Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan Madame X
Cahaya lampu kota Paris berkilau di atas permukaan sungai Seine, namun bagi Elara Vanya, keindahan itu terasa seperti fatamorgana yang menipu. Luka di bahu Zian belum sepenuhnya sembuh, dan napas pria itu masih sedikit pendek saat mereka berdiri di balkon sebuah apartemen tua di distrik Le Marais.
"Madame X tidak akan bersembunyi di bunker," Zian berkata sambil meneropong gedung Opera Garnier yang megah di kejauhan. "Dia adalah wanita yang menyukai panggung. Malam ini ada gala amal untuk yayasan 'L'Avenir'. Itu adalah kedok utama Iron Sight untuk mencuci uang hasil penjualan gas VX."
Elara memeriksa gaun malam barunya—sebuah mahakarya sutra hitam dengan belahan tinggi yang menyembunyikan pisau lempar di paha kiri dan pistol kompak di pinggang belakang. "Dia akan merasa aman di sana, dikelilingi oleh menteri, duta besar, dan kamera media. Dia pikir kita tidak akan berani membuat keributan di depan publik internasional."
"Itu adalah kesalahan terbesarnya," balas Zian. Dia mengenakan tuksedo pesanan khusus yang dirancang untuk menyembunyikan rompi antipeluru tipis. "Kael, sudah siap?"
Suara Kael terdengar melalui anting Elara. "Sistem CCTV Opera Garnier sudah berada di bawah kendaliku. Aku sudah memasukkan identitas kalian ke daftar tamu VIP sebagai 'Count dan Countess von Hapsburg'. Jangan sampai tumpah champagne ke gaun itu, Elara. Itu sewa mahal."
Elara tersenyum tipis, lalu menatap Zian. "Siap untuk tarian terakhir di Paris?"
Zian mengulurkan lengannya. "Hanya jika kau yang memimpin, Mayor."
Gala amal itu adalah definisi dari kemewahan yang memuakkan. Elara dan Zian berjalan melewati karpet merah, membiarkan kilatan lampu kamera mengenai mereka. Elara memainkan perannya dengan sempurna, bersandar di lengan Zian dengan keanggunan seorang bangsawan, sementara matanya terus memindai kerumunan untuk mencari rambut perak Madame X.
"Target ditemukan," bisik Elara saat mereka berada di aula utama. "Balkon lantai dua, sektor kanan. Dia sedang berbicara dengan Menteri Pertahanan."
Madame X terlihat mempesona dengan gaun perak yang senada dengan rambutnya. Dia tampak tenang, seolah penghancuran pangkalan Siberia tidak pernah terjadi.
"Kita harus memisahkannya dari kerumunan," Zian memberi instruksi. "Aku akan memicu alarm kebakaran palsu di sektor dapur. Saat semua orang panik menuju pintu keluar, dia pasti akan dibawa oleh pengawal pribadinya ke jalur evakuasi VIP di atap. Di sanalah kita akan menyergapnya."
Zian menghilang ke arah belakang, meninggalkan Elara di tengah aula. Elara mengambil segelas champagne dan berjalan perlahan menuju tangga, namun langkahnya terhenti.
Seorang pria dengan setelan jas abu-abu berdiri menghalangi jalannya. Tristan.
Wajah Tristan kini dipenuhi jaringan parut akibat ledakan di Sahara, dan salah satu matanya digantikan oleh lensa sibernetika yang berpendar merah redup. Dia berdiri dengan bantuan tongkat baja yang menyembunyikan senjata.
"Elara... kau terlihat luar biasa dalam balutan sutra hitam," suara Tristan parau, seperti gesekan logam. "Sayang sekali gaun itu akan segera berlumuran darah."
"Kau benar-benar sulit mati, Tristan," desis Elara, tangannya perlahan mendekati belahan gaunnya.
"Aku bertahan hidup hanya untuk melihatmu hancur," Tristan memberikan kode pada empat pria bertubuh tegap di sekelilingnya. "Jangan di sini. Bawa dia ke ruang bawah tanah."
Sebelum pengawal Tristan sempat menyentuhnya, Elara melemparkan gelas champagne-nya ke wajah salah satu pengawal dan melakukan tendangan tinggi yang menghantam dagu pria lainnya. Aula yang tadinya sunyi segera berubah menjadi medan tempur.
TETTTT! TETTTT!
