Raska dikenal sebagai pangeran sekolah, tampan, kaya, dan sempurna di mata dunia. Tak ada yang tahu, pendekatannya pada Elvara, gadis seratus kilo yang kerap diremehkan, berawal dari sebuah taruhan keji demi harta keluarga.
Namun kedekatan itu berubah menjadi ketertarikan yang berbahaya, mengguncang batas antara permainan dan perasaan.
Satu malam yang tak seharusnya terjadi mengikat mereka dalam pernikahan rahasia. Saat Raska mulai merasakan kenyamanan yang tak seharusnya ia miliki, kebenaran justru menghantam Elvara tanpa ampun. Ia pergi, membawa luka, harga diri, dan hati yang hancur.
Tahun berlalu. Elvara kembali sebagai wanita berbeda, langsing, cantik, memesona, dengan identitas baru yang sengaja disembunyikan. Raska tak mengenalinya, tapi tubuhnya mengingat, jantungnya bereaksi, dan hasrat lama kembali membara.
Mampukah Raska merebut kembali wanita yang pernah ia lukai?
Atau Elvara akan terus berlari dari cinta yang datang terlambat… namun tak pernah benar-benar pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Di Ambang Pintu Itu
Gayus menjawab lebih dulu. “Secara observasi, mereka terlihat akrab sejak hari pertama Elvara bekerja. Interaksi natural. Bukan kenalan baru.”
Asep mencondongkan tubuh. “Kayak orang yang udah lama saling kenal, Kapten. Bukan rekan kerja yang baru salaman.”
Ruangan terasa menyempit.
Asep menggaruk tengkuk. “Gue cuma mikir… kalau bocah itu bilingual, logatnya campur, dan si bule itu ada…”
Vicky bersiul pelan. “Kalau bocahnya dua bahasa gitu, ya… kemungkinan besar Elvara lama di luar negeri.”
Asep mengangguk cepat. “Amerika, mungkin. Cocok sama si Adrian itu.”
Gayus mengangguk, menambahkan, lebih tenang. “Hipotesis yang masuk akal. Ada kemungkinan Elvara sempat tinggal di Amerika. Secara statistik, anak usia lima tahun dengan kefasihan bilingual biasanya tumbuh di lingkungan aktif dua bahasa sejak dini.”
Raska teringat kembali suara kecil semalam.
Cara bicaranya. Logat ringan. Natural. Bukan hasil les. Kalimat Inggris yang mengalir, lalu senyum polos tanpa beban.
Bilingual.
“You smell like home.”
Dadanya mengencang.
Semua potongan itu, terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
“Alamat,” kata Raska akhirnya. Tegas. Tanpa ragu.
"Rumah, rumah sakit dan sekolah," lanjut Raska, suaranya tak naik, tapi tekanannya cukup untuk membungkam ruangan. “Sekarang.”
Gayus langsung menunjukkan tablet. “Ini alamat rumahnya.” Gayus menggeser layar. "Ini sekolahnya."
Ia geser lagi. “Dan ini lokasi rumah sakit.”
Raska menatap layar itu lama. Terlalu lama.
Asep berdeham pelan. “Kapten… lo yakin mau—”
Raska menoleh.
“Ya,” potong Raska.
Vicky menatapnya lebih serius dari biasanya. Tidak bercanda. Tidak menyentil.
“Pelan, Ras. Masalahnya bukan lo siap atau nggak. Kebenaran selalu minta tumbal.”
Raska mengangkat pandangan.
“Enam tahun lalu,” katanya datar, “aku sudah kehilangan segalanya tanpa diberi pilihan.”
Ia meraih tablet itu dari tangan Gayus.
“Sekarang aku hanya mengambil kembali apa yang mungkin memang milikku.”
Vicky menghela napas pendek. “Ya sudah. Semoga semesta ramah sama lo, Bro.”
Sunyi jatuh di ruangan itu.
Raska melangkah keluar ruangan tanpa menoleh lagi.
