Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Rindu yang Menyiksa
#
Seminggu.
Seminggu sejak pertengkaran itu. Seminggu tanpa kabar. Seminggu tanpa... tanpa dia.
Zahra duduk di pinggir kasur tipis. Natap telepon genggam yang layarnya retak. Nggak ada pesan masuk. Nggak ada panggilan. Kosong. Kayak hatinya sekarang.
"Kenapa... kenapa Zahra kangen dia?"
Padahal dia yang minta Arkan jaga jarak. Dia yang bilang Arkan nggak berhak peduli. Dia yang... yang marah-marah.
Tapi kenapa sekarang... sekarang rasanya kayak ada bagian dari dirinya yang hilang?
"Zahra... kamu nggak salah... kamu cuma... cuma jaga harga diri kamu..."
Tapi kenapa rasanya... rasanya nggak tenang?
TOK TOK TOK.
Ketukan pintu. Zahra langsung simpen telepon genggam. Lap mata yang basah—entah sejak kapan air mata keluar.
"Sebentar!"
Dia buka pintu. Siti. Sahabatnya. Berdiri di sana sambil bawa plastik gorengan.
"Zahra... akhirnya ketemu juga. Dari seminggu yang lalu aku cari kamu. Telepon nggak diangkat. Kamu kemana aja?"
"Siti... masuk dulu..." Zahra buka pintu lebih lebar.
Siti masuk. Langsung natap Zahra dari atas sampe bawah. Mukanya... khawatir.
"Zahra... kamu kurus lagi. Mata bengkak. Wajah pucat. Kamu... kamu nggak makan?"
"Makan kok... cuma... cuma nggak nafsu aja..."
"Bohong." Siti taro plastik gorengan di lantai. Duduk. "Zahra, cerita. Ada apa?"
Dan Zahra cerita. Semuanya. Dari Arkan bayarin hutang, dia marah, mereka bertengkar, sampai sekarang nggak ada kabar sama sekali.
Siti dengerin tanpa interupsi. Mukanya... sedih. Campur bingung.
"...jadi sekarang kalian... kalian putus?"
"Nggak putus. Cuma... cuma jaga jarak. Kayak yang Zahra minta."
"Terus kenapa kamu nangis tiap hari? Kenapa kamu nggak makan? Kenapa kamu... kamu kayak orang kehilangan?"
Zahra diem. Nggak bisa jawab.
"Zahra... dengerin aku." Siti pegang tangan Zahra. "Aku ngerti kamu marah. Aku ngerti kamu ngerasa harga diri kamu diinjak. Tapi... tapi coba kamu pikir baik-baik. Arkan... dia lakuin itu karena dia sayang sama kamu. Dia... dia nggak ada maksud jahat. Dia cuma... cuma nggak mau liat kamu susah."
"Tapi Sit... Zahra nggak minta dia bantuin..."
"Aku tau. Tapi... tapi dia cowok. Cowok itu... cowok itu naluri nya pengen jaga cewek yang dia sayang. Pengen bantuin. Pengen... pengen jadi pahlawan. Dan Arkan... dia cuma lakuin apa yang dia pikir bener. Meskipun... meskipun kamu nggak suka."
"Tapi Zahra ngerasa jadi beban, Sit..."
"Kamu bukan beban. Kamu cuma... cuma terlalu keras kepala buat terima bantuan." Siti senyum sedih. "Zahra, aku pernah bilang kan... kamu harus realistis. Kamu nggak bisa terus-terusan tanggung semuanya sendiri. Kamu butuh orang. Dan Arkan... dia ada buat kamu. Kenapa kamu tolak?"
"Karena Zahra takut, Sit... takut suatu hari nanti dia... dia bilang Zahra terhutang budi... takut dia... dia anggap Zahra cuma manfaatin dia..."
"Arkan nggak kayak gitu." Siti tegas. "Aku belum pernah ketemu dia. Tapi dari cerita kamu... dia cowok yang tulus. Dia... dia beneran cinta sama kamu. Dan cinta itu... cinta itu nggak ngarepin balasan."
Zahra nangis. "Tapi Zahra udah nyakitin dia, Sit... Zahra bilang dia... dia nggak berhak peduli... Zahra bilang dia... dia orang luar... Zahra... Zahra jahat..."
"Kamu nggak jahat. Kamu cuma... cuma lagi emosi. Dan emosi itu... emosi itu bikin kita ngomong hal-hal yang nggak kita maksud." Siti peluk Zahra. "Zahra, dengerin aku. Kalau kamu beneran sayang sama dia... kalau kamu beneran nggak mau kehilangan dia... kamu harus minta maaf. Kamu harus... harus jelasin baik-baik. Jangan biarkan kesalahpahaman ini... kesalahpahaman ini ngerusak hubungan kalian."
"Tapi Sit... Zahra... Zahra malu... Zahra nggak tau harus ngomong apa..."
"Ngomong jujur aja. Bilang kamu marah karena kamu takut. Bilang kamu... kamu nggak bermaksud nyakitin dia. Bilang kamu... kamu kangen dia." Siti senyum. "Cowok itu... cowok itu suka cewek yang jujur. Yang nggak pake topeng. Dan Arkan... dia bakal ngerti. Aku yakin."
Zahra diem lama. Mikir.
"...tapi Sit... gimana kalau dia udah nggak mau sama Zahra? Gimana kalau dia... dia udah capek?"
"Nggak akan. Cowok kayak dia... cowok yang rela bayarin hutang kamu tanpa mikir dua kali... cowok yang rela mukul rentenir buat belain kamu... dia nggak akan gampang nyerah." Siti berdiri. "Sekarang kamu makan dulu. Terus beresin diri. Besok kamu temuin dia. Dan minta maaf. Oke?"
"...oke, Sit. Makasih..."
"Sama-sama. Sekarang makan. Nih pisang gorengnya masih anget."
---
Sementara itu, di apartemen Arkan, kondisinya nggak jauh beda.
Arkan tidur di sofa—meskipun ada kasur di kamar. Tapi dia males masuk kamar. Kamar itu... kamar itu penuh kenangan Zahra. Kenangan waktu dia baca buku tentang Islam. Kenangan waktu dia berdoa minta petunjuk. Kenangan... kenangan yang sekarang cuma bikin sakit.
"Kenapa... kenapa aku nggak ngerti dia?"
Dia udah nggak ke kantor tiga hari. Bolos. Bos nya udah nelpon berkali-kali tapi dia abaikan. Dia nggak peduli. Pikirannya cuma satu: Zahra.
Telepon genggam nya berdering. Nama di layar: **Kakak Alisha**
Dia angkat. Males. "Halo?"
"Arkan! Kamu kenapa nggak angkat telepon dari kemarin?! Aku khawatir!"
"Aku... aku baik, Kak."
"Bohong. Suara kamu serak. Kayak orang abis nangis berhari-hari." Alisha napas berat. "Arkan, ada apa? Kamu... kamu bertengkar sama Zahra?"
Arkan diem.
"Arkan? Jawab Kakak."
"...iya, Kak. Kami... kami bertengkar. Dan sekarang... sekarang kami... kami jaga jarak."
"Kenapa? Kenapa kalian bertengkar?"
"Karena aku... aku bayarin hutang dia. Dan dia marah. Dia bilang... dia bilang aku ngeremehkan dia. Dia bilang aku... aku nggak berhak peduli..." Suara Arkan pecah. "Kak... aku... aku cuma mau bantuin... kenapa dia... kenapa dia marah?"
Alisha diem sebentar. "...Arkan, dengerin Kakak. Zahra itu cewek yang punya harga diri tinggi. Dia... dia nggak mau jadi beban. Nggak mau... nggak mau ngerasa lemah. Dan waktu kamu bayarin hutang dia tanpa izin... dia ngerasa... ngerasa kamu nganggap dia nggak bisa ngapa-ngapain sendiri. Kamu ngerti?"
"Tapi aku nggak mikir kayak gitu! Aku cuma... aku cuma nggak mau dia susah..."
"Kakak tau. Tapi Zahra nggak tau. Dia cuma ngerasain... ngerasain kayak harga dirinya diinjak. Dan itu... itu nyakitin buat dia."
"Terus aku harus gimana, Kak? Aku... aku udah minta maaf... tapi dia... dia nggak mau denger..."
"Kamu harus kasih dia waktu. Waktu buat... buat tenang. Buat mikir. Dan nanti... nanti kalau dia udah siap... dia bakal balik. Percaya itu."
"Tapi Kak... aku takut... takut dia nggak balik... takut dia... dia udah nggak mau sama aku..."
"Nggak akan. Cewek yang beneran cinta... dia nggak akan gampang ngelepas cowok yang dia sayang. Meskipun dia marah. Meskipun dia... dia bilang dia nggak butuh kamu. Dia... dia tetep butuh kamu. Cuma dia belum siap ngakuin."
