Demi menjalankan sebuah misi penting, Dinda rela melakukan apa saja untuk mendekati tetangga barunya yang super cuek dan dingin.
Tapi setelah dia mendapatkan yang ia inginkan dan berhenti mengejar lelaki itu, lelaki itulah yang berbalik mendekatinya.
Dan ternyata ada rahasia besar di antara keduanya.
jangan lupa like dan komen 💛
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinta Kuning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Enambelas (Pov Author)
Brak!
Prang!
Mamanya Bagas menggebrak meja kaca hingga pecah, pun semua yang terhidang di atas meja ikut tumpah berhamburan juga berterbangan. Membuat semua orang dalam ruang tamu itu terkejut dan melarikan diri. Kecuali Dinda, Bagas, dan kedua orangtua mereka.
Pak Handoko menahan istrinya yang sedang dikuasai amarah.
“Kurang ajar kau ya Danu! Berani sekali kalian mempermalukan keluarga kami. Kenapa kalian tidak bilang dari awal kalau anak gadis kalian sudah dilamar, Hah!” wanita paruh baya itu memaki. Matanya merah melotot. “Lelaki mana yang sudah melamar anak gadis perawan tuamu itu? Jangan-jangan lelaki itu sudah mencicipinya, iya?”
“Harusnya kalian berterima kasih dengan kami yang mau mengangkat anak gadis perawan tua kalian ini menjadi menantu kami. Seperti yang kalian katakan sendiri, kami orang terpandang di sini!”
“Kami masih mampu mencarikan putra kami perempuan yang jauh lebih layak daripada putri kalian, tapi karena desakan dari Bagas, kami terpaksa melakukannya.”
“Ma, tenang Ma.” pak Handoko menenangkan istrinya.
“Jadi ini alasannya kenapa kalian tidak mengadakan sambutan yang mewah? Selain karena miskin, kalian memang dari awal menganggap kedatangan kami hanya lelucon! Benarkan?”
“Ma, pelan-pelan aja ngomongnya, nggak enak didengar tetangga.”
“Papa mending diam!” bentaknya.
“Iya, tapi kita bicarakan baik-baik jangan seperti ini,” mantan lurah itu masih berusaha menenangkan sang istri, meski dia tahu istrinya tidak suka, tapi ia terpaksa sebab mereka ditengah umum. Sebab tetangga rumah Dinda mulai berkumpul depan pagar, “Duduk ya mama sayang.” bujuknya.
Sedangkan Bagas, ia mematung ditempatnya. Tatapan matanya kosong, seolah tidak terganggu dengan yang dilakukan sang ibu.
“Mama tarik napas dulu, ayo kita duduk.” ujar pak Handoko, ia menuntun istrinya ke sofa yang jauh dari pecahan kaca.
Dinda dan ibu Elyana berpegangan erat, mereka pun sama-sama gemetar. Belum pernah mereka melihat hal semacam barusan apalagi langsung di depan mata.
“Pak Danu, bisa dijelaskan maksud penolakan ini?” kata pak Handoko dingin, tidak ada lagi bicara ramah seperti biasanya.
“Pak Handoko, bu Ajeng, dan nak Bagas. Sebelumya kami sudah meminta maaf perihal kami tidak menerima lamaran tersebut. Seperti yang saya katakan diawal, bahwa putri kami, Dinda, sudah ada yang melamar jauh sebelum keluarga pak Handoko berniat datang ke rumah kami.”
“Siapa?” Bagas bertanya dengan suara rendah, seperti bukan Bagas yang hangat. “Siapa lelaki itu, Dinda?” tanyanya menatap tajam Dinda, tidak ada lagi tatapan lembut untuk Dinda.
Gadis itu mematung, ia pun tidak tahu.
Keterdiaman Dinda kembali memancing emosi mamanya Bagas, “Kenapa kau tidak bilang dari awal Elyana! Kau sengaja karena memang ingin mempermalukan kami ‘kan? Kenapa? Kau masih dendam dengan uang arisan waktu itu, iya ‘kan?”
Ibu Elyana terkejut untuk kesekian kalinya. Terkejut karena mamanya Bagas membahas sesuatu yang sudah sangat lama. Dan mereka tidak pernah sekalipun mengingat dan menginginkan hal itu.
“Batalkan lamaran dia, Dinda. Kamu hanya boleh menikah denganku, dengan Bagas! Dinda hanya boleh menerima lamaran Bagas!” ucap Bagas menggebu dengan bibir bergetar menahan tangis.
“Pa!” tegur bu Ajeng, menyuruh suaminya menuruti keinginan sang putra kesayangan.
“Pak Danu. Batalkan lamaran lelaki itu, dan terima lamaran kami!” ujar pak Handoko.
Pak Danu tersenyum tipis, ia menggelengkan kepalanya sekilas, tidak menyangka dengan respon keluarga mantan lurah itu begitu berlebihan, “Pak Handoko, lamaran itu tidak bisa dibatalkan seperti bapak membatalkan beli kambing,” sindirnya. “Bapak bisa tanyakan dengan ustadz, bahwa dilarang melamar seorang gadis yang sudah dilamar orang, terutama kami sudah menerima lamarannya.”
Seketika Dinda menatap sang Ayah. ‘maksud Ayah apa?’ batinnya. Ia benar-benar tidak mengerti.
Pak Handoko mengangguk, kebetulan ia memang mengajak seorang ustadz ke dalam rombongannya. Sekaligus persiapan, siapa tahu sang putra langsung minta dinikahkan. Pun, mantan lurah itu juga membawa seseorang yang jika dibutuhkan untuk sebagai saksi pernikahan.
