Satu malam di kamar nomor 101 menghancurkan seluruh masa depan Anindira. Dijebak oleh saudara tiri dan terbangun di pelukan pria asing yang wajahnya tak sempat ia lihat, Anindira harus menelan pahitnya pengusiran dari keluarga.
Lima tahun kemudian, ia kembali sebagai asisten pribadi di Adiguna Grup. Namun, bosnya adalah Baskara Adiguna, pria berhati es yang memiliki sepasang mata persis seperti putra kecilnya.
Ketika rahasia malam itu mulai terkuak, Anindira menyadari bahwa ia bukan sekadar korban satu malam. Ia adalah bagian dari rencana besar yang melibatkan nyawa dan harta. Baskara tidak akan melepaskannya, bukan karena cinta, melainkan karena benih yang tumbuh di rahim Anindira adalah pewaris tunggal yang selama ini dicari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Anindira yang berbeda
Anindira yang berbeda kini harus berjuang melawan rencana jahat yang jauh lebih sistematis daripada sekadar pengusiran fisik di masa lalu. Ia tidak lagi berlari dengan isak tangis yang lemah seperti lima tahun yang lalu saat kakinya menginjak duri hutan. Dengan Arkan yang berada dalam gendongannya, ia mengatur napas dengan sangat teratur dan mengawasi setiap pergerakan daun yang mencurigakan di sekitarnya.
Kegelapan hutan pegunungan mulai turun dengan sangat cepat, membawa suhu dingin yang menusuk hingga ke tulang sumsum. Anindira merapatkan jaket kecil Arkan sambil terus melangkah menuju jalan setapak yang tertutup oleh tumpukan daun kering. Ia tahu bahwa rasa takut hanya akan membuatnya melakukan kesalahan fatal yang bisa mengancam nyawa buah hatinya tersebut.
"Ibu, apakah kita sedang bermain petak umpet dengan paman yang galak itu?" tanya Arkan dengan suara yang sangat pelan dan sangat polos.
"Benar sayang, kita harus menjadi sangat diam agar paman itu tidak bisa menemukan tempat persembunyian kita," jawab Anindira sambil mencium pucuk kepala Arkan.
Langkah kaki Anindira mendadak berhenti saat ia mendengar suara ranting yang patah dari arah belakang semak belukar yang sangat rimbun. Ia segera berjongkok dan berlindung di balik batang pohon beringin yang sangat besar dan sudah berumur puluhan tahun. Matanya yang kini terbiasa dengan kegelapan mencoba memindai sosok yang mungkin sedang mengikuti jejak pelariannya sejak tadi.
Dari balik kegelapan, muncul sesosok pria dengan pakaian hitam yang nampak sangat sigap dan sangat terlatih dalam melakukan pengintaian. Anindira menggenggam sebuah batu tajam yang ia ambil dari tanah, bersiap untuk memberikan perlawanan terakhir jika pria itu mendekat. Ia tidak menyadari bahwa pria tersebut adalah anggota tim keamanan Devan yang bertugas melindunginya secara sembunyi-sembunyi.
"Nona Dira, mohon jangan takut, saya dikirim oleh Tuan Devan untuk menjemput Anda kembali ke tempat yang aman," bisik pria itu sambil menunjukkan lencana khusus.
"Bagaimana saya bisa percaya bahwa Anda bukan orang suruhan Reno atau Sarah?" tanya Anindira dengan nada suara yang penuh dengan kecurigaan.
Pria itu menyebutkan sebuah sandi rahasia yang hanya diketahui oleh Devan dan Anindira saat mereka masih berada di dalam lift yang rusak tadi siang. Mendengar sandi tersebut, ketegangan di bahu Anindira perlahan mulai luruh dan ia melepaskan batu tajam dari genggaman tangannya yang sudah memerah. Ia merasa sangat bersyukur karena Devan ternyata tetap memikirkan keselamatannya meskipun pria itu sedang sibuk menghadapi Reno.
Mereka dipandu melalui jalur tikus yang sangat curam hingga sampai di sebuah mobil jip yang sudah menunggu di pinggir jalan raya yang sangat sepi. Anindira segera masuk ke dalam mobil tersebut dan membiarkan Arkan tertidur di pangkuannya karena kelelahan yang luar biasa. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi menuju sebuah apartemen mewah yang berada di pusat kota, namun dengan sistem keamanan yang jauh lebih ketat.
