Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siska mulai menggila
Malam itu, Siska tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia berhenti di pinggir jalan, mencengkeram setir mobilnya dengan kuku yang hampir patah. Kemarahannya sudah di ubun-ubun.
"Kau pikir kau bisa menang, Kamila? Jika aku tidak bisa memilikinya, maka kau harus hancur terlebih dahulu," desisnya.
Siska segera menghubungi seseorang, seorang pria dari masa lalu Kamila yang selama ini menjadi mimpi buruk bagi wanita itu. Ia berencana menyebarkan fitnah kejam dan membawa orang dari masa lalu Kamila untuk membuat skandal di depan rumah Tuan Chen, menuduh Kamila sebagai wanita pelarian yang membawa kabur hutang atau masalah hukum, agar nama baik Kamila hancur dan ia diusir secara tidak hormat.
Keesokan paginya, suasana tenang di kediaman Chen pecah saat beberapa orang asing berteriak-teriak di depan gerbang. Mereka membawa spanduk kecil berisi foto Kamila dengan tulisan "Wanita Penipu". Siska berdiri di sana, memimpin aksi tersebut sambil membawa beberapa wartawan media online gadungan.
Kamila yang mendengar keributan itu dari balkon kamar Baby Zevan, merasa jantungnya seolah berhenti detak. Ia mengenali salah satu pria di sana, itu adalah paman tirinya yang serakah yang selalu mengejarnya demi uang.
"Keluar kau Kamila! Jangan bersembunyi di balik keluarga kaya!" teriak pria itu.
Kamila gemetar hebat. Ia tahu, jika masalah ini membesar, bukan hanya dirinya yang hancur, tapi nama baik keluarga Tuan Chen juga akan terseret.
Evan dan Tuan Chen segera keluar menghadapi kerumunan itu. Namun, sebelum situasi semakin tak terkendali, Kamila turun dengan langkah gontai namun pasti. Ia melihat Siska yang tersenyum kemenangan di balik pagar.
"Tuan Evan..." panggil Kamila. Suaranya tidak lagi bergetar karena takut, melainkan karena tekad yang bulat.
Evan menoleh, matanya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam. "Kamila, masuklah. Biar aku yang urus ini. Mereka hanya bicara sampah."
Kamila menggeleng. Ia menatap ke arah kerumunan, lalu kembali menatap Evan. "Mereka tidak akan berhenti sebelum mereka menghancurkan saya dan menyeret nama baik Tuan ke dalam lumpur. Siska tidak akan berhenti sampai saya pergi."
Kamila mengambil napas panjang, menatap Tuan Chen yang juga tampak tegang. Kemudian, ia menatap Evan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mengenai tawaran Tuan semalam... saya bersedia. Mari kita menikah secepatnya."
Mendengar itu, senyum di wajah Siska seketika hilang. Ia ternganga tidak percaya. Rencananya untuk mengusir Kamila justru menjadi bumerang yang mempercepat pernikahan yang paling ia takuti.
Evan tertegun sejenak, namun kemudian ia segera menguasai keadaan. Ia melangkah maju, merangkul bahu Kamila di depan semua orang, termasuk di depan kamera yang sedang menyorot.
"Kalian dengar itu?" suara Evan menggelegar. "Wanita yang kalian fitnah ini adalah calon istriku. Mulai detik ini, siapa pun yang menghinanya, artinya berurusan langsung dengan pengacara keluarga Chen!"
Evan kemudian menoleh ke arah pengawal. "Bubarkan mereka semua! Dan pastikan wanita itu (Siska) mendapatkan surat tuntutan atas pencemaran nama baik sore ini juga!"
Setelah kerumunan dibubarkan secara paksa, suasana di dalam rumah kembali hening. Kamila masih gemetar, tangannya bertautan erat.
"Terima kasih, Kamila," ucap Evan pelan. "Aku tahu kau melakukannya dalam keadaan terdesak."
Kamila menunduk. "Saya melakukannya demi Baby Zevan, Tuan. Dan juga karena saya tidak ingin keluarga ini menanggung malu karena kehadiran saya. Tapi ingat janji Tuan... ini hanya di atas kertas."
Evan mengangguk pelan, meski ada sedikit ganjalan di hatinya saat mendengar penegasan Kamila. "Aku pegang janjiku. Kita akan urus administrasinya besok. Sekarang, istirahatlah."
Saat Kamila berjalan kembali ke atas, Tuan Chen mendekati Evan. "Kau berhasil melindunginya untuk saat ini, Evan. Tapi ingat, pernikahan tanpa cinta itu berat. Papah harap kau tidak akan menyesali syarat yang kau buat sendiri."
.
.
Langkah Kamila terasa berat saat menaiki tangga, namun begitu pintu kamar Baby Zevan terbuka, beban di pundaknya seolah luruh. Aroma bayi yang menenangkan menyambutnya, seketika menghapus bayangan wajah Siska dan paman tirinya yang mengerikan tadi.
