cerita yg sangat menarik untuk di baca sampai habis tentang cinta, perjuangan dan action terbaik dari anak bangsa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juventini indonesia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI SERANG ULAR COBRA PENYEMBUR
BAB 23
Jejak yang Tidak Pernah Hilang
Beberapa saat setelah ular-ular itu menghilang ke balik padi, tak seorang pun berbicara. Angin menggeser daun, menimbulkan suara gesek halus seperti bisikan panjang.
“Terima kasih, Mbah,” ucap Amelia akhirnya. “Saya… baru pertama melihat yang seperti ini.”
Mbah Klowor tersenyum, menepuk-nepuk tangannya yang berlumur lumpur. “Ilmu bukan untuk dipamerkan, Nduk. Hanya untuk menjaga keseimbangan.”
Nurdin menggaruk kepala. “Jadi… ular-ular itu bukan marah?”
“Bukan,” jawab Mbah Klowor. “Mereka kebingungan.”
Sandi menatap sawah yang berkilau oleh bulan. “Seperti warga desa.”
Mbah Klowor meliriknya, lalu mengangguk pelan. “Kebingungan sering disalahartikan sebagai ancaman.”
Mereka berjalan kembali ke rumah Mang Dedi. Lampu minyak masih menyala, Halimah duduk di teras sambil mengerjakan PR.
“Kak,” katanya ketika melihat mereka. “Ular-ularnya sudah pulang?”
“Sudah,” jawab Mang Dedi sambil tersenyum. “Mereka cuma lewat.”
Halimah mengangguk seolah itu hal biasa. “Bagus.”
Sinta melirik Sandi, berbisik, “Anak-anak di sini tumbuh dengan cara pandang yang berbeda ya.”
“Iya,” jawab Sandi pelan. “Dan itu yang membuat desa ini bertahan lama.”
Mbah Klowor duduk kembali di bangku bambu. “Sekarang kalian tahu,” katanya, “kenapa saya tidak kaget ketika desa ini diserang.”
Farhan mengerutkan dahi. “Mbah sudah menduga?”
“Bukan menduga,” jawabnya. “Mengingat.”
Ia menatap Mang Dedi. “Dedi, kamu ingat gudang tua dekat sungai?”
Mang Dedi mengangguk. “Yang sekarang jadi gudang pupuk?”
“Dulu,” lanjut Mbah Klowor, “itu tempat menampung ular sebelum dijual. Saya pernah menutupnya. Tapi… ditutup manusia bisa dibuka manusia.”
Sandi mengangkat kepala. “Gudang itu masih aktif?”
“Secara resmi, tidak,” kata Mbah Klowor. “Tapi jalurnya masih ada.”
Amelia mencondongkan badan. “Jalur seperti apa?”
“Perahu kecil,” jawabnya. “Malam hari. Tidak tercatat. Dari sungai ke laut kecil, lalu hilang.”
Farhan menghela napas. “Itu menjelaskan Dumai.”
Sandi tersenyum tipis. “Dan Grenjeng.”
Mbah Klowor menatap mereka satu per satu. “Kalian tidak datang untuk menghancurkan desa ini, kan?”
Sandi menggeleng. “Kami datang untuk menghentikan orang yang memanfaatkan desa ini.”
“Bagus,” kata Mbah Klowor. “Karena desa tidak butuh pahlawan. Desa butuh penjaga.”
Istri Mang Dedi keluar membawa selimut tipis. “Sudah malam. Angin sawah dingin.”
“Terima kasih, Bu,” kata Amelia sambil menerima selimut.
Halimah menghampiri Sandi, menyerahkan termos kecil. “Teh jahe. Biar hangat.”
“Terima kasih, Halimah,” jawab Sandi. “Kamu anak baik.”
Gadis itu tersenyum bangga lalu kembali ke dalam.
Nurdin duduk bersandar. “Aneh ya. Di tengah semua kekacauan… malam ini rasanya tenang.”
“Tenang itu bukan berarti aman,” kata Mbah Klowor. “Tapi tanpa tenang, manusia tidak bisa berpikir jernih.”
Sandi mengangguk setuju.
Sebelum berpisah, Mbah Klowor memanggil Sandi mendekat.
“Anak muda,” katanya pelan, “orang seperti Zondol itu tidak lahir jahat.”
Sandi menatapnya. “Tapi memilih jalan yang salah.”
“Ya,” jawab Mbah Klowor. “Dan jalan salah biasanya panjang, tapi selalu meninggalkan jejak.”
“Apa Mbah tahu jejaknya?” tanya Sandi.
Mbah Klowor tersenyum samar. “Besok pagi. Kalau kalian mau berjalan kaki menyusuri sungai.”
Sandi menegakkan badan. “Kami mau.”
Mbah Klowor menepuk pundaknya pelan. “Bagus. Tapi malam ini… pulanglah dengan hati ringan.”
Mereka pamit satu per satu. Langkah meninggalkan rumah sederhana itu terasa lebih lambat, lebih sadar.
Di balik sawah Grenjeng yang tenang, jejak lama mulai tampak kembali—bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai undangan untuk memahami.
Dan Sandi tahu,
ketenangan malam ini bukan jeda kosong—melainkan napas panjang sebelum langkah berikutnya.
Yang Dijaga dan Yang Disimpan
Pagi di Grenjeng datang pelan. Kabut tipis menggantung di atas sawah, seperti tirai yang belum sepenuhnya dibuka. Burung-burung kecil melompat di pematang, dan sungai di kejauhan berkilau keperakan.
Mbah Klowor berjalan paling depan, bertongkat bambu. Langkahnya mantap, seolah tanah itu menghafal telapak kakinya.
“Lewat sini,” katanya pelan.
Mereka menyusuri jalur kecil di tepi sungai, lalu berbelok ke area semak belukar yang lebat. Tanaman liar tumbuh rapat, duri dan ilalang bersilang.
“Tempat ini,” ujar Mbah Klowor, “sudah lama jadi rumah.”
Mang Dedi otomatis menahan yang lain dengan isyarat tangan. “Pelan.”
Mbah Klowor berjongkok. Ia menyingkirkan semak dengan ujung tongkatnya—perlahan, hati-hati.
Di balik rimbun daun, tampak seekor induk kobra melingkar rapat. Tubuhnya tenang, kepalanya rendah. Di bawah lilitan itu, butiran putih telur tersusun rapi.
Sinta menutup mulutnya. “Ya Allah…”
Amelia menahan napas. “Dia… mengerami.”
“Iya,” bisik Farhan. “Protektif, tapi tidak agresif.”
Mbah Klowor mengangkat tangan, memberi tanda agar semua diam. Ia berlutut, menurunkan tubuhnya sejajar tanah.
“Tenang,” ucapnya lirih—bukan kepada manusia.
Beberapa meter dari sana, terdengar desisan lain. Kobra jantan muncul dari balik rerumputan. Kepalanya terangkat, geraknya gelisah, maju mundur.
“Dia cemas,” kata Mbah Klowor tanpa menoleh. “Banyak yang tidak kembali.”
Sandi berbisik, “Ditangkap.”
Mbah Klowor mengangguk. Ia berbicara pelan, ritmenya seperti gumaman doa.
“Kau mencari mereka,” katanya. “Mereka tidak mati. Mereka dibawa.”
Kobra jantan mendesis panjang, lebih keras. Ekornya menghantam tanah.
“Mereka di hutan,” lanjut Mbah Klowor. “Di tengah. Di tempat berpagar. Manusia menyebutnya penangkaran.”
Farhan mengernyit. “Jadi benar.”
“Zondol,” gumam Mang Dedi, rahangnya mengeras.
Mbah Klowor menghela napas. “Dulu, dia anak yang cepat belajar.”
Sandi menoleh. “Mbah Ableh?”
Mbah Klowor mengangguk pelan. “Adik saya. Dia mengajari Zondol bahwa ular adalah barang. Saya mengajari bahwa ular adalah titipan.”
Ia menatap kobra jantan. “Sekarang kau menjaga di sini. Jangan berpindah.”
Ular itu diam. Lalu, perlahan, kepalanya turun—seolah mengerti.
Induk kobra tetap melingkar, tenang, setia pada telur-telurnya.
“Mari,” kata Mbah Klowor pelan. “Kita tidak lama di sini.”
Mereka mundur perlahan. Tidak ada yang bicara sampai semak kembali menutup pandangan.
Sandi menarik napas panjang. “Hutan tengah… kita perlu peta.”
“Dan waktu,” tambah Farhan.
Siang menjelang. Mereka beristirahat di bawah pohon randu. Angin bertiup lembut, membawa daun gugur.
Sandi dan Farhan berdiskusi pelan dengan Mang Dedi soal jalur lama. Nurdin mencatat.
Tak jauh dari situ, Amelia duduk di batang kayu bersama Santi dan Sinta. Ia menatap sawah tanpa fokus.
“Mel,” kata Santi akhirnya. “Kamu kenapa dari tadi melamun?”
Amelia tersenyum tipis. “Capek.”
“Capek mikir atau capek ngerasa?” sela Sinta, setengah bercanda.
Amelia terdiam. Lalu menghela napas panjang. “Aku… sudah lama.”
Santi dan Sinta saling pandang.
“Lama apa?” tanya Santi pelan.
Amelia menunduk, jemarinya memainkan ujung jaket. “Menyimpan.”
Sinta mendesah. “Ya ampun… Sandiii?”
Amelia mengangguk kecil. “Aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Dan mungkin… bukan aku orangnya.”
Santi menggeleng. “Mel, dengar ya. Waktu yang ‘tepat’ itu jarang datang pakai undangan.”
Sinta menimpali, mulai ngomel, “Kamu dokter. Berani pegang nyawa orang. Masa ngomong perasaan aja takut?”
Amelia tertawa kecil, getir. “Ini beda.”
“Beda karena risikonya ke kamu,” kata Santi lembut. “Bukan ke pasien.”
Sinta menyikut pelan. “Dan Sand itu bukan patung. Dia juga manusia. Bisa mikir, bisa ngerasa.”
Amelia menatap mereka. “Aku takut… kalau aku bicara, semuanya jadi rumit.”
Santi menghela napas. “Mel, hidup Sand sudah rumit dari awal. Kamu tidak menambah beban—kamu justru cahaya.”
Sinta mengangguk setuju. “Iya. Dan kami capek dengar curhat yang muter-muter.”
Amelia tersenyum, matanya berkaca-kaca. “Kalian jahat.”
“Kami sayang,” jawab Santi cepat.
Di kejauhan, Sandi tertawa kecil mendengar sesuatu dari Mang Dedi. Amelia melirik ke arah itu, cepat-cepat memalingkan wajah.
“Belum sekarang,” katanya lirih.
Sinta mendengus. “Baik. Tapi jangan kelamaan. Nanti keburu penangkarannya kebongkar.”
Mereka tertawa pelan.
Menjelang sore, Mbah Klowor berdiri di tepi sawah lagi, menatap arah hutan yang jauh.
“Jejaknya jelas,” katanya. “Yang diambil bukan sembarang.”
Sandi mengangguk. “Induk, pejantan, racun matang.”
“Dan yang ditinggal,” tambah Mbah Klowor, “adalah kebingungan.”
Ia menoleh ke Amelia, Santi, dan Sinta. “Yang kalian jaga hari ini—nyawa manusia—itu juga titipan.”
Amelia menunduk hormat. “Kami tahu, Mbah.”
Angin sore berembus. Di semak yang jauh, induk kobra tetap melingkar—menjaga masa depan yang rapuh.
Dan di hati Amelia, sesuatu yang lama disimpan mulai mencari jalan keluar—pelan, seperti alam Grenjeng yang selalu memberi tanda sebelum berubah.
Benturan di Balik Semak
Semak belukar itu lebih rapat dari yang terlihat dari kejauhan. Duri liar menjalar, tanah lembap, dan bau anyir khas reptil tercium samar. Langkah mereka terhenti serempak ketika terdengar suara desisan panjang—bukan satu, tapi beberapa.
Mang Dedi mengangkat tangan. “Berhenti.”
Dari celah dedaunan, tampak Mang Zondol bersama tiga orang lainnya. Mereka membawa karung goni, tongkat penjepit, dan senter kepala. Gerak mereka cepat, terbiasa.
“Itu dia…” gumam Nurdin.
Sandi menahan napas. “Penangkapan aktif.”
Zondol tertawa kecil. “Cepat! Yang besar dulu. Malam ini setorannya banyak.”
Tiba-tiba—
PSSSHHT!
Cairan menyembur dari balik ilalang.
“AAARGH!” teriak salah satu anak buah Zondol sambil memegangi wajahnya. Ia terjatuh, berguling di tanah. “Mataku! Panas!”
“Kobra penyembur!” teriak Mang Dedi.
Kekacauan seketika pecah. Ular itu muncul—tudungnya mengembang, tubuhnya meliuk agresif, menyemburkan racun ke segala arah.
“Semua mundur!” teriak Sandi.
Zondol panik. “Tangkap! Tangkap!”
“Dia kena mata!” teriak temannya.
Sandi, Amelia, dan Farhan bergerak cepat. Tidak ada ragu.
“Amelia, air!” kata Farhan.
