NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Putri asli/palsu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bucin Sekaligus Licik

Yoga Baskara berdiri di pinggir matras, matanya menyipit meremehkan. Dia memang pernah belajar Muay Thai, jadi melihat Salma ingin berguru pada Pak Rahmat—pria paruh baya yang kelihatannya biasa saja—membuat jiwa kompetitifnya terusik.

Dengan gaya tengil, Yoga maju. "Pak, kelihatannya jago nih. Kebetulan saya pernah latihan dikit. Gimana kalau kita sparring? Hitung-hitung kenalan lewat adu jotos."

Surya, teman Yoga yang lebih waras, langsung panik. "Yoga, jangan cari penyakit."

Salma dan Aksa kompak mundur. Mereka tahu, anak brandal seperti Yoga memang perlu kena mental sedikit supaya sadar diri.

"Saya tidak mau bertarung denganmu, Nak," tolak Pak Rahmat tenang. Alasannya simpel: Yoga bukan levelnya.

"Yah, Bapak takut?" Yoga makin menjadi-jadi. "Tenang Pak, saya tahu batasan kok. Nggak bakal bikin Bapak masuk UGD."

Salma menimpali dengan nada memanas-manasi, "Justru Guruku takut kamu yang masuk UGD, Kak Yoga. Mending mundur deh daripada malu."

Kalimat itu sukses membakar ego Yoga. "Saya nggak takut! Jangan-jangan Bapak ini cuma penipu yang mau morotin duit orang?"

Wajah Pak Rahmat berubah dingin. "Karena kamu memaksa dan mulai menghina, baiklah. Silakan serang duluan."

Pak Rahmat berdiri santai, kedua tangan di belakang punggung. Yoga yang merasa diremehkan langsung melancarkan pukulan andalannya. Wush! Tinjunya membelah angin dengan suara mengerikan.

Tapi anehnya, tak satu pun pukulannya mengenai sasaran. Pak Rahmat berkelit seringan kapas. Yoga, yang seumur hidup belum pernah kalah berkelahi, mulai panik. Lima belas menit berlalu, napasnya sudah senin-kemis, tapi dia belum menyentuh ujung baju Pak Rahmat sedikit pun.

"Masih mau lanjut?" tanya Pak Rahmat santai.

"Bapak niat berantem nggak sih?! Jangan cuma lari!" Yoga murka.

"Anak muda, di atas langit masih ada langit."

Detik berikutnya, Yoga bahkan tak melihat pergerakan Pak Rahmat. Tahu-tahu kedua tangannya sudah terkunci di belakang punggung, tubuhnya dipaksa membungkuk tak berdaya.

"Nyerah nggak?"

"Nggak!" Yoga masih keras kepala. Pak Rahmat melepaskannya. "Oke, istirahat dulu."

"Nggak butuh!" Yoga mencoba serangan curang dadakan. Tapi hasilnya nihil. Sedetik kemudian, dia kembali terkunci di posisi yang sama.

Kali ini mental Yoga benar-benar hancur. Dia menyerah.

"Ampun, Guru... Tangan saya mau patah..." Yoga meringis.

Setelah dilepaskan, Pak Rahmat menatapnya tajam. "Kamu boleh ragukan kemampuan saya, tapi jangan pernah sebut saya penipu."

Yoga yang arogansinya sudah dirontokkan, menunduk dalam-dalam. "Maafkan saya, Guru. Saya salah."

Salma mengangkat alis, takjub melihat Yoga mau minta maaf.

"Yoga sebenernya nggak jahat, cuma caper karena ayahnya terlalu keras," bisik Surya pada Salma. "Asal lo tahu, Yoga itu relawan tetap di pusat terapi anak autis."

Salma tertegun. Naya di sebelahnya ikut nyeletuk, "Aksa juga relawan di penampungan hewan liar, lho."

Salma tersenyum tipis. Ternyata di kehidupan keduanya ini, dia dikelilingi orang-orang yang hatinya hangat, meski luarnya terlihat dingin atau brengsek. Bagi Salma, orang baik itu selalu menggemaskan.

"Hmph, masih untung Bapak lagi sabar. Coba kalau enggak, udah abis kamu!" Rara, putri Pak Rahmat, mengacungkan tinju mungilnya. "Awas kalau berani ngatain Bapakku penipu lagi!"

Yoga yang baru saja tobat mendadak kumat gengsinya. "Bocah ingusan diem aja! Gue emang kalah sama Bapak lo, tapi kalau sama lo, gue pasti menang!"

"Oh ya? Maju sini!" tantang Rara.

Dan terjadilah ronde kedua. Kali ini Yoga berharap bisa memulihkan harga dirinya. Sayangnya, Rara mewarisi bakat ayahnya dengan sempurna. Hanya dalam dua puluh jurus, Yoga terbanting ke lantai dengan bunyi gedebuk keras.

Rara menginjak dada Yoga, dagunya diangkat angkuh. "Gimana? Masih songong?"

Yoga menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Kalah sama bapaknya, oke. Kalah sama anak cewek umur enam belas tahun? Kelar sudah harga dirinya.

