
"Kau berbohong Tuan Montenegro!"
"Aku tidak berbohong!" Rafael jatuh berlutut di depan Alicia, sama seperti saat penyanderaan itu, namun kali ini tanpa pistol. "Aku mencintaimu, Alicia. Jika kau ingin menyerahkan bukti itu ke polisi dan menghancurkan keluargaku, lakukanlah. Aku akan membantumu. Aku akan memberikan kesaksian melawan ayahku sendiri. Tapi tolong... jangan lihat aku seolah-olah aku adalah pria yang merusak rem mobil itu. Aku bukan ayahku!"
Alicia menatap pria yang sedang bersimpuh di depannya. Ia melihat kerentanan yang ia tuntut di rumah sakit tempo hari. Ia melihat kehancuran seorang putra yang harus memilih antara darah dan cinta.
Ia perlahan berlutut di depan Rafael, tangannya menyentuh bekas tamparannya di pipi Rafael. "Jika kau membantuku menghancurkan Hector... kau akan kehilangan segalanya, Rafael. Kekayaanmu, namamu, bahkan mungkin nyawamu."
"Aku sudah kehilangan jiwaku sejak aku melihatmu menangis di pemakaman ibumu lima belas tahun lalu dari kejauhan, Alicia," bisik Rafael. "Biarkan aku menebusnya sekarang."
Di tengah kamar yang sunyi itu, mereka berdua berpelukan. Bukan sebagai mitra bisnis, bukan sebagai predator, melainkan sebagai dua orang yang terluka oleh dosa-dosa orang tua mereka. Dendam Alicia masih membara, namun kali ini, ia tahu bahwa ia tidak akan membakar Rafael bersamanya. Mereka akan membakar Hector Montenegro bersama-sama.
Namun, jauh di tempat lain— kediaman Montenegro, Hector sedang mendengarkan rekaman pembicaraan mereka melalui alat penyadap yang dipasang di kamar hotel tersebut. Senyumnya yang mengerikan muncul di kegelapan ruang kerjanya.
"Anak yang malang," gumam Hector. "Dia pikir cinta bisa mengalahkan darah."
Hector meraih teleponnya. "Aktifkan rencana pembersihan. Rafael sudah tidak berguna lagi bagi keluarga ini. Dan pastikan Alicia Valero tidak pernah mencapai kantor polisi besok pagi."
Badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Dan kali ini, jalanan Madrid akan menjadi saksi dari perang antara ayah dan anak, demi sebuah rahasia yang terkubur dalam darah.