NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Kotak Kardus dan Perpisahan

Matahari pagi Surabaya menerobos masuk melalui celah gorden, menyorot wajah Alina yang bengkak dan sembab. Kepalanya berdenyut nyeri, sisa dari tangisan semalaman suntuk yang menguras habis cairan tubuhnya. Alina mengerjapkan mata, berharap saat ia bangun, kejadian semalam hanyalah mimpi buruk akibat terlalu lelah bekerja.

Namun, saat matanya menangkap rak buku di sudut kamar, realitas kembali menghantamnya. Buku-buku sastra milik Rendy masih ada di sana. Berdiri tegak, seolah mengejek kebodohannya.

Alina bangun dari kasur tipisnya dengan gerakan kasar. Tidak. Ia tidak bisa hidup seperti ini. Jika Rendy memutuskan untuk membuangnya demi wanita lain, maka Alina tidak akan membiarkan bayang-bayang pria itu menghantuinya di kamar seluas 3x4 meter ini.

Ia menyeret sebuah kardus bekas mi instan dari kolong tempat tidur. Dengan napas memburu, Alina mulai melakukan "pembersihan".

Sasaran pertamanya adalah rak buku. Tangan Alina gemetar saat menyentuh Hujan Bulan Juni. Dulu, Rendy membacakan puisi di dalamnya saat mereka berteduh di halte bis.

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana..."

"Omong kosong," desis Alina. Ia melempar buku itu masuk ke dalam kardus dengan bunyi gedebuk yang nyaring.

Ia menyapu bersih semua buku Rendy. Bumi Manusia, Cantik Itu Luka, hingga kumpulan cerpen usang. Semuanya masuk ke dalam kotak. Tidak ada lagi sastra. Tidak ada lagi puisi. Baginya sekarang, puisi hanyalah rangkaian kebohongan yang disusun rapi.

Alina beralih ke lemari pakaian. Ia menarik keluar sebuah hoodie berwarna abu-abu. Itu milik Rendy yang tertinggal minggu lalu saat hujan deras. Alina mendekatkan kain itu ke hidungnya—refleks yang bodoh. Aroma citrus dan sedikit bau tembakau khas Rendy langsung menyergap, membuat ulu hatinya nyeri seketika.

Ia ingin menangis lagi, tapi air matanya seolah sudah kering. Dengan geram, ia melipat hoodie itu asal-asalan dan membenamkannya ke dasar kardus, menimbunnya dengan barang-barang lain. Sikat gigi cadangan Rendy, cangkir kopi couple bertuliskan "Mr. Right" (pasangan dari cangkir "Mrs. Always Right" miliknya), hingga pengisi daya ponsel yang sering dipinjam pria itu.

Alina bergerak seperti orang kesurupan. Ia merangkak ke kolong meja, memeriksa laci, bahkan mengibas-ngibaskan seprai. Ia harus memastikan. Harus steril. Tidak boleh ada satu pun atom milik Rendy Angkasa yang tertinggal di sini. Jika ada satu barang saja yang tersisa, Alina takut ia akan goyah. Ia takut ia akan memeluk barang itu dan berharap Rendy kembali.

Dan ia tidak boleh berharap. Harapan itu menyakitkan.

Setelah satu jam mengobrak-abrik kamarnya sendiri, kardus itu penuh. Alina menutupnya, lalu melakbannya berlapis-lapis. Bunyi sreeet dari lakban cokelat itu terdengar seperti suara penutupan peti mati. Peti mati bagi kenangan tiga tahun mereka.

Alina mengambil ponselnya. Ia membuka blokir nomor Rendy hanya untuk satu tujuan. Jemarinya mengetik pesan singkat, tanpa salam, tanpa emosi.

To: Rendy

Temui aku di Taman Bungkul jam 10. Aku mau balikin barang-barangmu. Jangan telat.

Taman Bungkul di pagi hari minggu cukup ramai oleh warga yang berolahraga, kontras dengan suasana hati Alina yang mendung. Ia duduk di bangku taman pinggir jalan, sebuah kardus besar tergeletak di samping kakinya.