"Udah, udah. Ayo makan, laper nih!" Salma menengahi sebelum Yoga menangis darah.

Mendengar kata 'makan', Rara langsung berubah ceria. "Kak Naya yang traktir kan? Mau ke Istana Rasa boleh?"

Aksa langsung menggandeng Salma. "Ayo."

Restoran Istana Rasa sangat ramai. Karena tidak reservasi, Aksa pamit sebentar—alibi ke toilet padahal mencari manajer. Salma, Naya, dan Rara menunggu di lobi.

Saat Salma dan Naya baru kembali dari toilet, mereka melihat kerumunan di tengah lobi. Di pusat keributan itu, Rara sedang dicengkeram oleh seorang wanita gemuk berdandan menor.

"Ngaku aja! Tadi kamu lewat, terus HP saya hilang! HP saya itu custom, harganya puluhan juta! Dasar maling kecil!" Tunjuk wanita itu tepat di muka Rara.

"Saya nggak ambil! Tante fitnah saya!" Rara berteriak, wajahnya merah padam menahan tangis dan amarah. Dia ingin melawan, tapi takut melukai orang awam dengan tenaga bela dirinya.

Wanita itu, Ibu Carolina, makin beringas. Dia menjambak baju Rara, hendak menggeledah paksa. "Jangan sok suci! Muka polos tapi kelakuan kriminal!"

"Lepaskan!"

Salma menerobos kerumunan, mencengkeram tangan Ibu Carolina dan menghempaskannya.

"Eh, kamu temannya ya? Pasti sekongkol!" Ibu Carolina melotot. "Kalian tahu siapa saya? Saya Nyonya Besar Keluarga Carolina! Gembel kayak kalian jangan cari mati!"

Manajer Galih berlari tergopoh-gopoh. "Ada apa ini?"

"Manajer Galih! Usir gembel-gembel ini! Mereka nyuri HP saya! Kalau nggak, saya boikot restoran ini!" ancam Ibu Carolina.

Manajer Galih menoleh dan jantungnya serasa berhenti saat melihat Salma. Mampus. Kenapa harus pacarnya Big Boss yang diganggu?

"Bu Carolina," suara Manajer Galih dingin. "Mungkin ada salah paham?"

"Salah paham gundulmu!"

Salma tertawa sinis. "HP puluhan juta? Tante ini ibunya Carolina yang sekolah di Citra Bangsa kan?"

Ibu Carolina terkejut. "Kamu siapa? Berani sebut nama anak saya!"

Salma menarik Rara ke sisinya, menatap Ibu Carolina dengan tatapan membunuh. "Pantesan Carolina nggak punya etika, ibunya aja begini. Asal Tante tahu, Carolina baru saja saya tendang keluar dari sekolah."

Ibu Carolina membelalak. "Kurang ajar! Kamu ngaku-ngaku nendang anak saya? Sini saya sobek mulutmu!"

Sebelum Ibu Carolina sempat menyerang, suara berat dan dingin menginterupsi. "Siapa yang mau kamu sobek mulutnya?"

Pak Halim, pemilik Istana Rasa, muncul. Kerumunan otomatis membelah.

"Pak Halim! Karyawan Bapak ini malah belain maling!" adu Ibu Carolina.

"Maaf, Bu Carolina. Detik ini juga, Anda dan keluarga Anda di-blacklist dari Istana Rasa. Silakan keluar," ucap Pak Halim datar.

Ibu Carolina syok, lalu meledak marah. "Bapak gila?! Demi gembel ini Bapak ngusir pelanggan VIP? Saya tuntut kalian!"

"Ibu Carolina," seorang pengunjung nyeletuk, "Minta maaf mendingan sekarang. Gadis itu Nona Salma dari Keluarga Tanudjaja. Cari perkara sama dia sama aja bunuh diri."

Dunia Ibu Carolina runtuh seketika.

"Ke... Keluarga Tanudjaja?" Kakinya lemas. Dia jatuh terduduk.

Keluarga Tanudjaja adalah raksasa bisnis yang bisa melenyapkan usaha keluarganya dalam sekejap. Arogansi Ibu Carolina lenyap, berganti ketakutan murni.

Dia merangkak, memegang kaki Salma. "Nona Salma... maaf... saya salah lihat... HP saya ternyata ada di tas... saya lupa..." Dia mengeluarkan ponsel dari tasnya dengan tangan gemetar.

"Cuih! Sampah!" Rara meludah ke lantai.

Salma berjongkok, tersenyum manis tapi mencekam. "Tadi kan galak banget? Ayo lanjutin dong. Saya paling suka lihat orang sombong kayak Tante. Nanti pulang, jangan lupa minta maaf sama leluhur ya. Soalnya, saya ini pendendam dan suka banget menindas orang pakai kekuasaan."

Ibu Carolina memutar matanya ke atas dan pingsan di tempat.

Sekuriti langsung menyeret tubuh lemas itu keluar. Drama selesai. Salma merangkul Rara yang masih syok. "Udah, Kak Rara jangan takut. Ada aku."

