NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Jejak yang Tak Bisa Dihapus

​Gubuk nelayan di desa Senza Nome itu berbau kayu tua dan garam. Cahaya bulan menyusup melalui celah-celah dinding kayu, menciptakan garis-garis perak di atas lantai tanah. Aruna duduk di tepi tempat tidur kayu yang keras, menatap Leonardo yang tertidur lelap setelah sesi menyusui yang panjang. Bayi itu tampak begitu tenang, tidak menyadari bahwa di luar sana, dunia sedang terbakar demi mencarinya—atau lebih tepatnya, mencari wanita yang memberinya makan.

​Dante berdiri di dekat jendela, bayangannya tampak raksasa di dinding. Ia baru saja selesai membersihkan senjatanya untuk ketiga kalinya dalam satu jam.

​"Kenapa kau terus menatapku seperti itu?" tanya Aruna, suaranya parau. Ia menarik selimut wol lebih tinggi untuk menutupi dadanya.

​Dante berbalik. Matanya yang abu-abu tampak lebih kelam di kegelapan. "Aku sedang memikirkan perkataan Luciano di kapal. Tentang kode itu. Tentang bagaimana Adrian menyembunyikannya padamu."

​Aruna menghela napas, ia menyentuh tengkuknya sendiri. "Aku juga memikirkannya. Jika aku adalah kuncinya, kenapa kau tidak membawaku ke bank itu sekarang? Kenapa kita harus lari ke lubang tikus ini?"

​"Karena untuk membuka brankas itu, kau harus dalam keadaan sehat dan stabil, Aruna," Dante melangkah mendekat, suaranya rendah dan mengintimidasi. "Brankas itu menggunakan sistem biometrik tingkat tinggi yang dirancang Adrian. Tekanan darahmu, detak jantungmu, bahkan komposisi kimia dalam tubuhmu harus berada dalam parameter tertentu. Jika aku membawamu dalam keadaan stres atau terluka, sistem itu akan mengunci diri selamanya dan menghancurkan isinya."

​Aruna tertawa sumbang. "Jadi, kau menjagaku tetap hidup dan menyusui Leonardo bukan karena kau peduli padaku, tapi karena aku adalah instrumen yang harus dikalibrasi?"

​Dante berhenti tepat di depan Aruna. Ia membungkuk, menatap mata Aruna dengan intensitas yang membuat gadis itu menahan napas. "Menyusui Leonardo adalah cara terbaik untuk menjaga hormonmu tetap stabil. Itu adalah fakta biologis. Saat kau menyusuinya, tubuhmu melepaskan oksitosin. Itu membuatmu tenang, itu membuat jantungmu berdetak secara ritmis. Itu adalah 'kunci' yang diinginkan ayahmu. Kau harus menjadi seorang ibu agar kuncinya bisa berfungsi."

​Aruna tertegun. Jadi, peran keibuannya bagi Leonardo bukan hanya soal memberi makan bayi itu, tapi merupakan bagian dari mekanisme pengamanan kode rahasia tersebut. Adrian, ayahnya, telah merancang sebuah sistem di mana Aruna dipaksa untuk memiliki kasih sayang agar bisa mengakses warisannya.

​"Kau kejam, Dante," bisik Aruna. "Kau memanfaatkan insting alamiku untuk kepentingan bisnismu."

​"Aku tidak merancang sistem itu, Aruna. Ayahmu yang melakukannya. Aku hanya memastikan sistem itu bekerja," Dante meraih dagu Aruna, memaksanya mendongak. "Dan jangan berbohong padaku. Kau mencintai bayi itu. Aku melihatnya setiap kali kau menatapnya."

​Aruna memalingkan wajah. Ia tidak bisa membantah. Meski Leonardo adalah putra dari pria yang menculiknya, bayi itu tidak berdosa. Leonardo adalah satu-satunya hal murni yang tersisa di tengah kekacauan ini.

​Tiba-tiba, Leonardo menggeliat dan merintih kecil. Aruna segera menggendongnya. "Dia terbangun lagi. Sepertinya dia merasa tidak nyaman dengan udara dingin ini."

​"Berikan dia susu lagi," perintah Dante. "Itu akan membuatnya tidur dan menjagamu tetap tenang."

​Aruna membuka kancing kemejanya dengan gerakan yang kini sudah terbiasa, meski ada Dante di depannya. Ia mendekap Leonardo. Namun, saat Leonardo mulai menyusu, Aruna merasakan denyut aneh di telapak tangannya—tanda lahir berbentuk melati di pergelangan tangannya mulai terasa hangat, hampir seperti terbakar.

​"Dante... tanganku," Aruna memperlihatkan pergelangan tangannya.

​Tanda melati itu—tanda yang sejak kecil dianggap Aruna hanya tanda lahir biasa—kini tampak memerah dan berdenyut mengikuti irama isapan Leonardo.

​Dante meraih tangan Aruna, memeriksanya dengan teliti. "Ini dia. The Flowing Key. Sinyal biometriknya aktif saat kau sedang dalam fase menyusui aktif. Isapan bayi itu merangsang saraf yang terhubung dengan implan mikroskopis yang ditanam Adrian di bawah tanda lahirmu."