Sesampainya di apartemen, Devan sudah menunggu di ruang tamu dengan wajah yang nampak sangat kacau dan penuh dengan kelelahan mental. Ia segera menghampiri Anindira dan memeriksa kondisi fisik asistennya itu dengan tatapan mata yang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa khawatir. Devan meminta pelayan untuk membawakan minuman hangat dan handuk kering untuk membersihkan noda tanah di pakaian Anindira.
"Reno sudah pergi, tetapi dia meninggalkan ancaman bahwa posisi saya di dewan direksi akan segera digulingkan," ujar Devan dengan suara yang sangat berat.
"Apakah ini karena dokumen yang kita tunjukkan saat rapat tadi pagi, Tuan?" tanya Anindira sambil mencoba menghangatkan tangannya yang kaku.
Devan mengangguk dan menjelaskan bahwa dokumen tersebut telah memicu kemarahan besar dari Hendra Adiguna yang merasa kekuasaannya mulai terancam oleh keponakannya sendiri. Namun, Anindira melihat sebuah kilatan tekad yang baru di mata Devan, seolah pria itu sudah siap untuk melakukan serangan balik yang lebih mematikan. Ia menyadari bahwa persekutuan mereka kini telah berubah menjadi ikatan yang jauh lebih dalam daripada sekadar hubungan profesional.
Malam itu, Anindira tidak bisa memejamkan matanya karena bayangan tatapan Reno terus menghantui setiap sudut pikirannya yang sangat lelah. Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju dapur apartemen untuk mengambil segelas air putih agar bisa menenangkan sarafnya yang tegang. Di sana, ia kembali bertemu dengan Devan yang sedang berdiri menatap pemandangan lampu kota dari balik jendela kaca yang sangat besar.
"Mengapa Anda tidak menggunakan kekuasaan Anda untuk menghancurkan mereka sejak lama, Tuan Devan?" tanya Anindira dengan penuh keberanian yang mendadak muncul.
"Karena saya menunggu saat yang tepat untuk mencabut akar kejahatan mereka hingga tidak ada satu pun yang tersisa," jawab Devan tanpa menoleh sedikit pun.
Anindira berdiri di samping Devan dan menyadari bahwa pria di hadapannya ini memiliki luka batin yang sama besarnya dengan luka yang ia miliki. Mereka berdua adalah penyintas dari kekejaman keluarga Adiguna yang hanya peduli pada harta dan nama baik di mata masyarakat luas. Keheningan malam itu terasa sangat nyaman bagi mereka, seolah-olah dunia luar yang penuh intrik jahat sedang berhenti berputar untuk sejenak.
Keesokan harinya, Anindira tampil dengan gaya yang benar-benar berbeda dari biasanya saat ia bersiap untuk kembali menuju kantor pusat. Ia tidak lagi memakai kacamata tebal dan pakaian longgar yang biasa ia gunakan untuk menyembunyikan bentuk tubuhnya yang sangat indah. Anindira memilih setelan kerja yang sangat elegan dan sangat profesional, menunjukkan citra seorang wanita karier yang sangat tangguh dan berwibawa.
"Hari ini, kita akan membuat mereka melihat bahwa asisten Tuan Devan bukan lagi seorang wanita yang bisa mereka tindas dengan semena-mena," tegas Anindira saat bercermin.
"Saya menyukai perubahan ini, Dira, karena kita butuh keberanian ekstra untuk menghadapi kejutan yang sudah disiapkan oleh Sarah," puji Devan dengan senyuman tipis.
Saat mereka melangkah masuk ke lobi kantor pusat, seluruh mata karyawan tertuju pada sosok Anindira yang nampak sangat bercahaya dan sangat penuh dengan rasa percaya diri. Tidak ada lagi langkah ragu atau kepala yang menunduk saat melewati meja resepsionis yang dulu pernah menghinanya karena pakaian sederhananya. Ia berjalan di samping Devan dengan langkah yang sangat sinkron, menciptakan aura dominan yang membuat siapa pun merasa segan untuk mendekat.
Namun, di depan pintu lift menuju lantai eksekutif, mereka sudah dihadang oleh Sarah yang membawa selembar surat keputusan resmi dari pihak kepolisian. Wajah Sarah nampak sangat puas seolah ia baru saja memenangkan sebuah lotere besar yang sangat ia idam-idamkan selama ini. Insting seorang ayah nampaknya akan segera diuji saat surat itu menyatakan bahwa ada laporan mengenai penculikan anak yang melibatkan asisten pribadi Devan.