"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa bersalah
Lampu neon di koridor rumah sakit menerangi wajah Jacob dengan warna kebiruan yang membuatnya tampak lebih pucat dari biasanya. Jacob berdiri seperti patung batu di depan pintu Ruangan Perawatan Khusus, tangan kanannya terus menggosok bagian belakang lehernya hingga kulitnya mulai memerah. Napasnya terengah-engah seolah baru saja berlari jauh, padahal ia hanya berdiri di tempat itu selama lima menit terakhir saja.
Di hadapan Jacob berdiri seorang wanita cantik yang selama ini menjadi pusat dunianya, wanita yang teramat Ia cintai, sekaligus wanita yang telah Ia sakiti hatinya.
"Jadi, kau sudah tahu hubunganku dengan Ara, Yasmin? Sejak kapan?"
Suara Jacob terdengar pelan dan bergetar, tidak berani menatap mata Yasmin yang berdiri beberapa langkah di depannya. Mata pria dewasa itu terpaku pada sepasang sepatu hak rendah warna nude yang dikenakan sang istri sah, sepatu yang pernah Ia belikan sebagai hadiah ulang tahun Yasmin tiga tahun yang lalu. Sepatu yang dulunya bersih, kini sudah ternoda karena terkena tumpahan cairan medis.
Yasmin menghela napas perlahan, tangannya yang berada di dalam kantong jas medisnya terkepal dengan sangat erat. Yasmin melihat Jacob dari ujung kaki hingga ujung kepala, memperhatikan bagaimana dasi biru sang suami yang sudah kusut, kerah kemeja putihnya sedikit terlipat, dan rambutnya yang biasanya rapi kini tampak acak-acakan. Meskipun rasa sakit dan kemarahan masih membakar dada nya, Yasmin tetap berusaha menjaga agar nada suaranya tetap stabil.
"Ya, sudah lumayan lama." Jawaban Yasmin terdengar santai, namun ada nada tegas yang tersembunyi di dalamnya.
Hati Yasmin terasa seperti di tusuk belati ketika kembali mengingat kejadian itu, saat di mana dunianya runtuh, saat tidak sengaja Ia melihat Jacob yang sedang dalam keadaan mabuk berat membeberkan semua kebusukannya bersama Ara di hadapan teman-temannya.
Jacob terkejut mendengarnya, pundaknya terkulai lebih rendah lagi. Rasa bersalah yang sudah lama mengganjal di dadanya kini seperti batu besar yang terus menekan hingga ia merasa sulit untuk bernapas. Jacob menutup wajahnya sebentar dengan kedua tangan, mencoba menenangkan diri sebelum berbicara lagi.
"Jika kau sudah tahu sejak lama, kenapa kau tidak marah padaku Yasmin? Kenapa kau bersikap seolah tidak terjadi apa-apa? Aku sudah bersiap menerima kemarahanmu, bahkan hukuman apapun yang akan kau berikan padaku. Tapi kau... kau hanya tersenyum dan bertanya bagaimana pekerjaanku setiap hari seperti biasa!"
Suara Jacob mulai naik, menarik perhatian beberapa perawat yang lewat. Jacob segera berdehem untuk menetralkan kegugupannya, melihat sekeliling dengan wajah memerah karena malu. Diamnya Yasmin setelah itu membuat rasa bersalah yang Jacob rasakan malah semakin besar hingga terasa menusuk sampai ke jantung, seolah ada jarum yang terus menusuk tanpa henti.
Yasmin mengangkat tangannya perlahan sebelum Jacob sempat mengatakan sesuatu lagi. Jari-jarinya yang ramping dan panjang, yang biasanya terlihat anggun saat memegang alat bedah, kini tampak tegang saat mengangkatnya.
Yasmin tahu Jacob akan mulai menjelaskan bahwa hubunganya dengan Ara hanyalah sebuah kesalahan, bahwa Ara hanya putri dari pasiennya yang sedang rapuh dan membutuhkan dukungan, atau bahkan mengatakan bahwa Ia merasa tertekan dengan desakan orang-orang yang terus bertanya kapan hadirnya seorang momongan di tengah rumah tangga mereka. Dan Yasmin tidak mau mendengar semua itu, tidak sekarang, besok atau kapanpun itu.
"Kau tidak perlu menjelaskan apapun padaku, Jacob. Aku sudah cukup tahu bagaimana semuanya berawal dan berlanjut."
Yasmin bergerak sedikit mendekat, matanya kini menatap langsung ke arah Jacob yang masih menunduk. Ada kebencian yang terlihat di dalam mata coklat itu, namun juga ada rasa kasihan yang sulit untuk disembunyikan.
