Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKA SYAL NYA
Cahaya fajar yang masih remang menembus jendela apartemen, membangunkan Melisa dari tidur yang tidak nyenyak. Seluruh tubuhnya terasa kaku, beban mental dari kejadian semalam membuatnya enggan membuka mata. Namun, teringat akan janjinya pada Narendra, ia segera bangkit dengan terburu-buru.
Saat melangkah menuju ruang tengah, langkahnya terhenti. Aroma kopi yang kuat dan roti panggang tercium hingga ke koridor.
Di dapur yang serba modern dan dingin itu, Melisa melihat sosok Harvey. Pria itu tidak lagi mengenakan kemeja hitam yang mengintimidasi seperti semalam. Ia hanya mengenakan kaos santai, sedang berdiri membelakangi Melisa sambil menyiapkan sarapan sederhana. Gerakannya terlihat sangat tenang, hampir domestik, seolah-olah mereka adalah pasangan normal yang sedang memulai hari.
"Kau sudah bangun?" suara Harvey memecah keheningan tanpa perlu menoleh. Ia sepertinya sudah hafal dengan langkah kaki Melisa.
Melisa tidak menjawab. Ia hanya menatap punggung pria itu dengan perasaan campur aduk antara benci dan takut.
Harvey berbalik, memegang dua piring roti panggang. Wajahnya tampak segar, kontras dengan Melisa yang terlihat pucat. "Duduklah. Makan dulu sebelum kau kembali ke rumah sakit."
"Aku tidak lapar," jawab Melisa pendek. "Aku harus segera pergi. Mas Rendra pasti sudah menungguku."
Mendengar nama Narendra disebut sepagi itu, raut wajah Harvey berubah sedikit mengeras, namun ia berhasil menahan emosinya. Ia meletakkan piring-piring itu di meja makan dengan denting yang cukup keras.
"Aku sudah bilang, jangan sebut nama itu di sini," ucap Harvey dingin. Ia berjalan mendekati Melisa, lalu merapikan kerah baju Melisa yang sedikit berantakan. "Pakai syalmu dengan benar. Aku tidak ingin perawat atau suamimu melihat bekas yang kutinggalkan semalam."
Melisa mematung, merasakan jari-jari Harvey yang dingin menyentuh kulit lehernya. Pria ini bisa bersikap seolah dia adalah suami yang perhatian, namun di saat yang sama, ia adalah penjaga penjara yang kejam.
"Sarapan ini tidak gratis, Melisa," lanjut Harvey sambil menatap mata wanita itu dengan tajam. "Habiskan, atau aku akan menelepon Arneta sekarang juga untuk memberitahu bahwa kau tidak akan datang pagi ini karena sedang 'sibuk' denganku."
Ancaman itu bekerja seketika. Dengan tangan gemetar, Melisa menarik kursi dan duduk di meja makan. Ia mulai mengunyah roti itu meskipun rasanya seperti menelan duri. Di hadapannya, Harvey memperhatikan setiap gerakan Melisa dengan tatapan posesif yang tidak pernah lepas.
"Bagus," puji Harvey pelan. "Jadilah wanita penurut, maka suamimu akan mendapatkan perawatan terbaiknya hari ini."
*
Setelah menghabiskan sarapan di bawah tatapan tajam Harvey, Melisa bergegas menuju rumah sakit. Ia turun dari taksi dengan napas terengah-engah, tangannya terus merapikan syal yang melilit lehernya meski udara pagi cukup gerah. Hatinya mencelos saat melihat jam digital di lobi—ia terlambat tiga puluh menit.
Begitu sampai di depan pintu VIP, Melisa berpapasan dengan seorang perawat yang baru saja keluar membawa baki medis. Perawat itu memiliki wajah yang ramah dan tampak tidak asing dengan lingkungan itu.
"Oh, Anda Nyonya Melisa?" sapa perawat itu dengan senyum hangat.
Melisa mengangguk canggung. "Iya, saya Melisa. Maaf, saya terlambat. Apa suami saya sudah bangun?"
"Baru saja bangun, Bu. Semalam Mas Rendra sempat gelisah mencari Ibu, tapi syukurlah setelah saya ajak mengobrol, dia bisa tidur nyenyak," jawab perawat itu.
Melisa sedikit terkejut mendengar panggilan "Mas Rendra" yang terdengar begitu akrab. Ia menatap perawat itu dengan seksama. "Anda... perawat yang menjaga suami saya semalam?"
"Iya, Bu. Perkenalkan, nama saya Arneta," ucapnya sambil mengulurkan tangan. "Saya teman lama Mas Rendra dari kampung. Kami dulu merantau bareng ke Jakarta. Saya kaget sekali waktu tahu kalau pasien yang harus saya jaga secara khusus ternyata Rendra."
Melisa menyambut uluran tangan itu, merasa sedikit lega namun juga heran. "Teman lama? Syukurlah kalau ada orang yang dia kenal di sini. Tapi, tadi Anda bilang 'dijaga secara khusus'?"
Arneta sempat terdiam sejenak, teringat peringatan Harvey. "Maksud saya... karena ini ruang VIP, pihak manajemen menugaskan saya untuk fokus di sini 24 jam. Jadi, Nyonya tidak perlu khawatir lagi kalau harus bekerja malam."
Melisa tersenyum tipis, meski ada rasa perih di hatinya. Ia tidak tahu bahwa Arneta ada di sana karena perintah pria yang baru saja menyiapkan sarapan untuknya.
"Terima kasih banyak, Arneta. Panggil Melisa saja, jangan terlalu formal," ujar Melisa tulus. "Saya benar-benar terbantu."
Arneta memperhatikan Melisa dengan jeli. Sebagai perawat, ia melihat raut kelelahan yang luar biasa di mata Melisa, juga caranya yang terus-menerus membetulkan posisi syal di lehernya seolah menyembunyikan sesuatu.
"Mbak Melisa tampak pucat. Apa kerjanya sangat berat sampai semalam ponselnya tidak bisa dihubungi?" tanya Arneta hati-hati. "Rendra sangat mencemaskan Mbak semalam."
Melisa tersentak. "Ah, itu... di rumah majikan saya sinyalnya sangat buruk, dan saya dilarang menyalakan ponsel agar tidak membangunkan bayinya. Maaf membuat kalian khawatir."
Arneta mengangguk, namun instingnya berkata lain. Ada sesuatu yang disembunyikan wanita di depannya ini. Saat mereka sedang berbicara, pintu kamar terbuka sedikit, dan suara Narendra terdengar memanggil dari dalam.
"Mel... itu kamu?"
Begitu Melisa melangkah masuk, suasana hangat yang tadi dibangun Arneta mendadak hilang. Narendra sudah duduk bersandar di ranjangnya. Meski wajahnya masih pucat, sorot matanya tajam dan tertuju lurus pada Melisa, seolah mencari sesuatu yang disembunyikan istrinya.
"Kamu dari mana saja, Mel?" tanya Narendra langsung, tanpa basa-basi salam.
Melisa mendekat, mencoba mencium tangan suaminya, namun Narendra membiarkan tangannya kaku. "Aku baru selesai shift, Mas. Maaf aku terlambat, tadi jalanan agak macet."
"Kenapa ponselmu mati semalaman?" suara Narendra mulai meninggi, membuat Arneta yang masih berdiri di dekat pintu merasa canggung. "Aku menelepon puluhan kali. Aku sampai meminta Arneta mencarimu. Kamu tahu bagaimana rasanya baru terbangun dari koma dan menyadari istriku menghilang tanpa kabar?"
Melisa menunduk, tangannya meremas ujung syalnya. "Aku... aku sudah bilang pada Arneta tadi. Di rumah majikanku sinyalnya sangat buruk, Mas. Dan bayinya sangat sensitif dengan suara ponsel. Aku harus mematikannya agar tidak mengganggu."
Narendra menyipitkan mata. Ia menangkap ketidakkonsistenan dalam sikap Melisa. "Hanya karena bayi? Mel, aku suamimu. Kita baru saja melewati maut. Tidak mungkin kamu tidak bisa melipir sebentar ke kamar mandi atau keluar rumah hanya untuk mengirim pesan satu kata 'aku sampai'. Kamu bukan tipe orang yang tidak bertanggung jawab seperti itu."
Pandangan Narendra kemudian turun ke leher Melisa. "Dan syal itu... kenapa kamu pakai syal di dalam rumah sakit yang gerah ini?"
Melisa tersentak, tangannya refleks memegang lehernya. "Ini... aku merasa agak meriang, Mas. Kurang tidur."
"Buka syalnya, Melisa," perintah Narendra dengan nada yang tak terbantahkan.
Melisa membeku. Jantungnya berdegup kencang. Jika ia membukanya, bekas kemerahan yang ditinggalkan Harvey akan terlihat jelas. Arneta yang melihat ketegangan itu mencoba menengahi.
"Mas Rendra, mungkin Mbak Melisa memang sedang tidak enak badan. Jangan terlalu keras dulu, kondisimu juga—"
"Diam dulu, Ta. Ini urusanku dengan istriku," potong Narendra tanpa melepas pandangannya dari Melisa. "Buka syalnya, Mel. Kalau kamu memang alergi atau digigit serangga seperti yang kamu bilang kemarin, kenapa harus ditutupi serapat itu pagi ini?"
Melisa merasa dunianya runtuh. Ia terjepit di antara kecurigaan suaminya yang sangat peka dan ancaman Harvey yang mengerikan.
***
Bersambung...