NovelToon NovelToon
Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Dikhianati Guru, Dicintai Pengusaha

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Romansa / Nikah Kontrak / Balas Dendam
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.

Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.

Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Gaun Merah dan Tatapan Neraka

Grand Ballroom Hotel Majapahit Surabaya malam itu bermandikan cahaya keemasan dari puluhan chandelier kristal yang menggantung di langit-langit. Aroma parfum mahal bercampur dengan denting gelas sampanye dan alunan musik orkestra yang lembut. Ini adalah habitat asli para predator puncak kota Surabaya—para pengusaha, pejabat, dan sosialita yang dunianya berputar pada uang dan gengsi.

Dan malam ini, Alina Oktavia melangkah masuk ke dalam kandang singa itu.

Di sampingnya, Wisnu Abraham berjalan dengan langkah tegap, mengenakan tuksedo hitam yang dijahit sempurna pas di badannya. Pria itu memancarkan aura kekuasaan yang membuat orang-orang secara otomatis menyingkir memberinya jalan.

Namun malam ini, bukan Wisnu yang menjadi pusat perhatian.

Ketika mereka melewati pintu masuk melengkung, bisik-bisik di ruangan itu mendadak senyap selama beberapa detik. Puluhan pasang mata tertuju pada sosok wanita yang berjalan di samping Sang Raja Tekstil.

Alina mengenakan gaun malam off-shoulder berwarna merah marun—warna yang sama dengan darah yang pernah tumpah di lantai apotek enam bulan lalu. Gaun sutra itu membalut tubuh rampingnya dengan sempurna, jatuh menjuntai hingga menyapu lantai. Belahan tinggi di pahanya sesekali menampakkan kaki jenjangnya yang dibalut sepatu hak tinggi stiletto hitam.

Rambutnya tidak lagi dicepol kaku seperti di kantor. Malam ini, rambut hitamnya ditata dalam gelombang elegan yang membingkai wajahnya. Riasan wajahnya bold namun berkelas; lipstik merah tua di bibirnya menegaskan bahwa dia bukan wanita yang bisa dipermainkan.

Dia terlihat memukau. Menakjubkan. Dan sangat berbahaya.

Wisnu merasakan perubahan atmosfer di ruangan itu. Ia melirik sekilas pada asisten pribadinya. Ia sendiri sempat tertegun saat menjemput Alina di lobi apartemen sewaan barunya tadi. Gadis gudang yang berdebu itu telah lenyap tanpa jejak.

"Tegakkan kepalamu," bisik Wisnu pelan tanpa menoleh, saat merasakan jemari Alina sedikit menegang di lengan jasnya. "Kamu bukan lagi Alina yang dulu. Malam ini, kamu adalah Ratu yang datang untuk mengklaim tahtanya."

Kalimat itu bekerja seperti suntikan adrenalin. Alina menarik napas dalam, menegakkan punggungnya, dan mengangkat dagunya. Matanya yang tajam menyapu seisi ruangan dengan dingin, seolah menantang siapa saja yang berani menatapnya rendah.

Di sudut lain ruangan, dekat meja hidangan penutup, Rendy Angkasa sedang berusaha menenangkan istrinya.

Sisca, yang sedang hamil muda empat bulan, sedang uring-uringan. "Panas banget sih di sini, Ren. Kakiku pegal pakai heels. Lagian kenapa sih Papamu maksa kita datang? Aku mual bau makanan."

"Sabar ya, Sayang. Ini acara penting buat koneksi bisnis keluarga kita. Sebentar lagi kita pulang," bujuk Rendy, mengusap punggung Sisca yang terbalut gaun longgar berwarna pastel—pilihan aman untuk menutupi perutnya yang mulai membuncit.

Rendy sendiri merasa lelah. Sejak menikah, hidupnya tidak seindah yang ia bayangkan. Tekanan dari keluarga Sisca, tuntutan gaya hidup mewah, dan suasana rumah yang tegang karena kehamilan Sisca yang rewel membuatnya rindu pada masa-masa sederhananya dulu.

Tiba-tiba, Rendy merasakan perubahan di udara. Orang-orang di sekitar mereka berhenti bicara dan menoleh ke arah pintu masuk.

"Ada siapa sih?" tanya Sisca ketus, ikut menoleh.

Detik berikutnya, gelas sampanye di tangan Rendy nyaris terjatuh.

Ia melihatnya.

Wanita bergaun merah itu berjalan membelah kerumunan bagaikan Nabi Musa membelah Laut Merah. Wanita itu begitu anggun, begitu percaya diri, dan begitu cantik hingga membuat napas Rendy tercekat di tenggorokan.

Itu Alina.

Tapi... itu bukan Alina-nya. Bukan Alina yang selalu memakai kemeja diskonan, bukan Alina yang rambutnya selalu bau matahari setelah naik ojek online.