Di belakangnya, Asep bergumam pelan, “Gila… kalau bocah itu beneran—”
Vicky memotong, kali ini tanpa senyum. “Pelan. Ada hal-hal yang lebih baik ditemui langsung.”
Gayus menatap pintu yang tertutup. “Dan ada jawaban yang, begitu ditemukan, tak bisa dikembalikan.”
Sementara itu, di luar sana, seorang kapten sedang menuju sesuatu yang lebih berbahaya dari medan tempur mana pun.
Kebenaran.
Dan di suatu rumah lain, seorang bocah lima tahun mungkin sedang sarapan, tanpa tahu bahwa keberadaannya baru saja menggeser seluruh hidup seorang kapten yang tak pernah takut pada medan perang, sampai sekarang.
***
Mobil hitam itu melambat di ujung jalan.
Tidak ada sirene. Tidak ada pengawalan. Hanya mesin yang meredam suaranya sendiri, seolah ikut memahami bahwa tempat ini bukan medan operasi.
Raska mematikan mesin.
Ia tidak langsung turun.
Rumah itu berdiri sederhana. Bersih. Catnya terang, halaman kecil di depan tertata rapi. Tidak mewah. Tidak pula menyedihkan. Tempat tinggal orang yang hidupnya diatur dengan hati-hati.
Di sinilah mereka tinggal.
Pekarangan itu terasa… tenang. Terlalu tenang untuk jantung yang berdetak tak beraturan di dadanya.
Raska melangkah turun.
Sepatu hitamnya menginjak batu kerikil, bunyinya terdengar terlalu jelas di telinganya sendiri. Setiap langkah mendekat ke teras terasa seperti menembus sesuatu yang tidak pernah ia latih untuk dihadapi.
Bukan musuh. Bukan ancaman. Melainkan kemungkinan.
Ia berhenti di depan pintu.
Menarik napas.
Dan tanpa bisa dicegah, ingatan itu menyelusup singkat, tajam.
Pintu lain.
Teriakan. Sapu yang diayunkan. Panci yang dilempar. Air pelan yang hampir menyiram tubuhnya.
Diusir. Dipermalukan. Tidak diberi ruang bahkan untuk menjelaskan.
Raska mengepalkan tangannya, lalu melepaskannya perlahan.
Itu dulu. Ini sekarang.
Ia mengetuk.
Satu. Dua kali.
Pintu terbuka.
Seorang bocah berdiri di sana.
Montok berisi. Rambut gelap sedikit berantakan. Kaos tidur bergambar dinosaurus. Matanya besar, bening. Mata yang langsung mengenal, bahkan sebelum berpikir.
Raska membeku.
Dunia seolah menyempit, menyisakan satu wajah kecil di ambang pintu.
Astaga…
Bocah itu menatapnya tanpa takut. Tanpa ragu. Seperti semalam.
“Oh,” kata Rava spontan. Lalu tersenyum lebar.
“It’s you.”
Dada Raska mengencang, keras, seperti ada sesuatu yang runtuh sekaligus terbentuk dalam satu detik yang sama.
Rava memiringkan kepala, menatapnya dari ujung rambut sampai sepatu.
“You came,” katanya polos. Lalu menambahkan, ceria, dengan logat campur,
“Mommy’s not home. Dia di rumah sakit. Minggu tugas.”
Raska menelan ludah.
Suaranya sendiri terdengar asing saat akhirnya keluar. “Hai.”
Rava tersenyum makin lebar. Ada kebanggaan kecil di sana.
“Kamu… soldier, right? Kamu keren.”
Ia melangkah mundur setengah langkah, membuka pintu lebih lebar.
“Come in. Rumahku kecil, but it’s okay.”
Rumahku.
Kata itu menghantam lebih telak daripada apa pun.
Raska melangkah masuk.
Aroma rumah itu sederhana. Sabun, kayu, dan sesuatu yang hangat. Hidup.
Tidak banyak foto di dinding, tapi ada coretan krayon di sudut lemari, sepatu kecil di rak, dan mainan yang tak pernah benar-benar rapi.
