NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 11: Pembatalan Jadwal

​"Koper sudah masuk bagasi semua, Reza?"

​"Sudah, Tuan. Tiket dan paspor juga sudah saya pegang. Kita harus berangkat sepuluh menit lagi kalau tidak mau kena macet di Tol Bandara."

​Kairo berdiri di tengah ruang tamu megahnya sambil membetulkan letak jam tangan di pergelangan tangannya. Matanya tidak melihat ke arah Reza, melainkan melirik tajam ke arah sofa panjang di ruang tengah.

​Di sana, Elena sedang duduk santai dengan kaki disilangkan.

​Wanita itu memangku sebuah majalah bisnis Global Finance edisi terbaru. Di meja di depannya, ada secangkir teh chamomile yang masih mengepul dan piring kecil berisi biskuit gandum.

Dia terlihat sangat nyaman, sangat tenang, dan... sangat tidak peduli.

​Biasanya, setiap kali Kairo akan pergi dinas luar kota—apalagi ke Singapura selama tiga hari—pagi hari di rumah ini akan penuh drama air mata.

​Sora yang dulu akan sibuk berlarian memasukkan barang-barang yang tidak perlu ke dalam koper Kairo. Dia akan menyelipkan surat cinta norak berbau parfum di sela-sela kemeja.

Dia akan memeluk Kairo di depan pintu sambil menangis tersedu-sedu, berkata, "Mas Kairo jangan nakal ya di sana," atau "Nanti malam video call ya, Mas."

​Sangat mengganggu. Sangat berisik.

​Tapi pagi ini?

​Hening.

​Elena bahkan tidak menoleh sedikitpun sejak Kairo turun dari lantai dua dengan setelan jas lengkap.

​Kairo berdehem keras. "Ekhem."

​Elena membalik halaman majalahnya. Srek.

​Kairo mengernyit. Dia melangkah mendekat, sengaja menghentakkan kakinya agar terdengar berat.

Dia berhenti tepat di depan sofa, menghalangi cahaya lampu baca Elena.

​"Aku berangkat sekarang," kata Kairo, suaranya berat dan menuntut perhatian.

​Elena menurunkan majalahnya sedikit, cukup untuk memperlihatkan matanya yang jernih. Dia menatap Kairo sekilas, lalu kembali menatap majalah.

​"Oh, sudah jam tujuh ya?" gumam Elena datar. "Hati-hati di jalan. Semoga pesawatnya tidak delay."

​Hanya itu?

​Kairo merasa ada yang mengganjal di tenggorokannya. Tidak ada pelukan? Tidak ada rengekan? Tidak ada drama menahan kakinya di pintu?

​"Kau tidak mau bertanya aku pergi dengan siapa?" pancing Kairo. Biasanya Sora paling paranoid soal sekretaris wanita atau rekan bisnis wanita.

​"Tidak perlu," jawab Elena santai sambil mengambil biskuit gandum. "Reza ikut, kan? Dia pengasuh yang baik. Aku percaya dia bisa memastikan kamu tidak salah masuk kamar hotel atau salah tanda tangan kontrak."

​Reza yang berdiri di dekat pintu utama tersedak ludahnya sendiri. Dia buru-buru pura-pura mengecek ponsel.

​Wajah Kairo memerah padam. "Aku ke Singapura untuk urusan akuisisi penting, Sora. Bukan untuk jalan-jalan."

​"Baguslah," Elena mengangguk-angguk pelan, seolah sedang bicara dengan anak kecil yang mau pergi sekolah.

"Berarti pulang nanti bawa uang banyak. Ingat ya, Kairo, aku tidak butuh oleh-oleh tas, baju, atau cokelat mahal. Bawa oleh-oleh cash saja. Atau transfer langsung ke rekeningku juga boleh. Itu lebih praktis."

​"Uang lagi," desis Kairo sinis. "Di otakmu cuma ada uang sekarang?"

​"Tentu saja. Cinta tidak bisa bayar tagihan listrik," balas Elena telak. Dia menutup majalahnya, lalu menatap Kairo dengan senyum manis yang terlihat sangat palsu. "Sudah sana berangkat. Nanti telat. Reza sudah keringat dingin tuh takut diamuk kalau ketinggalan pesawat."

​Kairo mengepalkan tangannya. Sikap acuh tak acuh Elena ini jauh lebih menyebalkan daripada tangisan manja Sora.

Dia merasa seperti suami yang tidak dianggap. Dia merasa... tidak penting.

​Dengan perasaan dongkol yang membakar dada, Kairo berbalik badan.

​"Ayo jalan, Reza!" bentak Kairo kasar sambil melangkah lebar keluar rumah.

​"B... baik, Tuan!" Reza tergopoh-gopoh mengikuti bosnya, sambil sempat membungkuk hormat pamit pada Elena. "Saya permisi dulu, Nyonya."

​"Dah, Reza! Jaga bosmu jangan sampai gigit orang!" seru Elena riang sambil melambaikan tangan.

​Pintu utama tertutup dengan bantingan keras.

​Blam!

​Begitu suara mesin mobil Kairo terdengar menjauh dari halaman, senyum palsu di wajah Elena lenyap seketika.

​Dia melempar majalah bisnis itu ke meja. Dia melompat bangun dari sofa dengan energi yang meledak-ledak.

​"Akhirnya! Si Tiran pergi juga!" sorak Elena. Dia merentangkan tangannya, menghirup udara kebebasan di ruang tengah yang luas itu. "Tiga hari. Tujuh puluh dua jam tanpa tatapan mata melotot, tanpa aura membunuh, dan tanpa debat kusir yang tidak bermutu."

​Ini kesempatan emas.

​Elena tidak membuang waktu sedetik pun. Dia menyambar ponselnya yang tergeletak di meja, mencari nomor yang sudah dia simpan dengan nama samaran "Laundry Kilat" agar tidak dicurigai Kairo.

​Sambungan telepon terhubung pada dering kedua.

​"Halo? Mbak Sarah?" sapa Elena cepat. "Ini saya, Elena... ah, maksud saya Sora. Ya, klien yang kemarin tanya-tanya apartemen di kawasan Kuningan."

​Elena berjalan mondar-mandir di ruang tengah sambil menjepit ponsel di antara telinga dan bahu. Tangannya sibuk merapikan rambut.

​"Unit yang tipe studio di lantai dua puluh itu masih kosong, kan? Bagus. Saya mau lihat unitnya sekarang. Ya, sekarang juga. Uang sewanya saya bayar tunai di muka untuk satu tahun kalau tempatnya cocok dan privasinya terjamin."

​Elena mendengarkan jawaban di ujung telepon sambil tersenyum puas.

​"Oke, setengah jam lagi saya sampai di lokasi. Siapkan kuncinya. Dan tolong pastikan tidak ada orang lain di sana. Saya butuh ketenangan."

​Klik. Sambungan terputus.

​Elena berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya—atau lebih tepatnya, menuju "Kantor Pribadi" yang sudah dia kunci rapat. Tapi sebelum itu, dia masuk ke walk-in closet.

​Dia menarik sebuah koper kabin ukuran sedang dari rak paling atas.

​"Mari kita lihat," gumam Elena sambil membuka koper itu di atas karpet.

​Dia mulai memasukkan barang-barang esensial. Bukan baju pesta, tapi dokumen. Ijazah (kalau ada), paspor Sora, buku tabungan yang sudah dia amankan, laptop barunya, dan beberapa setelan baju kerja yang terlihat profesional.

 Dia juga memasukkan kotak perhiasan berisi berlian-berlian kecil yang mudah dijual jika keadaan darurat.

​Dia bersenandung kecil. Lagu I Want to Break Free dari Queen meluncur dari bibirnya tanpa sadar.

​Elena nyanyi sambil melempar beberapa potong pakaian dalam ke koper.

​Dia merasa sangat produktif. Jika survei apartemen hari ini cocok, dia akan langsung tanda tangan kontrak sewa.

Apartemen itu akan jadi markas rahasianya. Tempat dia membangun bisnis konsultan bayangan tanpa gangguan Kairo.

 Dan jika situasi dengan Kairo memburuk—misalnya pria gila itu memutuskan untuk mengurungnya—dia punya tempat pelarian yang aman.

