Bagaimana jika kita tiba-tiba menjadi ibu dari anak calon suami kita sendiri ,apa yang akan kita lakukan ?Memutuskan hubungan begitu saja ?atau tetap lanjut . Aku akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk nya ,Rara Aletta Bimantara . Akan ku usahakan semua nya untuk mu ,Terimakasih Sudah mau menjadi istri dan ibu dari anak Ku _Rama Alexandra Gottardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ega Sanjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Yang Bertumbuh
Proses membuat buku kedua—yang mereka beri judul "Kiki, Pelangi, dan Mimi: Petualangan untuk Terbang"—mulai dengan semangat yang lebih besar dari sebelumnya. Setiap minggu, di klub baca, anak-anak akan berkumpul untuk menyempurnakan cerita dan menggambar ilustrasi. Dina selalu ada untuk membimbing mereka—dia mengajarkan cara membuat garis yang lebih rapi, memilih warna yang cocok, dan memberikan ruang bagi setiap anak untuk mengekspresikan gaya menggambar mereka sendiri.
"Sekarang, coba gambar Mimi yang lagi makan ikan," ujar Dina, menunjukkan contoh gambarnya. "Tapi jangan khawatir kalo beda dengan yang aku gambar—setiap Mimi yang kamu gambar adalah Mimi yang unik!"
Anak-anak mengikuti dengan antusias. Adi, yang dulu pendiam, sekarang sering menjadi yang paling sibuk menggambar. Dia menggambar Mimi dengan telinga yang lebih panjang dan mata yang lebih besar, dan ketika dia tunjukkan ke teman-temannya, semua orang menyebutnya "Mimi yang lucu" dan mengikuti gaya dia.
Sementara itu, Lila dan Rama membantu menyatukan bagian-bagian cerita yang ditulis setiap kelompok. Mereka tidak mengubah banyak hal dari tulisan anak-anak—hanya memperbaiki sedikit ejaan dan tata bahasa, agar cerita lebih mudah dibaca tapi tetap menyimpan nuansa anak-anak.
"Sini, baca bagian ini lagi, Siti," ujar Lila, menunjukkan bagian cerita tentang Pelangi yang menjelaskan warna-warna di langit. "Kamu nulisnya sangat indah—'langit berwarna seperti kue yang dibuat ibuku'—itu kalimat yang sangat bagus!"
Siti tersenyum bangga. "Aku pikirnya dari kue coklat keju yang ibuku bikin kemarin, Kak Lila. Warnanya coklat muda dan putih, kayak langit sore!"
Setiap minggu, Rian merekam proses pembuatan buku itu—dari anak-anak yang sedang menulis, menggambar, sampai berbicara tentang ide-ide baru. Dia membuat video harian yang diposting di akun sosial perpustakaan, dan banyak orang tua mulai menyukainya. Bahkan, beberapa orang dari kota lain menghubungi mereka untuk bertanya bagaimana membuat klub baca serupa.
Setelah dua bulan bekerja keras, cerita dan ilustrasi buku kedua akhirnya selesai. Semua anak-anak berkumpul di perpustakaan untuk melihat hasil akhir—semua halaman yang disusun rapi, dengan tulisan mereka dan gambar mereka yang berwarna-warni.
"Wah! Ini benar-benar buku kita!" teriak Deni, memegang naskah cetak awal. "Lihat, gambar Mimi yang aku gambar ada di halaman 10!"
Lina melihat halaman yang ada gambar Kiki-nya. "Kak Lila, Kiki-ku terlihat seolah-olah benar-benar mau terbang! Aku senang banget!"
Kemudian, Lila menghubungi Pak Joko di pabrik cetak Matahari. "Pak Joko, kita sudah siap dengan naskah buku kedua. Bisa kah kamu cetak 1000 eksemplar kali ini? Banyak orang yang mau membelinya setelah melihat video Rian!"
"Tenang saja, Bu Lila! Kita akan cetak dengan kualitas yang lebih baik lagi, dan selesai dalam seminggu," jawab Pak Joko dengan senyum.
Selama seminggu menunggu buku selesai, anak-anak tidak sabar. Mereka membuat spanduk untuk peluncuran, menulis pesan di buku tamu, dan bahkan mempersiapkan bacaan untuk acara itu. Adi, yang dulu takut berbicara di depan banyak orang, sekarang bersedia membaca cerita yang dia tulis sendirian—"Anak yang Menemukan Teman"—di acara peluncuran.
