Alia merupakan wanita yang cantik dan lugu dulunya dirinya, hanya wanita polos yang mungkin bisa di bilang hanya wanita biasa dengan paras yang biasa dan tidak tertarik sama sekalia, karena alia hanya tertuju kepada keinginanya yaitu belajar, sampai dirinya bertemu dengan arnold pria yang kakak kelas tingkat 3 di banding dirinya, kakak itu sma 3 dan alia smp 3, alia menganggumi arnold layaknya pasangan sayangnya cinta alia tidak di balas melainkan hanya di permalukan di depan umum, sampai akhirnya 4 tahun sudah mereka bertemu kembali, di tempat perjodohan arnold awalnya tidak tahu siapa wanita cantik itu, sampai akhirnya dia tahu dan kaget.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ScarletWrittes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
“Jadi gini, Al. Kamu kan tahu maksud Papa baik, mau kuliahin kamu di luar negeri.”
“Ya, Pa, benar.”
“Terus kenapa kamu lebih memilih untuk nikah? Dan Papa juga mau tahu siapa calonnya, Sayang. Kalau calonnya belum ada, Papa tidak bisa putuskan kamu akan nikah atau tidak.”
Alia mulai berpikir dari perkataan Papanya itu. Tidak lama, Alia melihat ke arah Mamanya, dan Mamanya mencoba menenangkan Alia.
“Tenang, Sayang. Papa kamu tidak akan marah kok. Papa kamu hanya mau tahu bagaimana baiknya calon suami kamu nanti.”
Papa hanya menganggukkan kepala dan merasa apa yang Mamanya bicarakan itu benar. Tidak lama, Alia jadi berpikir, pria yang mana yang mau dia minta bantuannya? Sedangkan dirinya sendiri saja tidak punya teman di sekolah.
Terkadang, Alia merasa kalau pilihan atau keputusannya selalu terburu-buru, sampai dirinya tidak bisa berpikir dengan benar. Tidak lama, Alia menatap ke arah Papa dan Mamanya.
“Nanti akan Alia kenalin, tapi tidak sekarang ya. Kan nikahnya masih tahun depan, jadi Alia masih punya waktu delapan bulan sebelum lulus. Benar, kan?”
“Kenapa harus tunggu delapan bulan, Nak?” tanya Papa dengan nada lembut.
Hari ini Papa mencoba sabar kepada Alia, karena tahu Alia tidak bisa dimarahi. Semakin dimarahi, pasti Alia tidak mau berbicara kepada Papanya.
Alia menatap ke arah Papanya. Tidak lama kemudian, Alia diam saja dan bingung harus berbuat apa. Tak lama, Alia bertanya kepada Papa dan Mamanya.
“Ya... karena Alia belum siap membawa dia, Pa. Takutnya Papa tidak suka sama dia.”
“Emang Papa bisa tidak suka sama anak yang sayang sama anak Papa?”
Alia jadi bingung mau tanya apa lagi. Akhirnya, Alia mencoba meminta bantuan kepada Mamanya. Tidak lama, Mamanya membantu Alia tanpa sadar.
“Pa, udah ah, jangan ditekan terus Alianya. Kasihan, Alia Papa tekan terus. Dia juga perlu waktu untuk mikir, Pa. Jadi Papa juga harus paham apa mau anak kita. Papa ingat, kan, janji Papa semalam ke Mama?”
Papa hanya menghela napas, seakan tidak mau kalah pada Mama. Walau Mama tidak banyak bicara, tapi Papa tahu kalau Mama selalu membela anaknya tanpa sebab, dan itu membuat anaknya jadi malas untuk mandiri.
“Kalau keputusan Alia ini udah benar, Papa tidak akan ikut campur lagi. Tapi kalau kamu masih nggak bisa mempertemukan Papa dengan pria yang kamu sebut ini, Papa akan tagih terus. Deal?”
Alia langsung menganggukkan kepala, dengan jawaban yang tanpa pikir panjang, karena Alia juga mau memberi penjelasan yang pasti untuk Papanya. Tapi dirinya sendiri juga bingung harus bagaimana.
---
Setelah di kamar,
Alia mulai merenung hal apa yang harus ia lakukan dengan persetujuan barusan dengan kedua orang tuanya.
Apa Alia salah melangkah sehingga tidak dipikir dengan matang-matang? Maka dari itu, Alia juga bingung harus berbuat apa.
---
Keesokan paginya di sekolah,
Alia berpapasan dengan pria kemarin, yaitu Arnold. Saat Alia mau buru-buru pergi, tangannya ditahan oleh pria itu.
Alia tidak mau melihat langsung kepada pria itu. Tidak lama, pria itu mencoba jalan ke depan Alia agar Alia mau melihat dirinya saat berbicara.
“Hei, saya mau bicara sama kamu soal kemarin. Saya mau tahu kepastian, apa yang harus kita lakukan dengan kejadian kemarin.”
“Maaf, Kak. Soal kemarin murni kecelakaan. Jadi, jangan ditanya lagi. Maaf sekali lagi, Kak. Kalau begitu, saya permisi ya, Kak.”
Arnold tetap menahan tangan Alia. Lalu, Alia mencoba untuk tidak melihat ke arah Arnold. Tidak lama, Arnold tetap mencoba untuk lembut kepada Alia. Mungkin cara Arnold ke Alia kasar, tapi bukan maksud Arnold seperti itu.
“Maaf, gue bukan maksud begitu.”
Alia diam saja dan bingung. Sepertinya dirinya yang salah, bukan pria itu. Tidak lama, pria itu diam saja, tidak berkata apa-apa.
Tidak lama, Alia menatap ke arah pria itu dengan perasaan tidak enak. Pria itu juga menatap Alia, tapi Alia tetap menunduk ke arah bawah.
“Ada apa? Bicara aja. Saya pasti dengar apa yang mau kamu bicarakan.”
Seketika Arnold merasa tidak enak kembali kepada Alia. Tapi dirinya harus bisa menyelesaikan tiap masalah yang ada.
Arnold selalu mencoba untuk berbicara kepada wanita ini, tetapi kenapa selalu susah banget untuk berbicara kepada wanita ini?
“Aku mau to the point aja sih sebenarnya sama kamu. Tapi kenapa ya, kalau kita mau bicara berdua, pasti ada aja kayaknya rintangannya.”
Di satu sisi, Alia juga bingung harus berbuat apa. Karena memang kejadian kemarin itu murni kesalahan dari dirinya sendiri, akibat banyaknya masalah dari rumah.
Tiba-tiba, Alia berpikir ide gila untuk menyelesaikan perjanjian kemarin antara dirinya dengan kedua orang tuanya.
“Soal kemarin, aku minta maaf. Tapi bisa nggak kamu bantuin aku sekali ini aja? Aku janji, aku nggak bakal bikin kamu salah paham lagi. Itu pun kalau kamu mau, ya.”
Awalnya Arnold ragu untuk memahami maksud perkataan wanita ini. Sebenarnya apa yang dimaksud oleh Alia? Kenapa dari wanita ini selalu membuat Arnold penasaran akan dirinya?
“Jadi kamu mau nggak berpura-pura menjadi suami aku? Maksudnya, kayak cuma kontrak aja. Nggak beneran nikah kok.”
Arnold yang mendengar perkataan Alia langsung kaget seketika dan tidak bisa berkata apa-apa.
“Maksud kamu bicara kayak gitu apa? Benaran? Ini nggak lucu. Dan kamu tahu nggak? Aku bicara sama kamu aja aku udah merasa kayak orang bodoh.”
“Aku serius. Aku janji, kita nggak akan tidur sekamar. Dan aku juga janji, setelah tiga tahun pernikahan kita selesai, ya udah, sampai situ aja. Kamu sanggup nggak sama aku selama tiga tahun?”
Sebenarnya Arnold malas mengiyakan ide gila yang direncanakan Alia. Tapi entah kenapa, Arnold juga penasaran apa maksud Alia sebenarnya.
Alia berharap Arnold mau dan tidak mikir panjang lagi, karena dirinya sudah benar-benar buntu dan bingung harus lari ke mana.
“Kalau andai aku iyakan ide gila kamu, apa yang aku dapat?”
“Kamu mau apa aja, aku turutin. Aku janji sama perkataan kamu.”
Muka Arnold memerah saat mendengar Alia berkata demikian. Apa Alia tidak sadar sedang bicara dengan pria?
Apa Alia selalu terbiasa berbicara dengan pria seperti ini? Sedangkan Arnold tidak terbiasa dengan cara bicara Alia kepadanya.
“Jadi gimana? Mau atau tidak? Kalau mau, ayo. Kalau nggak mau, ya sudah, aku cari pria lain. Gimana?”
Entah kenapa, saat Arnold mendengar Alia berkata demikian, itu membuatnya kesal. Tapi di satu sisi, kenapa Arnold harus kesal ya?
Arnold meninggalkan Alia dan tidak mau mengiyakan ide gila itu. Tapi Alia malah terpancing emosi dan mencoba untuk mendekati Arnold.
“Kamu benaran nggak setuju sama ide aku?”
Arnold diam saja dan membalas balik sikap Alia kepadanya. Tidak lama, Alia menatap ke arah Arnold.
“Arnold, ayolah. Hanya kamu satu-satunya yang bisa bantu aku. Kalau bukan kamu, siapa lagi?”
tanya Alia dengan jelas, sedangkan Arnold tidak peduli dengan alasan apa pun. Bagi Arnold, Alia hanya menggunakan dirinya di saat perlu.
“Nggak mau. Dan kalau misalkan kamu harus cari pria lain, aku juga nggak setuju.”
“Maunya apa sih? Bantuin nggak mau, tapi cari yang lain nggak boleh. Dasar egois.”
Arnold yang mendengar itu sangat marah kepada Alia. Dan Alia juga merasa dirinya ingin terus-terusan mencoba untuk membuat Arnold setuju dengan ide gilanya itu.
“Bukan egois, tapi itu adalah pemikiran yang nggak mateng. Jadi aku juga bingung harus kayak gimana kalau misalkan aku memilih dan membantu kamu.”
“Kan aku udah bilang, kita nggak ngapa-ngapain. Kita hanya pura-pura nikah kontrak aja. Emangnya susah?”
“Mungkin buat kamu nggak susah, tapi buat orang tuaku susah. Dan pasti orang tuaku juga kaget kalau dengar aku mau nikah muda.”
Alia sempat kepikiran dengan perkataan Arnold. Bagaimanapun, pasti kedua orang tua akan bingung kalau tiba-tiba anak-anak mereka ingin menikah. Pasti ada sesuatu hal yang tidak diinginkan.