NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:997
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesalahpahaman yang tak berujung

Hamka menghentikan langkah Fariz di koridor sekolah. Tangannya refleks menahan bahu laki-laki itu, membuat Fariz menoleh dengan dahi berkerut.

“Kenapa, Ka?” Fariz terkekeh kecil. “Wajah lo kok serem amat. Kayak mau nagih utang.”

Hamka tak menanggapi candaan itu. Sorot matanya gelap, rahangnya mengeras—jauh dari Hamka yang biasanya santai dan seenaknya.

“Riz,” ucapnya pendek. “Gue butuh nomor Helena.”

Senyum Fariz langsung menghilang.

“Helena?” ulangnya pelan. “Adik gue?”

“Iya.”

Fariz menatap Hamka lama, mencoba mencari sisa bercanda di wajah sahabatnya. Tapi yang ia temukan hanya keseriusan yang bikin perutnya terasa nggak enak.

“Lo kenapa?” tanya Fariz akhirnya, nada suaranya ikut turun. “Lo berantem sama dia?”

Hamka menghela napas, tapi tak menjawab.

“Gue cuma perlu bicara sama dia. Sekarang.”

Nada Hamka tegas. Terlalu tegas.

Fariz menyandarkan punggung ke dinding. “Ini ada hubungannya sama Naura?”

Hamka memalingkan wajah sesaat, lalu kembali menatap Fariz. Diamnya menjadi jawaban paling jelas.

“Helena ngapain lagi?” tanya Fariz, kali ini tanpa senyum.

“Bikin orang salah paham,” jawab Hamka singkat. “Dan gue yang ngebiarin.”

Fariz terdiam. Ia merogoh saku celananya perlahan, mengeluarkan ponsel.

“Nomornya gue kasih,” katanya hati-hati. “Tapi gue mau lo ngomong baik-baik sama dia.”

Hamka mengangguk. “Gue nggak mau marah. Gue mau lurusin.”

Fariz menyodorkan ponselnya.

“Ini. Tapi jujur ya, Ka… gue jarang lihat lo dengan wajah kayak gini.”

Hamka mencatat nomor itu, lalu memasukkan ponselnya ke saku.

“Karena kali ini gue salah, Riz.”

Fariz terdiam, menatap punggung Hamka yang mulai menjauh.

Sebagai kakak, dadanya terasa tak tenang.

Sebagai sahabat, ia tahu kalau Hamka sudah setegas itu, ada hati yang benar-benar sedang dipertaruhkan.

Hamka berhenti di sudut koridor yang sepi. Ia menatap nomor asing di layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol panggil.Hamka memang tak menyimpan kontak sembarang orang ..apalagi nomer perempuan .Di ponselnya hanya ada nomer ibunya dan sang tetangga yang ia namai kontaknya :

Tetangga Tantrum

Tangannya tenang, tapi rahangnya mengeras,tanda ia sedang menahan banyak hal.

Nada sambung terdengar.

Satu kali.

Dua kali.

“Halo?” suara di seberang terdengar ceria, belum menyadari apa pun. “Kak Hamka?”

“Iya,” jawab Hamka singkat. “Helena.”

Nada suaranya datar. Tidak hangat. Tidak pula marah.

Helena terdiam sejenak. “Iya, Kak?”

“Kita perlu bicara,” kata Hamka, tetap tenang. “Sekarang.”

“Ada apa, Kak?” Helena tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. “Kedengerannya serius banget.”

“Memang serius,” balas Hamka. “Soal status WhatsApp lo.”

Hening di seberang.

Tawa kecil itu lenyap.

“Status?” Helena mengulang pelan. “Maksud Kakak?”

“Yang bikin orang ngira gue pacar lo,” ucap Hamka jelas. “Gue nggak pernah kasih izin.”

Nada Hamka tetap rendah, terkendali. Justru itu yang membuat kalimatnya terasa lebih berat.

Helena menarik napas. “Aku cuma..”

“Dengerin dulu,” potong Hamka, kali ini sedikit lebih tegas. “Gue nggak marah. Tapi gue mau jelas.”

Beberapa detik berlalu sebelum Helena bicara lagi. “Aku pikir Kakak nggak keberatan."

“Karena gue nggak lihat,” jawab Hamka jujur. “Dan itu salah gue.”