Sang ustadz yang tadinya memilih keluar dikarenakan sudah wilayah privasi melihat mamanya Bagas mengamuk, ia kembali masuk karena dipanggil oleh pak Handoko.
“Memang benar Pak Handoko, dilarang melamar wanita yang sudah dilamar pria lain menurut ajaran Islam, terutama jika lamaran pertama telah diterima, karena ini dianggap mengganggu hak orang lain dan bisa menimbulkan konflik. Sama seperti halnya tidak boleh membeli barang yang sudah dibeli orang lain.” ucap sang ustadz.
Semuanya terdiam, tidak ada lagi yang berani membantah. Bu Ajeng berdiri menggandeng sang putra, “Ayo kita pulang! Nanti mama carikan kamu istri yang lebih layak untuk dijadikan menantu mama.”
“Tapi istri Bagas bukan untuk mama, istri itu untuk Bagas, Mama! Bagas cuma mau Dinda yang jadi istri Bagas!” rengek lelaki itu.
“Bagas!” bentak pak Handoko tanpa sadar.
Bukannya diam, Bagas semakin menangis kencang. “Papa sama mama jahat!?”
Pak Handoko meminta rombongannya untuk membawa Bagas ke mobil, ia takut kehilangan kendali dan itu bisa merusak reputasinya.
Sedangkan bu Ajeng mengambil kembali bingkisan-bingkisan yang mereka bawa, pun hadiah dari bu Elyana tak lupa ia bawa.
Mereka keluar dari kediaman orangtua Dinda dengan pongahnya juga melengos kasar, tidak ada ucapan pamit apalagi maaf.
“Pak Danu, saya perwakilan sebagai tamu undangan dari pak Handoko minta maaf sebesar-besarnya, terutama untuk kekacauan ini. Maaf beribu-ribu maaf.” ucap pak ustadz takzim, sang tuan guru benar-benar tulus mengucapkannya. Wajahnya sangat terlihat tengah bersedih.
“Tidak apa-apa ustadz, bukankah dunia ini memang tempatnya ujian?” kata Ayahnya Dinda menyelipkan sedikit canda diucapannya.
Sang ustadz mengangguk tipis, ia berjongkok hendak mengumpulkan pecahan beling, namun dengan cepat pak Danu menahan.
“Jangan ustadz, biar kami saja. Tolong jangan lakukan.” ujar pak Danu memohon.
Ustadz tersebut menatap sekali lagi ruang tamu yang sangat berantakan, “Maaf ya, Pak.” katanya lagi.
Pak Danu menuntun sang ustadz sampai depan rumah, bukan maksud mengusir hanya saja tidak mau merepotkan pria paruh baya itu. Toh itu bukan kesalahannya.
Sedangkan Dinda dan ibunya membersihkan rumah dalam diam. Keduanya masih sibuk dengan pikiran mereka sendiri.
“Dinda, pipi kamu berdarah!” ucap bu Elyana sedikit berteriak dan memancing pak Danu segera mendekat.
Mereka semua baru menyadarinya, pun saat mamanya Bagas menggebrak meja mereka tidak sempat menghindar. Dinda memang duduk lebih dekat dengan wanita itu.
“Darah apa? Coba ayah lihat? Ya Allah... Kena pecahan beling.” ujar ayah Danu saat melihat wajah putrinya.
Dinda sendiri tidak menyadari, rasa sakitnya pun ia tidak merasakan.
“Ke rumah ustadzah Laila sekarang juga, Yah!” ujar bu Elyana.
Dinda sontak tersentak, “Buat apa, Bu?” ia ingin menolak.
“Ya untuk berobat Dinda, apalagi? Kamu lupa kalau mas Aydan anaknya ustadzah Laila itu dokter?” jawab ibunya cepat.
“Nggak usah, biar Dinda obati sendiri.” tolaknya.
“Dinda, nurut sama ibu ya?” ucap sang Ayah penuh kasih, “Nanti infeksi kalau nggak diobati dengan benar, Nak.”
Tubuh Dinda masih sedikit gemetar, kejadian yang baru saja terjadi baginya seperti mimpi buruk. Ia hanya diam.
“Nanti ibu yang meminta mas Aydan kemari.” ucap bu Elyana final, ia masuk ke kamarnya untuk menghubungi dokter muda itu.
Hanya selang waktu lima menit, dokter itu datang bersama ibunya.
Raut wajah ustadzah Lailatul begitu panik, ia masuk lebih dulu bahkan lupa mengucapkan salam.
“Kenapa bisa begini bu El? Ya Allah Dinda... ” ucapnya, mengelus pelan wajah gadis itu. “Dan cepat Dan, cabut belingnya dari pipi Dinda.” netra Ummi Lailatul berkaca.
“Ummi, Dinda nggak papa, tenang aja. Ini cuma luka kecil kok.” kata Dinda santai.
Dokter Aydan segera menyiapkan obat dan alat yang dibutuhkan, ia sudah duduk di hadapan gadis itu dan akan memulai operasi kecilnya.
Hembusan napas Dinda menerpa wajahnya, rasanya ia ikut merasakan ketika gadis itu meringis kesakitan. Dinda memejamkan matanya selama pengobatan.
Sebelum menutup dengan plester, dokter Aydan meniup pelan pipi Dinda setelah ia mengoleskan salep, gadis itu kontan membuka mata. Membuat netra keduanya bertemu.
“Ekhem!?”
\*\*\*\*
**Reader-nim, mau nanya... Enakeun Pov Dinda atau Pov author? komen ya... Gumawo** :)
kim dinda minggu depan akan ada resepsi ngak ada bantahan kah, jadi sudah sangat legowo
double up dong😍