Amelia sudah berlutut di samping korban. “Jangan digosok! Buka matanya!”
Sandi menuangkan air bersih perlahan ke mata korban. “Bernapas pelan. Jangan panik.”
Farhan memeriksa cepat. “Kontak langsung, tapi belum parah. Kita netralkan dulu.”
Zondol menatap mereka dengan mata merah marah. “Ngapain kalian nolong?!”
Amelia menoleh tajam. “Karena dia manusia.”
Korban mengerang, napasnya mulai teratur. Racun berhasil dibilas cukup cepat.
Di sisi lain, kobra penyembur masih mengamuk. Desisannya keras, menghantam sunyi hutan.
“Mbah…” ujar Mang Dedi cemas.
Mbah Klowor melangkah maju. Tenang. Tanpa tongkat. Tanpa alat.
“Jangan!” teriak Zondol. “Itu berbahaya!”
Mbah Klowor tidak berhenti. Ia berlutut perlahan, menundukkan tubuhnya.
“Tenang…” suaranya rendah, mantap. “Aku tahu kau marah.”
Kobra itu menyembur lagi—ke tanah, bukan ke wajah.
“Bukan mereka yang kau cari,” lanjut Mbah Klowor. “Yang mengambil saudara-saudaramu… ada di balik niat manusia.”
Ular itu berhenti bergerak. Tudungnya perlahan mengendur.
Semua terdiam.
“Pulanglah,” kata Mbah Klowor. “Jaga wilayahmu.”
Perlahan, kobra penyembur itu mundur, masuk kembali ke semak, menghilang seolah tidak pernah ada.
Farhan menatap tak percaya. “Luar biasa…”
Di saat yang sama, amarah lama meledak.
Mang Dedi berdiri tepat di depan Zondol. “Kamu keterlaluan, Zondol.”
Zondol mendengus. “Kamu sok suci sekarang? Dari dulu kita sama!”
“Tidak,” jawab Mang Dedi tegas. “Aku belajar menjaga. Kamu belajar menjual.”
Zondol tertawa sinis. “Idealismu tidak bisa memberi makan.”
Tinju Mang Dedi melayang cepat—tepat, terukur.
Zondol terhuyung, tapi membalas.
Mereka bertarung singkat namun keras. Tanpa senjata. Tanpa kata.
Mbah Klowor menyaksikan—wajahnya berat, mata penuh kecewa.
“Cukup, Dedi,” katanya akhirnya.
Mang Dedi menghantam terakhir kali, membuat Zondol jatuh terduduk. Wajahnya babak belur, napasnya tersengal.
Zondol bangkit tertatih, dibantu dua temannya.
“Ini belum selesai,” katanya terengah, menatap Sandi dan Amelia bergantian. “Kalian pikir bisa menghentikan jalur ini?”
Ia tersenyum berdarah. “Ada hutan yang lebih dalam. Dan orang-orang yang tidak kenal ampun.”
Mereka kabur masuk rimbun semak, menyeret karung kosong, meninggalkan satu yang terluka—yang kini sudah bisa duduk berkat pertolongan Amelia.
Hening kembali turun.
Mang Dedi menunduk. “Maaf, Mbah.”
Mbah Klowor menghela napas panjang. “Pertarungan ini sudah lama dimulai, Nak. Kalian hanya meneruskannya.”
Sandi menatap arah Zondol menghilang. “Ancaman itu nyata.”
Amelia berdiri di sampingnya. “Tapi hari ini… kita menyelamatkan satu nyawa.”
Farhan mengangguk. “Dan mencegah banyak yang lain.”
Di semak belukar yang kembali sunyi, alam seolah menutup luka sementara. Namun semua tahu—
ini bukan akhir. Ini hanya pertemuan pertama yang terbuka.
Dan di balik ancaman yang ditinggalkan, jalur menuju penangkaran di tengah hutan kini semakin jelas.
Tamu Tak Diundang
Siang itu matahari bersinar ramah. Angin sawah bertiup pelan, membawa aroma lodeh yang mengepul dari dapur rumah Mang Dedi. Di teras, mereka duduk melingkar di atas tikar pandan.
“Tambah nasinya, Sand,” ujar Mang Dedi sambil menyendokkan sayur lodeh ke piring. “Ikan sepat nya masih panas.”
“Wah, ini komplet,” kata Nurdin senang. “Sambelnya mantap.”
Amelia tersenyum, baru saja menyesap teh manis hangat. “Makan di sini rasanya… damai.”