Bukti kehidupan.
Rava menutup pintu, lalu menoleh lagi.
“Kamu kelihatan lebih tinggi tanpa seragam,” katanya jujur.
Lalu berpikir sebentar, sebelum menambahkan,
“But still same face. Kamu tampan.”
Raska berlutut perlahan, menyamakan tinggi badan mereka.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seorang kapten kehilangan seluruh protokol di kepalanya.
Tanpa aba-aba, ia memeluk bocah itu.
Hangat. Nyata. Terlalu dekat untuk dihindari.
Matanya terpejam, dadanya bergejolak hebat. Rindu yang tak pernah ia tahu telah ia simpan selama ini.
Rava membelalak. Tubuh kecil itu kaku sesaat.
“Are you okay?” tanyanya polos.
Raska tersentak, lalu melepaskan pelukan itu perlahan. Ia menatap mata bening di hadapannya. Wajahnya kembali datar, terlatih, menyembunyikan badai yang masih bergemuruh di dadanya.
“Kamu… sendirian?” tanyanya pelan.
Rava menggeleng.
“Grandma masih di toilet. Mommy bilang I can open the door if someone knocks, tetapi tidak untuk orang asing..”
Ia menatap Raska serius, lalu senyum itu kembali merekah.
“Tapi kamu bukan orang asing,” katanya yakin.
“You smells like… home.”
Kalimat itu.
Raska menutup mata sepersekian detik.
Saat membukanya kembali, matanya basah, namun wajahnya tetap tenang, terkunci rapi.
“Boleh aku duduk sebentar?” tanyanya hati-hati, seolah takut satu gerakan salah bisa merusak segalanya.
Rava mengangguk cepat.
“Sure. You can sit. Mommy suka kalau orang duduk dengan sopan.”
Raska duduk di sofa kecil itu.
Tangannya bergetar ringan.
Di hadapannya berdiri seorang bocah lima tahun yang baru saja menggeser seluruh definisi hidupnya, tanpa tahu apa pun tentang darah, nama, atau masa lalu.
Rava menatapnya lagi, penuh rasa ingin tahu.
“Are you… Papaku?”
Pertanyaan itu jatuh lembut.
Terlalu lembut untuk ditangkis.
Raska menatap wajah kecil itu, wajahnya sendiri, versi masa depan yang tak pernah ia bayangkan bisa ia miliki.
“Aku…” suaranya serak, lalu terhenti.
Untuk pertama kalinya, Kapten Raska, yang tak pernah ragu di medan perang, tidak tahu jawaban apa yang paling aman.
Namun satu hal pasti.
Ia tidak ingin pergi.
Tidak hari ini.
Tidak setelah pintu itu terbuka.
Dan tidak setelah bocah itu menatapnya seperti dunia adalah tempat yang aman, karena ia ada di depannya.
“Rava!”
Raska spontan menoleh.
“Nenek!” seru Rava ceria, berlari kecil. “Ini prajurit yang aku ceritain tadi.”
Elda muncul dari ruang tengah.
Langkahnya terhenti.
Wajahnya memucat saat tatapannya bertabrakan dengan tatapan Raska.
Dan untuk pertama kalinya setelah enam tahun,
dunia benar-benar berhenti bergerak.
...🔸🔸🔸...
...“Ada medan perang yang tak pernah dilatih seorang kapten: kebenaran tentang darahnya sendiri.”...
...“Untuk pertama kalinya, seorang kapten kehilangan seluruh protokol, karena seorang bocah lima tahun.”...
...“Dunia tak berhenti karena perang. Dunia berhenti ketika seorang anak bertanya, ‘Are you… Papaku?’”...
...“Ia tak takut peluru, tapi gemetar di depan pintu sebuah rumah.”...
...“You smell like home, dan seluruh pertahanan runtuh.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Up lagi Kak, ga sabar kalo nunggu besok 🤭
kirain eropa bagian mana..