Aura Mahendra mengira kejutan kehamilannya akan menjadi kado terindah bagi suaminya, Adrian.
Namun, malam ulang tahun pernikahan mereka justru menjadi neraka saat ia memergoki Adrian berselingkuh dengan adik tirinya, Sisca.
Tidak hanya dikhianati, Aura dibuang dan diburu hingga mobilnya terjun ke jurang dalam upaya pembunuhan berencana yang keji.
Takdir berkata lain. Aura diselamatkan oleh Arlan Syailendra, pria paling berkuasa di Kota A yang memiliki rahasia masa lalu bersamanya.
Lima tahun dalam persembunyian, Aura bertransformasi total. Ia meninggalkan identitas lamanya yang lemah dan lahir kembali sebagai Dr. Alana, jenius medis legendaris dan pemimpin organisasi misterius The Sovereign.
Kini, ia kembali ke Kota A tidak sendirian, melainkan bersama sepasang anak kembar jenius, Lukas dan Luna. Kehadirannya sebagai Dr. Alana mengguncang jagat bisnis dan medis. Di balik gaun merah yang anggun dan tatapan sedingin es, Alana mulai mempreteli satu per satu kekuasaan Adrian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon prasetiyoandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: KELUARGA YANG TAK TERDUGA
Fajar di The Sanctuary tidak muncul dengan semburat jingga yang lembut, melainkan dengan cahaya perak yang memantul dari permukaan laut yang tenang, kontras dengan struktur baja hitam yang mencuat dari kawah pulau.
Di dalam perut fasilitas tersebut, kehidupan berjalan dengan ritme mekanis yang presisi. Bagi Lukas dan Luna, tempat ini bukan sekadar perlindungan; ini adalah taman bermain teknologi paling canggih yang pernah mereka temui.
Lukas duduk di ruang kendali pusat, kakinya berayun di kursi ergonomis yang terlalu besar untuk ukuran tubuhnya. Di depannya, hamparan layar holografik menampilkan aliran data real-time dari satelit dan sensor sonar bawah laut.
Sementara anak-anak seusianya mungkin sedang bermain gim video, Lukas sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: memetakan kembali sistem enkripsi pertahanan Arlan Syailendra.
"Luna, lihat ini," bisik Lukas tanpa mengalihkan pandangan dari monitor. "Sistem pertahanan pulau ini menggunakan algoritma asymmetric. Paman Arlan memiliki jaring elektromagnetik di kedalaman lima ratus meter. Jika ada kapal selam yang lewat tanpa transponder terdaftar, mereka akan langsung terpanggang sebelum sempat mengirim sinyal."
Luna, yang sedang duduk di lantai sambil merakit kembali sebuah drone mata-mata kecil yang ia temukan di bengkel, mendongak. Matanya yang jernih menunjukkan kecerdasan yang sama tajamnya.
"Tapi Lukas, ada celah di sektor utara. Lihat pola arusnya. Jika sebuah objek bergerak mengikuti arus termoklin, sensor sonar akan menganggapnya sebagai sekumpulan paus migrasi. Paman Arlan terlalu mengandalkan teknologi, dia lupa tentang anomali alam."
Lukas terhenti. Ia segera mengetik serangkaian perintah. Benar saja, simulasi yang ia jalankan membenarkan perkataan adiknya. "Kau benar. Aku akan menambal celah itu dengan filter kebisingan frekuensi rendah. Paman Arlan akan terkejut saat dia melihat sistemnya menjadi 15% lebih efisien pagi ini."
Kedua anak itu bekerja dalam sinkronisasi yang sempurna. Bagi mereka, kejeniusan adalah cara untuk merasa aman. Sejak kecil, mereka tahu bahwa mereka berbeda, dan di pulau ini, perbedaan itu tidak perlu disembunyikan. Namun, di balik keceriaan teknis itu, Luna tiba-tiba berhenti bekerja.
"Lukas... apakah Mummy akan baik-baik saja?" tanya Luna lirih. "Tadi malam, aku melihat Mummy di lab. Wajahnya sangat merah, seperti sedang demam tinggi. Dan Paman Arlan tampak sangat khawatir."
Lukas terdiam, jemarinya membeku di atas keyboard. Sebagai kakak, ia berusaha keras untuk terlihat kuat. "Mummy adalah dokter paling hebat di dunia, Luna. Dia sedang mempelajari 'bunga' Kakek. Paman Arlan juga ada di sana untuk menjaganya. Kita hanya perlu melakukan bagian kita: memastikan tidak ada orang jahat yang bisa masuk ke sini."
Sementara itu, di level atas fasilitas yang menghadap ke laut luas, Arlan Syailendra berdiri di balkon yang terlindung kaca antipeluru. Bahunya yang terluka sudah dibersihkan dan dijahit ulang dengan lebih rapi oleh tim medis senior, namun rasa perihnya tidak sebanding dengan ketegangan yang ia rasakan di dadanya.
Ia memegang sebuah gawai komunikasi satelit yang hanya bisa menerima pesan satu arah. Sebuah pesan terenkripsi baru saja masuk, menggunakan kode yang hanya diketahui oleh lingkaran dalam organisasi The Sovereign-organisasi yang dipimpin oleh Alana.
Arlan membuka pesan itu. Pupil matanya mengecil saat membaca baris demi baris teks yang muncul.
"Satu kelopak teratai telah gugur. Pengkhianatan ada di dalam lingkaran utama. Koordinat pelarianmu telah bocor ke tangan Ouroboros melalui jalur internal Sovereign. Waspadalah pada Bayangan yang paling dekat denganmu."
Arlan meremas gawai itu hingga layarnya retak. Pengkhianatan di dalam The Sovereign? Itu adalah organisasi yang dibangun Alana dengan darah dan air mata selama lima tahun pengasingannya. Jika ada yang berkhianat, itu artinya Alana tidak lagi memiliki tempat yang benar-benar aman, bahkan di dalam organisasinya sendiri.
Langkah kaki terdengar dari belakangnya. Arlan segera menyembunyikan gawai tersebut. Alana masuk, mengenakan pakaian kasual yang bersih namun wajahnya masih terlihat sedikit pucat. Ia tampak jauh lebih stabil dibandingkan semalam, regenerasi sel dalam tubuhnya sepertinya telah mencapai titik keseimbangan baru.
"Kau seharusnya masih di tempat tidur, Arlan," kata Alana, suaranya kembali memiliki otoritas yang dingin.
"Aku bisa mengatakan hal yang sama padamu," balas Arlan, ia berbalik dan menatap Alana dengan pandangan menyelidik. Ia ragu apakah harus memberitahu Alana tentang pesan itu sekarang. Alana baru saja mulai pulih, dan berita tentang pengkhianatan di organisasinya sendiri bisa menghancurkan mentalnya.
"Aku sudah melakukan pemeriksaan mandiri," Alana berjalan menuju pagar balkon, menatap laut. "Efek samping dari Formula Teratai bersifat sementara, tapi kumulatif. Tubuhku beradaptasi, tapi setiap kali selku beregenerasi dengan cepat, aku membutuhkan asupan nutrisi protein tinggi dalam jumlah besar. Kakek sepertinya mendesain ini untuk menciptakan manusia super, tapi dengan ketergantungan biologis yang ekstrem."
"Alana, ada sesuatu yang harus kubicarakan," Arlan akhirnya memutuskan untuk berbicara. Ia mendekati Alana, suaranya sangat rendah. "Aku menerima pesan dari informan rahasiaku di luar. Ada kebocoran data di dalam The Sovereign."
Alana membeku. Ia menoleh perlahan, matanya menatap Arlan dengan tajam. "Apa maksudmu? Orang-orangku adalah orang-orang pilihan. Mereka semua memiliki alasan pribadi untuk menghancurkan Ouroboros."