Santi dan Sinta mengangguk setuju, sibuk dengan lalapan.
Halimah duduk di dekat ibunya, rapi dan tenang, memperhatikan semua dengan mata ingin tahu.
Tiba-tiba—
Sandi berhenti mengunyah.
“Diam,” katanya pelan.
Semua terdiam. Dari arah pematang sawah, terdengar gesekan rumput. Lalu satu desisan. Disusul dua. Tiga.
Dari balik ilalang, beberapa kobra penyembur muncul perlahan. Tudung mereka setengah terbuka, tubuhnya bergerak tenang—tidak agresif, tapi jelas sadar akan kehadiran manusia.
“Ya Allah…” Sinta langsung berdiri.
“Sandiii—” Santi refleks menarik Amelia.
Dalam sekejap, Amelia, Santi, dan Sinta bersembunyi di belakang Sandi dan Nurdin.
“Jangan panik,” kata Sandi rendah, meski tubuhnya siap siaga.
Nurdin menelan ludah. “Ini… banyak.”
Di antara kegaduhan kecil itu, Halimah tetap duduk. Wajahnya tenang. Bahkan ia mengambil segelas teh dan menyesapnya pelan.
Mang Dedi melirik putrinya. “Halimah… ke dalam dulu, Nak.”
Halimah menggeleng kecil. “Tidak apa-apa, Pak. Mereka tidak marah.”
Amelia menatap tak percaya. “Kamu… tidak takut?”
Halimah menggeleng. “Mbah bilang, kalau ular datang siang-siang tanpa menyerang… berarti mereka mau bicara.”
Semua terdiam.
Mbah Klowor keluar dari kamar, langkahnya tenang seperti biasa. Ia berhenti di depan teras, menatap para tamu tak diundang itu.
“Sudah makan?” tanyanya pelan—bukan kepada manusia.
Kobra-kobra itu berhenti. Salah satu mengangkat kepala sedikit lebih tinggi.
Mbah Klowor berjongkok, menurunkan tubuhnya. “Aku dengar keresahan kalian.”
Ia memejamkan mata, mendengarkan dengan seluruh tubuhnya.
“Mereka datang bukan untuk menyerang,” katanya kemudian. “Mereka datang… meminta.”
“Meminta apa, Mbah?” tanya Sandi hati-hati.
“Minta tolong,” jawabnya lirih.
Kobra terdepan mendesis pendek.
“Mereka bilang,” lanjut Mbah Klowor, “banyak saudara mereka ditahan. Di hutan tengah. Di balik pagar dan manusia.”
Amelia menutup mulutnya. “Penangkaran…”
“Mereka ingin aku bicara pada manusia,” kata Mbah Klowor. “Agar yang ditangkap… dibebaskan.”
Sandi mengangguk pelan. “Kami akan berusaha.”
Mbah Klowor membuka mata, menatap kobra-kobra itu. “Aku dengar. Dan aku sampaikan.”
Seolah mengerti, kobra-kobra itu bergerak maju—bukan ke arah manusia lain, melainkan melingkar perlahan di kaki Mbah Klowor. Gerakan mereka lembut, hampir seperti ritual.
Santi ternganga. “Mereka… berterima kasih.”
“Ya,” jawab Mbah Klowor. “Dengan cara mereka.”
Beberapa detik berlalu. Lalu satu per satu, ular-ular itu melepaskan lingkaran, berbalik, dan meluncur kembali ke sawah. Desisan mereka menghilang, digantikan suara angin dan gemerisik padi.
Sunyi kembali menyelimuti teras.
Nurdin menghembuskan napas panjang. “Aku… baru pertama makan siang ditemani tamu seperti itu.”
Sandi tertawa kecil. “Dan masih utuh.”
Amelia menatap Halimah. “Kamu luar biasa.”
Halimah tersenyum malu. “Aku cuma dengar kata Mbah.”
Mbah Klowor duduk kembali. “Alam tidak pernah datang tanpa sebab,” katanya pelan. “Kalau ia sudah mengetuk pintu rumah… artinya waktunya hampir habis.”
Farhan menatap Sandi. “Mereka menunggu kita.”
Sandi mengangguk mantap. “Dan kita tidak boleh mengecewakan.”
Di teras rumah sederhana pinggir sawah itu, di antara piring lodeh yang mulai dingin dan teh manis yang tinggal setengah, sebuah janji tak terucap lahir—bukan hanya antara manusia, tapi antara manusia dan alam.
Dan Grenjeng, sekali lagi, menjadi saksi.