NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Keesokan harinya, kabut tipis masih menyelimuti taman kota yang terletak tak jauh dari kompleks sekolah. Tia sengaja datang lebih awal untuk menghirup udara segar, berharap rasa pening yang menderanya sejak bangun tidur bisa memudar. Namun, semakin ia mencoba mengingat detail mimpi aneh semalam, kepalanya justru terasa semakin berdenyut.

Di sisi lain taman, Surya berjalan dengan langkah gontai. Pikirannya masih tertambat pada percakapannya dengan Dokter Fatih tempo hari tentang tia.

Langkah Surya terhenti saat ia melihat sosok wanita yang sangat ia kenali sedang duduk di bangku taman di bawah pohon. Itu Tia. Namun, Tia tidak sedang tersenyum ceria seperti biasanya.

Tia mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan. Matanya terpejam rapat, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di dalam kepalanya, bayangan-bayangan buram berputar seperti kaset rusak

mulai dari Suara tangis bayi yang melengking.

Seorang pria yang membelakangi cahaya, mengulurkan tangan padanya.

Tawa seorang anak kecil yang memanggilnya dengan sebutan yang... hilang.

"Siapa... siapa kalian?" gumam Tia lirih. Rasa sakit itu seperti menghantam sarafnya dengan palu godam. Setiap kali ia mencoba memperjelas wajah pria di memorinya, bayangan itu buyar menjadi titik-titik cahaya putih yang menyilaukan.

"Bu Tia? Anda tidak apa-apa?"

Suara bariton yang berat dan tenang itu menembus kabut rasa sakit di kepala Tia. Ia mendongak dengan susah payah. Di depannya, berdiri Pak Surya. Wajah pria itu tampak sangat khawatir, namun ada sesuatu di balik tatapannya yang membuat jantung Tia berdegup dua kali lebih cepat.

"Pak... Pak Surya," bisik Tia. Ia mencoba berdiri, namun keseimbangannya goyah. Dunia di sekelilingnya terasa berputar.

insting Surya mengambil alih. Sebelum Tia jatuh ke tanah, Surya sudah lebih dulu menangkap bahunya dan menuntunnya kembali duduk di bangku. Tanpa sadar, Surya meletakkan telapak tangannya di dahi Tia untuk mengecek suhu tubuh perempuan itu.

"Napas, Bu Tia. Ikuti suara saya. Tarik napas pelan-pelan," instruksi Surya dengan nada yang lembut namun otoriter.

Tia tertegun. Sentuhan tangan Surya di dahinya terasa begitu... pas. Seolah-olah kulit mereka sudah memiliki memori tersendiri yang melampaui logika otak. Rasa pening yang tajam itu perlahan mereda, digantikan oleh sensasi hangat yang menjalar dari titik sentuhan Surya.

"Maaf, Pak... saya tiba-tiba merasa pening sekali," ujar Tia sambil memegangi dadanya. "Rasanya seperti ada banyak gambar yang memaksa masuk ke kepala saya, tapi semuanya buram. Saya melihat seorang pria dan anak kecil... tapi saya tidak tahu siapa mereka."

Tangan Surya gemetar mendengar pengakuan itu. Ia menarik tangannya kembali, berusaha menjaga profesionalitas meski hatinya terasa seperti diremas.

"Mungkin Anda hanya kelelahan karena beradaptasi dengan lingkungan baru," bohong Surya, suaranya sedikit serak. "Jangan dipaksakan untuk diingat. Dokter bilang... maksud saya, secara medis, tekanan psikologis bisa membuat fisik kita bereaksi."

Tia menatap Surya dengan intens. Di jarak sedekat ini, ia bisa mencium aroma parfum Surya, perpaduan kayu cendana dan sedikit aroma jeruk purut.

Tiba-tiba, jantungnya mencelos.

Deg

Aroma ini.

"Pak Surya," panggil Tia pelan, membuat Surya yang hendak berdiri kembali menoleh.

"Aneh sekali. Saat Bapak memegang tangan saya tadi, rasa sakitnya hilang. Dan aroma ini... rasanya seperti saya pernah menciumnya setiap hari, dalam waktu yang sangat lama."

Surya terpaku. Ia merasa seolah oksigen di taman itu mendadak hilang. Ia teringat saran Fatih Jangan memaksanya ingat. Biarkan dia mengenalmu sebagai orang baru.

"Semua orang punya aroma yang mirip, Bu Tia," jawab Surya dengan senyum pahit yang disembunyikan. "Mari, saya antar Anda ke UKS sekolah atau ke klinik terdekat. Anda tidak mungkin mengajar dengan kondisi seperti ini."