​Elena menutup resleting koper itu dengan bunyi ziiip yang mantap.

​"Siap. Langkah pertama menuju kemerdekaan."

​Sementara itu, di dalam mobil Alphard hitam yang melaju di jalan tol dalam kota.

​Suasana di dalam kabin mobil itu dingin membeku, lebih dingin dari suhu AC. Sopir, Pak Ujang, menyetir dengan tegang, tidak berani melirik spion tengah.

Reza duduk di kursi depan, sibuk mengecek jadwal di tabletnya, pura-pura tidak merasakan aura gelap yang memancar dari kursi penumpang belakang.

​Kairo duduk bersedekap. Matanya menatap jalanan yang macet di luar jendela, tapi pikirannya tertinggal di rumah.

​Ada yang salah.

​Sangat salah.

​Kenapa Sora begitu bahagia dia pergi? Kenapa wanita itu tersenyum lebar saat melambaikan tangan?

Biasanya, Sora akan cemberut seharian. Perubahan sikap ini terlalu drastis, bahkan untuk ukuran orang yang sedang "berubah".

​"Reza," panggil Kairo tiba-tiba.

​"Ya, Tuan?" Reza menoleh cepat.

​"Jadwal Sora hari ini apa?"

​Reza mengerjap bingung. Dia membuka agenda digitalnya, meski dia tahu dia tidak mengatur jadwal istri bosnya. "Eh... setahu saya Nyonya tidak ada jadwal khusus, Tuan. Biasanya Nyonya di rumah, atau ke salon. Tapi kartu kredit salon kan belum ada transaksi."

​"Dia tidak ke salon," gumam Kairo. "Dia minta uang tunai. Dia bilang 'oleh-oleh cash' lebih praktis."

​Kairo menegakkan punggungnya. Kecurigaan merayapi otaknya seperti racun.

Uang tunai. Praktis. Tidak bisa dilacak.

​Apakah wanita itu butuh uang tunai untuk kabur?

​Atau lebih parah... untuk menemui laki-laki lain?

​Pikiran itu menghantam Kairo seperti pukulan palu. Laki-laki lain.

Dokter Adrian kemarin bilang Sora terlihat sangat cerdas dan menarik. Bagaimana kalau ada pria lain di luar sana yang juga melihat sisi "baru" Sora ini? Pria yang tidak sedingin Kairo?

​Tanpa sadar, tangan Kairo merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel. Dia membuka aplikasi keamanan rumah. Smart Home CCTV.

​Jantungnya berdegup kencang saat menunggu loading aplikasi itu. Dia merasa seperti penguntit gila, tapi dia tidak peduli. Dia harus tahu.

​Layar ponsel menampilkan beberapa kotak video real-time dari berbagai sudut rumah.

​Ruang tamu: Kosong.

Dapur: Bersih, ada petugas cleaning service sedang mengepel.

Teras: Kosong.

​Kairo menekan kamera di lantai dua. Lorong kamar utama.

​Gambar muncul.

​Kairo menahan napas.

​Di layar kecil itu, dia melihat Elena keluar dari walk-in closet. Wanita itu tidak memakai piyama lagi.

Dia sudah berganti pakaian rapi—celana bahan hitam, kemeja putih yang dimasukkan rapi, dan kacamata hitam yang disematkan di kepala. Dia terlihat stunning. Cantik, tajam, dan siap pergi.

​Tapi bukan penampilannya yang membuat darah Kairo mendidih.

​Itu benda yang diseret Elena di tangan kanannya.

​Koper.

​Sebuah koper kabin berwarna perak.

​"Dia packing..." desis Kairo pelan. Matanya melebar tak percaya.

​Di layar, Elena terlihat bersenandung—Kairo bisa melihat bibirnya bergerak-gerak mengikuti irama lagu.

 Dia tampak mengecek jam tangan, lalu mengetik sesuatu di ponsel dengan cepat. Senyum lebar terukir di wajahnya.

 Senyum antusias. Senyum orang yang akan bertemu seseorang yang spesial.

​Atau senyum orang yang akan kabur dari penjara.

​"Mau kemana kau, Sora?" geram Kairo pada layar ponsel. "Aku baru pergi sepuluh menit dan kau sudah menyeret koper?"