Alarm kebakaran berbunyi. Kabut putih dari sistem sprinkler mulai menyemprotkan air, menambah kekacauan. Para tamu berteriak dan berlarian.
"Zian! Rencana berubah! Tristan di sini!" teriak Elara melalui komunikator.
"Bertahanlah! Aku sedang menuju ke posisimu!" suara Zian terdengar di tengah kebisingan.
Elara berlari menaiki tangga spiral, menghindari tembakan dari anak buah Tristan. Dia mencapai koridor atas yang sepi. Tristan mengejarnya dengan kecepatan yang tidak wajar bagi pria yang menggunakan tongkat—tongkat itu ternyata adalah eksoskeleton kaki yang tersembunyi.
Di ujung koridor, Madame X berdiri, dikawal oleh dua robot sentri yang sama seperti di Siberia.
"Sangat disayangkan, Mayor Vanya," kata Madame X dengan nada bosan. "Kau memiliki bakat, tapi kau memilih sisi yang kalah."
Madame X menekan sebuah tombol di pergelangan tangannya. Lantai di bawah Elara tiba-tiba terbuka. Elara berhasil melompat dan berpegangan pada pinggiran lantai tepat sebelum ia jatuh ke lubang pembuangan limbah.
Zian muncul dari arah berlawanan, melepaskan rentetan tembakan ke arah robot sentri. Salah satu robot meledak, namun yang lain membalas dengan laser penghancur.
"Zian, awas!" Elara berteriak saat ia berhasil memanjat naik kembali.
Tristan menerjang Zian, dan kedua pria itu bergulat di lantai yang basah oleh air sprinkler. Pertarungan itu brutal; pukulan demi pukulan mendarat. Tristan menggunakan tongkat bajanya untuk menekan tenggorokan Zian.
Elara tidak membuang waktu. Dia mencabut pistol kompaknya dan menembak robot sentri terakhir tepat di inti energinya. Ledakan kecil tercipta, memberikan celah bagi Elara untuk menerjang Madame X.
Madame X ternyata bukan sekadar wanita tua yang elegan. Dia mencabut pedang tipis (rapier) yang tersembunyi di balik gaun peraknya dan menyerang Elara dengan teknik anggar yang sangat mumpuni.
"Kau pikir kau bisa mengalahkan pendiri Iron Sight?" Madame X mengayunkan pedangnya, menggores lengan Elara.
Elara mengabaikan rasa perihnya. Dia menggunakan kelincahannya, menangkis serangan pedang Madame X dengan pisau lemparnya. Dalam satu gerakan yang sangat cepat, Elara menangkap tangan Madame X, memutarnya, dan menghantamkan lututnya ke perut wanita itu.
Madame X jatuh tersungkur. Elara segera menodongkan pistol ke dahi Madame X.
Di sisi lain koridor, Zian berhasil merebut tongkat Tristan dan menggunakannya untuk menghantam kepala Tristan hingga pria itu pingsan. Zian berdiri dengan napas tersengal, menatap Elara.
"Habisi dia, Elara," gumam Zian. "Selesaikan ini sekarang."
Elara menatap mata Madame X yang tetap tenang meskipun maut di depannya. "Di mana daftar sel tidur Iron Sight?"
Madame X tertawa tipis. "Sudah terlambat. Seluruh jaringan sudah mulai bergerak. Paris hanyalah permulaan. Besok, dunia akan berada di bawah kendali kami, dengan atau tanpaku."
Tiba-tiba, suara helikopter terdengar dari arah atap. Sebuah tali rappelling turun melalui jendela kaca yang pecah. Pasukan elit Iron Sight tambahan mulai berjatuhan.
"Kita harus pergi, Elara! Sekarang!" Zian menarik tangan Elara.
Elara tidak menembak Madame X di kepala. Sebaliknya, dia menembak perangkat kontrol di pergelangan tangan Madame X, menghancurkan aksesnya ke jaringan utama.
"Jika kau ingin melihat duniamu runtuh, maka hiduplah untuk melihatnya dari balik jeruji penjara internasional," kata Elara dingin.
Mereka berlari menuju balkon luar dan melompat ke arah atap gedung sebelah tepat saat pasukan bantuan Iron Sight memenuhi koridor. Mereka berlari menembus kegelapan atap-atap Paris, dengan latar belakang menara Eiffel yang bersinar, sementara helikopter musuh terus memburu mereka dengan lampu sorot.