Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Belum tuntas.
"Bagaimana rasanya, dek? Apa sudah enakan??" tanya Bang Arben sambil mengusap kening Dira yang berkeringat.
Dira mengangguk lemah, matanya masih sedikit memerah. "Iya, Abang... Hanya nafas masih agak berat. Tadii, Dira dengar seperti ada yang memukul tembok kamar."
Fia juga mengiyakan dan menatap mata Bang Sanca. "Fia juga denger, Bang. Sama seperti Dira. Rasanya ada yang mengikuti kita dari tadi saat naik speedboat."
Dinda menatap langit-langit, wajahnya yang pucat semakin pucat. "Ada yang panggil Dinda, Bang."
Para pria saling menatap, suasana yang tadi lega tiba-tiba jadi sedikit mencekam. Bang Jay yang tadinya sombong langsung terdiam seribu bahasa, dada nya terasa sesak.
"Cepat tidur, jangan dibicarakan lagi. Semuanya masuk dalam kamar, sekarang juga..!!" perintah Bang Rico yang sudah kembali dengan dua matrasnya. Ia meletakkan matras di lantai kamar messnya yang cukup luas, bergandengan dengan kasur Bang Rico sendiri. "Rama, kau masuk saja jaga Dinda..!!"
Ardi menatap Dinda tanpa kata dan Dinda balas melihatnya dengan tatapan kosong kemudian kembali menatap langit-langit. Bang Rama menangkap pemandangan itu namun dirinya juga diam. Ini bukan saatnya membahas tatapan mata.
Bang Rico mengambil sebatang rokok, tapi langsung mengurungkan niatnya karena mengingat ada tiga bumil sedang menginap di kamarnya. Ia meletakan asal kotak rokoknya lalu memilih menyalakan teko air.
Tiba-tiba lampu kamar mati total. Suasana gelap gulita. Ada suara batu bertaburan di atas genteng sampai kemudian ada suara benda seakan menghantam.
"Astaghfirullah.." Bang Rico menyambar rokoknya, ia pun berjalan keluar kamar sambil menyulut rokok. "Peluk istri kalian masing-masing, biarkan pintu kamar tertutup rapat dan jangan di buka sampai saya kembali..!!!"
"Aku ikut, Ric..!!" Kata Bang Rama.
"Kamu tetap disini, jaga Dinda." Perintah Bang Rico.
Jjddrrr..
Pintu kamar pun tertutup rapat.
Bang Jay duduk di sudut kamar sambil memeluk lututnya.
Kemudian terdengar hela nafas Bang Ardi. "Kami kesini bukan mau holiday, Jay. Sebenarnya pikiranmu dimana??" Tegurnya.
"Mana kutau kalau yang beginian beneran ada." Jawab Bang Jay.
Para suami sibuk menenangkan istri masing-masing. Bang Sanca mengusap perut Fia.
Bang Arben memeluk Dira manahan air mata. Hati kecilnya ketakutan, takut terjadi hal fatal pada calon anaknya.
"Sampai ada apa-apa dengan Dinda dan anak ku, ketebas lehermu..!!" Ancam Bang Rama dalam kecemasannya.
Bang Jay menelan ludahnya susah payah sampai mengusap lehernya.
***
Lampu menyala. Bang Rico kembali dengan wajah semu pucat. Dinda, Dira dan Fia sudah tidur nyenyak. Hanya para pria masih terjaga kecuali Bang Jay yang 'terkapar' di sudut kamar.
Seketika Bang Rico geram berkacak pinggang melihatnya. "Sudah kubilang jangan tidur, tau begitu kutumbalkan saja berang-berang satu ini." Gerutu Bang Rico kemudian berjalan menuju kamar mandi.
Terdengar suara mual disana, Bang Rama segera menghampiri tapi Bang Rico menahan pintunya.
Secepatnya Bang Rama menyingkirkan tangan sahabatnya itu dan membantunya. Ada banyak darah di wastafel.
"Masih kuat, bisa tahan sedikit?"
Bang Rico mengatur nafasnya. "Nafasku sesak, kepalaku rasanya berat." Bisik Bang Rico jujur.
"Beeen.. Tolong bantu..!!"
Bang Arben segera menghampiri, ia melihat juga ada darah di wastafel lalu segera menyalakan kran air untuk membuangnya.
Perlahan Bang Rama dan Bang Arben memapah langkah Bang Rico lalu membaringkannya di matras gunung yang sedang di tiduri Bang Jay. Tau ada sesuatu yang genting, Bang Sanca dan Bang Ardi menyeret Bang Jay keluar dari kamar.
Bang Rico hanya bisa meringis. Ia meremas dadanya sambil sesekali menggigit bibirnya menahan sakit, tidak berani mengerang karena takut membangunkan bumil.
Tak buang banyak waktu, Bang Rama mengambil air yang di beri sedikit garam lalu beberapa saat kemudian memberikannya pada Bang Rico.
Dalam hitungan detik, raut wajah Bang Rico kembali fresh.
"Alhamdulillah." Bang Rama mengucap syukur karena semua kepanikan sudah berakhir.
"Terima kasih." Ucap Bang Rico.
"Aku yang harusnya bilang terima kasih. Maaf Dinda merepotkanmu disini." Kata Bang Rama.
Bang Arben dan Bang Sanca pun turut berterima kasih atas bantuan sahabatnya itu. Mereka paham sudah 'merepotkan'
...
"Kita hidup berdampingan, lain kali jangan keluar dari rumah saat matahari terbenam. Ini hutan. Kalian nggak bisa sembarangan juga. Lain kali jangan jauh dari suami..!!" Pesan Bang Rico sambil menusuk sesuatu pada sebatang pelepah daun aren. "Di kantongi ya, jangan di keluarkan dari saku. Ke mana-mana dibawa..!!"
Bang Jay yang duduk menyendiri terus melihat bibirnya yang bengkak tanpa sebab.
"Aku juga bawakan begituan donk." Pinta Bang Jay.
"Memangnya kamu anak-anak?? Pakai begituan segala." Kata Bang Ardi.
"Iya lah. Anak setan." Sambar Bang Sanca.
Bang Rama tersenyum geli mendengarnya, tak lama dirinya mengingat Bang Rico akan berangkat melaksanakan dinas khusus.
"Oiya Ric. Kamu jadi berangkat dinas??" Tanya Bang Rama.
"Jadi." Jawab Bang Rico singkat saja.
"Bukannya kamu baru datang sebulan yang lalu??" Bang Arben sampai ikut penasaran.
Bang Rico tersenyum tipis mendengarnya. "Aku butuh waktu untuk belajar melupakan Rania." Jawabnya jujur.
"Ya Allah Ric. Sudah dua tahun berlalu, kamu masih terus memikirkan Rania??" Tanya Bang Rama.
"Dia itu wanita yang.......... Sudahlah..!!!" Bang Rico tak lagi menatap wajah sahabatnya. "Maaf.. aku bukannya mengusir, tapi kalau mau kembali, lebih baik jangan terlalu siang, biar tidak sampai ashar."
Setelah semua sahabat kembali dengan speedboat, Bang Rico terduduk lemas di dermaga.
'Hanya Abang yang paham. Kamu telah mengisi seluruh hati Abang. Abang minta maaf, sayangku.'
Bang Rico menangis terisak-isak hingga dadanya terasa sesak. "Rania, sayang.."
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara