Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Suara kentongan menggema hingga ke pelosok desa, memecah keheningan laksana petir yang menyambar langit malam yang baru lahir. Udara malam yang semestinya membawa ketenangan untuk beristirahat setelah lelah seharian, justru membawa ketegangan dan kegelisahan, mengusik setiap jiwa yang seharusnya bernaung dalam damai.
Dari atas langit yang kelam, tampak beberapa sosok berlari tergesa-gesa. Derap langkah mereka memecah sunyi, menggema di sepanjang jalan desa. Orang-orang itu adalah para utusan kepala desa, termasuk Yasmin yang dikirim untuk menyampaikan pesan yang tak bisa menunggu fajar.
Di sudut-sudut desa, pintu-pintu rumah mulai terbuka. Satu per satu, cahaya lampu minyak menyala, menampakkan wajah-wajah cemas. Mereka berbisik satu sama lain, suara mereka bergetar, dan kerutan di dahi seolah melukiskan rasa khawatir.
“Hei… kau tahu apa yang sedang terjadi?!”
“Bodoh! Aku pun tidak tahu, tapi bunyi itu… itu adalah isyarat darurat!”
“Gawat! Kalau begitu kita harus segera ke balai desa!”
“Tunggu dulu. Apa kau tidak merasa aneh? Jika itu isyarat darurat, seharusnya bunyi itu kembali terdengar! Tapi sekarang… tidak ada lagi.”
Menyadari hal itu keheningan menyelimuti keduanya. Mereka saling berpandangan, diliputi kegelisahan yang belum sempat terucap.
Tiba-tiba suara langkah kaki tergesa-gesa memecah malam yang menegang. Dari balik bayang-bayang obor, Yasmin muncul. Napasnya tersengal dan wajahnya basah oleh keringat, meski udara malam menusuk dingin.
Begitu sampai di hadapan mereka, Yasmin membungkuk, menarik napas panjang, lalu berkata dengan suara berat dan jelas.
“Salam untuk Tuan-tuan! Aku Yasmin membawa pesan dari kepala desa: ada seorang pemuda yang hilang di hutan. Bagi siapa pun yang bersedia membantu pencarian, segeralah datang ke balai desa.”
Tanpa menunggu jawaban, Yasmin pergi, melanjutkan perjalanannya mengabarkan berita. Mereka yang mendengar pesan itu seketika diliputi kebingungan, pikiran mereka bergolak, menebak-nebak siapa sosok yang hilang di hutan. Tepat sebelum utusan itu menghilang dari pandangan, salah satu dari mereka membuka mulut, bertanya dengan lantang hingga suaranya terdengar oleh Yasmin.
“TUNGGU! SIAPA SEBENARNYA YANG HILANG?!”
Langkah Yasmin terhenti sejenak. Ia menoleh sambil berjalan mundur, lalu menjawab dengan suara lantang yang tak menyisakan keraguan.
“Anak Ibu Wulandari. Jihan!”
Hanya itu. Setelahnya, sosoknya lenyap, ditelan malam yang dingin dan penuh tanda tanya.
Mendengar nama Jihan, keduanya saling berpandangan. Tatapan mereka penuh keraguan, seolah masing-masing mencari pembenaran dari wajah yang lain. Akhirnya, mereka menggeleng pelan.
“Huh, aku kira siapa yang menghilang. Ternyata cuma anak itu,”
“Kau benar. Itu salahnya sendiri karena berani-berani masuk hutan. Ceroboh sekali. Maaf saja, aku tidak bisa ikut mencari. Aku lebih baik menghabiskan waktu dengan keluargaku.”
“Aku setuju. Kita sudah bekerja keras seharian, dan kupikir kepala desa akan mengerti. Tidak ada salahnya kan, jika aku juga ingin bermain dengan anakku?”
Sejenak, keheningan merayap di antara mereka. Keheningan itu pecah saat derit pintu kayu kembali terdengar, menandakan keduanya telah beranjak masuk kembali kerumah masing-masing.
Penolakan mereka, meski terdengar dingin, bukan tanpa alasan. Di desa ini, manusia berjuang keras hanya demi secercah kehidupan. Meskipun simpati mereka tergerak untuk Jihan, mereka tak bisa berbuat banyak. Hidup mereka sudah begitu berat, dan waktu untuk keluarga sangatlah berharga. Wajar jika mereka lebih memilih menghabiskan sisa hari bersama keluarga daripada mempertaruhkan nyawa di hutan yang berbahaya, tanpa ada imbalan yang pasti.
Sementara itu, di sisi timur desa, berdiri rumah besar nan megah milik Tirta Wardana. Di dalam ruang tamu yang sejuk dan tertata rapi, seorang pelayan membungkuk hormat. Wajahnya tenang, namun suaranya terdengar serius saat melaporkan kabar yang baru saja ia dengar.
"Lapor, Tuan. Kepala desa menyampaikan pesan. Ada seorang pemuda yang hilang di hutan. Beliau meminta siapa pun yang bersedia untuk membantu pencarian malam ini juga."
“Seorang Pemuda?”