Hari peluncuran buku kedua tiba dengan hujan yang ringan, tapi itu tidak membuat semangat anak-anak surut. Bahkan, mereka berkata bahwa hujan itu seperti doa untuk keberhasilan buku mereka. Di perpustakaan, sudah ada banyak tamu—orang tua, teman-teman, bahkan pejabat dari dinas pendidikan kota yang mendengar tentang klub baca mereka.
Ms. Ani dari penerbit juga datang, membawa surat yang tertutup rapi. "Bu Lila, ini untuk kamu dan anak-anak. Baca saja setelah acara selesai ya!"
Acara dimulai dengan bacaan dari Adi. Dia berdiri di panggung dengan suara yang sedikit gemetar, tapi ketika dia mulai membaca, semua orang diam untuk mendengarkan. Ceritanya tentang anak yang merasa sendirian di sekolah, tapi menemukan teman di klub baca—cerita yang sangat menyentuh hati, sehingga beberapa orang tua menangis. Ketika dia selesai, suara tepuk tangan yang keras menggema di perpustakaan.
Berikutnya, anak-anak membaca cerita "Kiki, Pelangi, dan Mimi" secara bergiliran. Setiap anak membaca bagian yang dia tulis, dan ketika sampai ke bagian di mana Kiki meluncur dari bukit, semua anak-anak berteriak "terbang! terbang!" dengan senyum yang lebar.
Setelah sesi bacaan selesai, waktunya untuk pemberian buku. Pak Joko tiba dengan truk yang penuh buku kedua mereka. Anak-anak membantu membagikan buku ke tamu, dan setiap buku ditandatangani oleh semua penulis dan pembuat gambar.
Kemudian, Lila membuka surat yang diberikan Ms. Ani. Dia membacanya dengan mata yang membesar, dan air mata mulai mengalir di pipinya.
"Apa yang ada di surat itu, Kak Lila?" tanya Siti.
Lila mengangkat kepala, mata penuh kebahagiaan. "Ms. Ani bilang bahwa penerbitnya mau menerbitkan buku kita ke seluruh Indonesia! Mereka akan cetak 10.000 eksemplar lagi, dan buku kita akan dijual di toko buku di semua kota!"
Semua orang terkejut dan bersorak kegembiraan. Anak-anak berlari ke arah Lila, memeluknya dengan erat. Deni menangis dengan senyum. "Kita jadi penulis yang beneran ya, Kak Lila?"
"Ya, Deni! Semua dari kamu adalah penulis yang beneran—dan kamu sudah menginspirasi banyak orang!" jawab Lila, menangis juga.
Tiba-tiba, Rama mendekati Lila dengan bungkus kecil di tangan. Dia berlutut di depan semua orang, dan semua orang diam.
"Lila, selama ini aku melihat betapa hebatnya kamu—bagaimana kamu merawat Siti seperti anakmu sendiri, bagaimana kamu menginspirasi anak-anak lain, dan bagaimana kamu membuat impian semua orang terwujud. Aku mencintaimu sangat dalam, dan aku ingin kamu menjadi istriku selamanya. Lila, mau kah kamu menikah denganku?"
Rama membuka bungkus, dan di dalamnya ada cincin emas yang sederhana tapi cantik. Siti berteriak "ya! ya!" dan anak-anak mengikuti. Lila menangis dengan terisak-isak, mengangguk dengan cepat.
"Ya, Rama! Aku mau menikah denganku!"
Rama memakai cincin ke jari Lila, dan mereka memeluk dengan erat. Suara tepuk tangan dan sorakan kegembiraan menggema di perpustakaan, bahkan hujan pun berhenti, dan sinar matahari muncul dari balik awan, menyinari mereka semua.
Siti memegang tangan Lila dan Rama. "Ini berarti aku akan jadi anakmu yang sesungguhnya ya, Kak Lila?"
Lila membelai kepala Siti. "Ya, sayang. Kamu sudah jadi anakku yang sesungguhnya dari lama."
Di sana, di tengah kebahagiaan yang penuh, mereka semua menyadari bahwa cerita mereka belum selesai. Ada banyak lagi petualangan yang menunggu, banyak lagi cerita yang akan ditulis, dan banyak lagi hati yang akan disentuh. Tapi satu hal yang pasti—mereka akan selalu bersama, seperti keluarga yang sesungguhnya, di mana impian selalu terwujud dan cinta selalu ada.