Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Sahabat.
Seorang pria melihat wanita yang baru saja di tangani dokter, tergeletak tak berdaya di ranjang pasien.
Tak lama wanita itu terbangun, matanya mengerjap masih menyesuaikan dengan cahaya lampu.
Bang Rico kemudian meminta para rekan untuk keluar dari ruangan lalu mendekati wanita tersebut.
"Sabar, jangan banyak bergerak..!!! Kepalamu terluka, terhantam batu." Kata pria tersebut. "Nama saya, Letnan Rico. Boleh saya tau namamu?? Dimana suamimu??"
"Saya, Dinda. Saya tidak punya suami." Jawab Dinda.
"Tapi kamu hamil."
Dinda mengangguk, teringat saat dirinya lari dari rumah dinasnya bersama Bang Rama.
"Apa yang sebenarnya terjadi??" Tanya Dinda.
Akhirnya Dinda menceritakan kisahnya bersama Bang Rama, dari awal pertemuannya dengan Bang Rama hingga kejadian kemarin, Bang Rico pun mendengarnya dengan seksama.
Jiwa Letnan Rico yang juga seorang anggota Intel di sana tentu langsung peka dengan keadaan.
"Rama. Kamu bilang, Rama yang kamu maksud adalah Rama yang ada di Pulau seberang, kan??? Bagian dari anggota intai disana?"
Dinda mengangguk pelan, tak paham bagaimana pria di hadapannya itu bisa mengenal Bang Rama. "Darimana Bapak bisa mengenalnya??" Selidiknya penuh penasaran.
"Saya lettingnya. Kamu bisa panggil saya sama seperti kamu memanggil Rama." Jawab Bang Rico.
"Letting?????" Dinda kaget dan bersiap pergi dari sana.
Dengan cepat Bang Rico mencegah Dinda. "Tunggu, kamu mau kemana?? Lagipula tenagamu belum pulih, kamu masih luka. Anakmu........."
"Jangan beritau Bang Rama kalau Dinda ada disini..!!!"
"Tapi Dinda............." Bang Rico tidak mungkin menjadi pengkhiat untuk sahabatnya sendiri.
Flashback Bang Rico on..
Pelatih sudah berdiri di hadapan para siswa taruna.
"Siapa yang semalam kabur dari camp???????" Tanya pelatih pada rekan satu letting Bang Rico. "Ada inisial huruf R disini."
Pelatih masih menyisir setiap siswa yang memiliki nama berinisial huruf R. Tapi kemudian pelatih mengangkat satu inisial kalung.
"Punya siapa ini???? R juga."
Saat itu Bang Rama gelisah meskipun dirinya mencoba untuk tenang.
Bang Rico langsung melepas jam tangannya, menjatuhkannya kemudian mendorongnya dengan kaki.
"Injak..!!" Perintah Bang Rico pada Bang Arben.
Dengan cepat Bang Rama pun meminta sahabatnya menarik kalungnya. "Tarik kalung ku, San..!!!"
"Ojo ngawur, Ric. Ditanggung bareng wae." Kata Bang Arben.
"Pasrah saja, Ram." Imbuh Bang Sanca.
"Siap salah, pelatih."
"Siap salah, pelatih."
Pelatih menoleh saat Bang Rama dan Bang Rico menjawab bersamaan.
Kode dari Bang Rico membuat Bang Arben langsung menginjak jam tangan tersebut, memang tujuannya agak satu barak tidak di hukum. Bang Sanca ikut menggenggam kalung tersebut dengan rapi.
"Kalian berdua kabur ke tempat itu????" Tanya pelatih.
"Siap..!!" Jawab Bang Rama dan Bang Rico bersamaan.
"Kalian ada di konser itu??? Pakai pakaian sipil, kalian itu masih pendidikan. Jangan sok..!!!!!!!" Bentak pelatih. "Ambil posisi menyerah..!!!"
Pelatih memutari kedua 'biang masalah' dalam barisan siswa tersebut. Beliau pun melihat kalung Bang Rama yang tidak tergantung di lehernya.
"Kalian lagi, kalian lagiiii.. Tidak bosan kalian berulah?????" Bentak pelatih.
Satu lagi pelatih datang menghampiri hingga geleng kepala.
"Saya pun heran. Kalian ini terbuat dari apa?????? Kau Rama.. Malas baca buku tapi nilaimu tidak pernah minus. Dan kau Rico.. Tidak pernah paham saat pelatih menjelaskan materi tapi tidak pernah ada yang salah sedikitpun. Kalian bersaing, sering gelut tapi tidak pernah rela salah satu di antara kalian terhukum sendirian. Mau kalian bagaimana sih??????" Omel pelatih. "Masuk dalam kamar isolasi..!! Renungi kesalahan kalian..!!!!"
"Siap..!!!"
...
Bang Rama menyodorkan rokok pada Bang Rico di kamar isolasi tersebut.
"Gila lu yaa..!!! Darimana lu dapat rokok????" Tegur Bang Rico saat sahabatnya itu mengeluarkan dua batang rokok dari lipatan bajunya.
"Aman, makanya pakai akal." Jawab Bang Rama.
"Oohh.. Aman??? Oke.. Nih aku balas." Bang Rico mengeluarkan botol portable dari sela kaos kaki.
Bang Rama sampai melotot melihatnya. Jelas dirinya paham apa yang di bawa Bang Rico "Bangke.. Lu malah bawa 'minuman'."
"Sudah, nikmati saja." Kata Bang Rico.
Mereka pun merokok dan menghabiskan minuman disana.
"Lu bejat amat sih Ric." Celetuk Bang Rama.
"Biji cempedak satu ini.. Emang lu nggak b*****t???" Jawab Bang Rico.
"Apa aja boleh lah. Lanang kan????" Ujar Bang Rama. "Asal lu nggak nyamber bini gue, lu bakal tetap hidup."
"Ya sama, lu sentuh bini gue. Tamat lu Ram."
Flashback Bang Rico off..
"Kenapa?? Kamu tau ini tidak etis. Menyembunyikan kamu disini sama saja saya sudah mengkhianati sahabat saya."
"Tapi Bang Rama sudah meniduri wanita lain dan wanita itu sudah mau melahirkan." Kata Dinda.
"Kenapa saya merasa ada yang janggal." Gumam Bang Rico.
"Tolong, Bang. Tolong..!!!!!!"
"Beri saya waktu, saya tidak bisa memutuskan apapun. Perkara ini harus jelas, Dinda. Rama sekarang pasti sedang stress sekali mencarimu." Kata Bang Rama.
"Nggak mungkin, Bang... Sudah ada Mbak Ranti."
"Laah.. Jadi perempuan hamil yang kau bicarakan itu, si Ranti?????" Tanya Bang Rico syok.
Dinda mengangguk lemah. "Iya."
"Astaghfirullah.. Ada apa ini??? Ya sudah, nanti saya selidiki dulu. Kamu jangan coba kabur lagi..!!"
//
"Makan dulu, Ram..!!!! Kalau kamu nggak makan, kamu nggak bisa cari Dinda." Bujuk Bang Arben.
"Aku nggak selera makan."
"Paksa sedikit..!!!" Tak hentinya Bang Arben membujuk Bang Rama.
Di sisi lain, Bang Sanca dan Bang Jay sibuk menangani Ranti yang bersikeras minta di nikahi.
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara