Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.
Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.
Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langit Terbelah di Puncak Awan
Langit di atas Sekte Awan Hijau yang biasanya cerah kini terbelah menjadi dua warna. Di sisi timur, awan putih bergulung agung membawa aura keadilan. Di sisi barat, kabut hijau beracun menyebar seperti wabah, mematikan burung-burung yang terbang melintasinya.
Dua sosok melayang di udara, saling berhadapan dengan aura Jiwa Baru yang membuat realitas bergetar.
Ketua Sekte Yun Tian berdiri di atas awan putih, matanya memancarkan kilat kemarahan. Di hadapannya, Tetua Agung Du Xie (Racun) melayang di atas ular asap hijau, wajahnya yang keriput menyeringai licik.
"Du Xie," suara Ketua Sekte menggema seperti guntur. "Kau mencoba membunuh saksi di depan mataku? Apakah kau begitu takut pada buku kecil itu?"
"Takut?" Du Xie tertawa, suaranya serak seperti gesekan pasir. "Aku hanya membersihkan sampah. Yun Tian, kau terlalu lunak. Sekte ini stagnan di bawah pimpinanmu. Aliansi Ular Hitam menawarkan masa depan di mana kita bisa menguasai seluruh Wilayah Selatan!"
"Dengan menjadi anjing penjilat iblis?" Yun Tian mengangkat tangannya. "Hari ini, aku akan membersihkan namamu dari sejarah sekte!"
BOOM!
Pertempuran pecah.
Yun Tian memanggil Pedang Awan Raksasa dari langit. Pedang itu terbuat dari Qi murni sepanjang seratus meter, menebas ke arah Du Xie.
Du Xie tidak mau kalah. Dia memanggil Kabut Ribuan Ular. Kabut hijaunya berubah menjadi ribuan ular berbisa yang terbang menyerbu pedang awan itu, meledak dan mengikis energinya.
Gelombang kejut dari bentrokan itu menyapu Puncak Utama.
Di atas Menara Lonceng, Ren Zhaofeng berpegangan erat pada pagar besi yang mulai bengkok. Tekanan angin dari pertarungan di atas sana nyaris melemparnya jatuh.
"Ini level Jiwa Baru..." gumam Zhaofeng, darah menetes dari hidungnya karena tekanan spiritual. "Jauh di atas imajinasiku."
Tiba-tiba, Du Xie menoleh ke bawah di sela pertarungan.
"Bunuh bocah itu! Rebut bukunya!" perintahnya.
Perintah itu adalah sinyal.
Di bawah sana, di alun-alun dan jalanan sekte, kekacauan terjadi.
Ratusan murid dan diakon yang selama ini menyamar sebagai anggota Aliansi Ular Hitam tiba-tiba menyerang teman di sebelah mereka.
"Mati kau!" "Hidup Aliansi!"
Darah membanjiri jalanan batu pualam. Sekte Awan Hijau berubah menjadi neraka dalam hitungan detik.
Tiga sosok berjubah hitam melesat terbang menuju puncak menara. Mereka adalah Diakon Kanan dari faksi Racun. Kultivasi mereka Pembentukan Inti Tahap Awal.
Mereka terbang menggunakan artefak piringan terbang, niat membunuh mereka terkunci pada Zhaofeng.
"Serahkan bukunya, Bocah!"
Zhaofeng berdiri tegak. Dia menggenggam Pedang Hitam-nya.
Dia tahu dia tidak bisa menang melawan tiga kultivator Pembentukan Inti. Mereka bisa terbang, dia tidak. Mereka punya Qi cair, dia hanya punya otot.
Tapi dia tidak sendirian.
"Zhaofeng! Menunduk!"
Suara teriakan familiar terdengar dari bawah.
Seberkas cahaya putih melesat naik, memotong jalur ketiga Diakon itu.
Itu adalah Tetua Pedang. Dia berdiri di atas pedang terbangnya, labu arak di tangan kiri, pedang panjang di tangan kanan.
"Kalian berani menyentuh muridku?" Tetua Pedang menebas santai.
Sring!
Seberkas cahaya pedang yang sangat tipis dan cepat melintas.
Tiga Diakon itu terhenti di udara. Sedetik kemudian, tubuh mereka terbelah dua di bagian pinggang. Darah dan organ dalam tumpah ke udara.
Mati Instan.
Tetua Pedang mendarat di samping Zhaofeng di puncak menara.
"Guru!" Zhaofeng menghela napas lega.
"Kerja bagus, Nak. Kau benar-benar gila," Tetua Pedang menyeringai, lalu meneguk araknya. "Sekarang, berikan buku itu padaku. Biar aku yang menjaganya. Kau turun dan bantu Ye Qingyu mengamankan murid-murid setia."
Zhaofeng menyerahkan Daftar Pengkhianat itu.
"Hati-hati, Guru. Tetua Agung Petir belum muncul."
"Si tua bangka itu selalu terlambat," dengus Tetua Pedang. "Pergilah!"
Tetua Pedang meraih kerah baju Zhaofeng dan melemparnya ke bawah—bukan dengan kasar, tapi dengan dorongan Qi lembut yang membuatnya melayang turun perlahan.
Saat Zhaofeng melayang turun, dia melihat pemandangan perang di bawahnya.
Ye Qingyu sedang bertarung mati-matian di gerbang Puncak Utama. Dia memimpin sekelompok murid setia untuk menahan gelombang pengkhianat yang mencoba menerobos masuk ke perpustakaan dan gudang harta.
Zhaofeng mendarat di atap sebuah paviliun dekat gerbang.
Dia melihat seorang pengkhianat bertubuh besar hendak menebas punggung Ye Qingyu.
Zhaofeng tidak berteriak. Dia melompat.
"Jatuh dari Langit!"
Dia mengaktifkan Medan Gravitasi pedangnya hingga maksimal. Berat pedangnya menjadi 500 kilogram saat jatuh.
CRASH!
Pedang Zhaofeng membelah pengkhianat itu dari kepala sampai selangkangan, sekaligus menghancurkan lantai batu di bawahnya.
Ye Qingyu berbalik, terkejut, lalu tersenyum lega meski wajahnya penuh darah musuh.
"Kau suka sekali muncul dari atas," kata Ye Qingyu.
"Pemandangannya lebih bagus," balas Zhaofeng. Dia berdiri back-to-back dengan Ye Qingyu.
Di sekeliling mereka, puluhan pengkhianat mengepung.
"Lindungi Dewi Ye! Bunuh si Buta!"
Zhaofeng mengangkat pedangnya. Dia mendengar detak jantung mereka. Dia mendengar ketakutan mereka yang ditutupi amarah.
"Kakak Senior, siap menari?" tanya Zhaofeng.
"Selalu," jawab Ye Qingyu, pedang es-nya bersinar.
Di langit, pertempuran para dewa semakin gila. Di tanah, Zhaofeng dan Ye Qingyu menjadi jangkar pertahanan terakhir bagi murid-murid yang tidak berdosa.
Malam ini, Sekte Awan Hijau akan dibersihkan dengan darah. Dan Zhaofeng adalah sapunya.
💪