Ninda adalah Mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Tu Delft Belanda. Pada hari itu untuk pertama kalinya Ninda harus pergi keluar negri naik pesawat seorang diri, saat akan melakukukan check in Ninda mengalami kecelakkan yang di akibatkan oleh kelalayannya sendiri, saat itu lah dia bertemu dengan seorang pria bernama Noah, pertemuan itu meninggalkan kesan, namun Ninda tak berfikir akan beretemu lagi dengan pria itu, sampai akhirnya di pertemuan keluarga yang di adakan di kediaman Tonny Ayah Tiri Ninda dia bertemu lagi dengan Noah yang ternyata adalah adik sepupu Tonny ayah Tiri Ninda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Ulang Tahun Oppa Jhonatan
Tuk... Tuk... Tuk...
Suara langkah kaki itu mendekat. Ninda berjalan melintas di hadapan Noah. Sebelumnya dari kejauhan, Noah sudah menyadari kehadiran Ninda. Ninda tampak lebih bersinar malam ini. Dalam sepersekian detik, mata mereka bertemu, namun Ninda segera mengalihkan pandangannya, menghindari tatapan Noah. Jantungnya berdebar tak karuan.
Ninda mengikuti kedua orang tuanya dari belakang, begitu pun Asta. Mereka menghampiri Jonathan yang sedang bercengkrama dengan kedua anaknya, Deborah dan Noah. Di sana juga ada Hilda, anak Deborah, bersama suaminya, Billy. Di sisi Noah, Sarah tampak setia menempel, senyumnya merekah.
"Selamat ulang tahun, Uncle," Tonny mengucapkan sembari memeluk Jonathan, diikuti oleh Raya.
Kemudian, Tonny menyapa Noah, Deborah, dan Billy dengan pelukan hangat. Tak lupa, ia menyapa Sarah, adik dari sahabatnya.
"Sarah, kau tampak cantik sekali. Kenalkan, ini istriku, Raya," kata Tonny sambil memperkenalkan Raya.
"Hai, senang bertemu denganmu," sapa Sarah ramah sambil memeluk Raya.
Tonny kemudian menyuruh Asta dan Ninda untuk memberikan ucapan selamat kepada Jonathan. Mereka pun segera menghampiri kakeknya itu.
"Selamat ulang tahun, Opah," ucap Ninda pelan, senyum manis menghiasi wajahnya. Asta menyusul dari belakang, mengucapkan hal yang sama.
"Selamat ulang tahun, Opah Jhon," ucap Asta, tak lupa menyapa semua orang dengan senyum ceria.
"Terima kasih kalian sudah datang ke pestaku," ucap Jonathan dengan senyum lebar, tampak bahagia.
Tiba-tiba, mata Jonathan tertuju pada Ninda. Ada sesuatu yang berbeda dari gadis itu malam ini.
"Kau sangat cantik, Ninda. Kau tampak lebih dewasa," puji Jonathan sambil tersenyum hangat.
"Terima kasih, Opah," sahut Ninda, pipinya merona.
Noah hanya menatap Ninda dari samping. Ninda menyadari tatapan itu dan menunduk, berusaha bersikap biasa saja.
Deborah menyadari gelagat aneh itu dan menyikut lengan Noah. Noah menoleh ke arah kakaknya.
"Kamu yang waktu itu mengembalikan tumbler milik Noah, kan?" tanya Sarah, masih mengingat kejadian itu dengan baik, karena setelah itu Noah langsung menghilang beberapa saat.
"Iya, benar. Maaf waktu itu aku langsung pergi," ungkap Ninda sedikit kikuk.
"Tidak masalah. Kalau aku tahu kamu keponakan Noah, pasti kubiarkan masuk," ungkap Sarah sambil menatap Ninda.
Setelah berbasa-basi dan berbincang-bincang sebentar, Ninda dan keluarganya berpamitan dari hadapan Jonathan dan yang lainnya.
Seperti biasa, Ninda memisahkan diri, mencari tempat yang sepi. Sementara Asta berkumpul dengan Maria, Calvin, dan Sofia. Mereka bertiga tampak tak terpisahkan, asyik dengan dunia mereka sendiri, sampai lupa dengan sekelilingnya. Tanpa Asta sadari, ia sudah mengabaikan kakaknya.
Ninda keluar melalui pintu belakang. Di sana, berdiri sebuah rumah kaca yang cukup besar. Ninda merasa penasaran dan masuk ke dalamnya.
"Luar biasa," ucapnya takjub melihat berbagai jenis bunga yang ada di dalam rumah kaca itu.
Ia tak menghiraukan pesta yang sedang berlangsung di dalam rumah. Ia merasa nyaman berada di tempat itu, terlebih karena ia tak harus melihat kemesraan Noah dan Sarah.
Kemudian, ia memperhatikan bunga-bunga cantik itu satu persatu. Ia membungkuk di depan setangkai bunga, lalu memotretnya dengan ponselnya.
"Kamu cantik sekali," ucap Ninda, masih mengambil beberapa angle dari kamera ponselnya.
Tiba-tiba, seseorang menepuk bahunya. Ninda terperanjat kaget bukan main. Tangannya reflek menyikut mengenai wajah seseorang yang ada di belakangnya.
Ninda berbalik dan alangkah kagetnya ia melihat Noah sedang merintih kesakitan. Ninda bengong menatap Noah.