"Justru karena itulah mereka rentan, Alana," Arlan menjelaskan dengan nada tenang yang mematikan. "Ouroboros pandai menawarkan apa yang paling diinginkan manusia: nyawa, uang, atau kembalinya orang yang dicintai. Seseorang di lingkaran dalammu telah membocorkan bahwa kita menuju perairan internasional. Itulah sebabnya Kael dan tim elitnya bisa melacak kita di mansion dengan sangat cepat. Mereka tahu rute evakuasi kita bahkan sebelum kita menggunakannya."
Rahang Alana mengeras. Kemarahan dingin mulai terpancar dari auranya. "Siapa? Siapa yang berani?"
"Pesan itu tidak menyebutkan nama. Tapi pikirkanlah, siapa yang memiliki akses ke protokol The Sovereign selain dirimu dan Leo?"
Alana terdiam. Pikirannya berputar cepat, menyisir wajah demi wajah orang-orang kepercayaannya di markas pusat The Sovereign di Eropa. Namun, sebelum ia bisa menjawab, pintu otomatis balkon terbuka. Leo masuk dengan wajah yang sangat serius, memegang tablet taktis.
"Tuan Arlan, Dr. Alana... kita punya masalah besar," kata Leo. "Sistem radar pasif di sektor utara baru saja menangkap sinyal dari tiga kapal cepat yang bergerak di bawah radar. Mereka menggunakan teknologi peredam suara milik militer. Mereka bukan paus migrasi, dan mereka tidak bergerak mengikuti arus."
Alana melirik Arlan, lalu teringat sesuatu. "Lukas dan Luna. Mereka ada di ruang kendali."
"Lukas yang menemukan celah itu," Leo melanjutkan, suaranya bergetar karena bangga sekaligus cemas. "Dia mencoba menambalnya, tapi sepertinya musuh sudah lebih dulu memanfaatkannya. Mereka akan mencapai garis pantai dalam sepuluh menit."
"Ouroboros tidak membuang waktu," geram Arlan. Ia segera mengeluarkan perintah melalui interkom sistem. "Semua unit tempur, posisi siaga satu! Aktifkan perimeter ranjau laut! Lindungi Lab B-4 dan amankan anak-anak ke bunker terdalam!"
Alana menarik pistol dari balik pinggangnya-senjata yang tidak pernah ia lepaskan sejak kejadian semalam. "Jika ada pengkhianat di antara kita, maka serangan ini adalah cara mereka untuk memastikan aku tidak punya jalan keluar. Arlan, kau urus pertahanan pantai. Aku akan menjemput Lukas dan Luna."
"Alana, tunggu!" Arlan menahan lengannya. "Gunakan rompi taktis di ruangan sebelah. Dan ingat... jangan percaya pada siapa pun selain aku dan anak-anak malam ini. Bahkan bayanganmu sendiri bisa menjadi musuh."
Alana mengangguk singkat, sebuah pengertian pahit terjalin di antara mereka.
Di pulau yang seharusnya menjadi tempat paling aman di bumi ini, mereka justru menyadari bahwa musuh yang paling berbahaya bukanlah mereka yang datang dengan senjata di tangan, melainkan mereka yang tersenyum di samping mereka setiap hari.
Saat Alana berlari menuju ruang kendali, ia merasa dunianya kembali menyempit. Lima tahun lalu ia dikhianati oleh suaminya sendiri. Kini, saat ia pikir ia telah membangun benteng yang tak tergoyahkan, pengkhianatan kembali mengetuk pintunya.
Namun, Alana yang sekarang bukan lagi Aura yang lemah. Jika ada satu hal yang ia pelajari dari Formula Teratai, itu adalah: Untuk bertahan hidup, kau harus lebih mematikan daripada racun yang mencoba membunuhmu.
Di pelataran pantai pulau, suara tembakan pertama mulai terdengar, memecah kesunyian fajar. Perang untuk Formula Teratai telah mencapai babak baru, dan kali ini, tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.