Arkan nangis. "Kak... aku... aku kangen dia... aku... aku nggak bisa kayak gini terus..."
"Kakak tau. Tapi kamu harus sabar. Kasih dia waktu. Dan... dan kamu juga harus fokus ke hal lain. Fokus ke... ke pencarian kamu. Pencarian jawaban soal agama. Itu... itu yang lebih penting sekarang."
"Tapi Kak... aku nggak bisa fokus... pikiranku cuma dia..."
"Arkan." Alisha nada nya tegas. "Kamu harus fokus. Karena... karena kalau kamu nggak nemuin jawaban... kalau kamu nggak yakin sama Islam... kamu bakal kehilangan dia selamanya. Dan itu... itu yang paling kamu takutin kan?"
Arkan diem. Alisha bener.
"...iya, Kak. Aku... aku takut kehilangan dia."
"Kalau gitu kamu harus berjuang. Berjuang cari jawaban. Berjuang... berjuang yakin. Dan kalau kamu udah yakin... kamu balik ke dia. Kamu bilang... kamu bilang kamu udah siap. Siap jadi muslim. Siap... siap nikah sama dia. Dan dia... dia bakal terima kamu. Percaya itu."
"...oke, Kak. Aku... aku bakal coba."
"Bagus. Sekarang mandi. Makan. Beresin apartemen. Terus pergi ke masjid. Cari ustadz. Tanya. Belajar. Jangan buang waktu."
"Iya, Kak. Makasih..."
"Sama-sama. Kakak sayang kamu. Apapun keputusan kamu."
KLIK.
Arkan taro telepon genggam. Napas dalam.
"Oke. Aku harus fokus. Aku harus... aku harus nemuin jawaban. Buat dia. Buat... buat kita."
---
Malem itu, Zahra sholat isya. Sujud lama. Doa panjang.
"Ya Allah... hamba minta maaf... hamba... hamba udah nyakitin dia... hamba bilang hal-hal yang... yang nggak seharusnya hamba bilang... tapi Ya Allah... hamba cuma takut... takut dia anggap hamba... hamba cuma manfaatin dia... tolong... tolong maafin hamba... dan tolong... tolong kembalikan dia ke hamba... kalau dia memang jodoh hamba..."
Air mata basahin sajadah.
"Ya Allah... hamba kangen dia... hamba... hamba nggak bisa kayak gini terus... tolong... tolong kasih hamba kekuatan buat... buat minta maaf ke dia... tolong... tolong jangan biarkan kesalahpahaman ini... kesalahpahaman ini ngerusak cinta kami..."
Dia sujud lama. Sampe lutut kebas. Sampe punggung pegal.
Tapi dia nggak mau bangun.
Karena di sujud ini... dia ngerasa deket sama Allah. Ngerasa... ngerasa ada yang dengerin tangisannya.
"Ya Allah... tolong... tolong tunjukkan jalan... buat hamba... dan buat dia..."
---
Di sisi lain, Arkan duduk di lantai apartemen. Di tengah gelap. Buka Quran. Baca pelan.
Surat Ar-Rum ayat 21.
"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenang kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kamu kasih sayang dan rahmat. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir."
Arkan baca berkali-kali. Pelan. Mencoba ngerti.
"Pasangan... kasih sayang... rahmat..."
Dia mikir tentang Zahra. Tentang gimana dia ngerasa tenang tiap kali deket sama Zahra. Gimana dia... dia ngerasa hidup punya arti tiap kali liat Zahra senyum.
"Apa... apa ini tandanya? Tanda... tanda Allah ngasih aku Zahra?"
Dia tutup Quran. Napas panjang.
"Tuhan... aku bingung... aku masih... masih ragu... tapi... tapi aku mulai ngerti... mulai... mulai ngerasa ada sesuatu yang... yang narik aku ke Islam... tolong... tolong tunjukkan dengan jelas... apa... apa Islam ini jalan yang bener buat aku?"
Dan malam itu... keduanya tidur dengan hati yang sama-sama sakit.
Tapi juga... juga penuh harapan.
Harapan kalau... kalau suatu hari nanti... mereka bisa ketemu lagi.
Dengan cara yang lebih baik.
Dengan... dengan nggak ada kesalahpahaman lagi.
---
**BERSAMBUNG KE BAB 25...**