Darah segar mengalir dari hidung Noah. Ninda sangat panik. Ia mendekat ke arah Noah, mengambil tisu dari dalam tasnya, dan menyeka darah Noah dengan hati-hati.
"Uncle, hidungmu berdarah," ucap Ninda sambil menyeka darah Noah dengan hati-hati.
Noah menggenggam tangan Ninda. Ninda tersentak, menatap wajah Noah. Kemudian, Ninda menarik tangannya.
"Ninda, aku benar-benar bingung," ucap Noah sambil menatap wajah Ninda.
"Aku tak mau dengar apa-apa lahi ungcle,"
Ninda hendak pergi meninggalkan Noah, namun Noah menarik tangannya dan mendekapnya dalam pelukannya.
"Tolong jangan pergi!"
"Jangan begini, lepaskan aku," ucap Ninda.
"Jangan pergi, aku belum selesai bicara," ucap Noah masih mendekap Ninda. Ninda masih berusaha melepaskan diri, namun tenaganya tak cukup kuat.
"Aku mohon," ucap Noah memelas.
"Aku tak bisa," ucap Ninda lagi.
"Aku tak bisa berhenti memikirkanmu. Aku tidak bisa mencintai Sarah," Ninda mendorong Noah sekuat tenaga.
"Kau sangat kekanak-kanakan," ucap Ninda dengan wajah penuh amarah. Tangannya mulai memukul-mukul dada Noah.
"Aku sepertinya benar-benar mencintaimu," ungkap Noah menatap Ninda tajam, kemudian mencium Ninda. Ninda reflek menampar wajah Noah.
"Beberapa hari yang lalu kau bersikap seperti Uncle-ku, sekarang kau bilang mencintaiku?" ungkap Ninda sangat marah.
Noah memeluk Ninda lagi. Setiap Ninda akan berbicara, ia memeluknya dengan kuat.
"Kau memang benar-benar gila," kata Ninda sambil mendorong Noah. Kali ini Ninda bisa melepaskan diri dan mundur beberapa langkah.
"Uncle, kau pikir aku akan senang mendengarnya? Kau memang egois," Kali ini Ninda benar-benar meninggalkannya. Ninda berlari kecil untuk menghindari Noah, namun tiba-tiba Ninda menabrak seseorang yang tengah berdiri di depan pintu masuk rumah kaca itu.
Ninda kaget, kemudian menunduk sambil berlalu dari hadapan sosok itu. Sosok itu hanya tersenyum ke arah Ninda.
Noah tak kalah terkejutnya, melihat kakaknya Deborah sudah melotot menatapnya. Kemudian, ia menghampiri kakaknya yang tampak pasrah diam mematung.
"Bisa kita bicara?" kata Deborah sambil melangkah menuju sebuah bangku yang ada di sana. Noah mengikutinya dari belakang. Mereka pun duduk bersebelahan.
"Kau memang benar-benar tidak pernah berubah," ungkap Deborah dengan nada kesal.
"Aku benar-benar menyukai Ninda, Kak. Kali ini aku serius," mata Deborah melotot ke arah Noah.
"Lalu apa maksudmu mengenalkan Sarah pada Ayah?" ucap Deborah menahan amarah yang sudah di ubun-ubun.
"Logikaku memilih Sarah, tapi hatiku ternyata tak bisa," ungkap Noah lagi.
"Semudah itu kau mengubah keputusanmu?" tanya Deborah dengan tatapan yang sangat tajam.
"Aku hanya tergoda dengan kecantikan Sarah, tapi saat aku tak bersama Ninda, aku merasa kosong," ungkap Noah. Mendengar hal itu, Deborah semakin naik pitam.
"Aku tidak peduli. Aku tak ingin melihat Ayah kecewa. Dia sangat menyukai Sarah, kau tahu," ucap Deborah menatap Noah dengan tajam.
"Apa kau tahu, Ayah mengenalkan Sarah kepada kerabat kita. Dia sangat bangga."
"Aku akan segera membereskannya."
"Bagaimana? Kau akan menyakiti semua orang. Kau akan menyakiti Ayah, Sarah, Ninda, Tonny."
Noah menunduk, dia tak bisa berkata apa pun. Dia hanya terdiam tak menjawab dan menyangkal ucapan Deborah.
"Akan lebih menyakitkan bila aku terus berbohong," celetuk Noah membuat Deborah tak bisa berkata apa pun.
Sementara itu, Ninda memutuskan untuk memesan Uber dan pulang ke apartemen Jessica. Ia sempat mengirim pesan kepada Tonny dan Mamanya, memberi tahu bahwa ia harus pulang lebih cepat karena ada urusan mendesak berhubungan dengan kuliahnya. Ia berpikir alasan itu sangat tepat.
Sampai di depan pintu Apartemen Jessica, Ninda langsung menekan bel. Ia sempat menunggu sejenak, kemudian Jessica muncul dari balik pintu. Ninda langsung memeluknya, ia menangis seketika.
"Kamu kenapa? Ayo masuk," ucap Jessica. Kemudian mereka pun masuk ke dalam. Ninda masih menangis sesenggukan, kemudian menatap Jessica dan memeluknya lagi.
Jessica tak memaksa Ninda untuk berbicara. Ia mencoba menenangkannya dan membiarkannya puas meluapkan kesedihannya dengan mengelus punggungnya.