Lalu ia menambahkan, lebih pelan, “Tapi jangan lo anggap diam gue sebagai persetujuan.”

Hening kembali.

“Jadi… Kakak mau aku hapus?” tanya Helena lirih.

“Iya,” jawab Hamka tanpa ragu. “Dan jangan ulangi. Jangan bawa nama gue ke hal yang bisa bikin orang lain salah paham.”

Helena terdiam lama. “Aku minta maaf, Kak.”

“Gue terima,” kata Hamka. “Dan nanti gue mau ketemu. Biar kita beresin baik-baik.”

“Sekarang?”

“Iya.”

Helena mengangguk meski Hamka tak bisa melihatnya. “Baik, Kak.”

Hamka menutup panggilan perlahan. Ia menatap layar ponselnya sesaat, lalu menarik napas panjang.

Telepon itu terkendali.

Tenang.

Tapi di balik nada datarnya, ada satu hal yang jelas.

Ia tak ingin kehilangan lagi karena ketidakjelasan yang ia biarkan sendiri.

***

Helena datang dengan langkah ragu. Matanya langsung menemukan Hamka yang berdiri di bawah pohon flamboyan, sendirian, wajahnya tenang tapi dingin.

“Kak…” sapa Helena pelan.

Hamka menoleh. Tatapannya jatuh tepat ke wajah Helena.

“Duduk,” katanya singkat.

Helena menuruti. Bangku taman itu terasa terlalu sepi untuk dua orang yang sedang membawa perasaan masing-masing.

“Aku sudah hapus statusnya,” ucap Helena cepat. “Semuanya.”

Hamka mengangguk.

“Kak Hamka marah?”

Hamka menghela napas panjang. “Gue kecewa.”

Helena menunduk. “Aku cuma ngerasa… diperhatiin.”

“Dan itu salah gue,” jawab Hamka jujur. “Gue nggak tegas dari awal.”

Kalimat itu membuat Helena menatapnya dengan mata berkaca. “Aku pikir Kakak..."

Hamka menggeleng pelan dan memotong ucapan Helena, “perasaan gue bukan ke lo.”

Kalimat itu menghantam keras.

Helena terisak, berdiri dengan tubuh gemetar.

" Apa dia... Naura ?"suaranya sangat pelan .

Hamka refleks berdiri. Bukan untuk mendekat tapi untuk menahan jarak. Namun saat Helena kehilangan keseimbangan, tubuhnya condong ke depan.

Dan saat itu..

Helena memeluk Hamka.

Bukan pelukan bahagia.

Bukan pelukan cinta.

Tapi pelukan orang yang runtuh.

Hamka membeku. Tangannya terangkat ragu, lalu menepuk bahu Helena singkat..sekadar memastikan gadis itu tak jatuh.

“Helena…” ucapnya pelan. “Cukup.”

Namun dari kejauhan..

Naura baru saja melewati taman itu.

Langkahnya terhenti.

Pandangan matanya terpaku pada satu adegan:

Hamka berdiri, Helena memeluknya erat.

Dari jaraknya, ia tak bisa melihat wajah Hamka yang kaku.

Tak bisa mendengar kata cukup yang terucap pelan.

Yang ia lihat hanya satu hal:

mereka terlihat begitu dekat.

Dadanya langsung sesak.

Naura menelan ludah. Matanya panas. Pandangannya berembun.

Ia mundur satu langkah. Lalu dua.

Tanpa suara. Tanpa kata.

Ia berbalik dan pergi sebelum air matanya jatuh sepenuhnya.

Di belakangnya, Hamka akhirnya melepaskan diri dengan jarak yang jelas.

“Sorry..” katanya tegas tapi lembut. “Mulai sekarang... Lo nggak usah hubungi gue lagi."

Helena mengangguk dalam tangis.Tak ada bantahan. Tak ada drama. Hanya penerimaan yang pahit.

Namun Naura sudah tak ada di sana.

Yang tersisa hanyalah satu kesalahpahaman,

lahir dari satu adegan singkat,

dan sebuah hati yang sudah lebih dulu lelah

untuk mencari penjelasan.

Namun Naura sudah tak ada di sana.

Yang tertinggal hanyalah satu kesalahpahaman..

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!