​Aruna menatap tanda itu dengan ngeri. "Ada sesuatu di dalam tubuhku?"

​"Sesuatu yang akan memberikan kita kunci ke akun itu," Dante menatap Aruna dengan binar obsesi yang mengerikan. "Tapi ini juga berarti kita tidak bisa berhenti. Jika kau berhenti menyusui Leonardo, tanda ini akan mendingin dan aksesnya akan hilang. Kau dan anakku terikat secara permanen sampai urusan ini selesai."

​Aruna merosot di tempat tidur, mendekap Leonardo lebih erat. Ia merasa seperti robot yang dikendalikan oleh kode-kode kuno ayahnya dan ambisi Dante.

​"Lalu apa yang akan terjadi jika brankas itu sudah dibuka?" tanya Aruna, suaranya bergetar. "Apakah kau akan membuangku? Atau membunuhku karena aku sudah tidak berguna?"

​Dante tidak segera menjawab. Ia menatap Leonardo yang sedang menyusu dengan tenang, lalu menatap Aruna. Untuk pertama kalinya, ada keraguan di mata sang mafia.

​"Jika kau memberikan apa yang aku butuhkan," ujar Dante pelan, "aku akan memastikan kau dan ibumu hidup mewah di manapun kalian mau. Tapi Leonardo... dia tetap bersamaku. Dia adalah Valerius."

​"Kau tidak bisa memisahkan kami!" teriak Aruna, meski dengan suara tertahan agar tidak mengejutkan bayi itu. "Dia membutuhkanku! Kau sendiri yang bilang, dia hanya tenang bersamaku!"

​"Maka tetaplah bersamaku, Aruna," Dante membelai rambut Aruna, sebuah gerakan yang terasa seperti kasih sayang namun memiliki beban rantai yang berat. "Jadilah Nyonya Valerius. Bukan karena paksaan, tapi karena kau tahu bahwa di luar sana, tidak ada tempat yang aman bagimu dan tanda lahir itu."

​Sebelum Aruna bisa membalas, suara deru mesin mobil terdengar dari kejauhan, membelah kesunyian desa nelayan. Cahaya lampu sorot menyapu dinding gubuk melalui celah kayu.

​"Sial," desis Dante. Ia segera mematikan lampu badai dan mencabut pistolnya. "Mereka menemukan kita lebih cepat dari perkiraanku."

​"Siapa? Luciano?"

​"Bukan. Ini bukan gaya Luciano. Lampu sorot itu... itu taktik tentara bayaran profesional," Dante menarik Aruna agar merunduk di lantai. "Dengar, Aruna. Apapun yang terjadi, jangan lepaskan Leonardo. Jika mereka menangkapmu, mereka akan mencoba memotong tanganmu untuk mendapatkan tanda lahir itu. Jangan biarkan mereka melakukannya."

​Aruna memeluk Leonardo dengan kekuatan yang luar biasa. Ketakutan yang hebat justru membuat aliran susunya semakin deras, seolah-olah tubuhnya secara otomatis berusaha memperkuat "kunci" itu di saat bahaya mengancam.

​DOR!

​Tembakan pertama menghantam pintu gubuk.

​"Ikuti aku melalui pintu belakang!" Dante melepaskan tembakan balasan ke arah jendela, menciptakan perlindungan sementara.

​Aruna berlari dengan Leonardo di pelukannya, menembus kegelapan malam. Di belakangnya, ia mendengar suara ledakan dan teriakan pria-pria dalam bahasa asing. Ia menyadari satu hal saat ia berlari di tengah hutan zaitun yang gelap: hidupnya kini benar-benar tergantung pada bayi di pelukannya. Bukan karena ia ibu susunya, tapi karena Leonardo adalah satu-satunya hal yang membuat "kunci" di tangannya tetap berdenyut.

​Dante melindunginya dari belakang, menembak siapa saja yang berani mendekat. Di tengah peluru yang beterbangan, Aruna melihat sisi lain dari Dante—bukan seorang penculik, tapi seorang ayah yang bersedia mati demi anaknya, dan seorang pria yang terobsesi melindungi wanita yang memegang kunci dunianya.

​"Ke arah tebing!" teriak Dante. "Ada jalan menuju gua bawah laut!"

​Aruna terus berlari, napasnya tersengal, dadanya terasa nyeri. Namun setiap kali ia merasakan denyut hangat di pergelangan tangannya, ia tahu ia harus bertahan. Ia harus tetap hidup, bukan untuk kode itu, tapi untuk bayi yang kini mulai menangis karena ketakutan.

​"Sstt... Leo... Ibu di sini..." bisik Aruna di tengah kekacauan.

​Malam itu, di bawah hujan peluru, Aruna Salsabila menyadari bahwa mahkota "Ibu Susu Mafia" yang ia kenakan kini telah berubah menjadi perisai. Dan ia akan menjadi kunci yang paling sulit dibuka oleh siapapun, termasuk oleh Dante Valerius sendiri.

1
adrina salsabila alkhadafi
sungguh novel yang bagus sekali,aku menantikan bab selanjutnya,jangan lama2 ya up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!