Dahi Tirta mengernyit pelan, mencoba menebak siapa sosok pemuda itu, baginya sikap kepala desa kali ini tidak seperti biasanya, terlalu gegabah bahkan ia membuat sinyal darurat yang seharusnya digunakan saat keadaan desa benar-benar terancam.
“Apa kau tau, siapa dia?”
“Pemuda itu…”
Pelayan itu terdiam sejenak, mencoba mengumpukan ingatannya.
“Jika hamba tidak salah ingat, namanya adalah Jihan, anak dari ibu Wulandari.”
“Jihan?”
Tawa Tirta pecah, membelah sunyi ruangan. Ia tak habis pikir, mengapa Arya Jaya begitu peduli pada seorang pemuda yang tak memiliki latar belakang.
‘Sepertinya, Kepala desa sudah kehilangan akal, Ia bahkan membunyikan sinyal darurat hanya demi pemuda miskin itu.’
Tirta melambaikan tangannya, menyiratkan pelayan itu untuk pergi. Tanpa sepatah kata pelayan itu mengangguk, langkah kakinya terdengar saat ia dengan hormat meninggalkan ruangan tersebut.
Seketika ruangan menjadi hening, udara malam menyapu muka Tirta tapi tak mampu menahan senyum yang terukir wajahnya.
‘Mungkin, aku harus berterimakasih kepada bocah itu.’
Batin Tirta bergolak, membayangkan bagaimana satu demi satu batu pondasi yang dibangun Arya Jaya mulai retak.
‘Arya… Arya, kini aku bisa menyaksikan dari dekat bagaimana kepemimpinanmu perlahan runtuh.’
Derit kursi kayu memecah keheningan saat Tirta bangkit. Dengan langkah mantap, ia bergegas meninggalkan kediamannya menuju balai desa. Namun, sebelum ia melangkah lebih jauh, sebuah suara pemuda terdengar dari balik pintu di sudut ruangan.
“Ayahanda, aku mendengar keributan diluar, apa yang sebenarnya terjadi?”
Pemuda itu adalah Gading. Ia muncul dari balik pintu dengan rambut yang masih acak-acakan dan piyama sutra yang menggantung longgar di tubuh gemuknya. Wajahnya bulat dan gempal, jelas menunjukkan bahwa ia tumbuh dalam kemewahan dan kecukupan. Meski fisiknya jauh dari kesan tangguh, di dalam dirinya terpendam ambisi besar untuk menjadi pendekar bela diri.
Tirta menoleh sekilas ke arah anaknya itu dan mengangguk pelan.
“Ternyata kamu, Gading. Ayah kira kamu sudah tertidur setelah seharian berlatih,”
“Tidak, Ayah. Aku sedang melatih tenaga dalam setelah latihan fisik tadi siang. Sekarang, aku sudah bisa merasakan energi alam masuk ke dalam tubuhku!”
“Bagus kalau begitu. Istirahatlah. Ini bukan urusan penting. Anak miskin itu, Jihan, menghilang di hutan. Ayah hanya akan keluar sebentar… sekadar berjalan-jalan.”
“Jihan?”
Ulang Gading dengan alis terangkat, ekspresinya berubah sinis. Ia tertawa kecil, mengejek.
“Tak kusangka bocah itu bisa membuat kekacauan sebesar ini. Jangan bilang ayah hendak mencarinya?”
Tirta menghela napas pendek, lalu mencibir sambil melirik anaknya.
“Anak bodoh. Tentu saja tidak. Ayah tidak akan buang-buang waktu demi bocah ceroboh itu,”
“Hanya saja… kadang api yang kecil pun perlu ditambah minyak agar benar-benar membakar.”
Ia diam sejenak, lalu menyeringai. Senyum licik merekah di wajahnya, menyiratkan rencana yang jauh lebih besar daripada sekadar pencarian.
Gading menatap ayahnya dengan penuh kekaguman. Matanya berbinar, seolah memahami permainan yang sedang dimainkan.
“Ayahanda… sungguh bijaksana.”
Tirta tidak punya banyak waktu untuk menanggapi. Ia hanya menyuruh Gading untuk fokus pada latihannya. Dalam beberapa hari, Pendekar Abadi dari Perguruan Pedang Awan akan datang untuk merekrut murid.
“Sudahlah. Fokuslah pada latihanmu. Beberapa hari lagi, Pendekar Abadi dari Perguruan Pedang Awan akan datang ke desa ini untuk merekrut murid. Jangan permalukan ayahmu.”
“Ayah tidak perlu khawatir.”
Tirta mengangguk pelan. Ada sorot bangga yang tersembunyi di balik wajah datarnya saat menatap putranya. Tanpa sepatah kata, ia berbalik dan melangkah keluar, bayangannya perlahan lenyap ditelan gelapnya malam.
Sementara itu, Gading berdiri sendiri di ambang pintu sudut ruang tamu, bibirnya tersungging. Ia melihat ayahnya bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai pemain ulung dalam permainan kekuasaan. Suatu hari nanti, ia ingin melihat ayahnya menjadi pemimpin desa, dengan ia sebagai pelindungnya.