Yasmin bisa merasakan sendiri seakan seluruh Dunia terus menekan mereka berdua hanya karena rumah tangga mereka tidak sempurna seperti yang lainnya, hanya karena tidak ada tawa malaikat kecil di tengah rumah tangga mereka yang terlihat nyaris sempurna. Tapi Yasmin tetap tidak bisa membenarkan pengkhianatan yang telah dilakukan Jacob.
"Oh ya, bagaimana rasanya Ara? Pasti rasanya segar ya seperti buah persik yang baru matang, kulitnya halus, badannya menarik, dan pelayanannya di atas ranjang..." Kata-kata Yasmin penuh dengan sindirian, namun di balik itu ada rasa kehilangan yang teramat dalam.
Yasmin masih ingat bagaimana Jacob dulu selalu membawa buah persik saat mereka baru menikah, mengatakan bahwa buah itu selalu membuatnya teringat akan keindahan Yasmin. Namun belakangan ini, buah persik jarang muncul di meja makan rumah mereka, digantikan oleh buah lain yang tentunya lebih segar dan menarik.
Jacob mengangkat kepalanya dengan tergesa-gesa, matanya sudah merah karena air mata yang mulai menetes. Ia ingin segera membantah, ingin mengatakan bahwa tidak ada yang bisa menggantikan Yasmin dalam hatinya, namun kata-katanya seperti tercekat di tenggorokan.
"Aku bisa jelaskan semuanya Yasmin, aku dan Ara hanya... Dia sedang dalam kesulitan, Dia sendirian merawat Ibunya di kota sebesar ini, dan aku hanya ingin membantunya. Aku tidak pernah bermaksud menyakiti kamu, tidak pernah!"
Suara Jacob bergetar dan penuh dengan rasa bersalah. Jacob mencoba meraih tangan Yasmin, namun wanita itu dengan cepat menarik tangannya menjauh dari sang suami. Di balik pintu ruangan, terdengar suara monitor yang mulai berbunyi lebih cepat, menandakan kondisi Ara semakin memprihatinkan.
"Cukup Jacob!"
Yasmin memotong kata-kata Jacob dengan suara yang lebih keras dari biasanya, membuat Jacob langsung diam. Yasmin melihat ke arah pintu ruangan dengan ekspresi yang semakin serius.
"Kondisi Ara sedang kritis sekarang, tekanan darahnya turun drastis dan plasentanya mulai menurun. Kau tidak ingin sesuatu sampai terjadi pada calon anak kalian kan andai aku terlambat menangani Ara? Aku sudah mempersiapkan semua alat dan obat yang dibutuhkan, tapi aku butuh waktu yang tepat untuk melakukan prosedurnya."
Yang dikatakan Yasmin bukanlah omong kosong. Sebagai spesialis kandungan dengan pengalaman lebih dari sepuluh tahun, hanya dirinyalah yang mampu menangani kasus komplikasi kehamilan seperti yang dialami Ara. Beberapa dokter lain sudah mencoba memberikan pertolongan, namun tidak ada yang berhasil menghentikan kondisi Ara yang semakin memburuk.
Jacob menggeleng pelan, raut wajahnya penuh dengan keputusasaan dan rasa bersalah yang saling bergelut. Ia tahu bahwa tanpa bantuan Yasmin, Ara dan anak di dalam kandungannya tidak akan selamat. Ia tidak punya pilihan lain selain membiarkan sang istri merawat wanita yang sedang mengandung anaknya.
"Aku... aku tidak tahu harus berterima kasih atau meminta maaf padamu, Yasmin."
Kata-kata Jacob terdengar pelan seperti bisikan angin. Yasmin hanya melirik sekilas, kemudian mengambil kartu akses dari saku jasnya untuk membuka pintu ruangan. Sebelum memasuki ruangan, Yasmin berbalik sebentar dan melihat ke arah Jacob dengan tatapan yang sulit ditebak maknanya.
"Setelah semua ini selesai, kita perlu berbicara dengan serius, Jacob. Tentang kita, tentang masa depan rumah tangga kita, dan tentang segala sesuatu yang telah kamu sembunyikan dariku." Ucap Yasmin dengan nada dingin.
Saat pintu ruangan tertutup dengan suara klik di depan matanya, Jacob merasakan betapa berat beban yang harus ditanggungnya. Jacob jatuh jongkok di lantai koridor, menangis dalam sunyi.
Mencuri hati dua wanita sekaligus, menyakiti orang yang paling dicintainya, dan sekarang harus menyaksikan orang yang dia sakiti merawat orang yang menyebabkan semua kesakitan ini. Rasanya lebih menyakitkan dari kematian.
Bersambung....