"aku janji bakal menghilang dari kehidupan kamu untuk selama-lama nya" ucap Viona dengan nada bergetar
kehidupan Viona benar-benar sangat menyedihkan, selain miskin, gadis itu juga hanya mempunyai seorang ibu yang sudah sangat tua renta
tetapi ia mempunyai cita-cita yang sangat tinggi, hingga akhirnya Viona bertemu dengan laki-laki yang akan merubah seluruh hidup nya
bagaimana kelanjutan ceritanya???
mari kita simak........
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miftah_005, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18(club)
Viona berjalan gontai menuju kamar nya, ia melihat wajah sang ibu yang sudah tertidur dengan sangat pulas, gadis itu dengan perlahan mendekat dan mengelus wajah yang terlihat nampak semakin tua
"Maafin aku ya buk, belum bisa buat ibu bahagia"
Mata yang awal nya terpejam sempurna kini mulai terbuka dengan perlahan, memperlihatkan mata indah yang setiap hari membuat Viona selalu bersemangat untuk melanjutkan hidup nya
"Kamu udah selesai beres-beres nya?" Tanya sang ibu
"U-dah buk" Jawab Viona yang dengan cepat menghapus air mata nya
"Loh? Kenapa nangis? Apa ada masalah sama ibu Salma?"
Ratih mencoba duduk dan mengelus pundak Viona dengan lembut, hati nya begitu sakit kala melihat putri nya selalu menangis
"Enggak kok buk, tadi cuma nonton drama sedih, jadi nya pengen nangis terus" Bohong Viona yang membuat Ratih tersenyum tipis
"Ibu udah kenal kamu dari kecil, jadi ibu tau tau kalo kamu lagi bohong, apa kamu sedih gara-gara mikirin biaya berobat? Kan ibu udah bilang, gak usah terlalu di pikirin, ibu juga sekarang udah sehat kok" Jelas nya
Air mata Viona mengalir mendengar ucapan ibu nya, dengan cepat ia memeluk tubuh yang semakin tua itu
"Aku gak mikirin soal biaya, kalo masalah itu Viona udah ada uang nya"
"Kamu dapet uang dari mana nak?"
Ratih tau biaya pengobatan yang setiap bulan harus di bayar, dan nominal nya tidak lah sedikit, dengan gaji Viona yang di bawah 4 juta, mustahil jika bisa menabung dengan uang yang tidak seberapa itu
"Ini uang halal kok buk, jadi ibu tenang aja, udah mending sekarang ibu tidur lagi, Viona mau lap-lap badan dulu, habis itu baru tidur" Ucap Viona sembari membaringkan tubuh ibu nya
"Ya sudah, ibu tidur lagi kalau begitu"
Melihat ibu nya kembali tertidur, Viona dengan cepat menyambar handuk dan segera masuk ke kamar mandi, hari sudah larut malam, tubuh nya pun lelah dan ingin secepat nya beristirahat
Setelah pulang dari rumah nenek Salma, kini Baskara duduk termenung di dalam mobil, fikiran nya masih memikirkan ekspresi Viona yang sedang menangis akibat ucapan nya tadi
"Gue salah gak sih ngomong kayak gitu? Lagian sendiri sok-sok an nolak cowok cool kayak gue" Gumam nya
Sedang asik memikirkan Viona, tiba-tiba suara sering ponsel membuat Baskara terlonjak kaget
"Biadab!! Siapa yang nelpon gue malem-malem gini! Ngagetin orang aja!" Omel nya sembari mengambil ponsel yang berada di atas dasbor
"Cakra? Ngapain tuh orang nelpon gue"
Ia pun mengangkat panggilan itu dengan ekspres kesal
"Kenapa nelpon-nelpon?" Tanya nya dengan nada tak bersahabat
"Santai bos, ini gue sama Radit lagi ada di club, elo gak mau nyusul apa?" Ucap Cakra di sebrang sana
Wajah Baskara yang awal nya masam berubah menjadi tersenyum, sudah lama sekali diri nya tak menginjak bangunan itu
Ia sangat rindu suasana malam yang berbau alkohol, semenjak Viona pindah ke rumah nya, Baskara memang tidak tertarik lagi dengan alkohol, karena setiap ia ingin keluar, pasti Viona akan memarahi nya hingga membuat telinga laki-laki itu berdenging
Malam ini ia akan kembali pada dunia malam nya, karena sudah tidak ada lagi seseorang yang akan memarahi nya atau pun melarang ia untuk pergi ke tempat itu
"Oke gue ke sana"
Di sebrang sana, Cakra dan Ratih tersenyum puas mendengar jawaban Baskara
"Tumben tuh anak mau ke sini" Heran Radit
"Kayak nya dia gak pernah ke sini gara-gara Viona, sekarang cewek kampung itu udah gak tinggal di rumah Baskara lagi, jadi mungkin Baskara ngerasa bebas maka nya mau ke sini lagi" Jelas Cakra sembari menutup telpon nya
"Tapi gue aneh sama Baskara, kok dia mau ya nyuruh Viona tinggal di rumah nya, mana kamar mereka deketan lagi, kalo gue mah ogah"
Cakra dan Radit baru saja mendengar pengakuan Baskara di sekolah tadi tentang Viona yang pernah tinggal di rumah laki-laki itu
"Sama, gue juga ogah banget, udah cupu, dekil plus miskin lagi!" Seru Cakra yang membuat kedua nya tertawa dengan lepas
"tapi kenapa ya dia bisa bikin Baskara tergila-gila?" heran Radit
"gue sih yakin kalo dia itu pake pelet, secara dia itu jelek banget broo, gue aja kalo di tawarin secara gratis tetep gue tolak" ejek Cakra dengan ekspresi jijik
"udah lah gak usah di bahas, takut kalau Baskara nanti denger"
Tak sengaja saat menoleh ke samping, Radit melihat Baskara yang sedang berjalan ke arah nya dengan ekspresi datar
"Eh eh eh, itu Baskara udah dateng" Ucap Radit seraya menyenggol lengan laki-laki di samping nya
"Wahhh, akhirnya elo dateng juga, tumben banget muka nya di tekuk gitu" Sapa Cakra
mereka bertiga bertos ria seperti para lelaki pada umum nya, ini kali pertama nya Baskara menginjak kan kaki nya ke tempat ini, setelah sekian lama berhenti hanya karena seorang pembantu
Baskara duduk bergabung bersama kedua sahabat nya, bersamaan dengan itu musik dj berdentum dengan keras nya yang membuat Cakra tak tahan ingin bergerak kesana kemari mengikuti irama musik
"Ayo lah, kita di sini kan mau happy-happy, jadi jangan pasang wajah kayak gitu" Radit menggoyangkan lengan Baskara agar laki-laki itu ikut bergoyang
"Gue bingung"
Baskara menutup wajah nya dengan kedua tangan nya, ada sesuatu yang hilang dalam diri laki-laki itu yang membuat nya hilang arah seperti ini
"Udah gak usah bingung-bingung, kita di sini kan mau happy-happy, liat tuh cewek-cewek seksi di depan, behhh asoy banget broo!" Ucap Cakra dengan menunjuk wanita-wanita di depan nya
"Yoi bro, yok ah langsung gabung, siapa tau malem ini kita beruntung" Ajak Cakra sembari menarik tangan Baskara untuk berdiri
Ketiga nya kini berjalan ke arah segerombolan cewek-cewek seksi yang sedang menari, hingga tatapan mereka tertuju pada ketiga wanita yang sangat mereka kenali
"Itu bukan nya...