Ia memilih tempat ini karena ramai. Di tempat terbuka, Rendy tidak akan berani macam-macam, dan Alina tidak akan berani menangis. Ia butuh saksi keramaian untuk menjaga harga dirinya tetap tegak.

Tak lama kemudian, motor matic tua yang sangat ia kenal menepi. Rendy datang. Pria itu masih terlihat sama, namun bahunya tampak turun, wajahnya kusut kurang tidur. Ia berjalan mendekati Alina dengan ragu-ragu.

"Al..." sapa Rendy pelan. Matanya menatap Alina dengan campuran rasa bersalah dan kerinduan.

Alina tidak menjawab. Ia langsung berdiri, menendang pelan kardus di bawah kakinya ke arah Rendy.

"Bawa ini," ucap Alina dingin. Suaranya datar, tanpa intonasi.

Rendy menatap kardus itu, lalu kembali menatap Alina. "Kamu nggak perlu repot-repot, Al. Buang saja kalau kamu nggak mau lihat..."

"Aku bukan tempat sampahmu, Ren," potong Alina tajam. Matanya menatap lurus ke manik mata guru Bahasa Indonesia itu. "Aku nggak mau nyimpen sampah kenangan di kamarku. Setiap kali aku lihat barang-barang ini, aku cuma ingat betapa bodohnya aku percaya sama kamu."

Rendy terdiam, kata-kata Alina menohoknya telak. "Al, aku minta maaf. Aku tahu aku brengsek. Tapi tolong, jangan benci aku..."

Alina tertawa sinis, tawa yang kering dan hampa. "Jangan benci? Kamu hancurin hidupku, kamu buang aku demi uang, dan kamu minta aku jangan benci? Kamu itu guru, Ren. Pakai otakmu."

Alina melangkah maju selangkah, membuat Rendy mundur sedikit karena intimidasi dari aura gadis yang dulu lembut itu.

"Di dalam situ ada buku-buku kesayanganmu. Ada hoodie yang sering kamu pakai. Ada semua barang yang pernah kamu tinggal. Bawa pulang. Kasih lihat ke calon istrimu yang kaya itu. Bilang sama dia, itu sisa-sisa dari perempuan yang nemenin kamu saat kamu nggak punya apa-apa."

"Alina, cukup..." suara Rendy bergetar.

"Ya, memang sudah cukup," Alina mengangguk tegas. Ia menarik napas panjang, menghirup udara Surabaya yang panas bercampur debu. "Mulai detik ini, urusan kita selesai. Jangan hubungi aku lagi. Jangan muncul di depan kosanku. Anggap aku sudah mati."

Tanpa menunggu jawaban Rendy, Alina berbalik badan.

"Alina!" panggil Rendy.

Alina tidak menoleh. Ia berjalan cepat meninggalkan taman itu, meninggalkan Rendy yang berdiri mematung di samping kardus kenangan mereka.

Saat langkah kakinya semakin jauh, Alina merasakan beban di dadanya sedikit terangkat. Sakitnya masih ada, lukanya masih menganga lebar, tapi setidaknya, kamarnya nanti malam akan bersih. Tidak ada lagi bau Rendy. Tidak ada lagi jejak Rendy.

Ia akan pulang ke kamar yang kosong. Dan untuk saat ini, kekosongan itu jauh lebih baik daripada kenangan indah yang membunuh perlahan.

Namun, Alina tidak menyadari satu hal. Saat ia menyeberang jalan dengan pikiran kalut dan mata yang nanar menatap aspal, sebuah mobil sedan hitam mewah melaju cukup kencang dari arah kanan.

Suara klakson panjang memekakkan telinga.

Pekikan orang-orang di trotoar.

Dan bunyi ban berdecit yang menyayat aspal.

Alina menoleh kaget, silau oleh kap mobil hitam mengkilap yang berhenti hanya beberapa sentimeter dari pinggangnya.

Di balik kemudi mobil mewah itu, seorang pria dengan setelan jas rapi terlonjak kaget, jantungnya hampir copot. Wisnu Abraham menatap ngeri pada gadis bergaun maroon yang hampir saja ia tabrak.

Takdir baru saja memulai babak barunya.

Silakan beri komentar..

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!