​Imajinasinya menjadi liar.

​Dia membayangkan Elena naik taksi, pergi ke bandara, terbang ke Bali atau Eropa dengan uang hasil jualan tas kemarin.

Atau dia membayangkan Elena pergi ke hotel, bertemu pria asing, tertawa bahagia—tawa yang tidak pernah diberikan pada Kairo.

​Rasa posesif yang gelap dan pekat meledak di dada Kairo. Dia tidak bisa membiarkan ini. Dia tidak bisa pergi ke Singapura sementara "aset"-nya ini lepas kendali.

​"Pak Ujang!" teriak Kairo tiba-tiba, membuat sopir tua itu kaget sampai mobil sedikit oleng.

​"Y... ya, Tuan?"

​"Kita dimana sekarang?"

​"Sudah mau masuk Gerbang Tol Cengkareng, Tuan. Sebentar lagi sampai bandara."

​Kairo melihat plang hijau besar di depan. Bandara Soekarno-Hatta 2 KM.

​Di ponselnya, Elena sudah menyeret koper itu menuruni tangga. Wanita itu terlihat terburu-buru. Waktu sangat krusial.

​Kairo tidak berpikir panjang. Logika bisnisnya mati. Yang tersisa hanya insting purba untuk menjaga miliknya.

​"Putar balik!" perintah Kairo keras.

​Hening melanda mobil. Reza dan Pak Ujang sama-sama membeku.

​"Maaf, Tuan?" tanya Reza dengan suara mencicit, yakin telinganya salah dengar. "Putar balik? Maksud Tuan... kita kembali ke Jakarta?"

​"Iya, bodoh! Putar balik sekarang juga!" bentak Kairo. "Cari putaran di depan gerbang tol itu! Kita pulang ke rumah!"

​"Tapi Tuan!" Reza panik setengah mati. Wajahnya pucat pasi. "Rapat akuisisi dengan Investor Singapura jam dua siang nanti! Ini proyek triliunan, Tuan! Mereka sudah siapkan penandatanganan kontrak! Kalau Tuan tidak datang, kita bisa kena pinalti dan kehilangan deal ini! Tiket pesawatnya sudah check-in!"

​"Batalkan," potong Kairo dingin. Matanya masih terpaku pada layar ponsel, melihat Elena yang kini sudah sampai di pintu depan, siap memanggil taksi online.

​"Batalkan semuanya, Reza. Jadwal ulang minggu depan. Atau bulan depan. Terserah."

​"Tapi Tuan, alasannya apa? Mereka akan tanya alasan pembatalan mendadak ini!" Reza hampir menangis. Membatalkan rapat tingkat tinggi di menit terakhir adalah bunuh diri profesional.

​Kairo mengangkat wajahnya dari ponsel. Tatapannya gelap, tajam, dan penuh obsesi yang tidak rasional.

​"Alasannya darurat," jawab Kairo datar.

​"Darurat apa, Tuan? Perusahaan kebakaran? Tuan sakit?"

​"Lebih parah."

​Kairo menunjuk layar ponselnya, di mana Elena terlihat sedang menutup pintu rumah dan mengunci gembok gerbang dengan senyum kemenangan.

​"Istriku mencurigakan," kata Kairo dengan nada final yang tidak bisa dibantah. "Dan aku tidak akan membiarkan dia melangkah satu meter pun keluar dari rumah itu tanpa izinku. Persetan dengan rapat. Putar balik sekarang!"

​Pak Ujang yang ketakutan langsung membanting setir ke jalur putar balik darurat tepat sebelum gerbang tol, membuat klakson mobil lain berbunyi nyaring di belakang mereka.

​Mobil mewah itu berbalik arah, melaju kencang kembali membelah kemacetan Jakarta, membawa seorang CEO yang sedang dikuasai api cemburu untuk menangkap istrinya yang hendak "kabur".

 

1
Rossy Annabelle
next,,seruuuu iih🤯
Savana Liora: #terbit🤭
total 3 replies
wwww
ayok ges ramaikan novelnya seru loh ceritanya 😍
Savana Liora: iyaa ayok mari mari sinii
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!