Tia mengangguk pelan, menerima bantuan Surya untuk berdiri. Saat mereka berjalan berdampingan menuju mobil, Tia sesekali melirik dari samping wajah Surya. Di dalam benaknya, kepingan puzzle yang acak itu mulai sedikit tenang, namun satu pertanyaan besar tetap menggantung, Mengapa pria yang tampak begitu dingin dan formal ini, terasa seperti rumah bagi batinnya

......................

Di sebuah restoran privat yang sunyi, suasana terasa mencekam. Dokter Sarah duduk tegak dengan tangan yang mengepal di bawah meja. Di hadapannya, kedua orang tuanya, Tuan dan Nyonya Wijaya, menatapnya dengan tatapan yang menuntut kepatuhan mutlak.

Nyonya Wijaya meletakkan sebotol kecil obat tanpa label di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke arah Sarah.

"Pastikan Tia meminum ini secara rutin, Sarah. Dosisnya perlu ditingkatkan karena belakangan ini dia mulai sering mengeluh pening dan melihat bayangan masa lalu," ujar Nyonya Wijaya dengan nada dingin, seolah sedang membicarakan resep masakan, bukan kesehatan adiknya sendiri.

Sarah menatap botol itu dengan getir. Sebagai seorang dokter, ia tahu persis apa isinya, penekan saraf yang kuat yang dirancang untuk menghambat proses pemulihan memori pasca-trauma.

"Ma, Pa... Sarah tidak bisa melakukan ini lagi," suara Sarah bergetar namun tegas. "Obat ini bukan menyembuhkan, tapi merusak. Tia mulai merasakan efek sampingnya. Kepalanya sakit luar biasa karena otaknya mencoba melawan hambatan kimiawi ini. Memori itu adalah hak Tia. Kita tidak bisa terus-menerus mengunci masa lalunya."

Tuan Wijaya menggebrak meja pelan, membuat gelas di atasnya berdenting. "Kita melakukan ini untuk kebaikannya! Kamu lupa bagaimana hancurnya dia belas tahun lalu? Dia hampir kehilangan nyawanya karena terobsesi melindungi pria itu dan anaknya!"

"Tapi mereka hanya sahabat, Pa! Surya dan Tia tidak pernah melakukan kesalahan apa pun," bantah Sarah. "Surya pria yang baik, dan Dafa... Dafa itu anak yang butuh kasih sayang seorang ibu. Kenapa Papa dan Mama begitu membenci mereka sampai tega menghapus identitas Tia?"

"Karena bagi kami, Surya adalah simbol kegagalan Tia!" sahut Nyonya Wijaya tajam. "Tia punya masa depan cerah, tapi dia malah menghabiskan waktunya mengurus anak orang lain dan terjebak dalam masalah keluarga orang lain. Kami sudah memberinya 'lembaran baru' yang bersih. Jika dia ingat Surya, dia akan kembali ke kehidupan yang menyedihkan itu. Kami tidak suka dia berhubungan dengan siapa pun dari masa lalu itu, apalagi Surya."

Sarah menggelengkan kepalanya, air mata mulai menggenang. "Masa lalu tidak bisa dihapus dengan obat, Ma. Tadi pagi, Tia bertemu Surya di taman. Tubuhnya mengenali Surya meski otaknya tidak. Jika Sarah terus memberikan obat ini, sarafnya bisa rusak permanen. Sarah tidak mau membunuh adik Sarah sendiri secara perlahan."

Tuan Wijaya berdiri, menatap Sarah dengan sorot mata mengancam. "Dengar, Sarah. Kamu adalah kaka nya juga dokter pribadinya. Jika kamu menolak, kami akan mencari dokter lain yang bisa menuruti semua keinginan kami. Dan saat itu terjadi, kamu tidak akan punya akses lagi untuk melindungi adikmu."

Sarah terdiam. Ancaman itu nyata. Jika ia mundur, orang tuanya mungkin akan menyewa seseorang yang jauh lebih kejam untuk mencuci otak Tia sepenuhnya.

"Pikirkan baik-baik, Sarah," bisik Nyonya Wijaya sambil memakai kacamata hitamnya. "Biarkan dia tetap menjadi Tia yang ceria tanpa beban, daripada menjadi Tia yang hancur karena ingatan tentang pria bernama Surya itu."

Kedua orang tuanya pergi meninggalkan Sarah sendirian di ruangan itu. Sarah menatap botol obat di meja dengan tangan gemetar. Ia berada di persimpangan yang mengerikan, antara memberikan obat itu untuk tetap bisa mengawasi Tia, atau berhenti dan membiarkan adiknya jatuh ke tangan yang lebih berbahaya.

1
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!