Kamila menghampiri boks bayi dan segera mengangkat Zevan ke dalam pelukannya. Ia memeluk tubuh mungil itu dengan erat, mencari kekuatan dari detak jantung kecil yang tulus itu. Zevan, yang merasakan kehadiran favoritnya, justru merasa kegirangan. Tangan mungilnya menepuk-nepuk pipi Kamila sambil mengeluarkan suara ocehan yang bersemangat.
"Ooh, sayang... Kamu tahu ya kalau Mama...maksudku, ibu sedang sedih?" bisik Kamila, mencium puncak kepala Zevan.
Zevan tertawa menggelitik, kakinya menendang-nendang kecil.
"Aguuu... bababa... da!" celotehnya dengan nada naik turun seolah sedang bercerita panjang lebar.
Kamila tertawa kecil, air matanya yang nyaris jatuh tertahan oleh senyum. "Benarkah? Kamu bilang jangan takut karena ada Zevan di sini? Begitu?"
Zevan membalas dengan pekikan riang,
"Dadada! Gaaa!"
"Oh, jadi kamu janji akan melindungiku kalau nanti sudah besar?" Kamila menggelitik perut Zevan, membuat bayi itu tertawa terbahak-bahak hingga suaranya memenuhi ruangan. "Baiklah, pahlawan kecil. Kita akan bersama-sama terus, ya."
Keduanya tenggelam dalam tawa yang murni. Bagi Kamila, ocehan Zevan bukan sekadar bunyi tanpa makna, terapi ia merasa seolah jiwa mereka benar-benar berbicara. Sejenak, ia melupakan kepahitan di luar sana. Namun, tawa itu perlahan menyurut menjadi senyuman getir. Kamila mendekap Zevan kembali, lalu memejamkan matanya rapat-rapat.
'Semoga keputusanku ini adalah benar. Aku tidak butuh kemewahan keluarga Chendana, aku hanya ingin selalu dekat denganmu, Sayang. Aku ingin menjadi ibumu yang seutuhnya, melindungi mu dari dunia yang kejam ini...' batin Kamila dalam diam.
Tanpa Kamila sadari, pintu kamar itu sedikit terbuka. Evan berdiri di sana, terpaku menyaksikan pemandangan yang menyentuh hatinya. Ia melihat bagaimana Kamila, wanita yang tadi gemetar ketakutan di depan massa, kini terlihat begitu kuat dan penuh kasih saat bersama putranya.
Melihat Zevan tertawa lepas seperti itu adalah hal langka sejak kepergian ibu kandungnya. Evan menyandarkan bahunya di kusen pintu, senyum tipis terukir di wajahnya yang biasanya kaku.
'Dia benar-benar mencintai Zevan,' pikir Evan. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, sebuah perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan. 'Kamila, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Pernikahan ini mungkin berawal dari keterpaksaan, tapi aku bersumpah, kalian berdua akan menjadi prioritas utamaku. Aku akan melindungi mu seperti kau melindungi putraku.'
Berbanding terbalik dengan kedamaian di kediaman Chendana, suasana di kediaman keluarga Siska justru seperti neraka.
"Aarrkkhhh! Dasar wanita sialan! Pelayan murah*n!"
BRAKK!
Siska melempar vas bunga kristal ke arah cermin riasnya hingga hancur berkeping-keping. Napasnya memburu, matanya merah karena dendam yang membara. Wajah cantiknya kini tampak mengerikan karena amarah yang tak terkendali.
"Kau pikir kau sudah menang, Kamila? Kau merebut Evan dariku! Harusnya aku yang menjadi Nyonya Chendana! Aku!" teriaknya histeris sambil menjambak rambutnya sendiri. Ia mulai menyapu semua barang di atas meja riasnya hingga jatuh berserakan di lantai. "Aku tidak akan pernah membiarkan kalian bahagia! Tidak akan pernah!"
Di luar pintu, Tuan Rahadian dan Nyonya Imelda mengetuk pintu dengan panik.
"Siska! Buka pintunya, Sayang! Jangan sakiti dirimu sendiri!" teriak Nyonya Imelda dengan suara gemetar.
"Diam kalian semua! Pergi!" balas Siska dari dalam disertai suara barang pecah lainnya.
Tuan Rahadian menghela napas berat, wajahnya tampak sangat cemas. "Ini sudah keterlaluan. Siska benar-benar kehilangan akal sehatnya karena obsesinya pada Evan. Jika kita tidak bertindak, dia bisa melakukan hal yang lebih nekat lagi."
Siska jatuh terduduk di lantai, di antara pecahan kaca dan kosmetik yang tumpah. Matanya menatap tajam ke satu arah, penuh kebencian. "Pernikahan itu tidak akan pernah terjadi... atau jika terjadi, aku akan memastikan itu semua akan menjadi penjara bagimu, Kamila. Lihat saja nanti."
Bersambung...
kopi untuk mu👍