Rara menatap Salma tak percaya. "Kamu... beneran anak konglomerat?"

"Mau anak siapa juga, aku tetep adik seperguruan Kakak," Salma tersenyum.

Salma pulang ke rumah jam sembilan malam.

Ayahnya, Seno, sedang membaca koran. Manda duduk di sebelahnya, memasang wajah cemas yang dibuat-buat.

"Salma, kok baru pulang? Nggak ada yang bully kamu kan?" tanya Manda dengan nada 'kakak prihatin'.

Salma menahan tawa. "Kak Manda kok kayaknya ngarep banget aku kena musibah? Emangnya aku nggak boleh main sama teman?"

"Bukan gitu... Kakak cuma khawatir karena kamu kan emosian," Manda menghela napas dramatis.

"Lho, bukannya Kakak sakit?" Salma menatap Manda tajam. "Kok seger banget? Oh, pasti pura-pura sakit biar bisa bolos ya?"

Seno menurunkan korannya. Alisnya bertaut. "Manda, kamu bohong soal sakit?"

Manda panik. Air matanya langsung menetes—senjata andalannya. "Nggak, Pa! Manda tadi pagi beneran pusing... Papa kenapa nggak percaya Manda?"

Manda menunduk, bahunya berguncang. "Manda tahu Manda cuma anak angkat... tapi Manda sayang Papa kayak orang tua kandung..."

Melihat air mata itu, hati Seno goyah. Dia menghela napas lelah. "Ya sudah. Kalau sakit istirahat. Jangan dipaksakan."

Manda berbalik naik tangga dengan langkah berat yang diseret-seret. Melihat punggung rapuh itu, rasa iba Seno muncul lagi.

"Manda," panggil Seno. "Habis ujian, kita liburan ke luar negeri sekeluarga."

Manda menoleh cepat, matanya berbinar licik di balik air mata. "Beneran, Pa?"

"Iya. Sana istirahat."

Manda masuk kamar dengan senyum kemenangan. Selama Ayah masih menyayanginya, dia masih punya kesempatan menyingkirkan Salma.

Tunggu aja ujian nanti, Salma. Aku bakal bikin kamu hancur.

Malam itu, di SMA Citra Bangsa yang sunyi, dua bayangan menyelinap masuk ke ruang kepala sekolah, menghindari pos satpam, dan keluar membawa sesuatu setengah jam kemudian.

Di kamarnya, Salma sedang menelepon Aksa.

"Kok gampang banget maling masuk sekolah? Kecewa deh sama keamananmu," ledek Salma.

Aksa terkekeh di ujung telepon. "Kalau nggak dibikin gampang, gimana kamu bisa nge-geprek dia? CCTV 4K udah terpasang di setiap sudut, Sayang. Kamu tinggal nonton pertunjukannya sambil makan popcorn."

Salma tersenyum puas. Aksa tahu betul Manda berencana mencuri soal ujian untuk menjebak Salma atau untuk dirinya sendiri. Dan Aksa dengan senang hati membukakan pintu untuk Manda masuk ke perangkap.

"Jadi kamu sengaja?"

"Tentu. Siapa pun yang ganggu gadis kecilku, nggak bakal aku lepasin. Tapi aku lebih suka lihat kamu yang nampar mereka sendiri."

Salma memeluk gulingnya, merasa hangat. Punya pacar yang bucin sekaligus licik ternyata sangat menyenangkan.

1
sahabat pena
aksa terlalu lambat.. sdh tau ada barang bukti bukan di serahkan ke kantor polisi atau di viral kan. jd di manfaat kan sama rival nya pak rahmat kan? untuk menjatuhkan pak rahmat
mom SRA
pagi thoor
INeeTha: Pagi kaksk🙏🙏🙏
total 1 replies
kriwil
harusnya manda yang kejebak sama laki laki lain atau sama riko sekalian biar hancur nya tambah seru
Kembae e Kucir
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kriwil
apa di sekolahan ini ga ada guru dan kepala sekolah ,sampai tentang soal ujian di bobol maling yang maju hanya sosok ketua osis 😄
mom SRA
pagi thor
kriwil
seno itu dapat anak pungut sezan dari mana ya😄
kriwil
awal mula seno mungut siluman ular itu knp ya
mom SRA
mpm thor
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Diah Susanti
thor, buat tanudjaja, kalo si manda cuma anak pungut, biar dia merasakan dibully 1 sekolahan.
mom SRA
malem thor
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
ealah moduse kang Aksa, lancar kayak jalan tol bebas hambatan
penampilan cupu ternyata suhu 😂
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Diah Susanti
ini apa hubungannya dengan rahasia manda? apa karena cucu orang hebat makanya mudah dapat info? 🤔🤔🤔🤔
Diah Susanti
padahal bolu pisang enak lho, aq suka tak bisa bikinnya/Grin//Grin//Grin/
mom SRA
seru critanya.... semangat thoor
tutiana
hadirrrr, suka huruf s ya Thor,
darin sinta,salsa,ini salma
semangat Thor ⚘️⚘️⚘️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!