Wanita ini tampak seperti dewi yang baru turun dari kahyangan. Kulitnya bercahaya, tatapannya tajam dan dingin. Dan pria yang menggandengnya... Ya Tuhan, itu Wisnu Abraham. Salah satu orang terkaya di Jawa Timur, pria yang kekayaannya membuat kekayaan keluarga Sisca terlihat seperti uang jajan.

"Itu... nggak mungkin..." desis Sisca di sampingnya. Wajah istrinya memerah padam, matanya membelalak tak percaya. Cemburu, kaget, dan rasa terancam bercampur jadi satu.

Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin wanita kampungan yang mereka hancurkan enam bulan lalu bisa berada di sini, terlihat seribu kali lebih baik daripada Sisca yang sedang hamil dan kembung?

Wisnu, seolah memiliki radar untuk mendeteksi konflik, mengarahkan langkah mereka tepat menuju tempat Rendy dan Sisca berdiri.

Jantung Rendy berdegup kencang. Ia ingin lari, tapi kakinya terpaku di lantai karpet tebal.

Wisnu berhenti tepat di depan mereka. Ia menatap Rendy sekilas dengan tatapan merendahkan, seolah Rendy adalah serangga kecil yang tidak sengaja menempel di sepatunya.

"Selamat malam, Pak Rendy Angkasa, Bu Sisca," sapa Wisnu dengan nada formal yang dingin.

Rendy tergagap. "Se-selamat malam, Pak Wisnu. Kehormatan Bapak menyapa kami."

Wisnu tidak tersenyum. Ia menoleh sedikit ke samping, pada wanita cantik di sebelahnya.

"Perkenalkan. Ini Alina Oktavia. Asisten pribadi sekaligus tangan kanan saya yang baru di Abraham Group."

Alina menatap lurus ke mata Rendy. Tidak ada sapaan hangat. Tidak ada senyum ramah. Tatapan Alina kosong, sedingin es di kutub utara. Tatapan itu menusuk menembus bola mata Rendy, membongkar semua rasa bersalah yang selama ini ia kubur.

Rendy merasa kerdil. Ia melihat wanita di depannya—wanita yang pernah mengandung anaknya, wanita yang ia campakkan—kini berdiri jauh di atasnya. Gaun merah itu... Rendy ingat dulu Alina pernah bilang ingin memakai gaun merah saat pre-wedding mereka. Kini Alina memakainya, tapi bukan untuknya.

"Alina..." suara Rendy keluar berupa bisikan parau.

"Pak Rendy," balas Alina, suaranya tenang, terkontrol, dan sangat asing di telinga Rendy. "Senang melihat Bapak dan Ibu sehat. Saya dengar ada kabar bahagia? Selamat atas kehamilannya."

Kalimat itu diucapkan dengan nada datar, namun bagi Rendy dan Sisca, itu terdengar seperti ancaman paling mengerikan. Alina tahu. Alina melihat perut Sisca.

Sisca, yang biasanya agresif, kini terdiam kaku. Kehadiran Wisnu Abraham di samping Alina membuatnya ciut. Ia sadar, Alina yang sekarang bukan lagi wanita lemah yang bisa ia dorong di apotek. Alina yang sekarang dilindungi oleh tembok kekuasaan yang tak bisa ditembus Sisca.

Alina mengalihkan pandangannya dari Rendy ke Sisca. Ia menatap perut buncit Sisca selama dua detik—tatapan yang membuat Sisca secara refleks menutupi perutnya dengan tangan, seolah takut Alina akan mengirimkan kutukan lewat matanya.

Kemudian, Alina tersenyum. Senyum tipis yang hanya mengangkat satu sudut bibirnya. Senyum yang tidak mencapai mata. Senyum iblis wanita.

"Nikmati pestanya," ucap Alina singkat.

Tanpa menunggu balasan, Alina kembali menggandeng lengan Wisnu. Mereka berbalik dan berjalan menjauh, meninggalkan Rendy yang pucat pasi dan Sisca yang gemetar menahan amarah dan ketakutan.

Malam itu, Alina tidak perlu berteriak. Ia tidak perlu memaki. Kehadirannya yang sempurna, kecantikannya yang memukau, dan posisinya di samping pria paling berkuasa di ruangan itu, sudah menjadi tamparan paling keras di wajah Rendy dan Sisca.

Saat mereka berjalan menjauh, Wisnu berbisik pelan, "Puas?"

Alina menatap lurus ke depan, merasakan kepuasan yang gelap menjalar di nadinya.

"Ini baru permulaan, Pak. Saya baru saja menyalakan sumbunya."

1
kalea rizuky
lanjut banyak donk
kalea rizuky
lanjut thor
kalea rizuky
hahaha kapok di jadiin babu kan lu
kalea rizuky
murahan baru pcrn uda nganu
Dede Dedeh
lanjuttttt.. .
Dede Dedeh
lanjuttt....
Evi Lusiana
klo aku jd alina skalian aj pindah tmpat kos,
Evi Lusiana
bnyk d kehidupan nyata ny thor,cinta org² tulus hny berbalas kesakitan krn penghianatan
PENULIS ISTIMEWA: iya ya kak, miris sekali 🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!